Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Mengidam?


__ADS_3

Keadaan Dita sudah lebih baik dari kemarin, meski wajahnya masih terlihat agak pucat. Setelah dari dokter Arimbi, dia langsung pergi menemui dokter Lita. Kebetulan sore itu pasien dokter Lita tidak terlalu banyak sehingga Dita masih bisa memeriksakan kehamilannya.


Seperti biasa dokter Lita selalu menyambut Dita dan suaminya dengan ramah. Tak lupa, dokter Lita memberi selamat atas kehamilannya yang kedua. Setelah memeriksanya, dokter Lita memberikan resep vitamin dan obat untuk mengurangi mual bila nanti Dita merasakannya.


Dokter Lita berpesan pada Dita agar segera memeriksakan diri bila merasa ada yang janggal dengan kehamilannya. Dia harus mengonsumsi makanan yang bergizi, banyak sayur dan juga buah. Dia juga tidak diperbolehkan puasa bila badannya masih terasa lemas. Bila tidak ada keluhan, sebulan lagi dia harus datang untuk kontrol kehamilannya.


Saat semalam Adi dan Adelia menjenguknya, Dita hanya tergolek lemah di atas ranjang. Suaminya yang lebih banyak bicara, sedangkan dia hanya sesekali saja menanggapi. Untung saja kakaknya tidak lama jadi dia bisa beristirahat lagi. Meski sudah minum vitamin dan makan, badannya masih terasa lemas.


Hari ini jadwal masuk kuliah terakhir sebelum libur lebaran. Rendra tidak mengizinkan dia pergi karena memang kondisinya yang masih agak lemas. Kemarin suaminya sudah meminta surat keterangan dokter kalau Dita tidak bisa mengikuti kuliah selama dua hari. Pagi ini Rendra ke kampus untuk menyerahkan surat izin Dita sekalian mengurus skripsinya. Sementara Dita di rumah ditemani Nisa yang sudah libur kuliahnya.


Tiduran terus di kamar membuat Dita bosan. Dia memutuskan ke luar kamar dan duduk di ruang keluarga sambil menonton TV. Nisa mengajak dia menonton film bertema zombie yang dibintangi aktor korea Gong Yoo. Awalnya dia menikmati filmnya, tetapi setiap kali dia merasa tegang pasti perutnya ikut tegang. Pertama dia tidak peduli tetapi lama-lama membuatnya tidak nyaman.


"Nis, filmnya diganti aja," pinta Dita.


"Kenapa? Mbak Dita takut?" Nisa menoleh pada kakak iparnya yang duduk di samping.


"Enggak. Tapi perutku ikut tegang kalau aku tegang," terang Dita dengan wajah cemas.


"Oh, maaf kalau begitu, Mbak. Aku enggak tahu," ucap Nisa merasa bersalah.


"Enggak apa-apa, Nis. Aku juga baru ngerasain sekarang. Coba kamu cari yang komedi atau yang romantis gitu."


"Apa ya, Mbak?" Nisa terlihat bingung mencari film sesuai permintaan Dita.


"Terserah kamu, Nis. Asal jangan yang tegang. Aku enggak begitu mengerti film."


"Film lama mau, Mbak?" tawar Nisa.


"Kan aku udah bilang terserah kamu," sahut Dita.


"Assalamu'alaikum," salam Rendra saat Nisa masih mencari referensi film komedi.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," sahut Dita dan Nisa bersamaan.


"Sayang, duduk aja. Aku ke situ," kata Rendra begitu melihat istrinya akan berdiri menghampirinya.


Rendra mendekati istrinya. Dita mencium punggung tangannya. Dia membalas dengan mengecup kening belahan jiwanya itu. Dia lalu mengelus perut datar Dita lalu menciumnya. "Assalamu'alaikum, Baby. Ayah pulang."


"Wa'alaikumussalam, Ayah," sahut Dita dengan menirukan suara anak kecil.


"Gimana? Masih pusing dan lemas?" Rendra memandang wajah cantik istrinya.


"Sudah mendingan, Mas. Bosan di kamar terus. Ini tadi nonton film sama Nisa tapi enggak sampai selesai soalnya perutku ikut tegang kalau aku tegang." Dita mengelus perutnya.


"Berarti, Sayang, jangan nonton lagi yang tegang. Cari yang ringan-ringan saja."


"Iya, Mas."

__ADS_1


"Baby ikutan ibu tegang ya." Rendra kembali menunduk, berbicara di depan perut Dita. "Baik-baik dan sehat ya, ayah dan ibu menunggumu."


Dita tersenyum bahagia setiap kali Rendra berinteraksi dengan calon buah hati mereka. Suaminya tetap tidak berubah, masih seperti dulu.


"Mbak, jadi nonton lagi enggak?" tanya Nisa yang merasa terabaikan setelah kakaknya datang.


"Nanti atau besok lagi ya, Nis," jawab Dita.


"Oke, Mbak. Aku ke kamar saja kalau begitu." Nisa menutup laptopnya lalu bangkit dari duduknya dan beranjak ke lantai atas.


"Gimana skripsinya, Mas?" tanya Dita yang kini kepalanya sudah bersandar di bahu Rendra.


"Alhamdulillah sudah di-acc semua. Tinggal merapikan lagi. Tapi ujian pendadarannya tunggu nilai semester akhir keluar, Sayang."


"Alhamdulillah. Iya tunggu saja, Mas. Memang aturannya seperti itu kan." Dita menautkan tangan mereka berdua. Di kehamilan sekarang ini dia merasa ingin selalu dekat dengan suaminya.


"Bella sama Baim katanya nanti mau ke sini, Sayang."


"Mau ngapain, Mas?" Dita mengernyit. Dia kembali duduk tegak sambil menatap suaminya.


"Mungkin mau jenguk, Sayang." Rendra mengangkat bahunya.


"Kaya aku yang sakit parah saja," gumam Dita.


"Apa Sayang enggak mau mereka ke sini? Nanti aku bilang sama Bella."


"Ya udah, enggak apa-apa. Sekalian tanya kuliah kemarin sama hari ini."


"Sayang, masih mau di sini apa ikut ke kamar? Aku mau ganti baju, gerah tadi."


"Ikut, Mas." Dita bergelayut manja di lengan suaminya.


Begitu mereka masuk ke dalam kamar dan Rendra menutup pintu, Dita merangsek memeluk erat suaminya. Dia melingkarkan kedua tangan di pinggang Rendra.


"Ada apa, Sayang?" Rendra kaget mendapat pelukan dari istrinya. Dia merasa cemas kalau sesuatu telah terjadi pada istrinya.


"Enggak ada apa-apa. Aku kangen saja sama, Mas. Pengen peluk, Mas."


Rendra membalas pelukan Dita. Dia mengecup puncak kepala istrinya. "Sudah dulu pelukannya, aku mau ganti baju, Sayang."


"Enggak mau. Mas, enggak usah ganti baju, begini saja." Dita tidak mau melepas pelukannya.


"Tapi aku tadi banyak berkeringat loh, Sayang. Bau nih aku."


"Enggak. Mas Rendra, enggak bau keringat. Aku suka baunya kaya gini." Dita kembali mengendus aroma suaminya


Rendra menghela napasnya. "Iya, aku enggak ganti baju, tapi aku mau taruh ranselku dulu di meja. Sayang, juga jangan berdiri terus. Mendingan pelukannya sambil tiduran ya, biar enggak capai."

__ADS_1


Dita melonggarkan pelukannya. Dia mendongak menatap suaminya. "Benar ya, Mas."


"Iya. Aku janji, Sayang." Rendra mengecup kening wanita yang sedang mengandung calon buah hatinya.


Dita melepas pelukannya. Tapi, dia masih memeluk erat lengan suaminya saat berjalan ke ranjang. Rendra segera meletakkan tasnya di meja kerja sebelum istrinya mulai mengambek.


"Tiduran aja, yuk," ajak Rendra.


Dita mengangguk. Dia segera naik ke atas tempat tidur. Rendra kemudian menyusul dan berbaring di samping istrinya.


"Mas, tidurnya miring menghadap aku," pinta Dita dengan manja.


Rendra menuruti istrinya. Dia merentangkan tangan kirinya. Biasanya Dita akan tidur berbantal tangannya. Tapi kali ini Dita tidak melakukannya.


Kepala Dita ada di depan dada Rendra tanpa bantal apa pun. Dia menghirup aroma badan suaminya yang entah kenapa sekarang menjadi candu untuknya. Apa ini yang dinamakan menyidam? Dia juga tidak tahu.


"Sayang, sekarang tidur ya, istirahat." Rendra mengelus kepala istrinya. Dia kesulitan saat mau mencium kening Dita karena posisi kepala istrinya yang ada di depan dadanya. Dan dia juga tidak bisa bergerak bebas karena Dita memeluknya sangat erat.


Tidak butuh waktu lama untuk Dita tidur. Napasnya terasa sudah teratur. Rendra pun akhirnya menyusul istrinya tidur.


"Sayang, bangun yuk salat Zuhur dulu." Rendra mengecup pipi dan kening Dita untuk membangunkan belahan jiwanya itu.


"Memang sudah Zuhur, Mas,?" tanya Dita dengan mata masih terpejam.


"Sudah. Ini aku baru pulang dari masjid. Makanya matanya dibuka dong, Sayang. Lihat nih gantengnya suamimu pakai baju koko dan sarung." Rendra kembali membujuk Dita untuk bangun, tapi ternyata istrinya tetap bergeming.


"Sayang, bangun dong. Jangan ajari Baby malas, apalagi untuk salat." Rendra kali ini mengelus perut Dita.


"Baby, ayo bangunkan ibu salat," bisik Rendra di depan perut Dita.


Dita merasa geli karena Rendra terus berbicara dan mencium perutnya berulang kali. Dia akhirnya membuka mata dan melihat suaminya masih mengajak bicara Baby, calon buah hati mereka, yang masih ada di dalam perutnya.


"Mas, sudah. Aku geli." Dita memegang kepala suaminya yang masih terus ada di perutnya.


Rendra menoleh sebentar pada istrinya sebelum kembali bicara di depan perut Dita. "Baby, akhirnya ibu mau bangun. Nanti kalau ibu malas bangun lagi, kita ngobrol kaya gini lagi ya."


"Ya Allah, Mas. Masih juga di dalam perut sudah diajak sekongkol." Dita terkekeh mendengar ucapan suaminya.


Rendra ikut tertawa. "Kalau enggak begitu, Sayang, enggak mau bangun kan. Yuk, bangun dulu salat Zuhur." Rendra membantu Dita bangun. Dia berjaga kalau Dita merasa pusing lagi.


Setelah kesadarannya pulih, Dita bangkit lalu beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudu.


"Sayang, ini Bella sama Baim otw ke sini. Sayang, siap-siap ya," kata Rendra setelah Dita selesai menjalankan salat Zuhur.


"Iya, Mas. Tapi nanti Mas ikut temani ngobrol ya."


"Iya, pasti aku temani, Sayang."

__ADS_1


...---oOo---...


Jogja, 040721 01.05


__ADS_2