
"Di, ini ponselnya Adel." Kaisar menyerahkan ponsel yang layarnya retak karena dibanting Sekar Ayu dan juga ada sedikit bercak darah di sana.
"Makasih, Kai. Ini tidak dijadikan barang bukti?" tanya Adi saat menerima gawai istrinya.
Kaisar menggeleng. "Sudah diambil sidik jari yang di ponsel. Terbukti Sekar Ayu yang membanting karena sidik jarinya ada di sana. Jadi ponselnya sudah tidak diperlukan lagi untuk barang bukti."
"Oh, oke. Aku simpan saja ini, layarnya juga rusak. Besok kubelikan Adel ponsel baru. Apa kartu memorinya juga diambil?"
"Tidak ada isi di dalamnya yang ada kaitan dengan Sekar jadi tidak diapa-apakan, Di."
Adi mengangguk. Dia bersandar di punggung kursi tunggu di luar kamar Adelia. Mereka memang sengaja bicara di luar agar lebih bebas membahas kasus Sekar Ayu selain karena Adelia juga sedang tidur saat Kaisar datang.
"Di, nanti akan ada penyidik wanita yang ke sini untuk minta keterangan Adel. Apa dia sudah bisa diajak bicara tentang kejadian kemarin?" Kaisar menoleh pada sang sahabat.
"Entahlah, Kai. Aku sendiri belum berani tanya lebih lanjut soal kemarin. Aku mau dia tenang dulu, tapi kalau memang mendesak nanti aku tanyakan sama dokternya."
"Aku ngerti, Di. Nanti kabari aja kalau dia sudah boleh dimintai keterangan."
"Oke."
"Oh, ya, Di. Baju yang kemarin dipakai Adelia saat kejadian ada di mana?" tanya Kaisar.
"Kayanya masih disimpan di IGD. Kenapa?"
"Mau aku ambil untuk barang bukti."
Adi menyengguk. "Ambil saja, Kai. Apa yang kamu butuhkan lagi untuk barang bukti bilang saja. Pasti akan aku serahkan."
"Kalau gitu aku ke IGD dulu sama minta hasil visum. Oh ya, jangan lupa kabari aku kalau Adel bisa memberi keterangan. Petugasnya wanita kok biar dia lebih nyaman. Kalau Adel takut boleh didampingi. Yang jelas kami akan berusaha membuat dia agar tidak tertekan."
"Siap. Kamu enggak tidur dari kemarin, Kai?" tanya Adi yang baru tersadar dengan penampilan Kaisar yang agak kusut meski tetap gagah dan berkarisma.
Kaisar tersenyum. "Sudah biasa kalau lagi ada kasus, Di. Lagian pasti aku juga tidak bisa tidur nyenyak sampai proses penyidikan selesai."
"Istirahat, Kai, meski cuma sebentar. Kasihan Shasha, pasti dia juga butuh lebih banyak perhatian darimu sekarang."
"Makasih perhatiannya, Di. Kelihatan banget ya aku kucel dan belum mandi." Kaisar tertawa kecil. "InsyaAllah nanti aku pulang ke rumah mertuaku kalau Adel sudah memberi keterangan. Jangan remehkan istriku ya, dia lebih kuat dari yang kamu perkirakan," sambungnya.
__ADS_1
"Iya, aku percaya."
"Aku pergi dulu ya, Di. Nanti aku ke sini lagi," pamit sang perwira.
"Siap, Ndan. Pastikan kamu sudah mandi dan ganti baju nanti kalau ke sini," sahut Adi dengan nada bercanda yang ditanggapi Kaisar dengan tawa.
Adi memasukkan gawai Adelia ke saku celana. Kemudian dia kembali ke kamar istrinya setelah Kaisar pergi. Sebelum itu dia bertanya pada perawat apa bisa bertemu dengan dokter yang menangani Adelia karena dia ingin berkonsultasi mengenai keadaan sang istri. Perawat kemudian menelepon sang dokter lalu memberikan telepon pada Adi.
"Dok, apa istri saya sudah bisa memberi keterangan pada polisi?" tanya Adi tanpa basa-basi.
"Secara fisik kondisi Ibu Adelia sudah stabil dan bisa bergerak meski terbatas. Secara emosional juga sudah tenang. Kalau Ibu Adelia bersedia memberi keterangan silakan saja, Pak. Namun, jangan sampai dipaksakan," jawab sang dokter.
"Baik, Dok. Berarti saya harus tanya sama istri apa dia siap bicara atau belum?"
"Iya, Pak. Kalau memang belum mau, tolong jangan dipaksa. Pihak kepolisian juga pasti akan mengerti, Pak."
"Iya, Dok. Terima kasih atas penjelasannya."
"Sama-sama, Pak Adi."
Adi membuka pintu kamar rawat inap Adelia. Dia melihat bundanya sedang mengupas buah apel untuk istrinya. Pemandangan yang sangat indah di matanya.
"Mas Adi, dari mana?" tanya Adelia dengan suara yang masih lemah.
"Ketemu Kai di luar. Ai, tadi masih tidur. Aku takut ganggu kalau ngobrol di sini," jawab Adi sambil berjalan menghampiri ranjang istrinya.
"Mas Kai, di mana sekarang?"
"Sudah balik ke kantor." Adi duduk di sisi ranjang. "Bun, biar mas yang suapi Adel," pintanya pada sang bunda.
Ibu Hasna menyerahkan buah apel yang sudah dipotong dan dikupas pada Adi. Dia lalu beranjak ke sofa, memberi waktu pada mereka berdua.
"Makan apelnya, Ai." Adi menyuapkan sepotong apel pada istrinya. Setelah berdoa, Adelia memakan apel tersebut.
"Apa ada yang sakit, Ai?"
"Masih nyeri, apalagi kalau dipakai gerak."
__ADS_1
"Sabar ya, Ai. Aku minta maaf karena enggak bisa jaga kalian berdua."
Adelia tersenyum. "Mas Adi, enggak perlu minta maaf karena enggak salah. Aku yang bersikeras pergi ke toilet sendiri. Aku enggak apa-apa, Mas. Anak kita juga baik-baik saja. Jangan khawatir, Mas."
Adi lanjut menyuapi istrinya sampai semua apel habis. Setelah itu dia mencuci piring dan garpu kecil yang tadi dipakai. Kemudian kembali duduk di sisi ranjang Adelia. Dia meraih tangan kanan sang istri lalu menggenggamnya.
"Ai, alhamdulillah Sekar sudah ditangkap tadi jam 2 pagi." Adi menatap Adelia agar tahu reaksinya.
Adelia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Bibirnya membentuk bulan sabit. "Alhamdulillah. Beneran, Mas?"
Adi menganggut. "Iya benar." Dia lega melihat reaksi Adelia yang tampak bahagia. Sepertinya belahan jiwanya itu bisa diajak berbicara tentang kejadian kemarin.
"Tadi Kai ke sini ngasih hp-nya Ai tapi layarnya sudah retak. Nanti aku belikan hp yang baru saja ya."
Adelia mengangguk. "Data sama foto masih bisa dipindah kan, Mas?"
"Masih aman kok data sama fotonya. Nanti aku minta tolong Rendra dan Dita beli hp baru sekalian pindahkan semuanya ke sana. Ai, mau hp yang mana?"
"Terserah Mas Adi. Tipe sama kaya yang lama juga enggak apa-apa, Mas."
"Oke, nanti aku bilang sama Rendra. Oh ya, tadi Kai juga bilang mau ada petugas yang minta keterangan Ai soal kejadian kemarin untuk melengkapi bukti dan saksi di persidangan nanti. Apa Ai mau dan siap memberi keterangan?" Adi kembali menatap istrinya yang langsung diam.
"Kalau Ai belum mau karena belum siap tidak apa-apa. Mereka tidak memaksa dan akan menunggu sampai Ai benar-benar siap. Perlu Ai tahu kalau petugas yang akan minta keterangan wanita bukan pria," lanjut Adi.
Adelia terdiam. Dia masih berpikir. Di satu sisi, dia ingin semua proses cepat selesai. Di sisi lain, dia sedikit merasa trauma dengan kejadian kemarin. Rasanya dia masih enggan mengingat semuanya.
"Apa aku harus memberi keterangan?" Adelia akhirnya membuka mulutnya.
"Iya, Ai. Karena Ai adalah saksi korban dan saksi kunci. Apa yang Sekar katakan dan lakukan hanya Ai yang tahu detailnya. CCTV hanya merekam kejadiannya saja."
"Apa aku nanti hanya bicara berdua dengan petugas polisi itu?"
Adi menggeleng. "Kalau Ai mau ditemani, aku pasti akan temani. Atau Ai ingin ditemani siapa saja juga boleh. Senyamannya Ai saja. Kalau memang belum siap jangan dipaksa. Aku enggak mau Ai merasa tertekan."
Adelia kembali diam dan berpikir. "Mas, aku ...."
...---oOo---...
__ADS_1
Jogja, 170322 00.16
Mumpung baru ada mood nulis jadi up lagi meski pendek 🤭🤭🤭.