
"Mas," ucap Adelia dengan air mata berlinang, seraya menyodorkan satu alat test pack yang sudah menunjukkan hasil.
"Kenapa, Ai?" Adi mendekati istrinya dengan penuh rasa khawatir. Dia langsung memeluk Adelia tanpa melihat test pack yang dipegang sang istri.
"Sabar, Ai. Kita besok berusaha dan berdoa lagi." Adi mengelus kepala Adelia, kemudian mencium keningnya.
Bukannya diam, Adelia justru semakin terisak-isak karena suaminya sudah salah paham.
"Ai, sudah jangan sedih. Aku enggak apa-apa kok. Allah berarti belum memberi kita kepercayaan untuk memiliki anak." Adi kembali menenangkan Adelia.
"Aku bukan menangis sedih, Mas. Aku menangis karena bahagia," ucap Adelia dalam pelukan sang suami.
"Hah? Apa, Ai? Menangis bahagia?" Adi memastikan apa yang dia dengar tidak salah.
Adelia mengangguk. "Iya, Mas."
"Loh, memang hasilnya apa, Ai?" Adi mengurai pelukannya.
"Ini." Adelia memperlihatkan test pack yang tadi dia pegang dan akan ditunjukkan pada Adi, tetapi Adi keburu salah paham dan memeluknya.
"Ini artinya apa, Ai?" Kening Adi mengerut melihat ada dua tanda garis merah yang sejajar.
Adelia tersenyum dengan mata yang masih basah. "Insya Allah positif, Mas."
"Po--sitif? Itu artinya Ai hamil?" Adi memastikan lagi pada sang istri.
Adelia mengangguk. "Insya Allah, Mas. Tapi untuk kepastiannya kita harus periksa ke dokter kandungan."
"Alhamdulillah." Adi memeluk Adelia kembali, kali ini lebih erat.
"Mas, jangan terlalu kencang," protes Adelia yang merasa sesak.
"Eh, maaf, Ai." Adi pun mengurai pelukannya.
"Maafkan abi ya, Nak." Adi mengelus perut Adelia.
Adelia tersenyum lebar melihat tingkah polah suaminya.
"Kita jangan terlalu senang dulu, Mas. Nanti kalau sudah ke dokter dan hasilnya aku memang benar hamil, baru kita rayakan dan umumkan pada yang lain."
"Iya, Ai. Coba tanya Dita jadwal dokter Lita hari apa saja, biar secepatnya bisa periksa ke sana," titah Adi.
"Iya, Mas. Nanti bakda Subuh aku hubungi Dek Dita."
Adi menganggut. Dia lalu melihat beberapa test pack yang tadi dipakai Adelia.
"Ai, kalau garis dua itu artinya positif ya?" tanya Adi penasaran.
"Iya, Mas. Memangnya kenapa?" Adelia mengikuti apa yang dilakukan suaminya.
"Ini ternyata garis dua semua, cuma satu yang agak samar garisnya." Adi menunjuk test pack yang dimaksud.
"Iya, Mas. Tapi, kalau samar itu katanya juga indikasi positif sih," gumam Adelia.
"Semoga saja memang positif hamil ya, Ai."
"Aamiin."
"Ambil wudu yuk, Ai. Kita salat sunat, mengucap syukur pada Allah."
"Iya, Mas. Aku rapikan dulu ini test pack-nya." Adelia mengumpulkan test pack dalam satu wadah agar tidak berceceran. Kemudian dia mengambil wudu, mengikuti sang suami.
Bakda Subuh, Adelia menghubungi Dita.
"Dek, hari ini dokter Lita praktik jam berapa ya?" tanya Adelia setelah saling bertukar salam dengan Dita.
"Dokter Lita praktiknya Senin sampai Jumat, ada pagi sama sore, Mbak. Mau konsultasi lagi sama dokter Lita?"
"Iya, Dek. Omong-omong, tadi aku sudah jadi test pack, Dek."
"Wah, gimana hasilnya, Mbak?" tanya Dita penuh antusias.
"Alhamdulillah, garis dua. Makanya nanti aku mau ketemu dokter Lita untuk memastikan."
"Alhamdulillah, aku ikut senang. Insya Allah benar-benar hamil ya, Mbak."
"Aamiin. Oh ya, Dek, kalau datang langsung ke tempat praktik dokter Lita bisa enggak ya, enggak daftar dulu gitu?"
"Belum tentu bisa, Mbak. Nanti telepon dulu saja ke sana, minta disambungkan ke pendaftaran. Mbak tanya saja, hari ini masih ada kuota atau tidak? Kalau rezekinya Mbak, ya bisa langsung hari ini."
"Ya udah, Dek. Makasih infonya. Mbak telepon dulu ke sana."
"Iya, sama-sama, Mbak."
"Gimana, Ai?" tanya Adi begitu Adelia selesai mengucap salam dan menutup telepon.
"Ada jadwal dokter Lita hari ini, katanya ada pagi sama sore. Aku disuruh telepon dulu masih ada kuota untuk hari ini apa enggak," jawab Adelia.
"Ya sudah, Ai telepon saja sekarang," titah Adi tak sabar.
__ADS_1
"Iya, Mas. Aku ambil kartu periksaku dulu."
Adelia mengambil kartu periksanya. Dia lalu menelepon nomor RSKIA yang ada di sana.
"Mas, jadwal sore yang masih ada kuota, gimana?" Adelia meminta pendapat suaminya setelah meminta info bagian pendaftaran.
"Iya, enggak apa-apa. Aku bisa pulang lebih cepat."
Adelia mengangguk. Dia lalu mendaftar sekalian agar nanti mendapat nomor antrian.
"Aku sudah daftar, Mas. Aku dapat nomor antrian 15, jadi kita enggak perlu terburu-buru."
"Asar nanti aku pulang, Ai. Kan aku juga harus mandi dulu. Masa mau antar istriku yang cantik, aku-nya lusuh dan bau keringat," timpal Adi.
"Mas Adi, bisa saja," sahut Adelia dengan wajah tersipu.
"Pagi ini, Ai, mau makan apa? Biar aku yang masak. Ai, tiduran saja."
"Apa saja, Mas. Aku lagi enggak ingin makan sesuatu yang spesifik."
"Oke. Akan aku buatkan yang spesial dengan penuh cinta buat Ai," ujar Adi.
"Pastikan enak Mas," kata Adelia seraya tersenyum manis pada sang suapi.
"Insya Allah. Untuk Ai apa sih yang tidak." Adi mengedipkan sebelah matanya dengan genit yang membuat Adelia tertawa.
"Mas, nanti pulang dari dokter Lita, kita mampir ke rumah papa, ya." Adelia memandang sang suami dengan tatapan memohon.
"Siap, Tuan Putri. Mau menginap di sana sekalian?" tawar Adi.
Adelia menggeleng. "Enggak, Mas. Kalau di sana mau ke kamar harus naik tangga. Nanti kalau aku hamil kan riskan naik turun tangga."
"Kita bisa tidur di kamar tamu di lantai bawah kalau Ai mau menginap di sana." Adi memberi solusi pada sang istri.
Adelia kembali menggeleng. "Aku mau tidur di sini saja. Aku lebih merasa nyaman di sini. Mama sama papa juga pasti ngerti, Mas."
"Ya sudah kalau itu maunya, Ai. Aku mau masak dulu ya." Adi mencium kening belahan jiwanya itu sebelum pergi ke dapur.
"Iya, Mas." Adelia duduk di atas ranjang sambil bersandar di headboard. Dia menggulirkan tangannya dengan lincah di atas gawai. Dia mencari-cari info tentang kehamilan.
Sore hari, mereka berdua pergi ke RSKIA di mana dokter Lita praktik. Setelah mendaftar ulang, Adelia diminta untuk mengambil urine dan juga sampel darahnya untuk diperiksa di laboratorium. Hasil pemeriksaan nanti akan dijelaskan oleh dokter Lita.
"Selamat sore, Bu Adelia," sapa dokter Lita dengan ramah seperti biasanya.
"Sore, Dok," balas Adelia juga dengan ramah.
Adelia menyengguk. "Iya, Dok. Suami saya ini yang kakak kandungnya Dek Dita."
"Oh iya-iya. Saya ingat. Saya bisa panggil Bapak Adindra?" tanya dokter Lita usai melihat lembar informasi pasien yang juga menuliskan nama suami di sana.
"Panggil Adi saja, Dok," jawab Adi.
"Baik, Pak Adi. Kali ini apa yang bisa saya bantu Pak Adi, Bu Adelia?" dokter Lita memandang secara bergantian sepasang suami istri yang duduk di depannya.
"Begini, Dok. Saya sudah telat haid beberapa hari, terus tadi saya pakai test pack dan hasilnya positif. Jadi kami kemari untuk memastikan apa saya memang benar hamil," terang Adelia.
"Ibu Adelia, tadi sudah diambil sampel darah dan urine?"
"Sudah, Dok."
"Sus, tolong ambilkan hasil lab Bu Adelia," pinta dokter Lita pada seorang perawat yang ada di sana.
"Baik, Dok." Perawat itu lalu ke luar ruang praktik dokter Lita.
"Sambil menunggu hasil lab, apa Ibu Adelia ingat kapan terakhir kali haid? Maksudnya hari pertama haid yang terakhir."
Adelia mengangguk lalu menyebutkan tanggal terakhir dia haid dan menjawab berbagai pertanyaan dari dokter Lita.
Tak lama perawat datang dengan membawa hasil tes lab Adelia. Dia langsung menyerahkan pada dokter Lita. Setelah menerima hasil tes tersebut, dokter Lita langsung membacanya dan tersenyum lebar.
"Selamat Pak Adi dan Bu Adelia, hasilnya Ibu positif hamil," ucap dokter Lita.
"Mas, aku tidak salah dengar kan?" Adelia menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak, Ai. Alhamdulillah. Ai, positif hamil." Adi memandang istrinya dengan raut wajah bahagia. Dia langsung memegang erat tangan Adelia.
"Alhamdulillah." Adelia tak kuasa menahan rasa haru. Tanpa terasa ada yang menetes dari sudut matanya. Adi yang tahu hal itu langsung mengusap dengan sudut ibu jarinya.
"Sekali lagi selamat Pak Adi, Bu Adelia, akhirnya penantiannya berbuah manis," ucap dokter Lita setelah beberapa saat memberikan waktu untuk mereka berdua menikmati kebahagiaan kecil tersebut.
"Terima kasih, Dok," sahut Adi. "Langkah selanjutnya bagaimana ya, Dok?"
"Untuk sekarang di-USG dulu, Pak. Meski kemungkinan besar janin masih belum kelihatan karena usia kandungan masih 5 minggu," terang dokter Lita.
"Silakan bersiap Bu Adelia," lanjut dokter Lita sambil menunjuk ke tempat USG.
Setelah Adelia berbaring dan membuka bagian perutnya, perawat memberi gel di atasnya. Dokter Lita kemudian mulai menggerakkan transducer di sana.
"Janin masih belum kelihatan ya, Pak, Bu, karena kehamilan masih muda. Tapi ini sudah kelihatan kantong janinnya meski masih kecil." Dokter Lita menunjukkan gambar bulat kecil di dalam layar.
__ADS_1
"Masya Allah," gumam Adi saat melihat gambar yang ditunjuk dokter Lita.
"Janin kapan mulai kelihatan, Dok?" tanya Adelia.
"Insya Allah selama kehamilannya normal, usia 8 minggu pasti sudah terlihat. Jadi, 3 minggu atau satu bulan dari sekarang, silakan kontrol lagi ke sini," jawab dokter Lita sambil mencetak hasil USG.
Perawat kemudian membersihkan perut Adelia dari gel dengan handuk bersih.
"Ini hasil USG tadi." Dokter Lita menyerahkan pada Adelia setelah mereka duduk berhadapan kembali.
Dengan tangan sedikit bergetar, Adelia menerimanya. Dia menunjukkan foto tersebut pada Adi.
"Apa Bu Adelia mengalami mual atau muntah?" tanya dokter Lita.
"Tidak, Dok. Saya malah jadi doyan makanan manis," jawab Adelia.
"Selain vitamin, saya resepkan juga untuk mengatasi mual ya, Bu. Hanya untuk berjaga-jaga. Karena kadang mual sering timbul di trimester pertama." Dokter Lita menulis di lembar resep.
"Untuk makanan manis sebaiknya dikurangi ya, Bu. Bukan hanya karena nanti akan menambah banyak berat badan dan menyebabkan obesitas, tetapi juga kehamilannya jadi berisiko kalau kadar gula dalam darah tinggi," terang dokter Lita.
"Apa saja risikonya, Dok?" tanya Adi penuh rasa ingin tahu.
"Bila kadar gula dalam darahnya tinggi, Ibu berisiko mengidap diabetes gestasional. Nah penyakit diabetes gestasional ini dapat memicu timbulnya gangguan kehamilan, yaitu preeklamsia yang bisa mengancam keselamatan ibu dan buah hati."
"Selain itu bila terlalu sering mengonsumsi makanan manis saat hamil juga akan memicu penyakit diabetes tipe-2. Risiko ke janin nanti janinnya bisa mengalami obesitas atau bayi lahir dengan berat berlebih. Selain itu, janin juga berisiko mengidap diabetes tipe-2 saat dewasa nanti."
"Astaghfirullah," ucap Adelia sambil menutup mulut dengan satu tangan.
"Berarti istri saya tidak boleh makan makanan manis, Dok?" tanya Adi.
"Boleh, Pak, tapi jangan berlebihan. Karena segala sesuatu kalau berlebihan itu juga tidak baik. Coba nanti tanya ke Bu Dita, camilan yang sehat saat hamil apa saja. Kemarin Bu Dita bisa mengendalikan berat badan meski keinginan makannya besar," jawab dokter Lita.
"Baik, Dok." Adi menganggukkan kepala.
"Sampai usia kehamilan 28 minggu, Bu Adelia cukup kontrol sebulan sekali bila tidak ada keluhan atau pendarahan. Tapi, bila merasa ada keluhan atau pendarahan bisa langsung kontrol. Jangan sampai menunda-nunda agar bisa segera ditangani kalau memang membutuhkan tindakan medis."
"Iya, Dok."
"Apa ada yang mau ditanyakan lagi?" tanya dokter Lita.
Adi dan Adelia saling memandang, memberi kode lewat tatapan mata.
"Sepertinya sudah tidak ada, Dok," sahut Adi kemudian.
"Baiklah kalau begitu. Jangan lupa vitaminnya diminum setiap hari ya, Bu. Obat mualnya bila merasa mual saja, kalau tidak mual tidak perlu diminum. Makan makanan yang sehat dan bergizi. Hindari makan yang mentah, bersoda dan kurangi yang manis. Jangan sampai stres ya, Bu. Jaga hati tetap bahagia." Dokter Lita memberi banyak pesan pada Adelia.
"Baik, Dok," sahut Adelia.
"Ini resep, dah hasil tes lab tadi. Semoga kehamilannya lancar, ibu dan dedek bayi sehat sampai saatnya melahirkan."
"Aamiin. Terima kasih, Dok. Kalau begitu kami permisi dulu."
"Silakan Bu Adelia dan Pak Adi," ucap dokter Lita dengan ramah.
Usai mengurus administrasi dan mengambil resep, mereka akan pulang ke rumah Pak Lukman. Sebelumnya, mereka mampir ke masjid untuk menjalankan salat Magrib.
"Masya Allah, aku masih enggak nyangka kalau aku hamil, Mas." Adelia berulang kali melihat hasil tes lab dan foto USG saat mereka dalam perjalanan ke rumah Pak Lukman.
"Aku juga masih tidak percaya, Ai. Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa kita berdua. Mulai sekarang kita bertugas untuk menjaga dia." Adi sedikit memiringkan badan ke samping. Tangan kirinya mengelus sebentar perut sang istri.
"Iya, Mas." Adelia ikut mengelus perutnya.
"Nanti kita telepon ayah dan bunda, pasti mereka juga bahagia mau punya cucu lagi."
"Iya, Mas. Semoga cowok ya, biar bisa jadi teman Ale."
"Aamiin. Apa pun jenis kelaminnya, aku tidak masalah, Ai. Yang penting kalian berdua sehat."
"Anak cewek tapi lucu juga, Mas. Bisa didandani." Adelia tertawa kecil.
"Sedikasihnya Allah ya, Ai."
"Iya, Mas. Aku bisa hamil saja sudah bahagia. Apa pun nanti jenis kelaminnya, insya Allah aku pasti terima."
"Alhamdulillah. Besok aku mau traktir teman kantor, apa boleh Ai?" Adi menoleh sekilas pada Adelia.
"Dalam rangka apa, Mas?" Adelia mengernyit.
"Syukuran kehamilan, Ai. Biar mereka tahu aku mau jadi bapak." Adi memberikan alasannya.
"Boleh, enggak apa-apa, Mas. Berbagi kan hal yang baik. Oh iya, aku mau kasih kabar Dek Dita dulu." Adelia mengambil gawai dari dalam tas. Tangan lentiknya mulai tampak sibuk mengetik di atas layar.
Adi tersenyum melihat istrinya terlihat sangat bahagia. Kini dia harus lebih bisa menjaga istri dan juga calon buah hatinya.
...---oOo---...
Jogja, 311021 00.10
Sudah positif hamil ya, boleh banget kalau ada yang mau kasih mawar atau kopi untuk A2 š¤š¤š¤
__ADS_1