
"Assalamu'alaikum," salam Rendra begitu masuk ke rumah.
"Wa'alaikumussalam," jawab Nisa.
"Kok sepi? Mama sama Kak Shasha mana?" tanya Rendra yang tidak melihat mama dan kakaknya.
"Mama sama Kak Shasha ikut pengajian, Kak," terang Nisa.
"Kamu di rumah sendiri berarti?" tanya Dita.
"Iya, tapi sekarang kan bertiga sama Kak Rendra dan Mbak Dita." Nita meringis menjawab pertanyaan kakak iparnya.
"Ya udah. Aku ke kamar dulu, mau naruh barang." Rendra menggandeng Dita masuk ke kamar mereka.
"Masuk dulu ya, Nis." Dita melambaikan tangannya.
"Aku juga mau ke kamar ngerjain tugas, Mbak." Nisa beranjak ke kamarnya di lantai atas.
Rendra meletakkan ransel di meja kerja. Dia mengeluarkan notebook dan menyalakannya. Sedangkan Dita langsung melepas hijabnya. Dia mencari baju ganti untuk di rumah.
"Mas, mau ganti baju apa enggak?" tanya Dita sambil mencari baju di lemari.
"Iya, Sayang. Sekalian ya siapin baju couple untuk nanti sore," jawab Rendra yang sudah sibuk di depan notebook-nya.
"Jaket apa baju, Mas?" tanya Dita memastikan.
"Kalau jaket sama bajunya couple gimana, Sayang?" usul Rendra.
"Oke, Mas." Dita segera mencari baju yang diminta suaminya. Setelah itu dia berganti baju rumah.
"Mas, ganti baju dulu." Dita merangkul suaminya yang sedang duduk dari belakang.
"Sebentar, Sayang. Lagi tanggung ini." Rendra masih fokus di depan layar notebook.
Dita mengerucutkan bibirnya. Selalu saja kalau suaminya sedang fokus pasti tidak memedulikan yang lain.
"Memangnya harus segera selesai ya, Mas?" tanya Dita.
"Enggak sih, Sayang. Tapi ini mumpung aku lagi ada inspirasi. Sayang, gantiin bajuku aja kalau begitu, gimana?" Rendra mendongak, tersenyum menggoda pada Dita.
"Ish, maunya," cibir Dita. "Aku mau ngerjain tugas, Mas."
Rendra menarik tangan istrinya, sebelum Dita beranjak. "Mau ke mana, Sayang?"
"Ngerjain tugas, Mas."
"Ngerjain tugas apa menghindar, humm." Rendra menarik tubuh Dita hingga terduduk di pangkuannya.
"Lepas ih, Mas. Beneran aku mau ngerjain tugas." Dita kembali mengerucutkan bibirnya.
"Bibir monyong gitu apa kode minta dicium?" Rendra menaik turunkan alisnya.
"Apaan sih, Mas, pikirannya kok gitu. Ini lagi puasa loh, Mas." Dita mengingatkan suaminya sambil memainkan kancing kemeja Rendra.
"Terus kenapa kalau puasa? Kan bisa nanti habis buka. Ini kenapa malah mancing-mancing segala?" Rendra menunduk melihat kancingnya yang dimainkan Dita.
"Mancing apa sih, Mas?" Dita masih belum paham maksud suaminya.
"Itu mainin kancing bajuku."
Seketika Dita langsung melepaskan tangannya. Dia melirik kesal pada pria yang sudah mengisi hatinya itu.
__ADS_1
Rendra tertawa kecil melihat gelagat istrinya. Dia mengelus kepala Dita lalu mencium keningnya.
"Aku tuh kangen banget sama kamu, Sayang." Rendra memeluk istrinya.
"Tiap hari juga sama-sama terus, Mas."
"Beberapa hari ini kan ngurusin pernikahannya Mas Adi, Sayang. Kita jarang punya waktu berdua gini." Rendra semakin mengeratkan pelukannya, berulang kali dia mencium kepala wanita di pangkuannya itu.
"Tapi, Mas Rendra kalau ada waktu lowong juga pasti di depan notebook," sindir Dita.
"Itu kan aku kerja, Sayang. Aku kerja juga buat Sayang dan calon anak-anak kita nanti. Kalau aku enggak kerja, aku enggak bisa menafkahi kalian." Rendra kembali mencium kening istrinya.
"Iya, Mas. Suamiku memang keren, bertanggung jawab sama keluarga." Dita menangkup wajah suaminya sambil tersenyum lebar.
"Ya, udah. Sekarang Mas kerja lagi, tapi ganti baju dulu. Aku juga mau ngerjain tugas. Besok harus dikumpul tugasnya. Nanti sore kan kita pergi, takut enggak sempat ngerjain nanti malam."
"Iya, soalnya nanti malam aku yang ngerjain Sayang." Rendra mengedipkan sebelah matanya.
"Mas, ih." Dita memukul pelan dada suaminya sambil tersipu malu.
"Ya Allah, gemesin banget sih istriku. Gimana aku enggak makin cinta tiap hari." Rendra mencubit dengan gemas ujung hidung istrinya.
"Sakit, Mas," protes Dita.
"Mana yang sakit, Sayang? Sini aku cium biar sembuh." Rendra lalu mengecup ujung hidung wanita yang sudah menjadi belahan jiwanya itu. "Sudah enggak sakit lagi kan, Sayang."
"Masih, dikit," ucap Dita dengan cemberut.
"Kalau begitu aku cium lagi sampai sakitnya ilang." Rendra mengecup seluruh wajah wanita pujaannya itu.
"Udah, Mas." Dita mendorong dada Rendra agar suaminya menjauhkan diri. Tapi tenaga Rendra lebih kuat, alhasil dia masih ada di kungkungan suaminya.
"Mas, mmmppp, please, udah," rengek Dita. "Udah, mmmmppp, siang ini, Mas."
"Lanjut nanti malam ya, Sayang." Rendra kembali mengedipkan sebelah matanya. Dia lalu melepaskan pelukannya. Bahaya juga kalau dia terus menggoda istrinya, bisa-bisa batal puasa mereka.
"Nih, aku kasih semangat buat mengerjakan tugas." Rendra mengecup kening istrinya beberapa saat. Setelah itu dia tersenyum lebar.
"Aku udah boleh berdiri sekarang?" tanya Dita.
"Udah, tapi kalau masih ingin duduk di pangkuanku juga enggak masalah." Rendra kembali menggoda istrinya.
Dita segera bangkit dari pangkuan Rendra sebelum suaminya kembali menggodanya. Dia lalu mengambil tas kuliahnya, mengeluarkan laptop dan buku.
Rendra yang melihat istrinya mengeluarkan laptop, langsung berdiri. Dia menyiapkan meja laptop portable untuk Dita agar istrinya tidak perlu memangku laptop. Di kamar mereka memang hanya ada satu meja kerja yang sering dipakai Rendra. Untuk menambah meja lagi tidak bisa karena kapasitas kamar yang tidak terlalu luas.
Meja kerja Dita untuk menggambar saja ditinggal di rumah Adi. Jadi setiap kali ada tugas menggambar, Dita selalu mengerjakan di rumah kakaknya. Sempat dulu Rendra mengusulkan untuk dibawa ke rumahnya, lalu ditempatkan di lantai atas. Tapi Dita menolak, dengan alasan biar dia sering menengok rumah kakaknya, jadi tidak kosong terus.
"Terima kasih, Mas Rendra Sayang," ucap Dita seraya mengecup pipi suaminya, setelah meja portable disiapkan Rendra.
"Sama-sama, Sayang. Semangat ya ngerjain tugasnya." Rendra mencium kening Dita lalu tersenyum manis.
"Mas, juga semangat kerjanya." Dita mengepalkan tangan kanannya.
Rendra mengangguk. Dia mengganti bajunya sebelum kembali bekerja. Mereka berdua kemudian larut dalam kegiatannya masing-masing.
Bakda Asar, mereka sudah rapi dengan baju dan jaket couple.
"Mas, kita kaya ABG (anak baru gede) enggak sih pakai couple kaya gini?" Dita merasa geli sendiri.
"Memangnya ABG saja yang boleh pakai baju couple, Sayang?" Rendra merapikan penampilannya di depan kaca.
__ADS_1
"Ya, enggak sih, Mas."
"Kita pakai kaya gini biar semua orang tahu kalau Sayang sudah ada yang punya. Enggak ada yang melirik atau menggoda Sayang lagi," ujar Rendra.
"Jadi cuma aku saja yang enggak boleh dilirik dan digoda orang lain? Kalau Mas boleh?" cibir Dita.
"Sayang cemburu kalau aku dilirik wanita lain?"
"Enggak sih, biasa aja." Dita mengangkat bahunya.
"Masa sih enggak cemburu?" Rendra mengernyit.
"Aku sudah biasa menghadapi para penggemar Mas di kampus. Sudah kebal aku," sahut Dita santai.
Rendra terkekeh pelan. Dia memeluk istrinya dari belakang.
"Mau sebanyak apa pun wanita yang melirikku. Mataku hanya tertuju untuk memandangmu, Sayang. Mereka sama sekali enggak terlihat di mataku." Rendra mencium kepala belakang istrinya. "Just you, and only you, My Love."
Dita membalikkan badannya. Dia kini berdiri berhadapan dengan suaminya. Dia memegang pipi Rendra. "Iya, Mas. Aku percaya. Mataku juga hanya bisa memandang Mas Rendra. Tidak ada pria lain."
Rendra meraih tangan Dita, dia mencium punggung tangan istrinya. "I love you, Honey, Really, really love you. I can't help falling in love with you, My love."
Dita tersipu mendengar ungkapan cinta dari suaminya. Rendra selalu saja mengatakan hal-hal yang romantis yang membuatnya selalu melayang tinggi. "I love you too, Mas." Dita membenamkan kepalanya di dada Rendra.
Rendra menjauhkan badannya dari Dita. Dia tersenyum seraya menangkup wajah istrinya. Perlahan dia mulai menunduk dan mendekatkan wajah.
š¶ Hatimu tempat berlindungku dari kejahatan syahwatku. Tuhanku merestui itu, dijadikan engkau istriku. Engkaulah bidadari surgaku š¶
Gawai Rendra berdering. Mereka berdua tertawa lalu saling menjauhkan diri. Rendra mengambil gawai dari saku dalam jaketnya.
"Mas Adi yang menelepon, Sayang." Rendra menunjukkannya pada Dita.
"Ish, enggak sabaran banget sih Mas Adi," gerutu Dita.
"Jangan sedih, kita teruskan nanti malam. Aku terima telepon Mas Adi dulu." Rendra mengelus kepala istrinya yang sudah tertutup hijab, kemudian mencium keningnya.
"Assalamu'alaikum, Mas," salam Rendra setelah menggeser tombol hijau di gawainya.
"Wa'alaikumussalam, kita jadi mau pergi jam berapa, Rend?"
"Ini sudah siap, tinggal berangkat, Mas."
"Oke, aku tunggu."
"Siap, Mas."
Rendra memasukkan kembali gawai ke saku jaketnya. "Ayo, Sayang. Kita sudah ditunggu Mas Adi."
...---oOo---...
Jogja, 280621 10.45
Assalamu'alaikum, apa kabar semua? Semoga teman-teman selalu dalam keadaan sehat š¤.
Tadi pagi Subuh, Jogja sempat digoncang gempa. Makanya ini saya juga masih sedikit shock. Bagaimana di tempat teman-teman? Aman dan terkendali kan š¤.
Akhir-akhir ini kasus covid semakin meningkat. Tetap mematuhi prokes ya, teman-teman. Tetap minum vitamin untuk menambah imun tubuh. Tetap semangat, jaga hati dan pikiran agar selalu bahagia. Tetap berpikir positif š¤.
Terima kasih atas semua dukungannya. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca, memberi like (jempol), vote, gift (hadiah), rating, dll. Hanya Allah yang akan membalas kebaikan teman-teman. š¤š¤š¤
Dukungan teman-teman semua dalam bentuk apa pun memberikan energi postif untuk menulis. Mohon maaf bila masih banyak kekurangan. Bila ada kritik saran bisa disampikan via komentar, PC, GC atau DM di instagram @kokoro.no.tomo.82.
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih banyak, maturnuwun sanget ššš
Wassalamu'alaikum.