
"Kak Shasha." Rendra mengetuk pintu kamar kakaknya.
"Sebentar, Ren," sahut Shasha dari dalam kamar. Tak lama kemudian Shasha membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?" Shasha mengernyit heran, tak biasanya adiknya ini mengajak dia bicara malam-malam. Apalagi mereka baru pulang dari makan malam bersama.
"Aku mau bicara soal Mas Kai," ucap Rendra tanpa basa-basi.
Shasha terkesiap mendengar ucapan Rendra.
"Oh, ya. Mau bicara di mana?" Shasha keluar dari kamarnya, lalu mengikuti Rendra menuju ke teras di lantai atas.
"Kak Shasha, suka sama Mas Kai?" Rendra langsung bertanya begitu Shasha duduk di kursi teras, yang hanya dipisahkan meja kecil dari kursi yang dia duduki.
"Kenapa kamu tanya begitu?" Shasha balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan adiknya.
"Aku di sini sebagai wali Kak Shasha. Kalau Kakak menikah, aku yang paling berhak menikahkan," ujar Rendra.
Shasha menghela napasnya sebelum bicara. "Apa kamu tidak setuju kalau aku sama Mas Kai?" Shasha menoleh, menatap adiknya.
"Kalau mama setuju, aku juga pasti setuju. Kak Shasha sendiri, bagaimana perasaannya sama Mas Kai?" Rendra juga menoleh, mereka saling menatap.
"Mas Kai baik, sopan, ramah. Kakak nyaman dan nyambung ngobrol sama dia."
"Itu enggak menjawab pertanyaanku, Kak." Rendra mendesah.
Shasha tertawa. "Kamu memang enggak peka, Ren," cibirnya.
"Buruan jawabnya, Kak. Waktuku enggak banyak, Dita pasti sudah tunggu aku di bawah," kata Rendra dengan nada kesal.
"Iya, aku suka Mas Kai," kata Shasha. "Tapi aku enggak tahu, Mas Kai juga suka sama aku apa tidak."
Rendra tersenyum sinis. "Enggak usah pura-pura, Kak. Aku yakin Kakak bisa merasakan kalau Mas Kai juga suka sama Kak Shasha."
"Apa kamu ini sudah alih profesi jadi peramal kok bisa tahu isi hati orang," ledek Shasha sambil tertawa.
"Ck, enggak perlu jadi peramal juga semua orang bisa lihat, Kak. Kalau memang Kakak mau serius sama Mas Kai, pertimbangkan dulu semuanya dengan matang. Tidak mudah menjadi istri polisi, harus siap dengan segala risikonya. Apalagi Mas Kai seorang perwira, jenjang karirnya masih panjang. Suatu hari dia akan jadi pejabat tinggi. Kakak harus siap untuk itu," nasihat Rendra pada kakaknya.
"Iya, Ren. Kakak juga tahu."
"Aku cuma mau bicara itu. Oh ya satu lagi, kalau memang Kakak dan Mas Kai serius, langsung ngomong sama mama. Aku tidak setuju kalau kalian pacaran." Rendra bangkit dari duduknya lalu beranjak meninggalkan teras.
Shasha menghela napas. "Siapa juga yang mau pacaran," gumamnya.
Dia bangkit dari kursi dan segera masuk rumah karena udara sudah terasa dingin. Tak lupa mengunci pintu sebelum kembali ke kamarnya.
πΆπΆHey ladies jangan mau dibilang lemah. Kita juga bisa menipu dan menduakan. Bila wanita sudah beraksi dunia hancur.πΆπΆ
Shasha terkejut mendengar gawainya berbunyi. Dia melihat jam beker digital di atas nakas yang menunjukkan pukul 10.00 malam.
"Siapa ya yang menelepon jam segini?" gumamnya dengan kening berkerut.
Dia mengambil gawai di atas nakas. Dia tersenyum membaca tulisan di layar 'Mas Kaisar Tirta calling'. Segera dia menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo, Mas," sapa Shasha dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Halo, Sha. Sudah tidur?" tanya Kaisar dari seberang telepon.
"Belum, Mas. Barusan habis ngobrol sama Rendra. Mas Kai, masih di kantor?"
"Iya, ini lagi rehat sebentar. Mataku pedih lihat layar komputer seharian. Terus aku ingat tadi janji mau hubungi kamu. Makanya sekarang aku telepon. Aku kira kamu sudah tidur, soalnya dua kali teleponku tidak dijawab."
"Oh, Mas Kai, sudah dua kali telepon? Maaf Mas, aku enggak dengar. Ini aku baru masuk ke kamar terus dengar ponselku berbunyi langsung aku angkat."
"Iya, ini yang ketiga kali. Kalau yang ini tidak kamu jawab, aku pikir kamu pasti sudah tidur."
"Belum, Mas. Oya, ada apa Mas?" tanya Shasha sambil mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur. Dia lalu duduk bersandar di ranjang.
"Minggu besok kamu ada acara tidak?"
"Kayanya enggak ada. Mama juga enggak bilang mau ngajak ke pengajian. Kenapa memangnya, Mas?"
"Minggu besok ada temanku yang nikah. Tirta pas kebetulan juga ada acara. Kamu bisa temani aku datang ke resepsi pernikahan temanku?"
"Jam berapa undangannya, Mas?"
"Sebentar aku lihat dulu. Mmm, jam 11.00 resepsinya. Kalau kamu bisa, besok Minggu aku jemput sekitar jam 10.00-an."
"Insya Allah bisa, Mas. Aku pakai kebaya atau baju apa?"
"Terserah kamu, Sha. Yang penting kamu nyaman. Tapi, aku jemput pakai motor, enggak apa-apa kan?"
"Santai saja lagi, Mas. Aku setiap hari juga naik motor kalau kerja. Lagian lebih enak bawa motor, kalau jalanan ramai kan bisa nyelip-nyelip."
"Iya, benar. Kalau begitu sampai ketemu besok Minggu ya."
"Iya, Mas."
"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur. Besok masuk kerja kan?"
"Iya. Mas Kai, juga jangan lupa istirahat kalau sudah capai."
"Siap, Ndan." Mereka berdua sama-sama tertawa.
"Malam, Sha. Selamat tidur, semoga mimpi indah," ucap Kaisar sebelum menutup teleponnya.
"Makasih, Mas. Selamat bekerja. Chayo!!!" Shasha mengepalkan tangan untuk memberi Kaisar semangat meski kakaknya Tirta itu tidak melihatnya.
Setelah mengakhiri telepon, Shasha meletakkan kembali gawainya ke atas nakas. Dia lalu membaringkan diri di atas ranjang sambil memikirkan baju apa yang akan dia pakai saat menemani Kaisar besok Minggu. Dia mengingat-ingat bajunya yang bisa dipakai untuk acara resepsi selain kebaya. Memikirkan baju yang akan dipakai, membuatnya lupa waktu. Dia terkejut saat melihat jam beker sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Kemudian dia memposisikan diri bersiap untuk tidur, tak lupa berdoa sebelum memejamkan mata.
__ADS_1
Minggu pun tiba. Dari pagi Shasha sudah menyiapkan tiga setel baju yang menurutnya pas dipakai hari ini. Dia bingung mau memakai yang mana, karena itu dia meletakkan ketiganya berjejer di atas ranjang.
"Nis," panggilnya pada Nisa yang sedang di ruang cuci.
"Apa Kak?" sahut Nisa sambil mengatur program pencucian mesin cuci.
"Sini, bantu kakak sebentar," titah Shasha.
"Oke." Setelah memastikan programnya mulai, Nisa beranjak ke kamar Shasha yang berhadapan dengan kamarnya.
"Nis, bagus yang mana menurutmu?" Shasha menunjuk ke atas ranjang begitu Nisa masuk ke kamarnya.
"Semua bagus, Kak. Tapi, aku lebih suka yang ini." Nisa menunjuk tunik batik warna netral dengan potongan asimetris dan pola yang unik.
"Bawahannya pakai hitam atau krem, keren ini," kata Nisa yang memang mewarisi bakat mamanya di bidang fashion.
"Sip, Nis. Makasih, Adikku Sayang." Shasha merangkul adik bungsunya itu lalu mencium pipinya.
"Kak Shasha, apa-apaan sih pakai cium-cium segala," protes Nisa yang langsung menghapus bekas bibir Shasha di pipinya.
"Ya, sebagai ucapan terima kasihku, Nis."
"Dih, segitunya. Biasanya juga enggak pernah," sindir Nisa.
Shasha tertawa menanggapi sindiran Nisa.
"Kak Shasha, mau nge-date ya sama Mas Kai," tebak Nisa.
"Siapa yang mau nge-date. Kakak cuma menemani Mas Kai datang ke resepsi temannya," elak Shasha.
"Sama aja keles, Kak. Modusnya ke resepsi, tapi kenyataannya pergi bareng berdua."
"Anak kecil, jangan sok tahu kamu." Shasha mencibir Nisa.
"Aku sudah kuliah semester tiga ya, Kak. Seumuranku ini, Mbak Dita juga sudah nikah dan hamil Akhtar. Jadi, aku bukan anak kecil lagi," tukas Nisa.
"Iya--iya. Sudah sana keluar dari kamar kakak." Shasha mengibaskan tangannya, memberi kode pada Nisa agar segera keluar kamarnya.
"Awas ya kalau panggil lagi," ancam Nisa sebelum keluar dari kamar Shasha.
Kaisar tiba di rumah Ibu Dewi pukul 10.15 WIB. Dia tampak gagah dengan kemeja batik slimfit berwarna dasar krem. Dia tersenyum pada Dita yang membukakan pintu untuknya.
"Duduk dulu, Mas. Aku panggilkan mama dan Mbak Shasha," pamit Dita setelah mempersilahkan Kaisar duduk.
"Kamu duduk saja, Dita. Aku kasihan lihat kamu berjalan dengan perut besar begitu. Aku kirim pesan sama Shasha saja." Kaisar lalu mengetik pesan di gawainya.
"Biasa saja, Mas. Aku jalan kan juga sekalian olahraga."
"Tapi aku enggak tega lihatnya. Rendra mana kok enggak kelihatan, biasanya dia yang buka pintu?" tanya Kaisar setelah mengirim pesan pada Shasha.
"Mas Rendra tadi latihan di gelanggang. Mungkin sebentar lagi sampai rumah," jawab Dita.
"Iya. Buat jaga badan biar enggak gembul perutnya," seloroh Dita yang diikuti tawa Kaisar.
"Eh, ada tamu ternyata. Apa kabar, Mas Kai? Tirta mana?" sapa Ibu Dewi.
Kaisar berdiri lalu menghampiri Ibu Dewi. Dia mencium punggung tangan mamanya Shasha itu.
"Alhamdulillah, kabar saya baik dan sehat, Tante. Tirta kebetulan baru ada acara jadi tidak bisa ikut. Tante, sehat kan?"
"Alhamdulillah, tante juga baik dan sehat. Mau pergi sama Shasha ya?"
"Iya, Tante. Mohon izin mengajak Shasha pergi ke resepsi teman kantor saya," kata Kaisar.
"Silakan saja. Sudah janjian kan sama Shasha?" ujar Ibu Dewi.
"Dita, Shasha sudah dipanggil belum?" Ibu Dewi beralih pada menantu kesayangannya.
"Iya, Tante. Terima kasih. Saya sudah memberitahu Shasha kalau saya sudah di sini. Saya tidak tega melihat Dita harus berjalan memanggil Shasha," sela Kaisar.
"Oh ya sudah, mungkin sebentar lagi Shasha turun," kata Ibu Dewi.
"Maaf lama menunggu, Mas." Shasha tiba-tiba muncul dari dalam dengan penampilan yang sudah rapi. Dia juga membawa helm, siap untuk berangkat.
"Anak mama cantik sekali hari ini," puji Ibu Dewi setelah melihat putri sulungnya.
"Memang biasanya aku enggak cantik, Ma?" tanya Shasha, pura-pura cemberut.
"Cantik dong. Mamanya kan cantik, masa anaknya enggak cantik," seloroh Ibu Dewi.
"Ih, Mama suka benar deh kalau ngomong," balas Shasha sambil tertawa.
"Sudah siap, Sha?" tanya Kaisar setelah tawa mereka mereda.
"Sudah, Mas."
"Tante, kami izin pergi dulu," pamit Kaisar.
"Iya. Hati-hati di jalan. Tidak usah mengebut," pesan Ibu Dewi.
"Siap, Tante." Kaisar lalu menyalami Ibu Dewi sebelum pergi. Sementara dengan Dita, dia hanya menangkupkan kedua tangan.
"Ma, Dita, aku pergi ya," pamit Shasha. Dia menyalami dan mencium pipi mereka berdua.
"Kamu enggak pakai jaket, Sha?" tegur Ibu Dewi.
"Enggak, Ma. Gerah. Assalamu'alaikum," salam Shasha sebelum keluar rumah.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
__ADS_1
Shasha segera memakai helm, lalu naik ke atas motor Kaisar. Mereka pun mulai melaju meninggalkan halaman rumah Ibu Dewi.
"Sha, nanti kamu bisa tahan kan kalau digoda teman-temanku?" tanya Kaisar saat mereka sudah di jalan.
"Santai, Mas. Sudah biasa aku," jawab Shasha.
Sampai di tempat resepsi sudah bisa dipastikan Kaisar dan Shasha menjadi bulan-bulanan teman-teman kantor Kaisar. Apalagi baru kali ini dia mengajak perempuan selain adiknya.
"Tumben bawa gandengan, Ndan."
"Calon nyonya nih, Ndan."
"Cantiknya, Ndan. Boleh kenalan enggak nih?"
"Akhirnya Pak Komandan enggak jomlo lagi."
"Pejenya jangan lupa, Ndan."
Dan berbagai macam celoteh lainnya. Shasha hanya menanggapinya dengan tersenyum. Sementara Kaisar menjawab semua godaan dari teman-temannya sambil tertawa lepas.
"Maaf Sha, kalau kamu jadi enggak nyaman karena digoda teman-temanku," kata Kaisar saat mereka duduk sambil menikmati hidangan yang disajikan di sana.
"Santai, Mas. Aku asyik-asyik saja kok."
"Enggak kapok kan kalau kapan-kapan aku ajak lagi?" Kaisar menatap Shasha.
Shasha tersenyum. "Kenapa harus kapok. Kaya diapain aja, Mas."
"Alhamdulillah kalau begitu. Habis dari sini, mau jalan? Mumpung aku bisa libur."
"Ke mana?"
"Ya ke mana kamu mau. Nonton atau makan, nge-mal mungkin."
"Ini sudah makan, masa makan lagi, Mas. Aku bukan Dita yang selalu lapar," canda Shasha.
"Dita sedang hamil besar, wajar kan jadi gampang lapar."
"Iya, Mas. Aku cuma bercanda. Nonton bolehlah. Tapi, kita pakai baju batik begini enggak apa-apa?"
"Tidak ada larangan kan memakai batik saat nonton film?" Kaisar melihat Shasha dengan mimik jenaka.
Shasha tertawa. "Mas Kai, bisa saja. Lagian siapa yang berani melawan pak polisi yang satu ini."
Kaisar ikut tertawa. "Kalau begitu kita pesan tiket saja dahulu, daripada kehabisan, apalagi ini hari Minggu."
Kaisar mengeluarkan gawainya dan membuka aplikasi pemesanan tiket jaringan bioskop terbesar di Indonesia.
"Mas Kai, kok punya aplikasinya, sering nonton ya?" pancing Shasha.
"Kadang sama teman-teman kantor kalau ada film action yang bagus. Kadang juga sama Tirta," terang Kaisar.
"Oh ya, kamu suka film apa?" Kaisar melihat-lihat daftar film yang sedang tayang hari ini.
"Apa saja, asal jangan horor."
"Ya sudah ini kamu pilih saja yang mana." Kaisar menyerahkan gawainya pada Shasha.
"Kok jadi aku yang milih, Mas," protes Shasha.
"Biasanya kan begitu, cewek yang milih, cowoknya ngikut. Kalau sama Tirta, dia juga yang milih, aku tinggal bayar dan ikut." Kaisar tertawa.
"Ya, udah. Tapi jangan protes ya sama pilihan filmku," kata Shasha.
"Siap, Ndan." Mereka berdua lalu tertawa.
"Kalau sama Tirta nonton film apa biasanya, Mas?"
"Dia sih sukanya film romantis."
"Mas Kai, suka film romantis?"
"Enggak terlalu. Biasanya, aku tidur kalau filmnya enggak menarik buatku." Kaisar terkekeh. "Terus Tirta ngomel kalau aku tidur. Ya aku jawab saja, yang penting aku temani dia nonton. Perkara aku nonton filmnya apa tidur kan bukan masalah."
Shasha tertawa mendengar cerita Kaisar. Entah kenapa bersama Kaisar, dia selalu bisa tertawa bahkan untuk hal yang tidak terlalu lucu.
"Wah, kayanya aku harus pilih film yang action ini, biar Mas Kai enggak numpang tidur di bioskop," kelakar Shasha.
"Film yang ini gimana, Mas? Ini ceritanya tentang perjuangan sekelompok orang yang memerangi alien pakai jurus bela diri." Shasha menunjukkan pada Kaisar yang membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
"Boleh, pesan saja. Semoga masih ada tempat yang bagus," kata Kaisar.
"Siap, Ndan." Shasha terkekeh lalu menoleh ke samping. Dia terkesiap karena wajah mereka begitu dekat. Bahkan bibirnya nyaris menyentuh pipi Kaisar. Bila orang melihat dari jauh mungkin sudah menganggap Shasha mencium pipi Kaisar.
"Sha, kok malah diam. Ini jadi pesan kan." Kaisar menoleh ke samping karena Shasha terdiam cukup lama. Dia terkejut karena Shasha justru terpaku menatapnya dengan jarak yang sangat dekat. Akhirnya mereka saling menatap tanpa bicara.
"Ndan, kalau mau mesra-mesraan jangan di sini. Mentang-mentang pasangan baru, maunya nyosor terus." Salah satu teman Kaisar menepuk bahunya yang membuat mereka tersadar dan menjauhkan diri.
...---oOo---...
Jogja, 080921 17.50
Hai semua apa kabar?
Semoga teman-teman semua senantiasa diberikan kesehatan dan selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin.
Saya ingin membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan cerita. Dalam cerita ini tokoh utamanya adalah Rendra-Dita dan Adi-Adelia, kalau ada karakter lain yang diceritakan itu sebagai pelengkap cerita seperti Shasha, Kaisar, Bara, Bella dan yang lainnya. Kalau di luar tokoh utama menjadi sentral cerita, maka akan ke luar dari tema awal/utama. Mungkin suatu hari, kalau saya masih minat untuk menulis, saya akan menuliskan tentang kisah mereka. Tapi, saya tidak bisa menjanjikan hal tersebut βοΈπ.
Saya berusaha memberikan porsi seimbang untuk tokoh utama, saling bergantian dan pasti akan saling terkait. Mohon maaf bila mungkin membosankan atau tidak bisa memenuhi permintaan teman-teman. Saya masih penulis pemula dan amatir, sangat jauh dari kata sempurna seperti penulis lain, mohon maaf karena masih banyak kekurangan πππ.
__ADS_1
Terakhir, terima kasih pada teman-teman yang masih setia mengikuti cerita receh ini. πππ