
Setelah menjalani Inisiasi Menyusu Dini (IMD) selama kurang lebih satu jam, Ale diambil oleh perawat untuk diukur tinggi dan beratnya. Ale juga dibersihkan sebelum nanti dipindahkan ke ruangan yang sama dengan Dita.
Rendra keluar dari ruang operasi terlebih dahulu setelah proses IMD selesai. Dia melepas masker yang dipakai dan langsung menghampiri keluarganya yang sudah menunggu kabar bahagia.
"Alhamdulillah Ale sudah lahir dengan sehat dan selamat. Dita juga sehat. I'm a father now," kata Rendra seraya tersenyum lebar.
"Alhamdulillah," ucap syukur semua yang menunggu kelahiran Dita. Di ruang tunggu sudah ada Ibu Dewi, Ibu Hasna, Pak Wijaya, Adi, Adelia, Shasha dan juga Nisa.
"Selamat ya, Rend. Sekarang tanggung jawabmu bertambah," ucap Adi sambil memeluk sang adik ipar.
"Terima kasih, Mas. Semoga Mas Adi dan Adelia segera menyusul."
"Aamiin."
"Selamat sudah menjadi ayah. Didiklah Ale sesuai dengan tuntunan dan ajaran Islam," kata Ibu Dewi setelah Rendra menghampiri, mencium punggung tangan dan memeluknya.
"Terima kasih, Ma. Doakan Rendra bisa menjadi ayah dan suami yang saleh. Maafkan kalau Rendra masih punya banyak salah dan akan selalu merepotkan Mama."
Ibu Dewi mengelus punggung sang putra dengan penuh kasih. "Pasti selalu mama doakan."
Setelah itu secara bergantian, Ibu Dewi, Pak Wijaya, Adelia, Shasha dan Nisa memberi selamat pada Rendra. Usai menerima selamat dari semua, dia pamit untuk berganti pakaian dan menjalankan salat.
Setelah Dita dan Ale dibersihkan, mereka berdua segera dipindah ke ruang rawat inap. Di sana, mereka disambut dengan penuh sukacita oleh seluruh keluarga. Dita mendapat ucapan selamat dari mereka semua. Karena masih merasa lelah usai operasi, dia menjawab sekedarnya sambil terus tersenyum dengan posisi berbaring di atas ranjang rumah sakit.
Sementara itu, Nisa dan Adelia mengerubungi Ale yang tertidur nyenyak di dalam boks.
"Ini sih wajahnya Kak Rendra banget, Mbak Dita cuma kebagian hamil saja," celoteh Nisa sambil terkekeh.
"Iya, ya, Nis. Pasti seneng banget Rendra karena anaknya mirip dia," sahut Adelia.
"Iya, Kak. Gemesin banget sih, Ale. Ma, aku boleh gendong Ale?" tanya Nisa pada mamanya.
"Jangan digendong kalau baru tidur. Nanti waktu minum susu boleh kamu gendong terus dikasih ke Dita," jawab Ibu Dewi.
Nisa menghela napas karena kecewa.
"Nama lengkapnya Ale siapa, Dek?" tanya Adelia pada Dita.
"Aku juga belum tahu, Mbak. Mas Rendra yang cari nama. Nanti tanya saja kalau Mas Rendra sudah datang," jawab Dita.
Adelia mengangguk. Dia lalu duduk di samping ibu mertuanya. Sedangkan Nisa masih setia berdiri di samping boks Ale.
"Mbak Dita, jam berapa jadwal Ale minum susu?" tanya Nisa yang sudah tak sabar ingin menggendong keponakannya itu.
"Aku juga tidak tahu, Nis. Nanti pasti perawat ke sini kalau sudah waktunya. Kalau tidak salah dua atau tiga jam sekali harus minum susu," jawab Dita. "Maaf ya, aku mau tidur dulu."
"Iya, Mbak." Nisa akhirnya beranjak dari sana, kemudian duduk di samping mamanya.
Tak lama Rendra masuk bersama dengan Adi membawa beberapa bento untuk makan malam mereka. Rendra membagikan bento pada setiap orang. Mereka kemudian makan bersama sambil mengobrol.
"Nak Rendra, ari-arinya Ale boleh ayah bawa? Ayah mau pendam di depan rumah," kata Pak Wijaya pada menantunya.
"Kalau Ayah menginginkannya, silakan. Di sini juga tidak ada tempat untuk memendam," sahut Rendra. "Ayah tidak pulang malam ini kan?"
"Ayah tidak bisa menginap, besok pagi ada acara di kantor."
"Sama Bunda pulangnya?" Rendra menoleh pada ibu mertuanya.
"Tidak, ayah pulang sendiri. Bunda mau temani Dita sampai pulang dari rumah sakit," tutur Ibu Hasna.
"Biar Rendra yang jaga Dita dan Ale. Bunda tidur di rumah Mas Adi saja."
"Nanti kalau Dita bingung cara menyusui kan ada bunda yang membantu. Apa Nak Rendra bisa membantu?" Ibu Hasna tersenyum pada menantunya.
Rendra meringis mendengar ucapan Ibu Hasna. "Iya, Rendra tidak tahu, Bun."
"Makanya bunda di sini saja."
"Kalau itu keinginan Bunda, Rendra ikut saja. Oh ya, besok setelah akikah, Dita ingin tinggal seminggu di rumah ayah."
"Sama Nak Rendra juga?" Ibu Hasna menatap sang menantu.
"Insya Allah, tapi mungkin satu atau dua hari Rendra tinggal untuk kerja dari pagi sampai sore," jelas Rendra.
"Kalau memang harus kerja, Dita sama Ale ditinggal di sana dulu enggak apa-apa, Nak Rendra."
"Rendra yang tidak bisa jauh dari mereka, Bun." Rendra tersenyum malu pada mertuanya.
Ibu Hasna menganggut seraya tersenyum simpul.
Tok ... tok ....
Pintu ruang rawat inap diketuk dari luar, tak lama seorang perawat masuk. "Selamat malam, semuanya. Maaf mengganggu. Mau mengingatkan kalau sekarang waktu dedek bayi menyusu," kata perawat tersebut.
"Asik. Saya yang gendong ya, Sus." Nisa langsung berdiri dan menawarkan diri menggendong keponakannya.
"Boleh, hati-hati ya." Perawat itu tersenyum pada Nisa.
Tanpa menunggu lama, Nisa lalu mengangkat dengan pelan tubuh mungil Ale ke dalam gendongannya.
Rendra bangkit dari duduknya lalu membangunkan Dita dengan penuh kelembutan. "Sayang, bangun sebentar. Waktunya Ale minum susu."
Dita pelan-pelan membuka mata dengan kening berkerut. Matanya sedang menyesuaikan dengan cahaya lampu yang terang.
"Ibu Dita mau menyusui dalam posisi miring atau setengah duduk?" tanya perawat setelah Dita membuka mata dengan sempurna.
"Saya coba miring dulu ya, Sus."
__ADS_1
"Boleh, senyamannya Bu Dita saja."
Dita pelan-pelan memiringkan tubuhnya menghadap boks bayi Ale.
"Bagaimana, Bu? Apa sudah nyaman?"
Dita menyengguk. "Sudah, Sus."
"Dedek bayinya tolong diletakkan di sini, Mbak," kata perawat pada Nisa sambil menunjuk tempat di mana bayi harus ditempatkan.
Nisa kemudian meletakkan Ale di samping Dita.
"Makasih ya, Nis," ucap Dita pada sang adik ipar.
"Sama-sama, Mbak," balas Nisa dengan girang.
Dita mulai fokus pada Ale. Dia menyentuh pipi Ale yang masih tertidur pulas. "Bangun, Nak. Minum susu dulu ya."
Ale membuka mata. Kepalanya bergerak dengan mulut membuka, seolah mencari sesuatu.
Dita menghadapkan wajah Ale ke arahnya. Kemudian mengarahkan puncak dadanya ke mulut mungil putra yang baru dia lahirkan tadi.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya saat Ale mulai menghisap air susu darinya.
Rendra tersenyum lebar menatap pemandangan indah di depan matanya. Rasanya dia masih tidak percaya sekarang dia sudah menjadi seorang ayah. Dia lalu duduk di depan Dita dan Ale, yang sedang membangun ikatan batin.
"Ale, minum susu yang banyak ya. Cepat besar, biar bisa jaga Bubu kalau Baba sedang kerja," kata Rendra sambil mengusap-usap pipi halus putranya.
"Ale baru lahir, Mas," kata Dita dengan senyum geli.
"Anakku ganteng banget," puji Rendra kemudian.
"Iyalah, kan dia cowok, Mas," cibir Dita.
"Lihat dong wajahnya mirip siapa." Rendra membanggakan dirinya.
"Iya--iya mirip Mas. Biar orang-orang percaya kalau ini anaknya Mas Rendra," ledek Dita.
Rendra tertawa mendengar sang istri meledeknya.
"Bibitku memang unggul," bisiknya pada Dita agar tidak ada yang mendengar. "Akhtar dan Ale, semuanya mirip aku."
Dita memutar bola mata mendengar suaminya yang narsistik.
"Asinya sudah keluar banyak, Dek?" Ibu Hasna mendekati keluarga kecil Rendra.
"Masih sedikit, Bun. Kata dokter tetap harus rutin menyusui biar makin banyak asinya. Selama Ale tidak rewel berarti dia masih tercukupi asinya," jawab Dita.
"Tadi bunda bawakan daun katuk dari rumah. Besok Bu Dewi yang akan masak daun katuknya," kata Ibu Hasna.
"Menyusuinya gantian, jangan satu sisi saja, Dek," ujar Ibu Hasna.
"Tadi sudah yang sebelah kok, Bun. Nanti kalau aku sudah enak buat duduk bisa gantian, kalau sekarang repot, Bun."
"Ya sudah. Kalau Ale sudah diam berarti sudah kenyang itu, Dek." Ibu Hasna melihat cucunya sudah tidak menggerakkan mulut lagi.
"Sini bunda gendong biar dia bisa bersendawa." Ibu Hasna mendekati Ale. Rendra langsung berdiri, memberi tempat pada ibu mertuanya.
Ibu Hasna meletakkan Ale di dadanya hingga dagu sang cucu bertumpu pada bahunya. Dia memegang Ale dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menepuk-nepuk dan mengusap lembut punggung Ale. "Adek, Nak Rendra, begini ya cara agar Ale bisa sendawa biar perutnya tidak kembung."
"Iya, Bun."
"Jangan lupa besok ditaruh kain dulu di bahu, jadi pakaian kalian tidak kotor atau basah karena liurnya."
"Iya, Bun."
"Ale senang ya digendong Yangti (eyang putri)," kata Rendra karena Ale terlihat nyaman dan memejamkan matanya.
"Ren, nama lengkap Ale siapa?" tanya Adelia begitu ada kesempatan.
Rendra menoleh pada Adelia lalu tersenyum. Kemudian dia duduk di sisi ranjang Dita, menggenggam tangan istrinya. "Almair Syabil Daneswara."
"Artinya apa, Kak?" tanya Nisa penuh antusias.
"Almair artinya pangeran, Syabil artinya bintang. Jadi, Almair Syabil Daneswara itu artinya pangeran yang bersinar bagai bintang di keluarga Daneswara."
"Keren banget nama dan artinya, Kak," puji Nisa seraya menangkupkan kedua tangan di pipinya..
"Anaknya siapa dulu." Rendra kembali menyombongkan diri sambil tertawa.
"Sombong amat," cibir Shasha.
Rendra tertawa saja menanggapi cibiran kakaknya.
"Bubu Sayang, suka enggak nama lengkap Ale?" Rendra beralih pada istrinya setelah tawanya mereda.
"Suka, Mas. Bisa pas ya Almair panggilannya Ale."
"Bisa dong, siapa dulu yang cari nama." Rendra memainkan kedua alisnya.
"Iya, Babanya Ale memang paling bisa."
Keesokan harinya, Dita mulai duduk dan berjalan karena kateternya sudah dilepas. Setiap menyusui Ale, dia masih dibantu sang bunda untuk menempatkan Ale dalam posisi yang nyaman. Setelah selesai minum asi, Rendra lah yang kemudian menggendong agar putranya itu bisa bersendawa.
Banyak karangan bunga dan parsel yang dikirim oleh kolega Rendra maupun Ibu Dewi yang ada di ruang inap Dita. Isi parsel kebanyakan perlengkapan dan pakaian untuk bayi yang bernuansa biru.
Baim dan Bella datang berdua dengan membawa bingkisan untuk Ale.
__ADS_1
"Makasih Tante Bella, Om Baim, hadiahnya," ucap Dita setelah menerima bingkisan tersebut. Dia baru saja selesai menyusui Ale saat kedua teman dekatnya itu datang. Rendra lalu mengambil alih menggendong Ale.
"Nama baby-nya siapa, Ta?" tanya Bella setelah Dita duduk di sofa.
"Almair Syabil Daneswara, panggilannya Ale," jawab Dita. "Eh, kalian berdua kenapa repot-repot sih bawa hadiah buat Ale? Ini kan sudah melewati tengah bulan."
"Siapa yang repot buat keponakan tercinta? Tenang, Ta, semua sudah diatur, tidak akan mengganggu jatah bulanan kami," jelas Bella sambil tertawa kecil.
"Terima kasih ya, Bel, Im, hanya Allah yang bisa membalas kebaikan kalian."
"Aamiin."
"Mas, akikah Ale jadinya kapan?" Dita beralih pada suaminya yang sedang bercanda dengan Ale di atas ranjang.
"Tanggal 24," sahut Rendra tanpa mengalihkan pandangan dari Ale yang terus tertawa.
"Tanggal 24, kalian ke rumah ya. Acara akikah Ale, jamnya nanti aku kabari lagi tapi kayanya sore. Bawa badan saja tidak perlu bawa apa-apa lagi ya. Kalian belum mudik, kan?"
"Aku kayanya mudik cuma sebentar, setelah tahun baru, Ta," kata Bella.
"Aku enggak tahu mudik kapan." Baim mengedikkan bahu.
"Kenapa, Im?" Dita mengernyit.
"Ada beberapa event foto, aku bantu temanku," ujar Baim.
"Sudah mau diseriusi fotonya, Im?" Rendra bergabung dengan mereka sambil menggendong Ale yang mulai menangis karena mengantuk.
"Sini sama yangti saja." Ibu Hasna mengambil alih Ale dari gendongan Rendra. Entah memang karena nyaman atau karena sifat keibuannya, setiap Ale digendong Ibu Hasna pasti langsung tenang dan tertidur.
"Belum, Kak. Masih belum pede." Baim menjawab pertanyaan Rendra tadi.
"Fotomu sudah bagus kok yang diambil saat wisuda kemarin. Lebih sering motret saja, nanti lama-lama jadi tahu angle yang bagus untuk difoto," kata Rendra.
"Iya, Kak. Aku boleh enggak mengambil foto-foto di sini?" Baim meminta izin pada Rendra setelah menyapukan pandangan ke seluruh ruangan yang penuh karangan bunga dan bingkisan.
"Boleh, hasilnya jangan lupa dikirim," kata Rendra.
"Siap, Kak." Baim langsung mengeluarkan kamera DSLR kesayangannya.
"Bos, teman-teman di kafe sudah dikasih tahu belum kalau Dita melahirkan?" tanya Bella pada Rendra.
"Aku cuma mengabari Mas Candra. Aku enggak tahu sudah dikasih tahu ke yang lain apa belum," jawab Rendra.
"Kalau belum, aku boleh enggak mengabari yang lain?"
"Boleh saja. Toh, ini berita bahagia yang sudah seharusnya disebarkan kan."
"Siap, Bos."
"Kamu libur kerja hari ini, Bel?" tanya Dita pada Bella.
"Aku izin hari ini, Ta. Izin menengok anak pak bos dan bu bos." Bella terkekeh.
"Bisa saja kamu, Bel."
"Ale wajahnya mirip siapa, Ta?" Bella merasa penasaran.
"Mirip ayahnya banget. Mas Rendra versi mini."
"Masa enggak ada mirip kamu sama sekali, Ta." Bella masih enggak percaya.
"Lihat sendiri saja kalau enggak percaya."
Bella bangkit dari duduknya lalu beranjak ke boks bayi di mana Ale sudah tertidur pulas di sana setelah tadi digendong yangti-nya. Agak lama dia mengamati wajah tenang Ale yang terlihat tampan meski baru berumur sehari.
"Iya, benar mirip Kak Rendra banget. Aku jadikan menantu ah besok," canda Bella.
"Kamu saja belum nikah Bel, bagaimana bisa punya anak?" ledek Dita.
"Ya doakan gitu, aku ketemu pangeran tampan dan kaya yang mau menikahi aku." Bella mulai mengkhayal lagi.
"Pangeran kodok, maksudmu?" ejek Dita.
"Ih, kamu tuh sukanya mematahkan khayalanku, Ta," sewot Bella.
"Ada Mas Candra tuh masih jomlo dan sudah dewasa," kata Dita.
"Kenapa jadi bawa-bawa Mas Candra?" Bella masih saja sewot.
"Ya kali aja, kamu tidak bisa melihat berlian di depan matamu, Bel." Dita kembali meledek sahabatnya itu.
"Jangan mencari yang sempurna, Bel. Karena tidak ada orang yang sempura. Meski banyak orang bilang Mas Rendra sempurna, tapi dia juga punya banyak kekurangan."
"Iya, aku tahu, Ta."
"Apa perlu aku jodohkan kalian?" Rendra ikut bersuara.
"Pak Bos, nih jangan aneh-aneh deh."
"Siapa yang aneh, kamu kali Bel yang aneh," celetuk Baim yang sudah duduk kembali setelah puas mengambil foto.
"Mulai deh kalian mengeroyok dan menyudutkan aku," gerutu Bella.
...---oOo---...
Jogja, 170921 23.30
__ADS_1