
"Mas Adi, nanti aku bantu-bantu di sebelah ya." Adelia meminta izin pada suaminya usai mereka tadarus Al-Qur'an.
"Memang di sebelah ada acara apa, Ai? Kok aku enggak dikasih tahu kalau ada acara." Adi mengerutkan kening.
"Enggak ada acara apa-apa sih, Mas. Tapi pasti di sebelah banyak tamu soalnya kan besok Tante Dewi berangkat umrah," jelas Adelia sambil melepas mukenanya.
"Oh, aku kira ada acara lagi. Boleh sih, tapi ada syaratnya." Adi memainkan alisnya naik turun.
"Ya ampun, Mas. Semalam kan sudah. Ini saja rambutku masih basah." Adelia menunjukkan rambutnya yang masih belum kering.
"Memang Ai tahu syaratnya apa?" Adi mengerling genit pada istrinya.
"Mmmhhh, bajak sawah bukan?" tebak Adelia sambil meringis.
"Kenapa Ai bisa mikirin itu? Jangan-jangan Ai masih mau ya." Adi mulai menggoda istrinya.
"Apaan sih, Mas Adi. Enggak ya." Adelia mengelak tuduhan suaminya.
Adi tertawa melihat gelagat istrinya yang malu karena salah menebak syaratnya. Dia mengacak gemas rambut panjang istrinya yang selalu harum itu.
"Mas, rambutku jadi berantakan ini," protes Adelia dengan bibir mengerucut.
"Sini, aku benerin." Adi kembali mengulurkan tangannya, tapi Adelia berhasil menghindar. Bukannya rambut makin rapi, pasti lebih diacak-acak lagi sama Adi.
"Mas Adi, udah ah bercandanya." Adelia menatap kesal suaminya.
Adi kembali tertawa. Dia lalu bangkit dari duduknya, beranjak ke kamar untuk berganti baju rumah.
Sementara itu Adelia menggantung mukenanya di ruang salat, kemudian menyusul suaminya ke kamar.
"Mas Adi, jadi syaratnya apa?" Adelia masih merasa penasaran. Dia menggantung baju koko Adi, yang baru dilepas suaminya itu, untuk dipakai lagi nanti untuk salat.
"Mau tahu apa mau tahu banget?" Adi kembali menggoda istrinya.
"Mas Adi lama-lama ngeselin ih," gerutu Adelia.
"Ngeselin apa ngangenin?" Adi mendekati istrinya sambil tersenyum genit.
"Taukkkk." Adelia memutuskan ke luar dari kamar daripada menanggapi suaminya. Dia pergi ke dapur untuk memasak sarapan mereka pagi ini.
Kebetulan masih ada sisa nasi kemarin, Adelia memutuskan membuat nasi goreng saja untuk sarapan mereka. Tak lupa dia menyiapkan teh manis panas untuk suaminya.
"Mau masak apa, Ai?" Adi tiba-tiba muncul dan memeluk Adelia dari belakang.
"Astaghfirullah. Mas Adi, ngagetin aja. Untung tanganku enggak kena pisau nih," protes Adelia yang sedang mengiris bawang merah.
"Maaf, Ai. Habisnya kamu serius banget sih, sampai enggak sadar kalau aku ada di sini." Adi menempelkan kepalanya di bahu kanan Adelia.
"Ai, mau masak nasi goreng ya," tebak Adi kemudian, karena melihat bumbu-bumbu yang disiapkan istrinya.
"Iya, Mas. Enggak apa-apa kan sarapan sama nasi goreng?"
"It's okey, Ai. Aku kan pemakan segala. Apa pun yang Ai masak, pasti aku suka."
"Mau pakai cabai berapa, Mas?" tanya Adelia yang siap mengiris cabe rawit merah.
"Dua saja, Ai. Jangan banyak-banyak. By the way, Aku bisa bantu apa nih?"
"Mas duduk saja, nikmati tehnya."
"Aku bikin telur dadarnya saja ya, Ai." Adi menawarkan bantuan pada istrinya. Adi memang suka makan nasi goreng dengan telur yang didadar dengan daun bawang.
"Terserah Mas Adi saja. Tapi aku belum nyiapin sayur dan telurnya, Mas."
"Biar aku yang siapkan sendiri. Ai, fokus bikin nasi goreng saja." Adi lalu mengurai pelukannya. Dia mengambil telur dan daun bawang dari dalam kulkas.
Mereka berdua sibuk di dapur dengan kegiatan masing-masing. Adelia memasak nasi goreng, sedangkan Adi memasak telur dadar. Setelah semua matang, Adelia menyajikannya di atas meja makan. Mereka kemudian sarapan bersama.
"Ai, nanti kalau mau bantu di sebelah jangan sampai kecapaian ya," kata Adi.
"Siapa tahu sudah ada hasil dari bulan madu kemarin," lanjutnya.
"Iya, Mas. Nanti mama sama papa kan mau ke rumah Tante Dewi. Bukannya ayah dan bunda juga mau ke sini?"
"Iya, tapi mungkin ayah sama bunda ke sini sore. Siang ini mau kondangan dulu katanya."
"Menginap di sini kan ayah sama bunda, Mas?" Adelia menatap suaminya.
"Iya, Ai. Besok habis Subuh mereka baru pulang."
"Kalau begitu nanti aku siapin dulu kamar ayah dan bunda sebelum ke sebelah," kata Adelia.
"Enggak usah terlalu pagi ke sebelah. Palingan tamu juga datang di atas jam 9, Ai."
"Iya, Mas. Aku beresin dulu kok kerjaan rumah sama melayani kebutuhan suamiku," ujar Adelia sambil mengerling pada Adi.
__ADS_1
"Istriku memang salihah, selain cantik dan baik," puji Adi yang membuat Adelia tersipu malu.
...---oOo---...
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Rendra terkesiap saat membuka pintu rumah. Ada Kaisar dan Tirta di depan pintu. Meski masih merasa sedikit cemburu pada Kaisar tapi dia harus tetap bersikap ramah.
"Silakan masuk, Mas Kaisar, Mbak Tirta. Mau ketemu Kak Shasha?" tanya Rendra saat mempersilakan kakak beradik itu masuk ke ruang tamu.
"Mau ketemu Tante Dewi dan semua yang mau umrah," jawab Tirta sambil tersenyum.
"Silakan duduk dulu. Aku panggil mama dan yang lainnya." Rendra meninggalkan Kaisar dan Tirta di ruang tamu.
"Mas Kai, enggak coba dekati Dita lagi kan?" tanya Tirta sambil berbisik.
Kaisar mengernyit. Dia menoleh pada adiknya. "Maksudmu apa nuduh aku dekati dia, Dek?"
"Habisnya si Rendra kaya enggak suka lihat Mas di sini," terang Tirta sambil berbisik.
"Dia aja kali yang cemburu buta sama aku, Dek. Padahal aku juga enggak pernah ngajak istrinya ngobrol berdua."
"Pede banget sih dicemburuin, Mas," ledek Tirta.
"Tanya sendiri saja sama Rendra kalau kamu mau tahu sebabnya," kata Kaisar akhirnya.
Tirta mencibir kakaknya. Mana mungkin dia menanyakan hal seperti itu pada Rendra. Ada-ada saja kakaknya itu.
"Eh, Mas Kai, Tata," sapa Shasha dengan ramah. Dia bersalaman dengan Kaisar lalu cipika cipiki dengan Tirta.
"Maaf ya nunggu agak lama," kata Shasha sambil mendudukkan diri di depan mereka.
"Enggak apa-apa, Sha, kaya sama siapa aja," balas Tirta.
"Eh, ada tamu jauh ternyata." Ibu Dewi masuk ke ruang tamu dengan senyum ramah.
"Tante bisa saja," sahut Tirta yang langsung berdiri dan menyalami Ibu Dewi, begitu juga Kaisar.
"Apa kabar, Tirta? Lama banget enggak main ke sini."
"Alhamdulillah baik, Tante. Iya nih Tante, saya lagi sok sibuk kerja. Tapi sekarang kan sudah ke sini," jawab Tirta.
"Alhamdulillah, Tante senang ketemu kamu lagi. Sering-sering ya main kalau ada waktu."
"Insya Allah, Tante."
"Nisa tadi baru mandi, Ma. Kalau Rendra baru bantu Dita jemur pakaian," jelas Shasha.
"Coba panggil mereka lagi, Sha," titah Ibu Dewi.
"Iya, Ma. Aku tinggal sebentar ya, Ta, Mas Kai." Shasha beranjak dari duduknya untuk memanggil adik-adiknya.
"Nak Kai, ini yang kemarin bantu kasusnya Mas Adi ya?" tanya Ibu Dewi pada Kaisar.
"Iya, Tante. Saya cuma ikut memantau karena bukan unit saya," jawab Kaisar.
"Terus gimana perkembangan kasusnya?"
"Sidangnya masih berjalan, Tante. Mungkin sebentar lagi putusan kalau semua sudah bersaksi."
"Semoga hukumannya setimpal dengan perbuatannya. Tante kasihan sama Adelia dan Adi, baru menikah tapi mendapat ujian seperti itu. Untung saja Adi tidak kenapa-kenapa," tutur Ibu Dewi.
"Aamiin. Iya, Tante. Alhamdulillah, Allah masih melindungi Adi," ujar Kaisar.
"Oh ada Mas Kai dan mbak siapa ya?" tanya Dita dengan ramah begitu masuk ke ruang tamu dengan digandeng Rendra.
"Aku Tirta, teman kuliah Shasha." Tirta memperkenalkan dirinya pada Dita. Mereka pun bersalaman. Tadi saat menyapa Kaisar, Dita tidak bersalaman hanya menyunggingkan senyum saja agar suaminya tidak cemburu.
"Saya Dita, Mbak Tirta. Istrinya Mas Rendra." Dita kembali tersenyum ramah.
"Salam kenal ya, Dita. Eh, kamu lagi hamil ya?" tanya Tirta yang melihat baby bump Dita.
"Iya, Mbak. Alhamdulillah sudah 5 bulan." Dita mengelus perutnya. Dia lalu duduk di samping Ibu Dewi. Tentu saja Rendra duduk di sampingnya sambil memeluk bahu dan memegang tangan Dita.
"Boleh ya umrah saat hamil?" tanya Tirta lagi.
"Boleh, asal ibu dan janinnya sehat, Mbak. Ini kan sudah masuk trimester kedua. Insya Allah, sudah aman untuk perjalanan jauh," terang Dita.
"Sebenarnya rencana kami umrah akhir tahun ini. Alhamdulillah, Dita dikasih amanah hamil lagi, dan hpl-nya akhir Desember. Jadi daripada ditunda akhirnya dimajukan setelah konsultasi dengan dokter kandungannya. Mumpung Tante juga masih sehat," tutur Ibu Dewi.
Kaisar dan Tirta menganggukkan kepala setelah mendengar penuturan Ibu Dewi.
"Tante Dewi mah dari dulu enggak berubah, masih sehat, cantik dan awet muda," puji Tirta.
"Alhamdulillah di usia Tante yang sudah tidak muda lagi masih diberi kesehatan. Sebentar lagi juga sudah jadi nenek ini," canda Ibu Dewi.
__ADS_1
"Nenek cantik kan, Tante." Tirta membalas canda Ibu Dewi.
"Mas Kaisar, Mbak Tirta, silakan diminum." Nisa menempatkan dua gelas es sirup di atas meja, di depan Kaisar dan Tirta.
"Makasih, Nis. Jadi malah merepotkan ini," ucap Tirta.
"Cuma air dikasih sirup, Ta," sahut Shasha.
"Ayo, Mas Kai diminum. Ini lagi libur, Mas?" tanya Shasha pada Kaisar.
"Iya. Tadi pagi pulang, tidur sebentar, terus Tirta ajak ke sini," jawab Kaisar.
"Enggak salah, Mas. Tadi Mas kan yang mau ikut." Tirta mengernyit pada kakaknya.
Kaisar menyikut lengan Tirta agar tidak membocorkan yang sebenarnya.
Shasha tertawa kecil melihat tingkah kedua kakak beradik di depannya.
"Assalamu'alaikum," sapa Adelia dari depan pintu bersama mama dan papanya.
"Wa'alaikumussalam," balas semua yang ada di ruang tamu.
"Mari silakan masuk Pak Lukman, Ibu Sarah, Adelia," sambut Ibu Dewi yang selalu ramah pada setiap orang.
"Sha, Mas Kaisar sama Tirta nanti diajak ke dalam saja," titah Ibu Dewi.
"Iya, Ma."
"Eh, ada Mas Kaisar. Mampir ke rumah dulu ya nanti, Mas Adi ada di rumah kok," kata Adelia pada Kaisar.
"Oke, nanti aku mampir," balas Kaisar.
Pak Lukman dan Ibu Sarah menyalami semua orang yang ada di sana. Setelah basi-basi sebentar dan mengutarakan maksud kedatangannya, mereka pamit karena harus menghadiri beberapa undangan hari ini.
Tak lama setelah itu, Arjuna datang sendiri.
"Mas Juna, ngapain ke sini?" tanya Adelia yang heran melihat kakak sepupunya di rumah Ibu Dewi.
"Memangnya aku enggak boleh ke sini. Aku kan juga mau nitip doa," jawab Arjuna dengan santai.
"Boleh saja, Nak Juna." Ibu Dewi tersenyum pada Arjuna.
"Alhamdulillah, terima kasih, Tante. Perkenalkan saya Arjuna, senior Shasha dan Tirta di kampus." Arjuna secara resmi memperkenalkan dirinya pada keluarga Ibu Dewi yang sedang berkumpul di ruang tamu.
"Mas Juna, kenalkan ini Nisa, adikku yang paling kecil. Dua sejoli yang duduk sambil gandengan tangan itu Rendra, adikku dan Dita, istrinya." Shasha memperkenalkan anggota keluarganya yang lain pada Arjuna.
Meski Shasha dan Arjuna dekat, tetapi Arjuna memang belum pernah datang ke rumah dan berkenalan dengan keluarganya. Saat resepsi Adi dan Adelia, mereka juga tidak sempat saling memperkenalkan diri.
"Wah, aku mencium ada bau persaingan di sini," celetuk Nisa.
"Nisa," tegur Ibu Dewi.
"Apa, Ma?" tanya Nisa tanpa merasa bersalah.
"Jangan sembarangan kalau bicara," kata Ibu Dewi.
"Iya, Ma." Nisa menunduk, padahal dia ingin menggoda Shasha. Tapi mamanya sudah melarangnya sebelum dia mulai.
Terlihat sekali Arjuna dan Kaisar seperti saling berlomba mengajak Shasha bicara dan menarik perhatiannya. Shasha sampai kewalahan dan bingung untuk menjawab siapa. Mereka bahkan berpindah ke ruang tengah untuk mengobrol karena tamu terus berdatangan. Sesekali Shasha meninggalkan mereka untuk menemui para tamu. Untung saja ada Adelia dan Tirta yang membantu menjamu tamu.
Arjuna pamit pulang saat azan Zuhur, sementara Kaisar pergi ke masjid naik motor berboncengan dengan Rendra.
"Ren, kamu tidak perlu cemburu sama aku," kata Kaisar pada Rendra saat mereka berangkat ke masjid.
"Siapa bilang aku cemburu dengan Mas Kai?" elak Rendra.
"Kita sama-sama pria, aku bisa lihat dari mata dan sikapmu. Aku memang cinta sama Dita, tapi itu dulu. Sekarang aku sudah tidak mengharapkan dia lagi karena aku melihat kalian berdua saling cinta dan hidup kalian juga bahagia. Aku tidak seperti Restu yang ingin merebut Adelia dari Adi," kata Kaisar.
"Saat ini, aku sedang coba dekat dengan kakakmu. Entah bagaimana akhir hubungan kami nanti, yang jelas aku merasa cocok dan nyaman kalau bicara dengan Shasha. Dan aku juga tidak main-main," lanjut Kaisar.
"Apa Kak Shasha untuk pelarian saja?" tanya Rendra dengan ekspresi datar.
"Tidak pernah terpikir untuk itu. Aku punya adik perempuan. Aku tidak mau mempermainkan perempuan karena aku tidak ingin adikku juga dipermainkan oleh laki-laki," jawab Kaisar lugas.
"Kita lihat saja nanti siapa yang akan dipilih Kak Shasha dan mendapat restu dari mama. Tugasku melindungi dan menikahkan Kak Shasha, menggantikan almarhum papa. Aku tidak akan main-main menjaga keluargaku," tegas Rendra.
"Oke, we'll wait and see. Kita bisa berteman kan sekarang?" tanya Kaisar.
"Ya," jawab Rendra pendek.
"Tenang saja, aku tidak akan merebut Dita dari kamu. Kalaupun aku mencoba, aku yakin juga tidak akan berhasil. Karena dari dulu aku coba menarik perhatiannya juga selalu gagal." Kaisar mentertawakan dirinya sendiri.
Rendra tersenyum tipis mendengar cerita Kaisar. Memang istrinya bukan orang yang mudah tergoda dengan semua perhatian yang diberikan oleh lawan jenis. Buktinya sudah ada Bara, Reza dan juga Kaisar. Dan dialah sang pemenang hati Dita.
...---oOo---...
__ADS_1
Jogja, 230821 00.15