
"Mas, nanti bunda mau bicara." Ibu Hasna menahan tangan Adi sebelum dia menuju garasi untuk mengambil motor.
"Nanti setelah Adel pijat di Mbah Suro ya, Bun," sahut Adi.
"Bunda justru mau bicara tanpa Mbak Adel, Mas. Nanti kita bicara sekalian Mas tangkap ikan di kolam buat lauk nanti malam."
"Siap, Bun. Mas antar Adel, terus pulang kalau gitu."
Ibu Hasna menyengguk. "Hati-hati ya."
"Iya, Bun. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Bakda Asar, Adi mengantar Adelia pijat ke rumah Mbah Suro. Setelah berbasa-basi sebentar dengan Mbah Suro, Adi pamit pulang. Nanti sekitar satu jam lagi dia akan menjemput Adelia.
Setelah Adi sampai di rumah, Ibu Hasna langsung mengajaknya pergi ke halaman belakang di mana kolam ikan mereka berada. Pak Wijaya memang memelihara ikan nila dan gurami di kolam belakang rumah untuk mengisi waktu luangnya.
"Bunda, kenapa ngajak Mas ke sini?" tanya Adi penasaran.
"Biar kita lebih bebas ngomong. Mas, bisa ambil ikan dulu. Nanti sambil membersihkan ikan, kita bicara," jawab Ibu Hasna.
Adi mengerutkan kening. Tidak biasanya sang bunda bersikap tertutup seperti sekarang. Namun, sebagai anak yang berbakti, dia menuruti saja keinginan bundanya. Dia yakin bundanya tidak akan melakukan hal yang tidak baik.
"Mau ambil ikan yang mana, Bun?" Adi sudah mengambil jaring dan siap di pinggir kolam.
"Ambil gurami saja yang besar. Ambil dua ya, Mas."
"Siap, Bun." Adi mulai menjaring ikan gurami dan mencari yang besar, sesuai permintaan bundanya.
"Ini kurang besar enggak, Bun? Kayanya ini sudah yang paling besar." Adi menunjukkan hasil tangkapannya.
Ibu Hasna menganggut. "Iya, itu saja. Satu lagi, Mas."
Ibu Hasna menyiapkan ember untuk tempat gurami yang sudah ditangkap. Adi kemudian memasukkan ikan gurami ke dalam ember. Setelah itu dia mencari satu ikan lagi yang berukuran sama besar.
Sesudah mendapat dua ikan gurami dengan ukuran yang diinginkan, mereka berdua duduk sambil mengobrol di saung kecil yang ada di dekat kolam. Sebelum itu Adi mencuci tangannya yang kotor dan bau amis.
"Bunda, kenapa sih ngajak Mas ngobrol cuma berdua saja. Jangan bilang hanya karena bunda kangen Mas, ya." Adi memulai pembicaraan.
"Memangnya bunda tidak boleh kangen sama, Mas? Mentang-mentang sudah punya istri, sudah tidak mau ngobrol berdua sama bunda lagi." Ibu Hasna pura-pura marah.
"Boleh banget, Bun. Kirain Bunda sudah tidak pernah kangen lagi sama Mas." Adi merangkul bahu wanita yang sudah melahirkan dia itu.
Ibu Hasna tersenyum. "Mas itu kan anaknya bunda, mana mungkin bunda tidak kangen. Apalagi sejak Mas kuliah sudah sering tinggal terpisah sama bunda. Sebenarnya sering kangen, cuma bunda tahu kalau Mas juga punya kesibukan."
Adi mencium pipi bundanya. "Bunda, kalau kangen tinggal bilang. Mas pasti akan pulang. Maafkan Mas yang belum bisa berbakti penuh pada bunda dan ayah."
"Mas dan Adek, kalian berdua anak yang berbakti. Kalian tidak pernah mengecewakan kami. Kalian selalu menuruti apa saja nasihat kami. Bunda bangga sama Mas juga Adek."
"Sekarang kalian sudah menikah dan hidup bahagia dengan pasangan masing-masing. Melihat kalian bahagia, bunda dan ayah juga ikut bahagia." Ibu Hasna menatap putra sulungnya dengan penuh cinta.
"Terima kasih, Bun. Mmmhhh, tapi Mas ingin tahu sebenarnya ada apa sih, Bun?" Adi yang sedari tadi penasaran akhirnya menanyakan maksud sang bunda mengajaknya bicara.
"Sekar tadi pagi ke sini, Mas," ungkap Ibu Hasna.
Adi terkesiap, matanya membola. Keningnya lalu mengernyit. "Sekar ke sini? Mau apa dia, Bun?"
"Silaturahim katanya. Dia juga tanya kapan Mas pulang?"
"Terus Bunda jawab apa?"
"Bunda jawab tidak tahu. Bunda kan tidak bohong karena bunda memang tidak tahu kalau Mas ternyata mau ke sini hari ini. Bunda baru tahu setelah adek tadi telepon minta dibikinkan bothok mlanding."
"Terus Sekar ngomong apa lagi, Bun?"
"Dia minta maaf karena pernah menolak lamaran kita. Terus mau menebus kesalahannya. Bunda bilang tidak ada yang harus dimaafkan dan ditebus. Bunda juga menjelaskan kalau Mas sekarang sudah punya istri."
Adi menghela napas panjang lalu mengembuskan dengan kasar. "Dia tadi ke sini bawa oleh-oleh, Bun?"
Ibu Hasna mengangguk. "Iya, tadi bunda kasih ke Mbok Darmi buat cucu-cucunya. Ayah agak marah waktu tahu Sekar ke sini, Mas. Kata ayah, dulu saja menolak mentah-mentah, sekarang kok mendekati."
"Tadi Mbak Adel juga tanya sama bunda soal Sekar waktu bantu bunda menyiapkan makan siang."
Adi lagi-lagi terkejut mendengar pengakuan bundanya. "Adel tanya apa saja, Bun?"
__ADS_1
"Mbak Adel tanya apa bunda kenal akrab sama Sekar. Mbak Adel juga ingin tahu bagaimana cerita awal Mas dan Sekar bertemu."
Adi mengacak kasar rambutnya. "Adel masih terus kepikiran ternyata. Aku sudah bilang untuk melupakan Sekar dan jangan mencari tahu soal dia."
"Perempuan itu meski kelihatannya baik-baik saja belum tentu hatinya juga baik-baik saja, Mas. Hal yang wajar kalau dia merasa cemas saat ada orang dari masa lalu suaminya datang. Apalagi Sekar bilang masih mencintai, Mas."
"Di satu sisi, bunda mengerti kenapa Mbak Adel seperti itu. Mbak Adel pernah dikhianati Restu. Ditambah Restu yang terus meneror kalian. Bahkan Mas hampir celaka karena ulah Restu."
"Sekarang, Sekar juga dengan terang-terangan bilang ingin menjadi istri, Mas. Mbak Adel pasti merasa takut kehilangan, Mas. Meski Mbak Adel tahu Mas Adi mencintai dia, tetapi di hati kecilnya dia tetap merasa takut. Bunda rasa trauma dikhianati dan diteror itu pasti masih dirasakan Mbak Adel, Mas. Apa Mbak Adel masih suka terapi untuk menghilangkan traumanya?"
Adi menggeleng. "Tidak pernah lagi, Bun. Katanya dia sudah baik-baik saja. Jadi, Mas juga percaya."
"Coba lain waktu ajak Mbak Adel terapi lagi biar pikiran dan hatinya lebih tenang, Mas. Bunda bisa melihat kalau Mbak Adel juga merasa minder karena belum hamil. Dia jadi semakin tidak percaya diri. Dia merasa tidak sempurna sebagai istri, jadi membuatnya berpikiran yang tidak-tidak. Apa Mas pernah mendesak Mbak Adel segera hamil?"
"Dulu sih, Bun, pas awal menikah. Waktu kami menikah kan Adel baru haid. Setelah haid itu pasti masa suburnya. Kebanyakan kalau begitu kan terus bisa hamil. Waktu itu Mas hanya bercanda, Bun. Mas juga hanya bilang semoga dia segera hamil saja."
"Mbak Adel, terus menganggapnya serius ya kan?" Ibu Hasna menatap putra sulungnya.
Adi menyengguk. "Setiap dia datang bulan pasti sedih terus, Bun. Padahal Mas sudah bilang jangan dipikirkan soal anak. Mas juga sudah minta maaf karena bilang ingin Adel segera hamil dan kami punya anak."
Ibu Hasna mencubit pinggang Adi.
"Ouch, sakit, Bun. Apa salah, Mas?" Adi mengelus bagian yang dicubit sang bunda.
"Makanya Mas kalau ngomong hati-hati. Jangan sembarangan ngomong. Apalagi sama perempuan. Lihat sekarang akibatnya, Mbak Adel jadi kepikiran terus."
"Iya, Bun. Mas ngaku salah. Mas kan sudah minta maaf juga sama Adel. Mas sampai bingung harus ngomong gimana lagi biar Adel enggak kepikiran terus. Apalagi ada Ale, dia semakin ingin punya anak, Bun."
"Kasih Mbak Adel motivasi dan semangat terus. Ada banyak hal yang membuat Mbak Adel seperti ini. Coba kalian liburan sebentar kaya adek dan Nak Rendra, biar pikiran kalian lebih segar, terutama Mbak Adel."
"Iya, Bun. Nanti Mas coba ngomong sama Adel. Kasihan juga sebenarnya dia selalu di rumah setiap hari. Keluar kalau pas belanja saja atau sama Mas. Main juga cuma ke sebelah. Sebenarnya Mas tidak masalah kalau Adel mau cari kegiatan di luar, tapi dia yang tidak mau. Mas sudah nawarin dia kuliah lagi, tapi Adel tidak mau. Katanya mau di rumah saja biar enggak capai, jadi bisa cepat hamil."
"Ya sudah, turuti saja kemauan Mbak Adel. Pastinya dia ingin menikmati masa-masa menjadi ibu rumah tangga setelah masalah Restu dan kuliahnya selesai."
"Iya, Bun."
"Oh ya, Mas, harus hati-hati sama Sekar. Jangan sampai Mas bertemu atau berhubungan lagi sama dia," nasihat Ibu Hasna sebelum mengakhiri obrolan mereka.
"Iya, Bun. Mas sudah bilang tidak mau berteman sama dia atau berhubungan lewat apa pun."
"Syukurlah. Semoga apa yang kita takutkan tidak terjadi. Bunda dan ayah selalu berdoa untuk kebaikan dan keselamatan Mas dan Mbak Adel. Semoga Allah selalu melindungi kalian berdua di mana pun berada."
"Sudah sana jemput Mbak Adel. Kasihan kalau nunggu Mas lama," titah Ibu Hasna.
Adi melihat jam tangannya. Sudah hampir satu jam dia meninggalkan Adelia di rumah Mbah Suro.
"Wah, enggak terasa kita sudah lama ngobrolnya, Bun. Sini Mas bawakan ikannya sekalian ke dapur." Adi membawa ember yang berisi dua ikan gurami ke dapur.
"Biar Mas nanti yang bersihin ikannya setelah jemput Adel, Bun. Kita keasyikan mengobrol jadi malah lupa bersihkan ikan."
"Iya. Sudah sana jemput Mbak Adel. Bunda mau menyiapkan bumbu-bumbu dahulu."
"Siap, Bun." Adi bergegas mengambil motor dan menjemput sang istri tercinta.
Begitu sampai di rumah Mbah Suro, ternyata Adelia juga baru selesai dipijat. Jadi Adi menunggu Adelia berganti baju dahulu sambil mengobrol dengan Mbah Suro. Usai Adelia berpakaian, mereka kembali dibawakan dedaunan untuk direbus dan diminum setiap hari. Tak lupa, Adelia memberikan uang jasa pada Mbah Suro sebelum mereka pamit pulang.
"Gimana tadi pijatnya, Ai? Enakan?" tanya Adi di atas motor yang melaju.
"Alhamdulillah lebih enak daripada kemarin, Mas. Sudah tidak terlalu sakit lagi."
"Alhamdulillah, yang penting Ai merasa nyaman."
"Iya, Mas. Eh, tadi nangkap ikan apa, Mas?
"Ikan gurami."
"Wah enak tuh. Memang mau ada acara apa kok masak ikan, Mas?"
"Acaranya menyambut menantu yang paling cantik datang dong."
"Mas, ih godain terus." Adelia memukul pelan paha Adi.
"Lho memang benar kok. Coba kalau menantunya yang cantik ini tidak datang, pasti bunda masaknya biasa saja."
"Bisa aja Mas Adi ini bicara."
__ADS_1
"Aku ngomong apa adanya, Ai."
"Mas Adi," teriak seseorang dari pinggir jalan.
Adi menoleh sekilas ke arah suara yang memanggil tanpa menghentikan motor, tapi dia tidak melihat ada orang di pinggir jalan.
"Siapa, Mas?" Adelia ikut menoleh ke belakang.
"Enggak tahu, Ai." Adi mengangkat kedua bahunya.
Tak lama mereka sampai di pekarangan rumah Pak Wijaya. Adi memarkirkan motor di samping teras sementara Adelia masuk ke dalam rumah. Nanti malam dia berencana mengajak istrinya berkeliling naik motor menikmati suasana malam di kota kelahirannya.
Adi menoleh begitu mendengar ada suara kendaraan yang masuk ke pekarangan rumah ayahnya. Dia terkejut saat melihat Sekar Ayu datang dengan membawa motor. Dia berniat masuk ke dalam rumah saat Sekar Ayu memanggilnya.
"Mas Adi," seru Sekar Ayu.
"Benar kan feeling-ku, Mas Adi pasti pulang hari ini." Dengan santainya, Sekar Ayu menghampiri Adi yang sudah berdiri di teras.
"Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Adi ketus.
"Ya mau ketemu Mas Adi lah," jawab Sekar Ayu dengan nada genit.
"Kita sudah tidak punya urusan, Sekar. Sebaiknya kamu pulang saja," tukas Adi.
"Tapi, aku ada urusan dengan Mas Adi. Aku mau bicara," Sekar Ayu beralasan.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan." Adi melangkahkan kakinya meninggalkan Sekar Ayu, tapi tanpa diduga Sekar Ayu menahan lengannya.
"Lepaskan, Sekar!!!" Adi menghentakkan dengan keras lengan yang dipegang Sekar Ayu, hingga nyaris membuat Sekar Ayu terjatuh saat lengan Adi terlepas.
"Ada ribut-ribut apa ini?" Pak Wijaya yang mendengar Adi berteriak langsung keluar rumah. Dia terkejut melihat putra sulungnya berdiri di teras dengan Sekar Ayu.
"Sore, Pak," sapa Sekar Ayu dengan sopan.
"Sore, ada keperluan apa lagi ke sini?" tanya Pak Wijaya dengan raut wajah yang jauh dari kata ramah.
"Saya mau bicara dengan Mas Adi, Pak," jawab Sekar Ayu.
"Bicara apa? Kalian berdua tidak ada urusan jadi tidak ada yang perlu dibicarakan," tegas Pak Wijaya.
"Tapi saya ada urusan dengan Mas Adi, Pak."
"Urusan apa? Adi sudah punya istri jangan ganggu dia lagi."
"Sekar, tolong jangan mempermalukan dirimu sendiri. Tidak ada gunanya kamu ke sini atau bicara denganku. Aku sudah punya Adelia yang sangat aku cintai. Jangan buang-buang waktumu untuk hal yang sia-sia." Adi kembali bicara.
"Tapi, aku masih mencintai Mas Adi." Sekar Ayu tetap bersikeras.
"Mencintai Mas Adi atau mencintai hartanya." Tanpa diduga Adelia ikut keluar.
Sejak mendengar teriakkan Adi tadi, dia berniat keluar, tetapi dia menahan diri karena ayah mertuanya sudah bersama Adi. Akhirnya dia hanya menguping pembicaraan dari balik pintu ruang tamu. Saat Sekar Ayu menyatakan cintanya pada sang suami, dia sudah tidak bisa menahan diri.
"Ai." Adi langsung memeluk pinggang istrinya begitu dia melihat kedatangan Adelia.
"Kamu jangan sembarangan bicara ya. Aku sejak dulu sampai sekarang mencintai Mas Adi. Cintaku lebih besar dari cintamu," ujar Sekar Ayu penuh percaya diri.
"Cinta? Jangan membuatku tertawa." Adelia tersenyum sinis.
"Kalau Mbak Sekar memang cinta sama Mas Adi harusnya Mbak dulu memperjuangkan dia. Meyakinkan kedua orang tua Mbak Sekar kalau Mas Adi bisa mencukupi kebutuhan dan juga membahagiakan Mbak."
"Tapi kenyataannya tidak kan? Mbak Sekar menyerah tanpa perlawanan. Baru setelah Mbak jatuh dan sakit, mau mencari dan kembali sama Mas Adi. Mbak Sekar memang egois, untung saja Mas Adi tidak mendapatkan orang seperti Mbak."
"Maksudmu apa? Aku tidak pantas untuk Mas Adi?" tanya Sekar Ayu dengan geram.
Adelia mengangguk seraya tersenyum mengejek. "Mas Adi pantas mendapatkan yang lebih baik dari Mbak Sekar. Jangan terlalu percaya diri, Mas Adi sudah lama move on dari Mbak."
"Kurang aja!!! Karena kamu istrinya berarti kamu lebih baik dari aku, begitu?"
"Aku tidak bilang begitu ya. Mbak Sekar sendiri yang bilang. Mas Adi juga tahu perempuan mana yang pantas untuk diperjuangkan."
Wajah Sekar Ayu yang berkulit putih semakin terlihat merah. Dia menahan segala amarahnya agar tidak tumpah di hadapan Adi dan Pak Wijaya. "Kamu," geramnya.
"Aku kenapa? Aku lebih cantik? Aku lebih baik? Aku lebih pantas diperju-"
Plakkkkk.
__ADS_1
...---oOo---...
Jogja, 201021 00.25