Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
I'm Still A Virgin


__ADS_3

Peringatan!!!!


Di bagian akhir bab ini ada adegan ples-ples, bagi yang masih di bawah umur dan merasa tidak nyaman, silakan dilewati. πŸ™βœŒοΈβœŒοΈβœŒοΈ


...πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...


"Assalamu'alaikum," salam Adi penuh semangat begitu masuk ke dalam rumah, tapi tidak ada yang menjawab salamnya. Dia lalu pergi ke dapur, siapa tahu istrinya sedang sibuk di sana jadi tidak mendengarnya. Tetapi ternyata istrinya juga tidak terlihat di dapur. "Mungkin dia lagi di kamar atau di ruang cuci," gumamnya.


Dia memutuskan masuk ke kamar. Samar-samar terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Dia tersenyum lega karena ternyata istrinya ada di sana. Dia melangkahkan kaki menuju meja kerjanya. Dia meletakkan tas di atas meja, melepas jam tangan yang melingar di tangan kiri, dan ikat pinggang yang sudah seharian melingkari pinggangnya. Saat dia sedang melepas kancing kemeja, Adelia ke luar dari kamar mandi dengan handuk di kepalanya.


Adelia terkesiap saat melihat suaminya yang sedang berdiri menatapnya sambil tersenyum lebar. Untung saja tadi dia sudah memakai baju di kamar mandi, kalau tidak dia pasti akan merasa malu sekali.


"Mas Adi, sudah lama pulangnya?" tanya Adelia sambil berjalan menghampiri suaminya.


"Baru saja masuk kamar. Tadi aku masuk rumah kok sepi. Aku cari Ai di dapur tidak ada. Ternyata Ai baru mandi," terang Adi.


Setelah berdiri di depan suaminya, Adelia mencium punggung tangan Adi yang dibalas dengan ciuman di keningnya.


"Mmmhhh, istriku wangi sekali," gumam Adi seraya menghirup aroma istrinya yang baru selesai mandi.


"Aku baru selesai masak sambil melihat tutorial video, Mas. Habis itu aku mandi. Masa aku menyambut Mas Adi pulang masih bau bawang. Ternyata Mas Adi pulangnya lebih cepat," cerita Adelia.


"Wah, istriku keren sudah masak. Jadi enggak sabar mau nyicip."


"Tapi aku enggak menjamin rasanya enak ya, Mas. Tadi aku icip sih lumayan." Adelia merasa tidak percaya diri.


"Insya Allah, pasti enak. KanΒ Ai masaknya pakai bumbu cinta." Adi menangkup wajah istrinya sambil tersenyum lebar.


Adelia tersipu malu mendengar kata-kata suaminya. "Kalau rasanya masih kurang pas, bilang ya, Mas. Biar lain waktu kalau aku bikin lagi bisa lebih enak."


"Iya," kata Adi sembari menatap wajah Adelia. Ternyata nikmat menikah sangatlah besar. Salah satunya, lelah bisa hilang hanya dengan menatap wajah istri yang tersenyum manis di depannya.


"Ai, apa sudah bersih kok keramas?" tanya Adi sambil menunjuk handuk di kepala istrinya.


"Insya Allah sudah, Mas," jawab Adelia dengan malu-malu. "Tapi aku memang hampir setiap hari keramas, Mas."


"Alhamdulillah. Nanti sebelum tidur kita salat sunah dulu ya,Β Ai."


"Iya, Mas." Adelia menganggukkan kepala.


"Ai, sudah tahu belum kalau Dita hamil?"


Adelia mengernyit. "Belum, Mas. Tadi siang Dek Dita cuma kirim pesan tidak bisa bantu masak karena pusing dan lemas. Katanya sore ini mau periksa ke dokter. Alhamdulillah, aku ikut senang kalau dia hamil. Mas, kok bisa tahu Dek Dita hamil dari mana?"


"Rendra tadi telepon aku. Memang tadi periksa ke dokter umum. Terus tes lab ternyata hasilnya positif hamil. Sekarang mungkin sedang ke dokter kandungan. Nanti bakda Isya kita ke sebelah ya tengok Dita."


"Iya, Mas."


"Semoga nantiΒ Ai juga bisa langsung hamil ya. Kayanya seru kalau anak kita gedenya bareng."


"Aamiin."


"Aku mandi dulu ya,Β Ai. Masa istriku sudah cantik dan wangi, aku masih bau keringat," seloroh Adi.


"Aku siapkan bajunya ya, Mas. Nanti aku taruh di atas tempat tidur. Setelah ini aku mau mempersiapkan untuk buka puasa."


"Sip. Terima kasih,Β Ai." Adi meneruskan membuka kancing kemeja sambil berjalan ke kamar mandi.

__ADS_1


"Istriku bikin apa saja hari ini?" tanya Adi begitu melihat beberapa menu tersaji di atas meja makan.


"Cuma bikin es timun serut, salad buah, tumis kangkung sama tempe goreng saja, Mas," terang Adelia.


"Banyak loh ini macamnya, dan kita cuma berdua. Terima kasih Ai, sudah mau masak untukku." Adi menatap intens Adelia dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


"Kan sudah kewajibanku melayani suami, Mas. Itu tadi kangkungnya cuma jadi segitu, enggak cukup buat sahur."


"Gampang lah nanti sahur, sama telur dadar saja enggak apa-apa, Ai. Aku enggak pilih-pilih makanan kok. Jangan terlalu dipikirkan soal masak. Kalau Ai capai, jangan dipaksakan. Kita bisa makan di luar atau pesan makanan kalau malas pergi." Adi menenangkan istrinya.


"Iya, Mas."


Setelah azan Magrib berkumandang, Adi segera membatalkan puasanya. Dia minum teh manis panas dan kurma. Kebiasaan yang sudah dihapal oleh Adelia meski baru 3 hari mereka menikah.


Setelah itu Adi pergi ke masjid untuk menjalankan salat Magrib berjemaah. Sedangkan Adelia salat di rumah. Usai salat, mereka makan bersama.


"Alhamdulillah, enak ini, Ai," puji Adi setelah menikmati masakan istrinya.


"Benar, Mas. Jangan bohong?" Adelia menatap mata Adi, mencari kejujuran di sana.


"Serius, aku enggak bohong. Untuk ukuran pemula ini enak, Ai," puji Adi lagi.


"Alhamdulillah." Mata Adelia tampak berbinar-binar karena bahagia.


"Terima kasih ya, Ai."


Adelia mengangguk dengan senyum mengembang di wajahnya. "Mas, nanti jadi jenguk Dek Dita?"


"Insya Allah, jadi. Nanti aku telepon Rendra dulu sudah pulang apa belum. Kita nanti tidak usah lama-lama di sana karena kita punya agenda khusus malam ini. Paling lama setengah jam lah."


Bakda Isya mereka berdua menjenguk Dita. Meski ikut merasa bahagia karena kehamilan Dita, tapi juga merasa kasihan karena keadaan Dita yang masih pusing dan lemas. Kehamilan Dita yang kedua ini sepertinya akan lebih berat dari kehamilan pertamanya dahulu.


Mereka mengobrol membahas kehamilan dan keadaan Dita, ya meskipun lebih banyak Rendra yang bicara. Dita tergolek lemah di atas ranjang. Sesekali saja dia ikut bicara. Seperti yang tadi dikatakan Adi mereka tidak akan lama di sana. Selain karena mereka ada agenda khusus, Dita juga harus banyak beristirahat. Kalau mereka terus di sana pasti Dita tidak bisa istirahat.


Sesampai di rumah, Adi mengunci dan mengecek semua pintu. Sebelum masuk ke kamar dia mengajak Adelia untuk melakukan salat sunah dua raka'at. Sesudah mengambil wudu mereka salat berjemaah dengan Adi sebagai imamnya. Ini pertama kalinya Adelia diimami oleh suaminya.


Usai salat sunah, Adelia masuk ke kamar lebih dahulu. Dia membersihkan diri sekaligus memakai lingerie yang kemarin dipilih suaminya. Dia sempat merasa ragu dan malu ke luar dari kamar mandi dengan hanya memakai lingerie. Akhirnya dia memakai bathrobe untuk menutup tubuhnya yang sudah terbalut lingerie transparan berwarna hitam.


Sebelum ke luar dari kamar mandi dia menarik napas panjang berkali-kali untuk mengurangi rasa gugupnya. Dia mensugesti dirinya kalau semua akan berjalan lancar dan dia bisa melayani suaminya hingga Adi terpuaskan. Dengan pelan Adelia berjalan ke luar. Dia mendapati suaminya hanya memakai celana kolor dan bertelanjang dada, sedang duduk menunggunya di tepi ranjang.


Adi tersenyum begitu melihat istrinya ke luar dari kamar mandi. Tadi dia sudah menyalakan lilin aroma terapi agar mereka bisa lebih rileks. Dia juga sudah memadamkan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur agar suasananya lebih mendukung.


Adi berdiri menyambut kedatangan istrinya. Adelia tersipu saat Adi sudah berdiri di hadapannya. Mereka saling memandang dan juga tersenyum satu sama lain.


"Kenapa pakai bathrobe?" tanya Adi yang mulai melepaskan tali bathrobe yang menutupi tubuh indah istrinya.


"Aku malu, Mas." Adelia menundukkan kepalanya.


"Hei, tatap aku, Ai. Kita sudah suami istri. Ai berhak melihatku, begitu pun sebaliknya." Adi melepas bathrobe dan membiarkannya jatuh di lantai.


"Masya Allah, Ai cantik sekali. Tubuhmu juga indah. Jangan pernah perlihatkan ini pada orang lain ya."


Adelia mengangguk pelan.


"May I kiss you, now?" Adi memandang Adelia dengan tatapan penuh gairah dan cinta.


Adelia kembali mengangguk tanpa menjawab. Jantungnya berdebar dengan kencang. Dia merasa gugup. Sangat-sangat gugup. Dia pun pelan-pelan menutup matanya untuk mengurangi kegugupannya.

__ADS_1


Adi mendekatkan wajahnya. Dia menempelkan bibirnya pada bibir tipis istrinya yang tampak amat sangat menggodanya malam ini. Apalagi Adelia juga berdandan dengan lipstik merah menyala yang membuatnya semakin seksi.


Bibir mereka mulai bertaut pelan dengan ritme yang teratur. Mereka saling menyesap dan menggigit. Lidah mereka pun saling beradu di dalam mulut. Secara perlahan, Adi menuntun istrinya mendekati ranjang tanpa saling melepaskan ciuman panas mereka.


Saat sudah ada di tepi ranjang, Adi mendudukkan istrinya. Dia mulai menjelajahi telinga dan leher Adelia dengan bibirnya. Tangannya pun sudah bergerilya di punggung dan juga dada istrinya.


"Ah, Mas," desah Adelia yang sudah terbawa permainannya.


Dengan pelan, dia mengangkat tubuh Adelia sambil terus mencium bibir istrinya. Dia membaringkan Adelia di atas ranjang. Kemudian dia mengungkung tubuh istrinya. Dengan bertumpu pada lututnya, Adi mulai turun ke dada istrinya. Dia memberi pijatan dan kecupan di sana. Adelia semakin mendesah. Dia bahkan membusungkan dadanya karena sentuhan yang melenakan dirinya.


Adi tersenyum melihat ekspresi istrinya yang sangat menikmati sentuhannya. Dia bahkan semakin bersemangat setiap kali mendengar Adelia mendesah dan memanggilnya. Sungguh hal yang sangat membahagiakan.


Setelah puas menyentuh bagian atas istrinya dan melucuti semua kain yang menutup tubuh mereka, Adi mulai menyasar ke bagian bawah tubuh istrinya. Dia sempat terpaku memandang tubuh polos Adelia yang sangat indah di matanya.


Setelah saling menyentuh dan memberi kenikmatan. Adi bersiap memulai penyatuan pertama mereka.


"Are you ready, Ai?"


Adelia mengangguk dengan tatapan mendamba. Andai ini bukan yang pertama untuk mereka, pasti dia sudah meminta suaminya untuk segera menyatukan tubuh mereka. Tapi, dia masih merasa malu untuk memintanya. Biarlah kali ini dia akan mengikuti alur yang suaminya ciptakan.


Saat Adi baru menyatukan tubuh mereka, dia melihat istrinya meringis.


"Apa aku menyakitimu, Ai?" tanyanya sambil memandang istrinya.


Adelia menggeleng sambil menggigit bibir bawahnya. "Teruskan saja, Mas."


Adi kembali memperdalam penyatuan mereka, sekali lagi dia melihat istrinya meringis seperti menahan sakit.


"Apa sakit sekali, Ai?" bisiknya di telinga Adelia. Dia menautkan kedua tangannya dengan tangan istrinya di samping kepala Adelia. Dia kembali mencium bibir tipis nan menggoda itu. Setelah Adelia mulai kembali mendesah, Adi kembali memperdalam penyatuan mereka. Dia merasa seperti baru saja menjebol sesuatu di dalam sana.


"Ahhhhh," pekik Adelia dengan kening berkerut. Adi kembali menyentuh sisi sensitif istrinya yang tadi mulai dia tahu di mana letaknya. Dia ingin memberi rasa nyaman sebelum mulai menggerakkan tubuhnya. Sesudah Adelia terlihat rileks, Adi mulai bergerak.


Dia bergerak perlahan, menikmati sensasi pertamanya menyatukan tubuh dengan pasangan halalnya. Mereka saling mendesah karena kenikmatan yang dirasakan. Saat Adi mulai merasakan sesuatu yang mendesak akan ke luar dari tubuhnya, dia mempercepat geraknya, membuat Adelia semakin menggelinjang karena sensasi yang dirasakannya. Pada akhirnya mereka berdua sama-sama merasakan puncak kenikmatan dunia. Mereka merasa melayang tinggi hingga mencapai nirwana.


"Thank you dan I love you," bisik Adi setelah kembali ke dunia nyata. Dia mencium bibir istrinya sebentar sebelum menarik dirinya. Dia terkejut karena melihat ada bercak darah di sana.


"Ai, sudah bersih kan? Kenapa ada darah di sini?" Adi terlihat panik. Karena berhubungan saat haid itu tidak diperbolehkan.


Adelia tersenyum pada suaminya. Dia menarik tangan Adi agar suaminya itu mendekat padanya. Dia berbisik di telinga Adi. "I'm still a virgin, Mas. This is my gift for you, My Lovely Husband."


Mata Adi membelalak. Dia sangat terkejut dengan fakta yang baru dikatakan istrinya. Saat memutuskan akan menikahi Adelia, dia sama sekali tidak mempermasalahkan istrinya itu masih perawan atau tidak. Dia kemudian tersenyum lebar. Adelia ternyata masih menjaga kehormatannya untuk suaminya, dan itu dia.


Adi mencium kening Adelia dengan penuh cinta. "Terima kasih sudah menjaganya, Ai. This is the best gift. I love you, Ai."


"I love you too, Mas Adi."


Mereka kemudian berciuman lagi. Membangkitkan kembali gairah yang tadi sudah tersalurkan.


"Aku mau lagi, apa boleh, Ai?" bisik Adi seraya menyentuh titik-titik sensitif istrinya.


"Boβ€”leh, Mas."


...---oOo---...


Jogja, 020721 02.20


Ada yang mau kasih kopi enggak nih buat Mas Adi biar kuat lemburnya? πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2