
Persiapan akad nikah Adi dan Adelia berjalan dengan lancar meski mendadak karena memang hanya diselenggarakan secara sederhana di Masjid Al-Kautsar yang dekat dengan rumah Adi. Mahar seperangkat alat salat dan Al-Qur'an sudah dibeli dan dihias oleh Dita. Hidangan buka puasa untuk jemaah masjid yang datang dan bingkisan untuk para tetangga juga sudah dipesan. Untung saja katering langganan Ibu Dewi masih bersedia menerima pesanan mereka meski mendadak. Seolah semesta memang mendukung rencana baik mereka.
Adi mengajukan izin satu hari, karena dia tidak bisa mengajukan cuti secara mendadak. Begitu pula Pak Wijaya yang sebelum salat Jumat sudah tiba di kediaman Adi bersama sang istri tercinta. Sedangkan Dita tetap kuliah seperti biasa karena dia hanya masuk satu mata kuliah di pagi hari.
Selepas Asar, keluarga Pak Lukman berangkat dari rumah. Semua ikut, termasuk Mbok Sum. Adelia dan Mbok Sum masuk ke mobil saat di dalam garasi agar tetangga tidak melihat kalau rumah mereka kosong. Koper yang berisi pakaian Adelia juga sudah dimasukkan ke dalam bagasi. Arsenio yang paling terakhir masuk ke mobil karena harus mengunci garasi dan pintu gerbang.
Setelah tiba di klaster perumahan Adi, mereka berhenti di depan rumah Ibu Dewi karena Adelia akan dirias dan berganti baju akad di sana. Setelah itu anggota keluarga yang lain berkunjung ke rumah Adi. Tak lupa Arsenio mengeluarkan koper pakaian Adelia yang kemudian dimasukkan ke kamar Adi.
Keluarga Pak Wijaya dan Pak Lukman saling bercengkerama sambil menunggu waktu berangkat ke masjid. Adi yang sudah rapi menggunakan jas koko putih dan sarung yang berwarna senada juga ikut bergabung, meski dia tidak banyak bicara. Wajahnya terlihat tegang walau dia berusaha terus tersenyum.
Saat waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB rombongan mereka berangkat ke masjid tempat acara akad nikah nanti dilaksanakan. Ibu Dewi dan Shasha juga ikut dengan rombongan Pak Wijaya. Sementara Dita, Rendra, Nisa masih menunggu Adelia yang hampir selesai dirias. Riasan yang dipakai hanya sederhana dengan warna natural jadi tidak membutuhkan waktu lama. Meski begitu wajah Adelia terlihat lebih segar dan tentu saja lebih cantik.
Acara akad nikah yang sekaligus buka bersama dengan jemaah masjid dan para musafir yang singgah di masjid, dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an. Selanjutnya Ustaz Fikri memberikan tausiah mengenai pernikahan.
Sepuluh menit sebelum waktu berbuka, Ustaz Fikri mengakhiri tausiahnya. Saat itu juga bertepatan dengan Adelia dan rombongan yang tiba di masjid. Adelia langsung di bawa ke kantor takmir masjid sambil menunggu waktu akad nikah selepas salat Magrib. Kebetulan dia sedang berhalangan jadi tidak mengikuti salat Magrib. Di sana Adelia ditemani oleh Nisa yang kebetulan juga sedang berhalangan. Sementara Dita dan Rendra bergabung dengan yang lain sambil menunggu waktu buka puasa.
Pihak katering bergerak cepat menyiapkan makanan ringan dan minuman untuk membatalkan puasa. Setelah membatalkan puasa nanti mereka akan salat Magrib berjemaah. Sesudah itu akan dilaksanakan prosesi ijab kabul. Baru kemudian menyantap berbagai hidangan yang sudah disediakan.
Usai salat, takmir masjid menyiapkan meja kecil di serambi untuk prosesi akad nikah. Sambil menunggu semuanya siap, Dita menyempatkan merapikan penampilan kakaknya. Dia memegang tangan Adi yang terasa dingin.
"Bismillah, Mas. Insya Allah dilancarkan. Jangan grogi, masa kalah sama Mas Rendra." Dita sedikit berseloroh agar kakaknya tidak terlalu tegang.
"Iya. Makasih udah banyak bantuin mas, Dek." Adi memeluk adik semata wayangnya.
"Iya, Mas." Adelia mengelus punggung kakaknya memberi dukungan morel.
"Mas sudah ditunggu itu, aku mau ambil mahar sama jemput Mbak Adel." Dita mengurai pelukan mereka.
Momen itu tak luput dari jepretan kamera fotografer yang Adi sewa.
Adi lalu melangkah menuju tempat akad. Dia terus beristighfar agar hatinya menjadi tenang. Tidak pernah dia merasa setegang ini sebelumnya. Bahkan saat sidang skripsi dan wawancara kerja dia masih bisa santai dan tertawa, tapi sekarang, untuk bisa tersenyum saja rasanya sulit.
Pak Lukman sudah duduk di depan meja dan berhadapan dengan Adi. Sementara saksi dari pihak Adelia yaitu Pak RW duduk di samping Pak Lukman. Dan saksi dari pihak Adi yaitu Ustaz Fikri duduk di samping Adi. Mahar yang akan diberikan Adi juga sudah diletakkan di atas meja. Akad nikah segera dimulai.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim. Adindra Kusuma bin Wijaya Kusuma. Aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak perempuanku yang bernama Adelia Putri Permana dengan mas kawin seperangkat alat salat dan satu motor Scoopy, dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Adelia Putri Permana binti Lukman Permana dengan mas kawin seperangkat alat salat dan satu motor Scoopy dibayar tunai.”
"Sah," ucap kedua saksi dan para jemaah.
"Alhamdulillah," ucap semua orang yang ada di sana.
Ustaz Fikri selanjutnya membacakan doa untuk mereka yang di-aamiin-kan semua orang.
“Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.”
(Artinya: Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.)
Selanjutnya Adelia dibimbing Dita untuk duduk di samping kakaknya. Adelia tampak cantik dan anggun dengan gamis putih serta riasan wajah yang natural. Adi tak berhenti tersenyum memandang wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. Sekarang mau memandang selama apa pun sudah halal dan tidak berdosa lagi.
Adi lalu menyerahkan mahar seperangkat alat salat dan kunci motor pada Adelia yang diterima istrinya itu dengan senyum manis nan merekah. Kemudian Adelia mencium punggung tangan Adi sebagai tanda bakti pertamanya pada suami. Adi kemudian mengecup kening Adelia. Setelah itu Adi memegang ubun-ubun istrinya sembari berdoa.
(Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.)
Sesudah itu dia berbisik di telinga istrinya. "Kamu cantik sekali."
Tentu saja Adelia menjadi tersipu karena ucapan Adi tadi. Meski dulu sering mendapat kata-kata manis dan pujian dari Restu, tetapi mendengar Adi yang mengatakannya menimbulkan gelenyar aneh pada tubuhnya hingga membuat bulu kuduknya berdiri.
Selanjutnya semua jemaah yang turut menyaksikan prosesi akad nikah memberikan selamat dan mendoakan mereka, baru kemudian mereka menyantap hidangan yang sudah disediakan.
Sementara itu kedua mempelai menghampiri kedua orang tua mereka yang sudah duduk berdampingan. Adi dan Adelia satu per satu meminta doa agar bisa membentuk keluarga sakinah ma waddah wa rahmah. Para orang tua juga memberi nasihat pada mereka. Isak tangis haru mewarnai prosesi tersebut.
Dita pun ikut terharu saat Adi memeluknya. Dia lega dan bahagia karena kakaknya sudah menemukan tulang rusuknya. Dia tidak perlu khawatir lagi Adi akan kesepian atau tidak ada yang menyediakan makanan kalau dia tidak ada.
"Selamat ya, Mas. Semoga sakinah ma waddah wa rahmah. Aku yakin Mas bisa jadi suami yang baik, yang bisa membimbing Mbak Adel jadi lebih baik. Coba belajar bersikap romantis Mas, jangan lempeng-lempeng aja. Kalau perlu belajar sama Mas Rendra." Dalam suasana yang haru itu Dita masih sempat menggoda kakaknya.
"Jaga dan bimbing Mbak Adel ya, Mas. I believe in you. Aku sayang Mas Adi. Tetap jadi kakak yang keren ya, Mas." Dita mengurai pelukan mereka. Dia mencium punggung tangan dan kedua pipi kakaknya yang dibalas Adi dengan mencium kening adik semata wayangnya.
__ADS_1
"Makasih, Dek. Mas juga sangat sayang Adek. Tetap jadi adik yang baik dan keren ya." Adi kembali memeluk Dita.
"Iya, Mas." Dita balas memeluk kakaknya.
"Mas, Adek, sudah pelukannya. Dikira kalian yang menikah dari tadi peluk-pelukan terus," tegur Ibu Hasna pada kedua buah hatinya itu.
"Bunda, ih, merusak suasana haru saja," canda Dita saat Adi melepas pelukannya.
"Kalian berdua ini sama-sama sudah punya pasangan, pikirkan perasaan pasangannya kalau kalian malah asyik bermesraan berdua. Ini yang pengantin baru juga bukannya berduaan sama istri malah sama adiknya." Pak Wijaya ikut menegur mereka berdua.
"Iya, Ayah," sahut Dita dan Adi bersamaan sambil tertawa kecil.
Dita lalu mendekat pada Adelia. Dia mencium punggung tangan kakak iparnya itu lalu memeluknya.
"Selamat ya, Mbak. Semoga sakinah ma waddah wa rahmah. Titip Mas Adi ya, Mbak. Aku mohon Mbak bersabar menghadapi Mas Adi yang masih kaku kaya kanebo kering itu. Aku yakin nanti seiring berjalannya waktu, Mas Adi bisa berubah jadi lebih romantis, ya meski tidak bisa seromantis Mas Rendra, sih." Dita terkikik geli sendiri.
"Makasih ya, Dek. Doakan kami terus. Dan bantu aku belajar masak, biar Mas Adi enggak sering makan di luar."
"Insya Allah, Mbak." Dita tersenyum saat mengurai pelukan mereka.
Mereka semua yang ada di sana diliputi kebahagiaan yang tiada tara. Tidak hanya kedua mempelai dan keluarga, tetapi juga para jemaah yang menjadi saksi janji suci itu diucapkan. Setelah menikmati hidangan yang disajikan prasmanan di halaman masjid, semua jemaah yang ada di sana juga mendapatkan bingkisan untuk dibawa pulang.
...---oOo---...
Jogja, 150621 00.50
Kalau ada yang mau memberi kado bunga atau kopi untuk Adi dan Adelia dipersilakan loh 😉🤗
Cerita ini mengikuti kontes You Are A Writer Seasons 5, mohon dukungannya 🙏🤗
Kalau ada masukan, kritik dan saran yang membangun, boleh via kolom komentar, PC atau DM di instagram @kokoro.no.tomo.82
Jangan lupa ritual jempol atau like-nya setelah membaca ya, Kak. Karena satu jempol atau like sangat berharga. Terima kasih 🙏🤗
__ADS_1