
"Pria yang pamit sama kamu tadi siapa, Sha?" tanya Ibu Dewi saat mereka sedang bersantai di ruang keluarga.
"Maksud Mama, Mas Kai?" Shasha menatap mamanya.
"Iya."
"Gebetan baru Kak Shasha kayanya, Ma," celetuk Nisa sambil cekikikan.
"Anak kecil diem! Jangan sok tahu." Shasha melotot pada Nisa. Tapi bukannya takut, adiknya justru tertawa lebar.
"Nis," tegur Ibu Dewi. Seketika Nisa langsung diam sambil cemberut.
"Mama, enggak asyik nih," gerutu Nisa.
"Kamu juga sukanya nyamber aja kalau ada orang ngomong, Nis," omel Shasha.
"Sudah—sudah jangan ribut lagi." Ibu Dewi menengahi kedua putrinya.
"Jadi yang namanya Kai itu siapa, Sha?" Ibu Dewi kembali bertanya pada putri sulungnya.
"Mas Kai itu polisi yang kemarin bantu kasus Mas Adi, Ma. Kebetulan juga ternyata dia kakaknya Tirta teman kuliahku. Mama ingat Tirta enggak?" terang Shasha.
"Tirta yang mana?" Ibu Dewi mengernyit, mencoba mengingat teman-teman Shasha.
"Itu loh Ma, Tirta yang suka bebikinan macem-macem. Yang suka minta resep sama Mama," jelas Shasha.
Ibu Dewi menganggut. "Oh, iya, mama ingat si Tirta. Apa kabarnya dia sekarang?"
"Kata Mas Kai baik. Dia sekarang sudah jadi ASN di Magelang, Ma," ujar Shasha.
"Loh memangnya kamu tidak pernah berhubungan sama Tirta lagi?" Ibu Dewi mengerutkan kening.
"Sejak ponselku rusak itu sudah tidak pernah lagi, Ma. Semua kontak kan hilang. Makanya tadi aku minta nomornya Tirta," kata Shasha.
"Sampaikan salam mama ya buat Tirta. Tanyakan kapan main ke sini lagi," pesan Ibu Dewi.
"Insya Allah nanti aku sampaikan, Ma."
"Ma, kapan kita jadi beli koper?" tanya Nisa yang menyela Shasha.
"Koper terus dipikirin," sindir Shasha.
"Kak Shasha kenapa sih sewot? Aku kan belum punya koper sendiri. Masa ya umrah dan liburannya pakai ransel sendiri," gerutu Nisa.
"Ya enggak apa-apa kan. Malah ala-ala backpacker gitu, kan lebih seru," sahut Shasha.
"Ish, Kak Shasha nyebelin." Nisa melirik kesal pada kakaknya.
"Sha, jangan digoda terus adiknya," tegur Ibu Dewi pada putri sulungnya.
Nisa menjulurkan lidah pada Shasha setelah mamanya membela dia. Shasha memutar bola mata menanggapi adik bungsunya itu.
"Kamu tanya Kak Rendra kapan bisa antar beli koper, Nis," tutur Ibu Dewi.
"Kalau nanti mau enggak ya, Ma?" Nisa menoleh pada mamanya.
"Kalau Dita enggak capai mungkin mau, Nis."
"Harus sama Mbak Dita ya, Ma." Nisa mengerucutkan bibirnya.
"Iya, kalau Dita enggak mau ditinggal. Tahu sendiri kan gimana Dita setelah hamil ini, sifatnya jadi lebih sensitif. Maunya dekat terus sama suaminya. Kamu harus maklum dengan semua itu," ujar Ibu Dewi.
__ADS_1
"Iya, Ma, aku tahu. Tapi kadang aku jadi merasa kehilangan Kak Rendra," kata Nisa.
"Kak Rendra itu sudah punya tanggung jawab lain selain kita. Saat ini istrinya sedang butuh perhatian lebih. Meski dia juga tetap berusaha menyeimbangkan antara kita dan juga istrinya. Kak Rendra bukan hanya milik kita lagi. Dia juga milik istri dan juga anaknya nanti. Kita harusnya lebih mengerti hal itu dan tidak selalu mengandalkan kakakmu seperti dulu," nasihat Ibu Dewi.
"Kalau Rendra enggak bisa, nanti habis Magrib aku antar mau enggak?" tawar Shasha.
"Benar Kak Shasha mau antar aku?" tanya Nisa tak percaya.
"Iya benar. Mumpung aku lagi baik nih. Besok-besok aku sudah sibuk kerja sama jadi panitia pernikahannya Mas Adi. Kalau enggak mau juga enggak apa-apa sih. Aku jadi bisa istirahat," kata Shasha sambil melirik Nisa.
"Iya—iya, aku mau. Aku enggak usah tanya Kak Rendra kalau begitu. Mama nanti juga ikut kan, Ma?" Nisa menoleh pada mamanya.
"Iya, mama ikut kalian. Memangnya kamu mau beli koper pakai uangmu sendiri kalau mama tidak ikut?" goda Ibu Dewi.
"Mama ih. Aku kan masih mahasiswa belum punya penghasilan sendiri, Ma. Aku tuh lagi nabung. Aku mau beli laptop baru yang keren kaya punya Kak Rendra," kata Nisa.
"Laptop keren buat apa, Nis? Cuma buat gaya-gayaan aja?" sindir Shasha.
"Ya buat mengerjakan tugas kuliah dong," balas Nisa.
"Laptop biasa juga cukup. Rendra kan punya yang bagus buat kerja, bisa menghasilkan uang. Lah kamu buat gaya-gayaan aja. Sayang tuh uangnya, mending buat beli yang bermanfaat," ujar Shasha.
"Benar itu yang dikatakan Kak Shasha, Nis. Kamu kalau beli apa-apa harus dipikirkan dulu baik-baik. Barang yang kamu beli itu memang benar-benar butuh atau kamu hanya ingin punya? Bedakan antara kebutuhan sama keinginan," nasihat Ibu Dewi lagi.
"Duh, ribet banget sih, Ma." Nisa memutar bola matanya.
"Ribet apanya sih, Nis? Kamu tinggal menentukan skala prioritas saja. Jangan mentang-mentang sekarang kamu dapat uang dari siapa saja jadi seenak hati. Mulai sekarang harus belajar. Itu modal nanti kalau kamu sudah mandiri jadi bisa mengatur keuangan." Shasha ikut menasihati adik bungsunya itu.
"Iya, Kak."
"Assalamu'alaikum," salam Rendra yang baru masuk rumah bersama Dita.
"Wa'alaikumussalam."
"Ini tadi mama tanya soal Kai sama Shasha. Terus Nisa mau beli koper," jawab Ibu Dewi.
"Memangnya kenapa sama Mas Kai, Ma?" Rendra mengernyit tak suka.
"Mama penasaran saja karena belum pernah lihat Kai. Tadi kok kayanya kenal sama kakakmu," jelas Ibu Dewi.
"Memangnya Kak Shasha kenal sama Mas Kai? Kak Shasha enggak ada hubungan apa-apa kan sama Mas Kai?" Rendra menoleh pada kakaknya. Raut wajahnya menunjukkan rasa kesal.
"Mas Kai itu kakaknya teman kuliahku, Ren. Mas Adi tadinya mau kenalin aku sama Mas Kai, eh ternyata aku udah kenal orangnya," jawab Shasha sambil mengikik geli.
"Maksud Mas Adi apa sih pakai acara kenalin Kak Shasha sama Mas Kai," gerutu Rendra.
"Mana kakak tahu, tanya sendiri aja sama Mas Adi," sahut Shasha.
"Memangnya kenapa Ren kalau kakak kenal sama Mas Kai? Mama lihat orangnya baik." Ibu Dewi menatap putra satu-satunya itu.
"Mas Kai memang baik, Ma. Tapi, Rendra enggak begitu suka sama dia."
"Apa yang membuat kamu enggak suka? Apa hal yang prinsip?" tanya Bu Dewi.
"Ya, Rendra enggak suka aja. Enggak ada alasan khusus," jawab Rendra.
"Serius Mas enggak ada alasan khusus?" Dita ikut menimpali suaminya. "Bukan karena Mas masih merasa cemburu kan sama Mas Kai?"
"Cemburu? Kenapa aku harus cemburu?" elak Rendra.
Dita terkekeh. "Yang kapan hari mengambek siapa gara-gara Mas Kai kirim salam ke aku?" ledek Dita.
__ADS_1
"Sayang, kenapa mengungkit hal itu?" Rendra melirik kesal istrinya tapi ditanggapi Dita dengan tertawa.
"Rendra cemburu sama Mas Kai?" tanya Shasha tak percaya.
Dita mengangguk sambil tertawa. "Iya, Mbak."
Shasha tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Dita, Nisa pun ikut tertawa. Sementara Ibu Dewi hanya tersenyum simpul.
"Tertawa saja sampai puas," sindir Rendra.
"Lagian kamu tuh ya Ren, istrimu saja sedang hamil bisa-bisanya cemburu sama cowok lain. Padahal Dita tiap hari maunya nempel terus sama kamu. Hal yang wajar kan kirim salam buat adik temannya, sekedar basa basi," kata Shasha.
"Kak Rendra sudah bucin banget sama Mbak Dita tuh makanya kaya gitu," celetuk Nisa.
"Cemburu boleh Ren, tapi yang sewajarnya, jangan sampai berlebihan," tutur Ibu Dewi.
"Iya, memang aku cemburu. Siapa yang enggak cemburu ada cowok yang suka sama Dita terus kirim salam buat Dita." Rendra akhirnya mengungkapkan alasannya cemburu.
"Hah, Mas Kai, suka sama Dita?" Shasha terkejut.
"Mas Rendra jangan asal omong deh," tegur Dita.
"Aku enggak asal ngomong, Sayang. Aku ini pria. Aku tahu gimana sikap pria kalau suka sama wanita. Mas Kai itu suka curi-curi pandang sama Sayang. Kalau Sayang enggak percaya tanya sama Mas Adi." Rendra membela diri.
"Makanya aku enggak suka kalau Mas Kai dekat sama Kak Shasha. Aku takutnya dia modus saja, pura-pura dekat Kak Shasha tapi niatnya biar dekat sama Dita," ungkap Rendra.
"Astaghfirullah. Jangan suka suuzan, Mas." Dita mengingatkan suaminya.
"Iya, Ren. Siapa tahu Kai sudah melupakan Dita. Mungkin dia ingin membuka lembaran baru. Kalaupun dia masih suka, mama yakin kalau dia tidak akan merebut Dita darimu." Ibu Dewi ikut angkat bicara.
"Cemburu memang tanda cinta. Tapi jangan setiap pria yang kenal Dita, kamu cemburui. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Kamu harus berusaha mengendalikan rasa cemburumu," nasihat Ibu Dewi pada Rendra.
"Iya, Ma," sahut Rendra.
"Kalaupun nanti Kai dan Shasha berjodoh, kamu harus menerimanya dengan ikhlas," lanjut Ibu Dewi.
"Mama omong apaan sih pakai jodoh-jodoh segala. Aku tidak punya hubungan apa-apa sama Mas Kai. Kami hanya berteman saja. Lagian aku juga belum ingin menikah," protes Shasha.
"Jodoh itu salah satu rahasia Allah, Sha. Adikmu dulu juga tidak pernah ingin menikah muda, tetapi ternyata jodohnya datang lebih cepat. Kita tidak bisa melawan takdir. Umurmu juga sudah cukup untuk menikah. Kalau memang ada jodoh kenapa tidak," ujar Ibu Dewi.
"Iya, Ma. Aku kan juga tidak tahu jodohku besok siapa. Yang jelas aku sekarang berteman dengan semuanya. Entah jodohku salah satu dari temanku atau bukan, aku juga tidak tahu." Shasha mengangkat kedua bahunya.
"Kenapa semua jadi serius omongnya? Pusing aku dengarnya. Aku mandi dulu aja. Kak Shasha, jangan lupa nanti habis Magrib antar aku," ucap Nisa sebelum meninggalkan ruang tengah.
"Memangnya Kak Shasha mau antar Nisa ke mana?" tanya Rendra.
"Beli koper, Ren. Dari kemarin dia ribut enggak punya koper untuk umrah. Makanya dia mau cari koper nanti," jawab Ibu Dewi.
"Sayang, capek enggak?" tanya Rendra pada istrinya.
Dita menggeleng. "Enggak. Kenapa Mas?"
"Nanti kita antar Nisa gimana? Sekalian aku beli baju ihram dan sandal yang nyaman buat Sayang."
"Iya, enggak apa-apa, Mas."
"Ma, Kak, nanti kami yang antar Nisa saja," kata Rendra pada mama dan kakaknya.
"Kita pergi berlima saja. Sudah lama kita tidak pergi bersama," putus Ibu Dewi.
"Oke, Ma."
__ADS_1
...---oOo---...
Jogja, 050821 00.00