
Sejak kontrol kehamilan terakhir, Adelia jadi sering melakukan berbagai gerakan agar posisi janinnya normal dan tidak sungsang. Dia sudah berkonsultasi dengan instruktur yoganya dan diberikan gerakan-gerakan yang bisa mengubah posisi janin. Selain itu juga melakukan apa saja yang disarankan oleh orang-orang yang pernah mengalami masalah yang sama dengannya.
Begitu tahu kalau dirinya hamil, istri Adi itu mengikuti berbagai macam grup untuk para ibu hamil dan menyusui. Jadi, dia bisa membagikan masalah yang dialami. Nanti akan ada yang menanggapi dan memberinya saran baik dari dokter maupun anggota yang pernah mengalami hal serupa. Dia bisa mendapat banyak informasi dari grup-grup tersebut tentang berbagai macam masalah kehamilan dan cara mengatasinya. Mereka saling memberi dukungan terhadap sesama anggota.
Adelia juga bergerak lebih aktif sekarang. Tidak mau memanjakan diri meskipun rasa malas kadang menghampirinya. Berjalan-jalan pagi tidak pernah dia lewatkan satu hari pun. Dia berharap itu bisa melancarkan saat proses melahirkan nanti. Namun, ibu hamil itu juga tetap beristirahat kalau merasa lelah. Apalagi dengan kehamilan yang sudah besar sekarang ini, mudah sekali merasa engap.
Istri Adi itu sering merasa kesepian sekarang karena Ale tinggal dengan Bu Hasna sejak Dita KKN. Kadang dia melakukan panggilan video kalau merasa kangen dengan batita yang tidak pernah bisa diam itu. Meskipun belum bisa bicara dengan jelas, tapi melihat polah tingkah Ale sudah membuatnya merasa terhibur.
Lokasi Dita KKN kebetulan masih satu kecamatan dengan tempat tinggal Pak Wijaya. Jadi, Rendra dan Dita memutuskan untuk sementara Ale tinggal dengan kedua eyangnya. Seandainya Ale mulai rewel, Bu Hasna mengajak cucunya itu untuk bertemu dengan sang ibu. Rendra hampir setiap hari bolak-balik ke kota untuk mengecek kafe dan juga clothing line-nya. Kadang-kadang juga diundang untuk memberi seminar atau pelatihan pada para pelaku UMKM atau jadi pengajar tamu di sekolah barista.
Sore itu Adelia mengirim pesan pada sang mertua. "Bun, Ale sedang apa?"
Tak lama balasan dari Bu Hasna datang. "Baru main di depan TV. Habis mandi tadi."
"Bisa video call, Bun?" tanya Adelia masih melalui pesan.
"Bisa," jawab Bu Hasna.
Adelia pun melakukan panggilan video setelah sang mertua membalas pesannya. Bu Hasna yang sedang memegang gawai langsung menerima panggilan tersebut. Wanita paruh baya itu lalu mengarahkan kamera pada Ale.
Adelia tersenyum melihat Ale yang sedang asyik bermain Pound and Tap Bench. Batita itu sedang memasukkan bola berwarna merah ke dalam lubang. Dia memukul bola itu dengan palu kayu sampai jatuh dan mengenai xylophone yang ada di bawahanya. Membuat xylophone berbunyi karena bola menggelinding di atasnya. Setelah itu Ale bertepuk tangan dan tertawa dengan gembira.
"Assalamu'alaikum, Ale," sapa Adelia sambil melambaikan tangan pada lelaki kecil berusia 14 bulan itu.
"Ale ini ada Bude di telepon." Bu Hasna memberi tahu sang cucu untuk bicara dengan budenya.
"Ude ... Ude," ucap Ale saat melihat ke layar gawai yangtinya.
"Kok salam bude enggak dijawab sih. Bude ulang ya. Assalamu'alaikum." Adelia mengulang lagi salamnya.
__ADS_1
"Kum calam," balas Ale setelah dibimbing oleh Bu Hasna.
"Ale kok sudah ganteng. Sudah mandi ya?"
"Sudah, Bude," jawab Bu Hasna karena Ale kembali asyik dengan mainannya. Dia kembali memasukkan bola yang kali ini berwarna biru. Mengulangi seperti sebelumnya.
"Pas ... pas," teriak Ale sambil mencoba menarik xylophone keluar.
"Ale, mau ini dilepas?" tanya Bu Hasna yang dijawab anggukan oleh Ale. "Pas ... pas," ucapnya lagi.
"Iya, ini yangti lepas." Bu Hasna kemudian melepas xylophone lalu meletakkan di depan Ale. Suara xylophon dipukul kemudian terdengar. Tentu saja dia memukulnya asal berbunyi dan tidak beraturan.
"Ale sedang tidak mau ngobrol, Mbak," ucap Bu Hasna pada sang menantu sambil tetap mengarahkan kamera pada Ale.
"Tidak apa-apa, Bun. Lihat tingkahnya Ale saja sudah membuat tertawa dan mengobati kangen," sahut Adelia. "Ayah belum pulang, Bun?" tanyanya kemudian.
"Kameranya jangan diarahkan ke Ale lagi, nanti Bunda capek pegang hape."
"Tidak apa-apa, Mbak. Sekalian Bunda bisa mengawasi Ale juga. Gimana kehamilannya? Apa sudah mulai terasa kontraksi?"
"Alhamdulillah lancar. Beberapa kali sempat kontraksi palsu, Bun."
"Posisinya gimana? Apa sudah normal?"
Adelia menggeleng. "Dari USG terakhir belum, Bun. Tapi aku tidak mau menyerah begitu saja. Aku akan terus berusaha agar posisinya bisa normal dan juga melahirkan secara normal."
"Yang penting kita tetap berusaha dan berdoa ya, Mbak. Semoga Allah mengabulkan, tetapi kita juga tidak boleh terlalu berharap. Kita pasrahkan saja semuanya pada Allah. Kalaupun nanti saat waktu melahirkan posisinya masih sungsang, itu artinya yang terbaik untuk Mbak. Dari itu, pasti ada hikmah yang bisa kita ambil."
"Iya, Bun. Kami juga tidak pernah lupa berdoa agar diberikan kesehatan dan kelancaran sampai melahirkan nanti. Aku juga sudah menyiapkan mental untuk keadaan apa pun, Bun. Mau melahirkan normal atau caesar, insya Allah aku siap."
__ADS_1
"Alhamdulillah. Terkadang Mbak, saat kita sudah pasrah dan berserah diri, Allah justru akan memberikan kenikmatan yang berlipat-lipat."
"Iya, Bun."
"Assalamu'alaikum," salam Pak Wijaya yang terlihat menghampiri Ale yang sedang bermain.
"Kum calam. Kung ... lang," balas Ale yang lalu berdiri mendekati yangkungnya dan minta digendong dengan mengulurkan kedua tangannya ke atas.
"Yangkung mandi dulu ya. Yangkung bau baru pulang kerja. Nanti setelah mandi baru gendong Ale ya." Pak Wijaya menundukkan badan ke arah sang cucu.
Ale mengangguk. "Kung ... di."
"Iya, yangkung mandi dulu biar enggak bau." Pak Wijaya tersenyum melihat sang cucu yang kembali bermain xylophone. Dia lalu menghampiri istrinya. "Assalamu'alaikum, Bun, Mbak Adel," salamnya begitu tahu menantunya sedang melakukan panggilan video dengan sang istri.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah," jawab Bu Hasna dan Adelia.
Bu Hasna kemudian mencium punggung tangan suaminya. Ale tidak salim pada Pak Wijaya karena pakaian dan badan yang masih kotor sepulang kerja. Pria paruh baya itu baru akan bersentuhan dengan sang cucu kalau badan dan pakaiannya sudah bersih.
Setelah menanyakan kabar sang menantu, Pak Wijaya pamit untuk membersihkan diri. Adelia dan Bu Hasna kemudian melanjutkan mengobrol.
"Bun, aku ganti ke voice call ya. Kangenku sama Ale sudah terobati kok." Adelia kemudian mengubah panggilan dari video ke suara. Merasa tak enak hati pada sang mertua yang sejak tadi memegang gawai dan mengarahkan kamera pada Ale.
"Dek Dita kapan selesai KKN, Bun?" tanya Adelia kemudian.
"Kalau tidak salah dua minggu lagi penarikan, Mbak. Kemarin Dita sempat bilang kalau pas HPL-nya Mbak Adel sudah di rumah," jawab Bu Hasna.
"Bubu ... Bubu ...," teriak Ale begitu mendengar nama Dita yang tak sengaja disebut oleh Bu Hasna. Lelaki kecil itu bangun lalu berjalan mendekati yangtinya. "Bubu ... Bubu."
"Ya Allah, tadi keceplosan nyebut nama ibunya. Teleponnya sudah dulu ya, Mbak." Bu Hasna segera mengakhiri panggilan itu tanpa menunggu jawaban dari Adelia. Menyambut sang cucu yang pasti akan terus menanyakan ibunya.
__ADS_1