
“Bagaimana pertemuan tadi dengan bapak dan ibu Mbak Sekar, Mas?” tanya Adelia usai menyalami suaminya yang baru pulang kerja. Ya, Adi hari ini tetap kerja. Dia menemui kedua orang tua Sekar Ayu saat jam istirahat makan siang lalu kembali ke kantor lagi.
“Alhamdulillah lancar,” jawab Adi. “Bagaimana kabar Mbak di dalam, tidak nyusahin Umi ‘kan?” Adi menunduk, mengelus perut buncit sang istri dan menciumnya.
“Alhamdulillah baik, Abi. Uminya enggak ditanyain kabarnya, Mas?” Adelia pura-pura cemberut.
Adi kembali berdiri tegak lalu mencium pipi Adelia. “Apa kabar, Ai, uminya Mbak?”
“Alhamdulillah baik.” Adelia kembali tersenyum.
Adi merangkul bahu sang istri lalu mereka masuk ke kamar. Adelia menyiapkan baju ganti untuk suaminya sementara Adi meletakkan tas kerja dan melepas jam tangan serta ikat pinggang yang seharian melingkar di tubuhnya.
“Mas Adi, mau langsung mandi ‘kan?” Adelia meletakkan baju ganti di atas ranjang mereka.
“Iya. Alhamdulillah,” ucap Adi setelah meminum segelas air putih yang sudah disiapkan Adelia di kamar.
“Habis mandi aku langsung ke masjid, Ai. Udah mepet Magrib ini.” Adi melepas kemeja dan celana bahan yang dia kenakan. Menaruhnya dalam keranjang baju kotor baru kemudian bergegas masuk ke kamar mandi.
“Iya, Mas.” Adelia mengambil gelas kosong tadi lalu membawanya ke dapur. Kembali mengisinya sampai penuh lalu ditempatkan di atas meja makan. Dia mulai menyiapkan makanan untuk makan malam mereka.
Sesudah salat Magrib, mereka makan malam berdua. Dengan telaten Adelia mengambilkan nasi, sayur, dan juga lauk untuk Adi.
__ADS_1
“Terima kasih, Ai,” ucap Adi setelah sang istri meletakkan piring di depannya.
“Sama-sama, Mas,” balas Adelia sambil mengambil nasi untuknya sendiri.
Adi menunggu sampai Adelia selesai. Baru kemudian mereka berdoa bersama dan mulai makan.
“Mas Adi, cerita dong tadi gimana ketemunya sama bapak dan ibunya Mbak Sekar,” pinta Adelia.
“Ya biasa saja, enggak gimana-gimana. Intinya mereka merasa malu dan minta maaf sama kita karena perbuatan Sekar,” terang Adi.
“Itu saja?” tanya Adelia tidak percaya.
“Mereka tidak minta pengurangan hukuman buat Mbak Sekar?”
Adi menggeleng. “Tidak. Lagian papa sudah bilang kalau kita sudah memaafkan, tapi proses hukum tetap dilanjutkan.”
“Alhamdulillah, aku jadi lega, Mas.” Adelia mengelus perutnya.
“Ai, sudah siap ‘kan minggu depan jadi saksi di persidangan?” Adi menatap sang istri. Ingin melihat reaksinya.
“Insya Allah siap. Nanti sehari sebelumnya aku ke psikolog dulu untuk konsultasi ya, Mas. Biar aku lebih tenang."
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa. Jangan sampai itu jadi beban pikiranmu, Ai. Aku tidak mau kamu drop terus nanti pengaruh sama kehamilanmu." Tangan Adi mengelus tangan Adelia yang ada di atas meja.
Adelia menganggut. "Iya, aku tahu, Mas. Aku ingin menjaga Mbak sampai lahir dan membesarkannya. Aku juga tidak mau ada apa-apa sama Mbak." Satu tangan Adelia mengelus perutnya yang sudah membuncit.
"Aku antar ya ke psikolognya?" tawar Adi.
"Tidak usah, Mas. Aku sama Arsen saja. Dia tidak ada jadwal kuliah kok. Biar nanti bawa mobil papa."
"Pakai mobil kita saja, Ai. Besok aku pakai motor ke kantor. Arsenio ke sini bawa motor terus ditaruh di garasi kaya biasanya."
"Ya sudah kalau begitu. Nanti aku bilang sama dia."
"Ai, kamu tahu? Setelah pertemuan tadi, aku jadi semakin bersyukur karena lamaranku dulu ditolak Pak Gatot. Aku jadi punya istri kamu. Jodoh memang salah satu misteri Ilahi. Kita tidak pernah tahu kapan akan bertemu dan bagaimana cara bertemu dengan jodoh kita. Seperti sebuah peribahasa 'asam di gunung, garam di laut, bertemu di belanga' yang artinya sesuatu yang telah ditakdirkan bersama walaupun dipisahkan sejauh mungkin, pada akhirnya akan tetap bersama. Begitulah kita, Ai."
"Dulu lamaranku ditolak Sekar. Ai, gagal menikah dengan Restu. Kita juga tidak pernah saling kenal. Lalu Allah mempertemukan kita di rumah ini. Dan, sekarang kita jadi suami istri. Insya Allah sebentar lagi kita jadi orang tua buat Mbak." Adi memandang istrinya lekat. Mengungkapkan lewat mata bagaimana rasa syukur dan cintanya pada Adelia.
...---oOo---...
Jogja, 300522 23.45
Up tipis-tipis ya, sambil penyesuaian agar tidak tertukar karakter dan ceritanya dengan Dewa Alay 🤭
__ADS_1