
"Siapa pria yang tadi bicara dengan kamu di depan kantor?"
Dita terkesiap mendengar pertanyaan suaminya. Apalagi Rendra tidak memanggilnya 'Sayang' seperti biasa. Tanda-tanda kalau belahan jiwanya itu sedang merajuk karena cemburu.
"Itu tadi Kak Abim, Mas. Dia pembimbingku di sana," terang Dita.
"Aku enggak suka kamu dekat-dekat dia," kata Rendra masih dengan ekspresi datar dan nada suara yang dingin.
"Aku sama Kak Abim biasa saja, Mas. Karena dia pembimbingku kan ya wajar kalau aku sering berinteraksi sama dia."
"Kamu biasa, dia yang tidak biasa. Aku lihat dengan mataku sendiri tadi. Aku bisa tahu kalau dia ada rasa. Pokoknya aku enggak mau kamu dekat sama dia lagi," tegas Rendra.
Dita menghela napas panjang. Kepalanya berdenyut mendengar permintaan tak masuk akal dari suaminya. Sudah tadi di kantor dia harus menahan diri karena Citra, sekarang Rendra yang membuatnya sakit kepala.
"Jangan cemburu buta begitu, Mas. Bagaimanapun Kak Abim itu pembimbingku. Dia yang selalu pegang kalau ada anak magang di kantor. Jadi enggak cuma aku yang dekat sama dia. Ada anak magang lainnya juga." Dita memberi pengertian pada Rendra.
"Memangnya enggak bisa ganti pembimbing?" Rendra melirik Dita sekilas.
"Enggak bisa. Apa, Mas, maunya aku pindah tempat magang gitu?" Dita menoleh pada Rendra.
"Ya kalau bisa kenapa tidak," sahut Rendra santai.
"Mas—" Dita tidak meneruskan ucapannya. Setelah dipikir, percuma juga berdebat di jalan. Apalagi suaminya masih terbakar cemburu. Dia tidak mau nanti sampai mertuanya tahu kalau mereka sedang berselisih.
Akhirnya sepanjang perjalanan pulang, mereka terus diam, hanya alunan musik dari radio yang membuat suasana menjadi tidak begitu sunyi. Sampai di rumah, Rendra tetap membantu istrinya membawakan tas perlengkapan asi seperti biasa.
Ale yang sedang bermain dengan Nisa di ruang tengah, langsung merangkak ke arah Dita begitu tahu bubu-nya datang.
"Assalamu'alaikum, Ale," salam Dita begitu dia menggendong putra semata wayangnya itu. Dia meraih tangan kanan Ale, membiasakan sang putra untuk bersalaman setiap dia mau pergi atau baru pulang.
Dia lalu menciumi pipi gembul Ale, meluapkan rasa rindunya. "Kok Ale masih belum wangi. Belum mandi ya."
"Ale baru bangun, Mbak. Tadi pas ditinggal Kak Rendra masih tidur." Nisa yang menjawab.
"Kalau gitu Ale mandi dulu sama bubu, biar tambah ganteng dan wangi. Nanti baru main lagi sama tante ya." Dita lalu membawa Ale masuk ke kamar.
"Air mandinya Ale biar aku siapkan," ucap Rendra yang menyusul masuk ke kamar.
"Makasih, Baba. Yuk, Ale pilih baju ganti dulu, habis itu mandi." Sambil menggendong, Dita menyiapkan baju gantinya, Ale dan Rendra yang juga belum mandi.
Setelah air mandi Ale siap, Dita memandikan lalu memakaikan baju Ale. Sesudah itu, membawa Ale keluar agar bermain dengan tante dan omanya. Sementara dia merapikan tempat tidur yang berantakan saat Ale berpakaian tadi, sembari menunggu Rendra selesai mandi.
Usai beres-beres, dia mengetuk pintu kamar mandi. Tidak biasanya Rendra mandi begitu lama. "Mas, sudah belum?"
Pintu kamar mandi terbuka tapi Rendra tidak menampakkan diri.
"Mas, kenapa tidak keluar?" Dita membuka pintu lebih lebar, mungkin suaminya sedang berwudu jadi belum tampak.
Tanpa mengatakan apa pun, Rendra menarik tangan Dita. Begitu istrinya masuk, pintu kamar mandi langsung ditutup dan dikunci. Seperti singa yang kelaparan, Rendra meraup kasar bibir Dita sambil menanggalkan seluruh kain yang menutupi kulit sang istri. Tidak peduli dengan pemberontakan yang dilakukan belahan jiwanya itu.
"Sa—kit, Mas," lirih Dita di sela ciuman ganas sang suami.
"Hatiku lebih sakit melihatmu bicara dengan pria itu." Rendra menghentikan ciumannya, menatap tajam Dita.
Dita balas menatap suaminya dengan penuh cinta. Kedua tangannya menangkup wajah pria yang teramat dicintainya itu.
"Mas Rendra, tidak perlu cemburu buta. Hatiku, tubuhku semuanya milik, Mas. Bahkan anak-anakku pun juga anak Mas. Mesti bagaimana lagi aku menunjukkan kalau hanya Mas Rendra yang aku cintai."
"Dari awal aku jatuh cinta itu cuma sama Mas Rendra. Tidak ada pria lain yang bisa membuatku merasakan seperti apa yang aku rasakan sama Mas. Aku rela hamil dan punya anak padahal aku masih kuliah juga demi Mas Rendra. Meski capai pulang dari kuliah, aku tetap melayani Mas Rendra dan Ale karena cintaku pada kalian berdua."
"Apa semua yang aku lakukan itu belum cukup untuk membuktikan kalau aku cinta sama Mas Rendra dan tidak ada pria lain di hidupku?" Netra Dita tampak berkaca-kaca, ada yang ingin luruh dari sudutnya.
__ADS_1
Rendra sontak tersadar setelah melihat bulir bening jatuh di pipi sang istri. "Maafkan aku, Sayang," ucapnya seraya menyeka air mata Dita.
Dita menganggut dengan senyum di wajahnya. "Aku juga minta maaf kalau sudah membuat Mas Rendra cemburu. Tapi aku tidak pernah punya niat seperti itu."
Dita meraih satu tangan Rendra, diletakkannya tangan itu di dadanya. "Jantung ini hanya berdebar kencang saat bersama Mas Rendra. Apa Mas sudah percaya sekarang?"
Rendra menganggut. "Iya, aku percaya, Sayang. Maafkan suamimu yang sudah cemburu buta." Dia meraih tangan Dita lalu mengecupnya lama.
"Aku tahu Mas Rendra cemburu karena besarnya cinta Mas sama aku. Tapi, Mas Rendra harus percaya sama aku. Aku sudah milik Mas sepenuhnya. Aku tidak akan mungkin berpaling pada yang lain." Dita menatap netra Rendra. Meyakinkan kembali suaminya.
Rendra kemudian menempelkan keningnya pada kening istrinya. Jemarinya menyusuri wajah ayu Dita. Perlahan bibirnya menyentuh bibir milik ibu dari anaknya itu. Kali ini penuh dengan kelembutan. Menyalurkan semua rasa cinta yang dia punya. Memberi kehangatan pada tubuh yang sempat merasakan dinginnya dinding kamar mandi.
"Mas," desah Dita di sela ciuman mereka. "Ale belum minum susu tadi," sambungnya dengan terbata-bata karena terlena dengan sentuhan yang diberikan sang suami.
"Tenang, ada mama," sahut Rendra tanpa menghentikan kegiatannya. "Aku janji bakal cepat," ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Dita akhirnya pasrah saat pria yang sudah memberinya dua anak itu merengkuhnya. Tak ada guna melawan saat hasrat sudah minta dilampiaskan. Dia menikmati saja alur yang sudah diciptakan suaminya. Hingga akhirnya mereka berdua mencapai nirwana bersama. Merasakan puncak kebahagian dunia.
Usai melakukan aktivitas yang membakar kalori itu, mereka kemudian membersihkan diri bersama. Sebuah proses rekonsiliasi yang menyenangkan mereka berdua.
"Ale, kenapa nangis?" tanya Rendra yang sudah keluar lebih dahulu dari kamar. Dia terkejut melihat wajah putranya yang berlinang air mata dalam gendongan omanya.
"Nyari kalian tadi. Sudah mama kasih susu tapi enggak mau. Dari tadi manggil baba sama bubu. Lagian kalian ngapain sih lama banget mandinya?" sahut Ibu Dewi.
Rendra meringis sambil menyentuh tengkuknya. "Mama kaya enggak pernah muda saja."
"Kamu tuh ya, Ren, emang ga tahu waktu. Udah tahu anak belum minum susu malah lama mandinya," tegur sang mama.
"Iya, Ma, maaf. Sini Ale gendong baba." Rendra mengambil Ale dari mamanya.
"Anak laki-laki enggak boleh cengeng. Kan sudah ada tante sama oma, masa nangis. Gimana besok kalau baba sama bubu kerja." Rendra membersihkan air mata Ale yang membekas di pipi gembulnya.
"Minum susu dulu ya. Bismillahirrahmanirrahim." Rendra menempelkan botol susu di bibir Ale, tapi putranya itu tidak mau. Dia memiringkan wajahnya.
"Bu—bu," sahut Ale, meski entah dia mengerti atau tidak ucapan babanya.
"Ya udah, yuk ke kamar cari bubu."
Keesokan harinya, Rendra mengantar Dita seperti biasa. Meski masih merasa cemburu, tapi dia harus bisa menahan diri. Tak mau lagi membuat istrinya menangis seperti kemarin hanya karena meyakinkan dirinya. Padahal dia tahu betul Dita bukan tipe yang mudah tergoda. Istrinya itu orang yang super cuek, lempeng, dan tidak suka aneh-aneh. Namun, entah kenapa cemburu selalu menghantuinya setiap Dita bicara dengan pria lain.
Usai memastikan Dita masuk ke kantor, Rendra tersenyum saat meninggalkan tempat magang istrinya. Dia punya rencana bagus untuk memberi pelajaran pada pria bernama Abim itu tanpa harus mengotori tangannya dan mempermalukan diri. Tunggu saja, pria itu pasti akan pelan-pelan menjauh dari Dita. Salah sendiri berani menganggu istri seorang Narendra Daneswara.
Hubungan Dita dan Citra sudah sedikit membaik. Setidaknya wanita yang satu ruangan dengannya itu sudah tidak berkata ketus dan menyindirnya terus seperti kemarin. Mereka tetap saling menyapa dan bicara sebatas untuk pekerjaan.
Abimanyu masih mampir ke ruangan mereka dan menyapa Dita sebelum masuk ke ruangannya. Rupanya pembimbingnya itu benar-benar tidak mengindahkan ucapannya kemarin yang meminta Abimanyu untuk menjaga jarak dengannya.
Saat jam pulang kerja terjadi kehebohan di depan kantor. Banyak orang saling berbisik dan berkerumun, entah mereka mengerubungi apa.
"Lucu banget sih anaknya, cakep."
"Iya, sama kaya papanya."
"Sayang ya masih muda gitu dah punya anak. Tapi ganteng sih orangnya. Bikin potek hatiku aja."
"Siapa ya istrinya? Beruntung banget punya suami sama anak yang cakep."
Dan, berbagai macam komentar orang yang berdiri di depan kantor.
"Ada apa sih, Nin?" tanya Abimanyu saat mereka berjalan ke luar kantor.
"Kurang tahu. Saya kan keluar sama Kak Abim," jawab Dita.
__ADS_1
"Eh, iya juga ya." Abimanyu meringis.
"Ini kenapa pada berkerumun di sini, menghalangi jalan saja," tegur Abimanyu pada para karyawan.
Satu per satu mereka kemudian ke pinggir agar tidak menghalangi jalan.
"Eh, Pak Abim. Itu ada anak kecil cakep banget sama papanya," sahut salah seorang karyawan.
Dita terkejut saat melihat Rendra sedang menggendong Ale di depan kantor. Rupanya suaminya yang membuat ulah hingga membuat heboh para karyawan. Dia tersenyum lebar melihat dua orang pria yang sangat dicintainya itu.
Rendra langsung menghampiri Dita begitu mata mereka saling bertemu. Tentu saja suaminya itu tidak menghiraukan kehebohan yang akan terjadi nanti. Dengan cueknya dia mendekati sang istri.
"Lihat itu, bubu sudah pulang," ucapnya pada Ale yang ada dia gendong di lengan kirinya.
"Bu—bu," celoteh Ale sambil merentangkan tangan, meminta gendong pada Dita begitu melihat bubunya.
Abimanyu terpaku melihat pemandangan di depan matanya. Ada rasa nyeri di dadanya.
Dita segera mencium punggung tangan suaminya, yang dibalas Rendra dengan mencium kening istrinya. Setelah itu dia menyalami Ale lalu mencium pipi gembul putranya. Dita menyerahkan tas perlengkapan asi pada Rendra sebelum menggendong Ale.
"Tumben Ale ikut jemput, kangen ya sama bubu." Dita menciumi lagi pipi Ale tanpa menghiraukan orang-orang yang menatapnya tak percaya.
"Nin, mere—ka siapa?" tanya Abimanyu yang sebenarnya tak butuh jawaban karena dengan melihat saja, dia sudah tahu jawabannya.
Rendra mengernyit mendengar pria bernama Abimanyu itu bahkan memanggil istrinya dengan nama panggilan khusus. Benar-benar harus diberi pelajaran dia.
"Kenalkan saya Rendra, suaminya Anindita. Dan itu Ale, anak kami." Rendra mengulurkan tangannya pada Abimanyu.
Meski ragu, Abimanyu menyambut uluran tangan Rendra. Mereka kemudian bersalaman. "Abimanyu, pembimbingnya Anin," ucapnya tanpa semangat.
"Mohon bimbingannya selama istri saya magang di sini. Maaf kemarin istri saya harus izin dua hari karena anak kami sedang demam, tapi saya pastikan istri saya pasti akan mengganti harinya," ucap Rendra sambil menekankan kata istri dan anak setiap bicara.
"Ah, iya, tidak apa-apa." Abimanyu merasa canggung berhadapan dengan Rendra. Pria yang dia yakini lebih muda darinya, tapi penuh percaya diri dengan karisma yang memancar dari dirinya. Dia merasa kerdil, apalagi ternyata pria itulah sang pemilik hati wanita yang beberapa minggu terakhir ini coba dia dapatkan hatinya.
"Sayang, sini. Biar Ale kenalan sama Pakde Abimanyu." Rendra meminta Dita mendekat padanya. Dia langsung merengkuh pinggang istrinya begitu bidadari surganya itu berdiri di sampingnya.
Hati Abimanyu semakin tercabik melihat kemesraan yang ditampakkan oleh Rendra. Rasanya dia ingin menghilang saat itu juga tanpa harus berhadapan dengan mereka berdua. Mengetahui kenyataan Dita sudah bersuami saja membuatnya lemas seketika. Apalagi saat tahu wanita pujaannya itu sudah punya anak, rasanya sebentar lagi dia akan mati di tempat.
Rendra mengulurkan tangan Ale pada Abimanyu. Mau tak mau dia pun balas mengulurkan tangan dan menyalami bayi berusia 8 bulan yang sangat mirip dengan bapaknya itu. "Cakep ya anaknya," pujinya.
"Iyalah, babanya sama bubunya cakep masa anaknya enggak," balas Rendra dengan penuh percaya diri. Saat jiwa narsistiknya kambuh, jangan ditanya seberapa besar rasa kepercayaan dirinya.
"Iya." Abimanyu tersenyum canggung pada Rendra.
"Maaf ya semuanya, sudah membuat kehebohan hari ini. Mohon bantuan dan bimbingannya selama istri saya magang di sini," ucap Rendra pada para karyawan yang masih berada di depan kantor. Mereka yang sedari tadi melihat pertunjukan gratis di depan mata.
"InsyaAllah nanti di akhir istri saya magang, saya akan bagikan voucher diskon di kafe dan clothing line saya untuk semua karyawan di sini. Tolong tagih kalau saya lupa," lanjut Rendra yang sukses membuat kehebohan lagi.
Rendra tersenyum puas melihat reaksi semua orang. Rencananya berjalan sesuai yang diinginkan. Dia sudah berhasil membuat Abimanyu tak berkutik. Kemenangan yang memang sudah dia menangkan tanpa harus bertarung satu lawan satu.
Rendra terus memegang pinggang istrinya selama mereka berjalan ke mobil. Tentu saja dia juga membukakan pintu mobil untuk istrinya yang sedang menggendong buah cinta mereka. Dia ingin menunjukkan pada dunia kalau Dita sudah menjadi miliknya dan hanya miliknya.
...---oOo---...
Jogja, 010222 01.45
Maaf ya baru bisa up 🙏. InsyaAllah, saya akan tetap memegang janji saya untuk up minimal satu minggu sekali. Semoga minggu ini saya bisa up kembali, jadi bisa melunasi hutang up.
Untuk Smaradhana, pada tanggal 6 Februari 2022 InsyaAllah adalah bab terakhir yang akan diunggah di facebook dan bukulaku. Untuk kelanjutan ceritanya saya masih belum tahu akan diunggah di mana. Yang jelas akan saya infokan baik di sini, IG atau pun FB.
Terima kasih yang sudah mendukung Smaradhana, meski perjalanan cinta Kaisar dan Shasha entah kapan akan dimulai. Karena memang saya ingin menceritakan masa lalu mereka masing-masing sebelum akhirnya bisa bersatu. Semua berproses, dan saya orang yang sangat menghargai proses, bukan sesuatu yang instan, gampang diraih tapi juga akan mudah terlepas.
__ADS_1
Salam sayang untuk semua Teman Hati.
Kokoro No Tomo