Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Restu POV 2


__ADS_3

Aku masih memendam cinta pada Adelia. Aku bertekad akan menceraikan Claudia setelah anak kami nanti lahir dan kembali dengan Adelia. Saat aku mengutarakannya, Claudia pun ternyata setuju untuk bercerai. Jalanku untuk kembali dengan Adelia semakin terbuka.


Meski aku sudah putus hubungan dengan Adelia, aku tetap memantau kehidupannya. Aku beruntung sudah akrab dengan tetangga Adelia karena saking seringnya aku ke rumahnya. Aku sering ikut Arsenio nongkrong dengan para tetangga jadi mereka juga kenal dan akrab denganku. Aku meminta Toni, tetangga Adelia, selalu mengabarkan keadaan Adelia, dengan memberikan imbalan tentu saja. Mana ada yang gratis di dunia ini.


Usai putusnya hubungan kami, Adelia sering ke luar dengan seorang pria, yang aku yakin itu Bara, setelah Toni menyebutkan ciri-cirinya. Aku masih merasa aman bisa meraih kembali cinta Adelia karena belum ada pria yang mendekatinya. Karena Toni tidak pernah melihat Adelia pergi dengan pria selain Bara.


Aku yakin Adelia pergi dengan Bara untuk menghilangkan kesedihannya. Aku tahu Adelia mempunyai dua sahabat pria, Bara dan Rendra. Tapi dia lebih dekat dengan Bara, karena aku dengar Rendra sudah menikah tahun lalu. Aku hanya beberapa kali bertemu dengan mereka dan kami juga tidak begitu akrab.


Aku juga mendengar kalau sekarang Adelia sudah berhijab. Karena penasaran aku minta Toni mengirimkan foto Adelia yang berhijab. Secara diam-diam tentu saja Toni mengambil fotonya. Sungguh terlihat semakin cantik saja pujaan hatiku itu. Rasanya aku jadi semakin cinta saja dengan dia.


Sampai suatu hari Toni memberi kabar kalau Adelia dilamar oleh seorang pria. Rasanya bagai disambar petir saat aku mendengarnya. Bagaimana mungkin secepat ini Adelia berpaling dariku? Aku sungguh sangat tidak rela dia dimiliki pria lain. Cuma aku yang boleh memiliki dia.


Malam itu, aku memutuskan mendekati Adelia kembali. Aku coba meneleponnya tetapi tidak diangkat, yang kedua kali juga sama. Aku menjeda sejenak, mencoba berpikir positif mungkin Adelia tidak mendengar panggilanku. Biasanya dulu Adelia selalu semangat kalau menerima panggilanku. Aku coba memanggilnya kembali untuk yang ketiga kalinya, tanpa kuduga dia menolak panggilanku.


"Shit!!!," umpatku penuh emosi.


Baru pertama kali ini Adelia menolak panggilanku. Akhirnya aku mengirim pesan padanya.


'Kenapa teleponku ditolak?'


'Aku kangen kamu, Yank.'


'Aku ingin dengar suaramu.'


'Aku masih cinta sama kamu, Yank.'


'Ternyata cuma kamu yang bisa mengerti aku.'


'Aku sangat menyesal.'

__ADS_1


'Aku ingin kita kembali seperti dulu.'


Adelia belum membalas, tapi aku tahu dia membaca semua pesan yang aku kirim karena tanda centang duanya berwarna biru, tanda pesan sudah terbaca. Aku kembali mengirim pesan.


'Aku senang kamu mau membaca pesanku, Yank.'


'Tapi aku akan lebih senang kalau kamu mau membalasnya.'


Aku tersenyum saat ada tanda kalau Adelia sedang mengetik. Aku sudah tidak sabar untuk membaca pesannya. Begitu pesan masuk, aku buru-buru membukanya.


'Jangan pernah hubungi aku lagi. Ingat kamu sudah punya istri dan sebentar lagi kamu akan punya anak. Dan aku, tidak akan pernah kembali padamu lagi.'


"Shit!!!!," umpatku lagi setelah membaca pesan dari Adelia. Dia menolakku? Apa dia sudah tidak mencintaiku? No. Itu tidak boleh terjadi. Dia tidak boleh menolak aku. Dia tidak boleh mencintai pria lain. Aku harus melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya kembali.


Aku coba mengirim pesan lagi tapi sepertinya nomorku sudah diblokir karena tidak terkirim. Aku kesal. Aku harus pikirkan cara agar bisa bicara dengan dia. Ah iya, aku ingat dengan media sosialnya. Akhirnya aku putuskan untuk mengirimkan pesan pribadi di sana.


'Terima kasih sudah memilihku ā¤ļø.'


Kenapa dia memamerkan cincin itu? Apa dia benar-benar sudah melupakan aku? Apa itu dari calon suaminya? Daripada terus penasaran, aku mengirim pesan pribadi lewat media sosialnya.


'Kenapa kamu memblokir nomorku? Kamu tega ya, Yank.'


'Itu cincin dari siapa, Yank? Apa secepat itu kamu melupakanku?'


'Kenapa kamu menghapus semua foto kenangan kita?'


Tiba-tiba aku tidak bisa lagi melihat akunnya. Ternyata dia juga memblokir akunku. Aku coba membuat akun baru lagi agar bisa melihat apa lagi yang dia unggah. Sial!!! Dia sudah mengunci akunnya dan merubah foto profilnya dengan gambar cincin tadi. Aku coba meminta untuk menjadi pengikutnya tapi dia tidak menerimanya.


Dia memblokir nomor dan akun media sosialku, tidak masalah. Banyak jalan menuju Roma kan. Aku tidak akan menyerah dengan mudah. Dari info yang Toni berikan, dia akan menikah setelah Idul Adha. Masih ada waktu 3,5 bulan untuk merebut hatinya kembali. Sebelum ada janur kuning melengkung masih bisa ditikung. Aku tersenyum lebar membayangkan Adelia kembali lagi di pelukanku. Besok pagi aku akan membeli nomor baru agar bisa mengirim pesan lagi.

__ADS_1


Setiap hari aku mengirimi Adelia pesan, dan dia selalu memblokir nomorku setelah membaca pesanku. Aku tetap pantang menyerah. Bahkan aku sampai memborong beberapa nomor baru demi bisa mengirim pesan pada wanita pujaanku itu.


Sudah satu minggu ini, Adelia tidak memblokir nomorku. Aku bahagia sekali, akhirnya dia memberiku peluang untuk terus berkomunikasi. Aku yakin ini pertanda yang baik, meski dia tidak pernah membalas satu pun pesanku. Isi pesanku tentu saja mengungkapkan segala rasa yang ada di hatiku. Aku bahkan sering mengirimi foto saat kami masih bersama dulu agar dia teringat semua kenangan manis itu. Yeah tak ada satu pun fotonya yang aku hapus dari galeriku.


Apa Claudia tahu soal ini? Ya dia tahu. Aku bilang akan kembali dengan Adelia setelah bercerai dengannya. Kami sudah sepakat akan bercerai setelah anak yang dikandungnya lahir karena kami tidak saling mencintai. Meski begitu aku tetap mengantarnya pergi kontrol ke dokter kandungan. Walaupun aku berengsek, aku tetap bertanggung jawab pada anakku. Aku sering membayangkan Adelia pasti akan menjadi ibu yang baik untuk anakku nanti.


Sejak Adelia tidak memblokir nomorku lagi, aku memutuskan untuk pulang ke Jogja. Aku akan meyakinkan dia lagi kalau aku masih sangat mencintainya. Aku akan jujur soal keadaan pernikahanku dan kesepakatanku dengan Claudia kalau kami akan bercerai. Aku sangat yakin dia akan kembali menerimaku. Aku sudah menyusun rencana dengan sempurna saat pertemuan kami besok.


Dengan penuh semangat aku pulang ke Jogja. Aku sudah memesan tiket kereta jauh-jauh hari agar tidak kehabisan. Tentu saja aku pergi sendiri tanpa Claudia, karena memang dia tidak pernah cocok dengan keluargaku. Sifatnya sangat bertolak belakang dengan Adelia yang lemah lembut dan sangat sopan dengan orang tua. Ah, lupakan soal Claudia, sekarang aku harus fokus pada Adelia.


Senyumku terus mengembang membayangkan pertemuan kami nanti. Aku yakin dia akan datang meski tidak pernah membalas pesanku. Entah kenapa aku sangat yakin akan hal itu. Dia pasti semakin cantik dengan hijab yang sekarang selalu menutup rambutnya yang lembut dan selalu harum. Adelia memang sangat menjaga sekali penampilannya. Hhhmm, aku semakin tak sabar bertemu dengannya.


Aku sudah memberi kabar pada keluargaku kalau aku akan pulang. Aku dijemput di Stasiun Tugu oleh adikku. Sampai di rumah aku disambut gembira oleh keluargaku meski sudah tengah malam. Saat aku bilang akan menemui Adelia, mereka sangat mendukungku, bahkan mendoakan aku. See, mereka masih menginginkan Adelia menjadi pasanganku.


Aku memutuskan tidur sebentar sebelum nanti bangun untuk sahur. Meski bukan orang suci, aku tetap menjalankan kewajibanku sebagai muslim.


Pukul 10.00 nanti, aku akan bertemu Adelia. Aku harus terlihat segar dan rapi saat bertemu pujaan hatiku itu. Aku tidak mau terlihat kusut karena kurang tidur.


Pukul 08.00, aku bangun setelah tidur lagi sesudah salat Subuh. Aku lalu bergegas mandi. Aku memakai pakaian baru, kemeja slimfit yang pas badan. Aku memakai parfum kesukaannya, hadiah yang dia berikan saat ulang tahunku. Aku menata rambutku dengan pomade agar tetap rapi dan wangi. Aku mematut diri di depan kaca, memastikan penampilanku sempurna.


Setelah semuanya siap, aku pamit dengan keluargaku. Aku pergi menggunakan mobil agar penampilanku tetap rapi. Aku sengaja berangkat lebih awal karena akan membeli buket bunga mawar putih untuk Adelia sebagai tanda permintaan maaf dan ketulusanku. Aku yakin dia pasti sangat menyukainya.


Setelah membeli buket bunga, aku langsung menuju ke hotel tempat pertemuanku dengan Adelia. Aku mencari sudut lobby yang tidak banyak dilewati banyak orang. Setelah aku menemukan tempat yang cocok, aku segera mengirim pesan dan fotoku pada Adelia agar dia tidak bingung mencariku nanti.


'I'm here waiting for you, Baby'.


...---oOo---...


Jogja, 170621 14.10

__ADS_1


__ADS_2