
"Aku ... aku bukannya enggak mau, Ma. Tapi aku enggak suka caranya Mas Adi memutuskan tanpa bicara dulu sama aku. Kenapa harus bertemu mama dan papa diam-diam di belakangku?" Adelia masih saja cemberut.
"Mama dan papa minta maaf ya kalau membuat Mbak kecewa. Kami juga tidak tahu kalau Mas Adi akan membahas soal itu. Mas Adi hanya bilang mau bicara dengan kami saja." Ibu Sarah membelai kepala putrinya penuh rasa sayang.
Adelia menggelengkan kepalanya, dia meraih tangan mamanya lalu mencium kedua punggung tangan wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Mama dan Papa enggak salah. Mbak enggak bermaksud menyalahkan Mama dan Papa. Mbak minta maaf kalau bereaksi berlebihan. Mbak cuma merasa kesal sama Mas Adi kenapa enggak membicarakan ini dulu."
"Terus sekarang Mbak maunya gimana?" tanya Ibu Sarah dengan lembut.
"Mbak mau bicara dulu sama Mas Adi," jawab Adelia.
"Ya sudah, nanti biar papa bilang Mas Adi kalau kalian sebaiknya bicara berdua dulu."
"Enggak usah, Ma. Habis ini Mbak mau telepon Mas Adi."
"Tapi ini udah malam loh, Mbak." Ibu Sarah menunjuk jam yang tertempel di dinding kamar Adelia yang menunjukkan pukul 10.00 malam.
"Mbak yakin Mas Adi belum tidur. Mama tenang saja. Sekarang Mama istirahat dulu, pasti capek kan." Adelia memijat lengan mamanya.
"Mbak, jangan pakai emosi ya bicara dengan Mas Adi. Bagaimanapun niat Mas Adi itu baik. Tolong dipertimbangkan lagi apa yang sudah mama katakan tadi," pesan Ibu Sarah.
"Iya, Mama tenang saja. Percaya sama mbak." Adelia meyakinkan mamanya. "Sekarang, Mama istirahat dulu. Kasihan papa tidur di kamar sendiri."
"Mengusir mama ini?" seloroh Ibu Sarah.
"Enggak, Ma. Tapi ini udah malam, Mama kan besok kerja."
"Iya, mama tahu. Ingat ya Mbak, baik-baik ngomongnya sama Mas Adi."
"Iya, Mama Sayang." Adelia mengecup pipi mamanya.
Ibu Sarah tersenyum lalu bangkit dari duduknya, meninggalkan kamar putri sulungnya.
Adelia mengambil gawainya lalu duduk dengan punggung bersandar di headboard. Dia mencari nama kontak calon suaminya.
"Bismillah," ucapnya sebelum memencet tombol hijau, tanda melakukan panggilan.
Adelia dengan jantung berdebar menunggu calon imamnya menjawab panggilannya.
"Assalamu'alaikum," salam Adelia begitu Adi mengangkat teleponnya setelah dering ke lima.
"Wa'alaikumussalam. Apa ada masalah? Kenapa menelepon malam-malam?" suara Adi terdengar cemas dari seberang telepon.
"Ada yang mau saya bicarakan, Mas. Apa Mas Adi sudah tidur?" tanya Adelia.
"Belum, ini baru ngobrol sama Dita dan Rendra. Apa yang mau kamu bicarakan?"
Adelia menghela napas sebelum bicara, menata hati dan emosinya.
"Mas Adi, kenapa tidak mengajak saya bicara dulu sebelum memutuskan akan mempercepat pernikahan? Apa saya tidak dibutuhkan pendapatnya dalam hal ini padahal nanti saya dan Mas Adi yang akan menjalaninya?" Adelia sedikit tersulut emosinya.
"Aku minta maaf kalau membuat kamu merasa tidak dihargai. Demi Allah, aku tidak pernah berniat seperti itu. Aku mengaku salah sudah membuat keputusan sendiri tanpa melibatkan kamu. Aku pikir kamu akan setuju dengan keputusanku. Kalau kamu tidak setuju, tidak apa-apa. Aku akan menerima apa pun keputusanmu. Nanti akan aku rubah lagi rencanaku."
"Bukan masalah setuju atau tidaknya, Mas. Saya tahu ini semua demi kebaikan kita. Tapi saya tidak suka cara Mas Adi yang memutuskan semuanya sendiri. Dan juga diam-diam bertemu dengan mama dan papa tanpa sepengetahuan saya."
"Baik. Aku minta maaf sekali lagi. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Apa kamu mau memaafkan aku?"
__ADS_1
Adelia terdiam.
"Adelia, halo. Kamu masih di sana kan?"
"Iya, Mas. Saya memaafkan Mas Adi. Semoga Mas Adi bisa menepati janji."
"Alhamdulillah. Insya Allah, aku akan menjaga janjiku. Tolong ingatkan kalau nanti aku melanggarnya karena aku hanya manusia biasa tempatnya salah dan khilaf."
"Iya, Mas," ucap Adelia pelan.
"Jadi bagaimana kamu setuju atau tidak kita menikah lusa? Aku yakin Tante Sarah sudah menjelaskan apa alasannya."
"Apa menurut Mas Adi itu keputusan terbaik? Apa tidak ada alternatif lainnya?" tanya Adelia.
"Insya Allah itu yang terbaik menurutku. Tapi kalau kamu ada usulan lain bilang saja, aku siap mendengarkan. Tunggu sebentar ya."
Samar-samar terdengar Adi sedang bicara dengan Dita atau Rendra selama beberapa saat.
"Maaf ya menunggu. Tadi Dita sama Rendra pamit pulang. Sampai di mana kita tadi?"
"Alternatif keputusan lainnya," sahut Adelia.
"Oh iya, apa kamu ada usul, apa yang sebaiknya aku lakukan untuk menghadapi Restu dan melindungi kamu?"
"Tidak ada, Mas."
"Apa berarti kamu setuju kita menikah lusa?"
"Kalau memang tidak ada jalan lain, Insya Allah saya setuju, Mas."
"Alhamdulillah. Terima kasih, Adelia. Berarti aku tidak perlu merubah semua rencanaku."
"Sabtu besok kita bertemu Restu, memberi dia kejutan kalau kita sudah menikah. Tapi kamu jangan salah sangka kalau aku akan pamer sama dia. Aku ingin dia tahu kalau kamu sudah melupakan dia dan kamu punya aku sebagai suamimu. Semoga dengan itu dia sadar kalau perbuatannya sudah salah dan tidak akan mengusik kamu lagi."
"Tapi, saya tidak mau bertemu dia lagi, Mas."
"Kenapa?"
"Saya muak melihat wajahnya yang terlihat polos dan baik tetapi ternyata kelakuannya bejat."
"Oke, aku mengerti. Tapi, aku mohon dengan sangat, kamu mau pergi Sabtu besok. Kamu harus menunjukkan pada dia kalau kamu lebih bahagia setelah tidak bersamanya. Mau kan?"
Adelia masih terdiam.
"Kamu enggak perlu takut sama dia. Ada aku yang akan membela dan melindungi kamu. Kalau dia berani macam-macam sama kamu berarti sama saja dia mencari masalah denganku. Please, mau ya?"
"Iya, Mas."
"Terima kasih. Oh ya ada satu hal lagi yang mau aku bicarakan. Aku enggak tahu Tante Sarah sudah memberi tahu soal ini atau belum."
"Soal apa, Mas?" tanya Adelia penuh rasa penasaran.
"Setelah kita menikah nanti, aku ingin kamu langsung tinggal di sini, di rumahku. Apa kamu mau?"
Adelia terkejut dengan pertanyaan Adi. Bukankah memang sudah seharusnya istri mengikuti ke mana pun suaminya tinggal.
"Kenapa Mas Adi tanya soal itu?" Adelia mengernyit heran.
__ADS_1
"Ya, siapa tahu kamu ingin tinggal terpisah seperti Dita dulu. Aku hanya mengantisipasi saja. Aku juga sudah minta izin sama Om dan Tante, dan mereka mengizinkan."
"Tanpa Mas Adi minta, saya pasti akan ikut Mas Adi setelah kita menikah. Itu sudah komitmen saya dari dulu. Tapi, saya boleh kan sesekali datang dan menginap di rumah papa?"
"Tentu saja boleh. Masa menengok orang tua tidak boleh. Aku tidak mau jadi menantu yang durhaka pada mertua. Aku juga sebulan sekali pasti pulang untuk menginap di rumah ayah. Nanti bisa kita atur soal itu. Bukan masalah besar."
"Terima kasih, Mas."
"Iya, sama-sama. Apa masih ada yang mengganjal?"
"Insya Allah, sudah tidak ada, Mas."
"Ini sudah malam, tidak baik tidur terlalu malam. Oh ya, aku hampir lupa. Mungkin besok Dita akan bertemu kamu untuk membahas teknis pelaksanaan akadnya."
"Baik, Mas."
"Mmmhhh sebelum aku lupa lagi ... kamu ingin mahar apa dari aku?"
"Seperangkat alat salat dan Al-Qur'an, Mas."
"Hanya itu? Tidak ingin perhiasan atau uang atau hal lainnya."
"Tidak, Mas. Itu sudah sangat cukup."
"Kenapa?"
"Salah satu niat saya menikah karena ingin dibimbing Mas Adi lebih mendekatkan diri pada Allah. Jadi seperangkat alat salat dan Al-Qur'an itu saya harapkan bisa mengingatkan akan tujuan saya."
"Masya Allah, tanpa mahar itu juga Insya Allah aku akan membimbingmu. Tapi kalau memang itu maumu tidak masalah. Besok sekalian saja pergi dengan Dita cari mahar yang kamu inginkan."
"Tidak perlu harus sesuai keinginan atau selera saya, Mas. Insya Allah, saya akan menerima apa pun yang Mas Adi beri."
"Jangan, mahar itu nanti untuk kamu pakai, bukan sebagai pajangan atau hanya disimpan. Jadi harus yang membuatmu nyaman. Bisa kan pergi dengan Dita?"
"Kalau itu keinginan Mas Adi, Insya Allah, saya bisa."
"Bagus. Sudah clear ya semuanya, akad, tempat tinggal dan mahar. Sudah tidak ada ganjalan lagi kan?"
"Insya Allah, sudah clear, Mas."
"Karena ini sudah sangat larut, segera tidur jangan begadang. Selamat tidur, semoga mimpi indah. Jangan lupa wudu dan berdoa sebelum tidur."
"Iya, Mas."
"Sampai ketemu hari Jumat besok. Wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
...---oOo---...
Jogja, 130621 23.50
Udah siap-siap kado untuk Mas Adi dan Adelia belum? ššš
Cerita ini mengikuti kontes You Are A Writer Seasons 5, mohon dukungannya šš¤
Kalau ada masukan, kritik dan saran yang membangun, boleh via kolom komentar, PC atau DM di instagram @kokoro.no.tomo.82
__ADS_1
Jangan lupa ritual jempol atau like-nya setelah baca ya, Kak. Karena satu jempol atau like sangat berharga. Terima kasih šš¤