
Bakda Asar, mulai ada tetangga yang datang ke rumah Pak Wijaya. Mereka tahu kalau Pak Wijaya sudah pulang setelah melihat Pak Wijaya dan Adi salat di masjid. Mereka datang untuk bersilaturahin dan bermaaf-maafan dengan keluarga Pak Wijaya, yang memang biasa didatangi tetangga saat lebaran. Pak Wijaya sudah dianggap sesepuh (yang dituakan), karena kedudukannya sebagai ketua takmir masjid dan orang yang cukup berpengaruh di desanya.
Para tetangga biasanya datang berombongan dengan anggota keluarganya yang lain atau bersama tetangga sebelah rumah. Kalau yang masih muda biasanya datang bersama para pemuda lainnya. Ruang tamu Pak WIjaya yang luas, langsung penuh kalau yang datang berombongan. Kalau tidak muat, ada yang duduk di teras. Mereka senang datang ke kediaman Pak Wijaya, karena selalu disediakan berbagai macam suguhan, baik tradisional maupun kekinian.
Lebaran kali ini, Ibu Hasna tidak membuat kudapan karena baru pulang umrah. Namun, dia sudah memesan kudapan pada temannya. Selain itu, Dita juga membawa beberapa kue kering produksi bakerinya. Berbagai macam kudapan disajikan di atas meja dengan aneka minuman. Para tamu tinggal memilih mana yang diinginkan.
Karena mereka baru pulang umrah, kali ini, setiap tamu yang datang diberi segelas kecil air zamzam. Dita dan Adelia bergantian menyiapkan air zamzam untuk tamu. Nanti yang menyajikan Rendra dan Adi. Sementara Ibu Hasna menyiapkan oleh-oleh untuk para tetangga.
Malam hari, bakda Isya, Reza dan para pemuda masjid, datang ke kediaman Pak Wijaya. Selain untuk berhalalbihalal, dia juga ingin mengucapkan terima kasih atas sumbangan dari keluarga Pak Wijaya. Saat lomba takbir keliling kemarin, mereka berhasil mendapatkan juara pertama. Dia juga mengundang keluarga Pak Wijaya untuk datang di acara halalbihalal di masjid, besok malam.
Pak Wijaya terkejut saat Reza menyebut soal sumbangan, karena dia merasa tidak pernah memberi. Dia bahkan tidak tahu kalau ada pengumpulan sumbangan untuk acara lomba takbir keliling dan halalbihalal. Reza kemudian menjelaskan perihal proposal dan sumbangan. Reza memberi tahu kalau Rendra-lah yang memberi sumbangan atas nama keluarga Pak Wijaya.
Pak Wijaya mengangguk setelah mendapat penjelasan dari Reza. Rendra dan Dita tidak pernah bercerita kalau sudah menyumbang atas nama keluarganya. Nanti dia akan berterima kasih pada menantunya yang selalu rendah hati itu.
Pukul 09.30 malam, semua tamu sudah pulang. Rendra dan Adi membersihkan dan menata kembali ruang tamu dan teras agar besok pagi sudah siap bila ada tamu yang datang. Adelia membantu Ibu Hasna mencuci gelas-gelas kecil yang digunakan sebagai wadah air zamzam untuk para tamu. Pak Wijaya sedang menerima telepon dari temannya, sementara Dita di kamar, menidurkan Ale.
Setelah Rendra selesai melakukan pekerjaannya, Pak Wijaya memanggil menantunya itu. "Nak Rendra, ayah mau bicara."
"Iya, Yah." Rendra duduk di dekat ayah mertuanya.
"Kenapa tidak bilang sama ayah kalau kemarin menyumbang kegiatan masjid?" Pak Wijaya menatap Rendra.
"Maaf kalau Rendra lancang, Yah. Rendra pikir itu tidak perlu karena sudah ikhlas menyumbang. Rendra bahkan sudah lupa kalau tidak diingatkan."
"Ayah tidak marah. Ayah justru ingin berterima kasih karena sudah mewakili ayah. Berapa yang Nak Rendra sumbangkan, nanti ayah akan ganti?"
Rendra menggeleng. "Tidak perlu, Yah. Rendra ikhlas lahir batin."
Pak Wijaya tersenyum pada menantunya itu. "Alhamdulillah. Ayah bangga sama Nak Rendra. Ayah doakan semoga Allah menggantinya dengan pahala dan rezeki yang berlipat ganda."
"Aamiin. Terima kasih, Yah."
"Besok ikut saja acara halalbihalal di masjid. Nak Rendra, kan juga sudah kenal dengan beberapa warga di sini. Biar lebih banyak mengenal warga sini."
Rendra mengangguk. "Insya Allah, Yah."
"Nak Rendra, kapan balik ke kota?" Ibu Hasna ikut bergabung dengan suami dan menantunya itu.
"Rendra ikut Mas Adi sama Dita, Bun."
"Kenapa ini menyebut namaku?" Adi juga ikut bergabung dengan mereka.
"Bunda tanya kapan kita balik ke kota, Mas," terang Rendra.
"Lusa kayanya. Besok kan ada acara halalbihalal di masjid, sayang kalau enggak ikut," ujar Adi. "Adel juga mau menginap di rumah papa. Kalau pulang lusa bisa menginap di sana satu atau dua hari," lanjutnya.
"Syukurlah kalau begitu. Jadi, kalian bisa berbaur dengan warga di sini besok." Pak Wijaya tersenyum pada Adi dan Rendra.
"Mas Ren, tolong jaga Ale sebentar. Aku mau ke kamar mandi," seru Dita dari pintu kamar.
__ADS_1
"Rendra jaga Ale dulu, Yah, Bun, Mas," pamit Rendra sebelum beranjak ke kamar. Karena Ale posisi tidurnya lasak, maka harus selalu ditemani agar tidak terjatuh dari tempat tidur yang tinggi. Mereka belum sempat merubah kamar Dita agar lebih aman untuk Ale.
"Mbak Adel mana, Mas?" tanya Ibu Hasna pada putra sulungnya.
"Tidur, Bun. Kecapaian dia," jawab Adi.
"Ini juga sudah malam, sebaiknya kita tidur. Besok pasti masih banyak tamu. Pintu depan sudah dikunci, Di?" Pak Wijaya menoleh pada Adi.
"Sudah dikunci semua, Yah," sahut Adi.
"Ya, sudah. Ayo kita tidur." Pak Wijaya beranjak dari duduknya, diikuti istri dan putra sulungnya. Mereka kemudian masuk ke kamar masing-masing.
Dita yang baru selesai membersihkan diri, sudah tidak mendapati keluarganya di ruang tengah. Lampu utama juga sudah dimatikan, tinggal lampu kecil agar tidak gelap saat akan ke kamar mandi. Dia lalu masuk ke kamarnya.
"Mas, sudah bersih-bersih belum?" tanya Dita pada suaminya yang sibuk dengan notebook-nya sembari menjaga Ale.
"Belum," jawab Rendra tanpa mengalihkan pandangannya dari layar notebook.
"Sudah malam, Mas. Bersih-bersih dulu. Besok pagi dilanjut kerjanya," saran Dita.
"Sebentar lagi, Sayang." Tangan Rendra masih menggerakkan stylus pen di atas layar.
"Sebentar itu berapa lama, Mas? Aku ambil paksa ya notebook-nya kalau Mas enggak segera bersih-bersih," ancam Dita.
"Lima menit, Sayang. Serius, aku janji." Rendra menatap istrinya sebentar sebelum kembali fokus pada pekerjaannya.
Dita menunggui suaminya. Berlagak seperti pengawas yang siap mengambil notebook dari tangan sang suami. Setelah empat menit berlalu, Rendra segera menyimpan pekerjaannya. Dia lalu mematikan notebook dan meletakkannya di atas nakas.
"Tepat lima menit kan, Sayang." Rendra tersenyum pada istrinya.
"Ya udah, buruan bersih-bersih. Aku sudah ngantuk ini," titah Dita.
"Give me a kiss, first." Rendra memajukan bibirnya.
"Enggak ada kiss. Bersih-bersih baru ada kiss," tegas Dita.
"Oke, wait for me. Jangan tidur dulu." Rendra bergegas bangkit dan pergi ke kamar mandi.
Dita merebahkan diri di samping putranya. Dia mengusap keringat yang ada di kening dan leher Ale. Dia harus menjaga agar Ale nyaman tidurnya dan tidak rewel. Dia menatap wajah tampan Ale yang sama persis dengan suaminya.
"Tidur yang nyenyak ya, Nak. Kita sudah berkumpul lagi dengan yangkung, yangti, pakde sama bude. Jangan rewel lagi ya." Dita mencium kening Ale.
Beberapa hari ditinggal oleh Pak Wijaya, Ibu Hasna, Adi dan Adelia, membuat Ale menjadi sering rewel. Entah dia memang merindukan mereka berempat atau karena Dita yang merasa rindu hingga Ale menjadi rewel.
Tak lama kemudian, Rendra masuk ke kamar. Dia mengunci pintu sebelum melangkah, mendekat ke ranjang. Dia bisa melihat dua sosok yang sangat dia cintai berbaring di atas ranjang.
Perlahan, Rendra naik ke atas ranjang. Dia mencium kening lalu berdoa di atas ubun-ubun Ale. Setelah itu dia mencium kening istrinya.
Dita yang baru saja memejamkan mata, akhirnya membuka matanya lagi. "Sudah, Mas?"
__ADS_1
"Iya, sudah. Mana kiss-nya." Rendra menatap genit pada sang istri.
Dita tersenyum. Rendra menagih janjinya. Suaminya itu memang seperti anak kecil yang selalu menagih kalau dia sudah berjanji.
Dita meminta Rendra mendekat dengan gerakan jarinya. Dia mengecup kilat pipi dan bibir suaminya. Namun, bukan Rendra namanya kalau hanya puas dengan kecupan kilat. Dia memperdalam tautan bibir mereka saat Dita mau melepaskan bibirnya. Terjadilah pergulatan bibir dan lidah di antara dua insan yang selalu dimabuk cinta itu. Mereka baru melepaskan diri setelah merasa kehabisan oksigen untuk bernapas.
"Sekarang segini dulu. Besok dilanjut lagi," ucap Rendra sambil mengusap bibir Dita.
Dita hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya.
"Selamat tidur, Sayang. Mimpi indah." Rendra mengecup kening Dita sebelum kembali ke posisi tidurnya di samping Ale.
Dini hari, seperti biasa, keluarga Pak Wijaya pasti bangun untuk menjalankan salat Tahajud. Begitu pula Rendra dan Dita yang saling bergantian menjaga putra semata wayang mereka. Usai Tahajud, Rendra meneruskan kembali pekerjaannya yang semalam tertunda. Dita tidak akan mengusik kalau dia bekerja setelah Tahajud sambil menunggu azan Subuh. Dita akan mengusik kalau dia bekerja sampai larut malam dan menunda waktu beristirahat.
Pagi menjelang siang, para tamu mulai berdatangan lagi di kediaman Pak Wijaya. Kali ini dari teman-teman Pak Wijaya dan Ibu Hasna. Ada teman kantor, pengajian, organisasi dan kenalan lainnya.
Malam harinya, mereka semua pergi ke masjid untuk mengikuti acara halalbihalal. Ale juga ikut hadir di sana. Dia sangat senang karena ada banyak anak kecil yang mengajaknya bermain. Ya, meski Ale masih belum paham, tapi dia selalu tertawa setiap ada yang menyapa, jadi menyenangkan orang yang melihatnya.
Pak Wijaya malam itu didaulat sebagai pengisi acara. Dia diminta untuk menceritakan pengalamannya selama di tanah suci. Mungkin pengalaman haji sudah biasa mereka dengar, tetapi pengalaman menjalankan puasa dan salat Idul Fitri di sana, sangat jarang ditemui.
Pak Wijaya mengatakan kalau puasa di tanah suci lebih terasa khusyuk karena mereka bebas dari pekerjaan sehari-hari dan hanya fokus beribadah. Dia menceritakan pengalamannya berbuka puasa bersama orang-orang dari luar negeri. Bagaimana orang-orang di sana berlomba-lomba untuk memberi makanan pada orang yang sedang berpuasa.
Pak Wijaya juga menceritakan suasana Idul Fitri di tanah suci yang tidak seperti di Indonesia. Di sana takbir kemenangan, baru berkumandang pagi hari sebelum salat Idul Fitri dimulai. Tidak ada acara halalbihalal. Pada umumnya setelah salat Idul Fitri mereka langsung pergi bekerja.
Setelah menceritakan pengalamannya, Pak Wijaya juga diminta untuk memimpin doa. Konon doa orang yang baru pulang dari tanah suci bisa langsung didengar dan dikabulkan oleh Allah.
Usai memimpin doa, Pak Wijaya kembali ke tempat duduknya semula. Setelah acara ditutup, semua yang hadir berbaris untuk saling bersalaman dan bermaaf-maafan sambil menyenandungkan selawat nabi.
Keberadaan Ale cukup menyita perhatian jemaah lain. Mereka merasa gemas melihat pipi gembul Ale dan celotehannya yang lucu. Namun, mereka tidak berani menyentuh Ale, karena Rendra melarangnya.
Usai bersalam-salaman, para jemaah kembali ke rumah masing-masing. Bukannya pulang, Rendra malah sibuk mencari kancing jasnya yang terlepas karena ditarik-tarik Ale. Dita sampai marah-marah karena suaminya tidak muncul-muncul meski sudah dibilang sedang ditunggu. Untung saja Rendra bisa menemukan tak lama setelah sang istri marah padanya.
Mereka sekeluarga kemudian pulang bersama jalan kaki karena jarak masjid tidak terlalu jauh dari rumah. Mereka langsung beristirahat malam itu karena acara berlangsung sampai malam.
Keesokan harinya, Adi, Adelia, Dita dan Rendra kembali ke kota. Mereka kembali pada rutinitas mereka semula setelah menikmati liburan selama beberapa hari di desa.
...---oOo---...
Jogja, 271221 00.18
Apakah ada yang berminat berteman dengan saya di Facebook?
Silakan cari kokoronotomo82 lalu tambahkan saya sebagai teman. Seandainya nanti agak lama diterima, mohon maaf ya karena saya jarang on di Facebook.
itu penampakan Facebook baru saya, yang langsung saya sambungkan dengan akun IG. Jadi kalau saya posting di IG pasti akan langsung muncul di beranda facebook.
Saya sudah memenuhi janji saya ya, untuk up minimal seminggu sekali. Semoga bisa sedikit mengurangi rasa rindu.
__ADS_1