
Rendra akhirnya menjalani sidang skripsinya dengan lancar dan lulus dengan nilai A. Dia langsung memeluk Dita begitu keluar dari ruang sidang. Dita memang ikut menunggu suaminya sidang skripsi ditemani Bella, Bara, Adelia dan beberapa teman kuliah Rendra, serta teman dari UKM Karate yang akrab dengannya. Ada pula beberapa penggemar Rendra yang juga ikut menunggu sidangnya, meski mereka tahu dia sudah beristri. Mereka membawa buket bunga untuk diserahkan pada Rendra sebagai tanda mereka ikut berbahagia atas kelulusannya.
"Berikan saja bunganya pada Dita, istriku," jawabnya saat salah satu penggemarnya memberikan buket bunga.
"Terima kasih, Kak," kata Dita dengan senyum ramah pada penggemar Rendra yang menyerahkan buket padanya.
Bukannya sedih melihat Rendra sudah beristri dan bersikap manis pada istrinya, mereka justru semakin kagum padanya dan berharap punya suami seperti Rendra.
Usai sidang, Rendra menjamu semua temannya di kafe sebagai rasa terima kasihnya karena sudah membantu dan mendukungnya selama kuliah dan skripsi. Mereka berkumpul di lantai dua untuk merayakan kelulusan sidang skripsinya. Mereka bebas memesan menu apa saja. Seluruh karyawan kafe juga mendapat traktiran dari bosnya.
Satu bulan setelahnya, Adelia dan Bara yang menjalani sidang skripsi. Mereka juga lulus dengan nilai A. Adi ikut menunggu istrinya sidang selain Rendra dan Dita. Dia bahkan mengobrol dengan dosen penguji istrinya yang ternyata dosen pembimbingnya dahulu. Adi juga sekalian bernostalgia, mengenang masa-masa kuliah dan skripsi di sana.
Rendra, Adelia dan Bara akhirnya bisa wisuda bersama. Mereka mengikuti wisuda periode pertama di bulan November. Rendra menjadi wisudawan terbaik dari fakultas Teknik. Dia duduk di bangku paling depan bersama wisudawan terbaik dari fakultas lainnya saat di Grha Sabha Pramana.
Para wisudawan terbaik diminta naik ke atas panggung untuk menerima ijazah langsung dari rektor. Satu per satu mereka dipanggil. Rendra mendapat giliran keempat. Dia menunduk agar memudahkan rektor untuk memindahkan tali toga dari kiri ke kanan. Lalu dia menerima ijazah dan bersalaman dengan rektor.
"Selamat ya, semoga semakin sukses usahanya. Kamu bisa jadi contoh untuk mahasiswa yang lain," ujar rektor saat bersalaman.
"Aamiin. Terima kasih, Pak," balas Rendra seraya tersenyum dan menunduk memberi hormat.
Rendra kemudian turun dari panggung. Dia melihat ke arah tamu undangan di mana istri dan mamanya duduk. Dia melemparkan senyum pada mereka berdua saat pandangan mereka bertemu. Dia duduk kembali di barisan depan sambil menunggu proses wisuda selesai.
Usai prosesi wisuda, dia menghampiri istri dan mamanya. Pertama dia mencium punggung tangan, lalu kedua pipi mamanya. Selanjutnya mereka saling berpelukan.
"Terima kasih sudah membesarkan, mendidik dan selalu mendoakan Rendra, Ma," ucapnya.
"Itu sudah kewajiban mama. Selamat ya, semoga ilmu yang kamu dapat bisa menjadi manfaat untuk banyak orang," tutur Ibu Dewi.
"Aamiin. Makasih, Ma." Rendra mengurai pelukan mereka. Selanjutnya dia beralih pada istrinya yang tersenyum manis.
"Terima kasih sudah mendampingi, mendukung dan mendoakan aku, Sayang," bisiknya saat mereka berpelukan.
"Iya, Mas. Selamat ya. Ini, Ale juga senang babanya sudah wisuda ya, Nak."
Rendra mengurai pelukan dengan Dita. Dia lalu menunduk untuk mengelus dan mencium kandungan Dita yang semakin membuncit.
"Makasih, Ale." Rendra merasakan tendangan-tendangan Ale saat dia bicara.
"Kita foto-foto dulu. Baim di mana ya?" Rendra celingukan mencari teman baik istrinya itu. Baim memang dipercaya Rendra untuk mengabadikan foto mereka di acara wisudanya. Tak lama Baim datang setelah dihubungi Rendra.
"Maaf, Kak. Aku bingung tadi nyari di mana posisinya," ucap Baim begitu dia tiba.
"Oke, enggak apa-apa."
Rendra lalu berfoto dengan mamanya, Dita, mereka berdua serta teman-temannya.
Sementara itu, tadi saat wisuda Adelia dan Bara menerima ijazah dari dekan fakultas Teknik. Mereka memindahkan sendiri tali toga dari kiri ke kanan. Setelah selesai wisuda, mereka menghampiri keluarga masing-masing.
Adelia mendekati kedua orangtuanya dan Adi. Pertama tentu saja menyalami dan memeluk Ibu Sarah lalu Pak Lukman, baru kemudian Adi. Mereka lalu bergabung dengan Rendra dan Dita untuk berfoto bersama.
Setelah berfoto-foto, mereka pergi ke fakultas Teknik untuk mengikuti acara pelepasan wisudawan dan wisudawati oleh pengurus fakultas Teknik. Di acara pelepasan itu Rendra diminta untuk menyampaikan pidato perpisahan mewakili teman-teman wisudanya yang lain.
Malam harinya, keluarga Ibu Dewi, Pak Lukman dan Pak Wijaya berkumpul bersama untuk makan malam bersama, merayakan kelulusan Rendra dan Adelia. Setelah sebelumnya mereka pergi ke studio foto untuk mengenang momen wisuda Rendra dan Adelia. Mereka memesan tempat di restoran yang berada di lantai dua hotel yang terletak di Jalan Ring Road Utara, sebelah selatan Polda DIY.
Ketiga keluarga yang dulu tidak saling mengenal itu, kini menjadi lebih dekat dan akrab. Kekerabatan yang terjalin dari proses pernikahan putra putri mereka benar-benar bisa menyatukan tiga keluarga. Memang benarlah kalau pernikahan itu menyatukan keluarga. Mereka kini menjadi satu keluarga besar.
"Assalamu'alaikum," salam seseorang saat mereka sedang mengobrol sambil menunggu pesanan datang.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Semua orang menoleh ke arah datangnya suara tersebut.
"Eh, Kai. Datang juga, kamu. Kirain enggak bisa." Adi berdiri, menyalami sahabatnya yang masih memakai seragam polisi.
"Alhamdulillah, tadi baru saja selesai rapat. Terus aku langsung ke sini makanya masih pakai seragam. Maaf ya," kata Kaisar.
"Iya, enggak apa-apa. Aku malah jadi mengganggu pekerjaanmu ini."
"Enggak kok. Ini malah jadi kehormatan buatku diajak ikut makan malam keluarga kalian." Kaisar menebar senyum pada semua yang ada di sana.
"Duduk dulu Kai, sekalian mau pesan apa." Adi memanggil pramusaji untuk meminta buku menu.
"Oke, makasih, Di." Kaisar lalu menyalami satu per satu.
"Om, Tante, dan semuanya, maaf ikut numpang makan di sini," ucap Kaisar sebelum duduk di kursi sebelah Shasha yang masih kosong.
"Aku yang mengundang Kaisar karena dekat sama kantornya. Lagian Kaisar juga sudah berjasa untuk kami," sela Adi.
"Kamu berlebihan, Di. Aku enggak ngapa-ngapain kok dibilang berjasa," ucap Kaisar merendah.
"Jangan begitu, Nak Kaisar. Kami semua mengucapkan terima kasih pada Nak Kaisar, karena sudah membantu Adi dan Adelia saat mereka tertimpa masalah kemarin," kata Pak Wijaya.
"Itu sudah kewajiban saya, Om." Kaisar tersenyum pada Pak Wijaya.
__ADS_1
"Pesan makanan dulu, baru nanti ngobrol lagi, Kai," titah Adi.
Kaisar melihat-lihat buku menu. Setelah itu dia memberitahu pesanannya pada pramusaji.
"Rendra dan Adelia, selamat ya sudah menjadi sarjana," ucap Kaisar pada mereka berdua.
"Terima kasih, Mas," jawab mereka bersamaan.
"Om, Tante, semuanya sehat-sehat kan," sapa Kaisar pada para orang tua.
"Dita gimana kehamilannya?" tanya Kaisar.
"Alhamdulillah, lancar dan sehat," jawab Dita sambil mengelus perut buncitnya.
"Kapan lahiran?"
"Insya Allah bulan depan, Mas." Kali ini Rendra yang menjawab.
"Semoga dilancarkan, dan sehat selalu Dita dan juga bayinya," doa tulus Kaisar.
"Aamiin," ucap semua yang di sana.
"Arsenio, dan Nisa, lancar kan kuliahnya?" Kaisar beralih pada dua anak bungsu yang dari tadi asyik ngobrol berdua.
"Aman, Mas," sahut Arsenio.
"Alhamdulillah, insya Allah lancar, Mas," jawab Nisa.
Kaisar mengacungkan jempol pada Nisa dan Arsenio. Dia lalu beralih pada sosok wanita yang dari tadi menyimak dan memperhatikan dia dari samping.
"Kamu, apa kabar, Sha?" tanya Kaisar dengan lembut.
"Alhamdulillah, baik dan sehat. Mas Kai sendiri gimana?" Shasha balik bertanya setelah menjawab.
"Capai, tapi terus hilang karena ketemu kamu," jawab Kaisar setengah berbisik di dekat telinga Shasha.
Terlihat ada semburat merah yang muncul di pipi Shasha. Dia lalu pura-pura menyelipkan rambut ke belakang telinga sambil tersenyum malu.
"Bagaimana pekerjaan?" tanya Kaisar dengan nada normal agar suasana tidak terasa canggung lagi.
"Alhamdulillah, sering lembur," jawab Shasha sambil terkekeh.
"Terus tidur di kantor, Mas?" tanya Shasha.
"Kalau selesai sebelum jam 12 ya pulang. Kalau belum selesai ya mending tidur di kantor. Tapi aku selalu sedia baju ganti kok di kantor, jangan khawatir aku enggak ganti baju," seloroh Kaisar.
"Calon bapak kapolda sibuk ya," celetuk Pak Lukman.
"Saya aamiin-kan saja, Om," sahut Kaisar sambil tersenyum.
"Sudah ketemu calonnya belum? Jangan sampai nanti sudah diangkat belum ada istri. Malu dong kalau kalah sama anak buah," goda Pak Lukman.
"Sedang diusahakan, Om. Mohon doanya," ujar Kaisar.
"Lha itu yang di sampingmu masih available, ya kan Bu Dewi?"
Kaisar tergelak sambil melirik Shasha yang memerah wajahnya karena malu.
"Bu Dewi, tidak keberatan kan punya menantu calon kapolda?" tanya Pak Lukman pada Ibu Dewi.
"Kalau saya itu terserah anaknya, Pak. Kalau keduanya sama-sama cinta, ya silakan saja. Tugas orang tua hanya merestui dan mendoakan, mereka berdua yang nanti akan menjalani bersama," tutur Ibu Dewi.
"Tuh Kai, sudah ada lampu hijau dari Bu Dewi, Gaskeun lah." Pak Lukman makin semangat menggoda Kaisar dan Shasha.
"Papa nih jangan menggoda mereka terus, lihat tuh Mbak Shasha sampai merah wajahnya," tegur Ibu Sarah pada suaminya.
"Papa cuma membantu mereka, Ma. Siapa tahu kan setelah ini beneran mereka berjodoh. Mereka sudah dewasa, sama-sama sudah kerja mau apa lagi yang dicari. Betul kan, Pak Wijaya?" Pak Lukman mencari dukungan dari besannya.
Pak Wijaya mengangguk. "Iya, betul, Pak Lukman. Apalagi bapaknya Kaisar kalau ketemu saya selalu mengeluh ingin segera punya menantu dan cucu."
"Nah kan. Sudah Kai, putuskan saja kapan tanggalnya," kata Pak Lukman.
"Tanggal apa, Om?" Kaisar mengernyit bingung.
"Tanggal lamarannya," kata Pak Lukman yang diikuti tawa hampir semua yang ada di sana, kecuali Rendra dan Shasha.
Shasha hanya bisa tersenyum pasrah dengan wajah yang memerah karena malu. Kalau biasanya dia yang suka menggoda siapa saja, kali ini dia kena batunya, ganti digoda oleh para orang tua yang tidak akan mungkin berani dia lawan.
Sementara Rendra diam mengamati gerak gerik kakaknya dan juga Kaisar, yang tetap tertawa meski terus digoda oleh Pak Lukman. Kaisar sendiri sudah biasa menjadi bahan godaan teman-temannya karena tidak pernah terlihat menggandeng seorang wanita bila ada acara kecuali Tirta, adiknya. Jadi dia santai saja menghadapi godaan Pak Lukman.
"Ayo kita makan dulu sambil mengobrol," ajak Adi setelah semua pesanan mereka terhidang di meja.
__ADS_1
"Kamu enggak apa-apa kan, Sha?" tanya Kaisar pelan agar tidak terdengar yang lain.
"Enggak apa-apa, Mas. Santai," jawab Shasha.
"Aku takut kamu jadi malah menjauhi aku gara-gara ini," kata Kaisar.
"Kenapa aku harus menjauh?" Kening Shasha mengerut.
"Mungkin kamu jadi enggak nyaman sama aku." Kaisar menoleh pada Shasha untuk melihat ekspresinya.
"Enggak ada yang bikin aku enggak nyaman. Biasalah mereka memanfaatkan momen seperti ini untuk menggoda yang masih sendiri," kata Shasha sambil tersenyum pada Kaisar.
"Syukurlah kalau begitu. Aku jadi lega sekarang." Kaisar kembali fokus pada makanannya.
"Maaf ya, karena aku, kamu jadi ikut digoda." Kaisar kembali tak enak hati pada Shasha.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mas. Aku baik-baik saja." Shasha meyakinkan Kaisar.
"Sha, maaf itu di situ ada saos." Kaisar menunjuk sudut bibir kanannya untuk memberi petunjuk pada Shasha.
"Apa sudah, Mas?" tanya Shasha setelah mengelap sudut bibir kanannya.
"Belum. Bukan di situ. Maaf ya." Kaisar mengambil tisu lalu membersihkan samping sudut bibir kiri Shasha yang terkena saos steak.
"Oh, ya." Shasha terpaku saat Kaisar menyentuh wajahnya.
"Sudah bersih, sekarang," ucap Kaisar sambil tersenyum puas.
Tanpa Kaisar dan Shasha duga, semua yang ada di sama menatap mereka berdua dengan berbagai macam ekspresi.
"Kayanya sebentar lagi, Bu Dewi bakal punya menantu ini," celetuk Pak Lukman yang membuat Kaisar dan Shasha menjauhkan diri dan salah tingkah.
Shasha langsung menegak minumannya untuk mengurangi rasa malu. Sementara Kaisar mengusap tengkuknya sambil meringis malu.
"Apa perlu Om mewakili orang tuamu untuk melamar Shasha sekarang?" Pak Lukman semakin menjadi menggoda mereka berdua.
"Uhuk--uhuk." Shasha tersedak karena mendengar Pak Lukman.
"Pelan-pelan saja minumnya," ucap Kaisar lembut.
Shasha mengangguk. Dalam hati dia ingin bicara kalau dia tersedak bukan karena terlalu tergesa-gesa minumnya, tapi karena kaget.
"Papa, sudah. Kasihan Mbak Shasha sampai tersedak begitu," tegur Ibu Sarah pada suaminya. "Mbak Shasha, maafkan Om Lukman, ya," pintanya.
"Tidak apa-apa, Tante," sahut Shasha sambil tersenyum simpul.
Mereka kemudian melanjutkan makan sambil terus mengobrol bersama. Pak Lukman dan Pak Wijaya sesekali masih menggoda Kaisar dan Shasha.
Menjelang pukul 09.00 malam, mereka mengakhiri makan malam bersama itu. Rendra dan Adi pergi ke kasir untuk membayar tagihan mereka sebelum pulang. Ya, mereka memang patungan membayar makanan malam itu karena Rendra dan Adelia wisuda bersama.
"Makasih, sudah datang, Kai. Ini mau pulang apa balik kantor?" tanya Adi setelah melakukan salaman khas mereka.
"Balik kantor lagi. Mungkin besok baru pulang," jawab Kaisar. "Makasih Di, Ren, atas traktirannya. Sering-sering ya," selorohnya sambil terkekeh.
Rendra tersenyum lalu bersalaman dengan Kaisar. Kini dia sudah bisa mengendalikan rasa cemburunya pada sahabat kakak iparnya itu.
"Arsenio, hati-hati menyetirnya. Kapan-kapan kita futsal lagi, ya," kata Kaisar pada Arsenio.
"Siap, Ndan." Arsenio memberi hormat dengan badan tegak lurus pada Kaisar.
Kaisar tergelak lalu merangkul adik ipar Adi itu. Mereka lalu bersalaman.
"Om dan Tante semua, semoga sehat selalu," kata Kaisar pada para orang tua saat dia bersalaman dengan mereka.
"Terima kasih, Mas Kaisar. Main ke rumah kalau ada waktu sama Tirta," sahut Ibu Dewi.
"Insya Allah, Tante." Kaisar tersenyum manis pada Ibu Dewi.
"Hati-hati ya di jalan, nanti aku hubungi kamu," kata Kaisar pada Shasha yang memang sengaja berjalan paling belakang.
"Iya, Mas. Semangat lembur, jangan lupa tetap tidur dan jaga kondisi," pesan Shasha.
"Siap, Ndan." Kaisar memberi hormat pada Shasha yang membuat wanita tersenyum lebar.
"Kak Shasha, buruan. Dah turun semua mereka," teriak Nisa dari depan pintu lift yang terbuka. Dia memang tadi mengalah tidak naik lift bersama yang lain karena sudah melebihi kapasitas.
"Ayo, turun bersama, Mas." Shasha berjalan cepat diikuti Kaisar di belakangnya.
...---oOo---...
Jogja, 060921 18.45
__ADS_1