
Begitu sampai di depan Kampung Ramadan Kauman, mereka memarkirkan kendaraan di tempat parkir yang sudah disediakan. Rendra melepaskan helm yang dipakai istrinya seperti biasa. Dia lalu menggenggam tangan Dita sebelum masuk ke area pasar Ramadan Kauman. Adi juga menggandeng tangan Adelia.
Kampung Ramadan Kauman yang berada di Jalan Ahmad Dahlan, sekitar 100 meter dari titik Nol Kilometer Jogja ini, merupakan pasar dadakan yang hanya ada di bulan Ramadan. Pasar Ramadan yang sudah ada sejak tahun 80-an ini tidaklah di lahan yang luas, melainkan di sepanjang gang sempit yang lebarnya tak lebih dari 2 meter.
Saat para pengunjung masuk ke pasar yang berada di RW 10 Kampung Kauman, mereka akan disambut dengan gapura yang berhias caping bambu warna warni yang membuat suasana semakin semarak. Meski areanya tidak luas, tetapi banyak tenda kecil yang menjajakan aneka takjil, minuman khas Ramadan dan kue basah.
Ada satu jajanan khas Ramadan yang hanya ada di Kampung Ramadan Kauman yaitu kicak. Banyak orang yang berburu kicak ini setiap Ramadan. Kicak yang berbahan dasar ketan ini mempunyai cita rasa manis dan gurih yang seimbang. Gurihnya berasal dari kelapa parut dan kuah santan, sementara manis legit dari nangka, gula merah, dan beras ketan yang ditumbuk.
gambar kicak (photo credit to the owner)
Mereka membeli beberapa macam kudapan termasuk kicak, dan juga minuman untuk membatalkan puasa. Setelah puas berbelanja, mereka kemudian pergi ke Masjid Gede Kauman yang terletak di sebelah barat Alun-alun Utara Jogja.
Mereka duduk di serambi masjid sambil mendengarkan pengajian yang diadakan di sana setiap menjelang buka puasa. Selain mereka, banyak orang yang ada di sana. Ada yang memang berniat mengikuti pengajian, ada yang sedang iktikaf, ada musafir dan ada juga yang seperti mereka sengaja ingin ngabuburit di sana.
Saat azan Magrib berkumandang, mereka segera membatalkan puasa dengan minuman dan makanan yang tadi dibeli. Sebenarnya di sana juga sudah disediakan makanan untuk berbuka puasa, tetapi mereka lebih memilih untuk membawa bekal sendiri. Mungkin ada orang lain yang lebih membutuhkan selain mereka.
Setelah membatalkan puasa, Adi, Rendra dan Dita mengambil wudu lalu menjalankan salat Magrib berjemaah. Adelia menunggu mereka di serambi masjid.
Usai salat Magrib, mereka sepakat pergi ke Alkid (Alun-alun Kidul/Selatan). Mereka ingin menaiki sepeda hias yang hanya ada di sana saat malam hari. Beberapa bulan yang lalu saat Rendra dan Dita ke sana tidak bisa menaikinya karena Dita baru saja menjalani operasi caesar. Tidak memungkinkan untuk mengayuh sepeda.
Setelah memarkirkan motor, mereka memilih sepeda hias yang akan disewa. Mereka mencari yang ada empat tempat duduk. Sesudah mendapat sepeda hias yang diinginkan, mereka membayar sewa. Mereka diberi waktu satu kali untuk mengelilingi alun-alun. Adi dan Adelia duduk di kursi depan, sementara Rendra dan Dita di kursi belakang.
sepeda hias di Alun-alun Kidul (Photo credit to the owner)
Mereka masing-masing harus mengayuh pedal agar sepeda bergerak.
"Ya ampun, berat banget sih ngayuhnya," keluh Dita setelah mendapat setengah putaran.
"Ayo semangat, Sayang." Rendra menyemangati istrinya.
"Aduh Mas, aku enggak kuat. Nyerah aku." Dita kembali mengeluh.
"Ya udah, Sayang enggak usah ngayuh." Rendra tidak tega melihat istrinya yang kepayahan.
"Payah kamu, Dek. Enggak pernah olahraga sih. Lihat nih istriku aja semangat ngayuhnya," kata Adi.
"Seru banget ini. Aku mau satu putaran lagi, Mas." Adelia terlihat sangat gembira.
"Oke, kita ambil dua putaran." Adi memutuskan.
"Aku turun aja enggak kuat ngayuh," gerutu Dita.
"Sudah, di sini saja. Sayang, cukup duduk manis tidak perlu mengayuh." Rendra menenangkan istrinya.
"Itu rame-rame pada antri beli apa sih?" tanya Dita sambil menunjuk kerumunan orang yang tampak sedang antri.
"Itu cilok, Dek. Terkenal itu ciloknya," sahut Adelia.
"Mas, nanti beli cilok itu ya." Dita menoleh pada suaminya dengan tatapan memohon.
"Iya, nanti aku beliin." Rendra tersenyum sambil mengelus kepala istrinya.
"Antriannya biasanya panjang lho itu, Dek," kata Adelia.
__ADS_1
"Enggak apa-apa, daripada aku penasaran. Mbak Adel sudah pernah coba?"
"Belum. Aku cuma tahu karena viral saja. Pastinya enak ya rasanya soalnya banyak yang rela antri," ujar Adelia.
"Beli wedang ronde sama jagung bakar aja, Dek. Enggak usah jajan yang aneh-aneh." Adi ikut menimpali keinginan adiknya.
"Enggak mau. Aku pinginnya cilok itu. Yang lain sudah pernah beli." Dita bersikeras.
"Enggak apa-apa, Mas. Kalau kelamaan nunggu, nanti Mas pulang dulu juga enggak apa-apa," kata Rendra.
"Ya terserah kalian lah."
Usai mengayuh sepeda hias selama dua putaran, Adi, Adelia dan Dita beristirahat sambil memesan wedang ronde dan jagung bakar. Rendra belum bergabung dengan mereka bertiga karena sedang mengantri cilok untuk istrinya.
"Mas Ganteng, boleh kenalan enggak?" tanya seorang wanita yang juga sedang mengantri cilok di dekat Rendra.
"Masnya kok sombong sih," colek wanita itu saat Rendra tak menanggapi dia.
"Maaf, ada apa ya Mbak?" tanya Rendra pada wanita yang sedang kasak-kusuk dengan temannya.
"Masnya suka cilok ini? Sama dong kita," kata wanita itu sambil tersenyum manis.
"Oh, ini buat istri saya," balas Rendra tanpa basa-basi.
"Istri beneran apa adiknya, Mas?" tanya wanita itu dengan ekspresi menggoda.
"Istri beneran lah, Mbak. Ini cincin pernikahan kami." Rendra memperlihatkan cincin di jari manis kanannya.
"Istri saya itu sedang duduk di sana." Rendra menunjuk ke arah di mana Dita berada.
"Sekalinya lihat cowok ganteng, ternyata suami orang. Semua yang ganteng udah punya istri, gimana nasib kita?" kata wanita itu pada temannya yang masih bisa didengar Rendra.
Setelah beberapa saat mengantri, akhirnya Rendra mendapatkan cilok permintaan istrinya. Dia membawa dua kantong plastik cilok. Berjaga-jaga kalau Dita masih merasa kurang.
"Ngobrol sama siapa tadi, Mas?" tanya Dita dengan wajah masam.
"Bukan siapa-siapa, Sayang. Aku enggak kenal, cuma sama-sama antri saja," terang Rendra sambil menyerahkan cilok pada istrinya.
"Ngobrol apa saja tadi?" tanya Dita dengan ketus.
"Dia tanya apa aku suka cilok. Aku jawab aku beli cilok untuk istriku. Udah itu aja, Sayang," jelas Rendra.
"Oh," ucap Dita sambil menikmati ciloknya.
"Mas Adi sama Adel juga ditawari ciloknya, Sayang. Itu aku beli 2 bungkus lho." Rendra mengelus kepala istrinya yang hari ini agak sensitif.
"Ambil aja kalau mau." Dita menempatkan satu kantong cilok di hadapan Adi dan Adelia.
"Mas Rendra, mau?" Dita berniat menyuapi suaminya.
"Aku masih kenyang, Sayang," tolak Rendra.
"Icip satu aja, Mas." Dita tetap menyuapi suaminya. Dia tidak mau menerima penolakan.
Akhirnya mau tidak mau Rendra memakan cilok yang disuapi istrinya. Adi yang melihat, merasa iba pada adik iparnya itu.
"Enak ini ciloknya, Dek," komentar Adelia setelah mencicipi cilok. "Pantas banyak orang yang rela antri."
__ADS_1
"Mas Adi mau?" Adelia menawari suaminya.
Adi menggeleng. Adelia kembali menikmati cilok bersama Dita.
Setelah puas nongkrong di Alkid. Mereka sepakat untuk pulang. Adelia dan Dita berjalan di depan, sementara Adi dan Rendra di belakang mereka. Adi merangkul adik iparnya saat berjalan menuju tempat parkir.
"Dita kenapa tadi?" tanya Adi dengan berbisik.
"Salah paham aja, Mas. Aku minta dia belajar motor atau mobil, tapi dia enggak mau. Malah mengira aku repot nganterin dia ke mana-mana," jelas Rendra setelah menghela napasnya.
"Sabar ya, Rend. Traumanya sepertinya terlalu besar. Kita enggak bisa memaksa dia."
"Iya, Mas. Aku juga tahu. Tapi hari ini Dita memang agak beda, Mas. Enggak kaya biasa."
"Iya, aku juga bisa lihat, Rend. Terima kasih ya kamu sudah sabar menghadapi adikku yang super manja itu."
"Itu sudah kewajibanku, Mas."
"Habis ini aku mau belanja baju buat Adel. Kalian pulang saja dulu. Motornya nanti aku antar," kata Adi saat mereka sampai di parkiran.
"Bawa saja dulu, Mas. Besok pagi aku ambil motor, sekalian aku antar motornya Mas Adi."
"Ya udah, kalau begitu."
Mereka berpisah di tempat parkir karena berbeda tujuan.
"Ai, kita belanja di mana? Di Malioboro ada enggak ya?" tanya Adi pada istrinya saat mereka meninggalkan Alkid.
"Dicoba aja, Mas. Kayanya ada," jawab Adelia.
"Serius ini kita mau beli baju buat aku, Mas?"
"Serius. Buat apa aku bercanda. Kenapa? Ai, enggak suka?"
"Asal Mas Adi suka, aku juga suka, Mas."
"Oke, kita Malioboro Mal sekarang." Adi melajukan motor menuju Jalan Malioboro.
Sementara itu Rendra dan Dita menuju ke arah lain.
"Sayang, kita ke kafe dulu ya, sebelum pulang. Sudah lama enggak ke sana," ajak Rendra.
"Jangan lama-lama ya, Mas. Aku capek," sahut Dita yang sudah menyandarkan kepala di punggung Rendra.
"Siap, Sayang. Paling 10 sampai 15 menit. Nanti Sayang tiduran dulu di sofa kalau capek sambil menunggu aku memeriksa laporan dan bicara sama Mas Candra."
"Iya, Mas." Dita makin mengeratkan pelukannya di pinggang Rendra.
"Jangan tidur ya, Sayang."
"Enggak, Mas. Aku cuma nyandarin kepala aja."
Rendra kemudian melajukan motor ke kafe. Dia terus mengajak ngobrol istrinya agar Dita tidak tertidur.
...---oOo---...
Jogja, 300621 01.40
__ADS_1