Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Lembaran Baru


__ADS_3

"Bagaimana Mas, puas dengan putusan hakim tadi?" tanya Rendra setelah mereka duduk di kedai hotplate.


"Insya Allah puas, Rend. Ya kan, Ai." Adi menoleh pada Adelia yang duduk di sampingnya.


Adelia menyengguk. "Iya. Semoga dia bisa merenungkan semua kesalahannya selama di penjara dan tidak mengulanginya lagi. Kita juga bisa memulai lembaran baru."


"Aamiin."


"Aku kasihan lihat anaknya Restu. Baru lahir tapi sudah hidup terpisah dari kedua orang tuanya," ucap Adelia yang merasa prihatin dengan mimik sedih


"Memangnya anaknya tadi di sana, Mbak?" Dita mengernyit.


"Iya, Dek. Anaknya diasuh sama kakek dan neneknya," terang Adelia.


"Loh, memang ibunya ke mana, Mbak?" Dita semakin mengernyit.


"Mungkin dia sudah bercerai sama Restu, Dek. Kata ibunya Restu tadi, katanya mamanya enggak mau mengasuh dia."


"Astaghfirullah, kok gitu sih." Dita mengelus-elus perutnya.


"Sudah dikasih amanah kok tidak mau menjaga. Padahal banyak yang ingin punya anak tapi belum diberi. Tidak bersyukur banget sih." Dita terlihat emosional saat mengatakannya.


"Pasti dia punya alasan kenapa tidak mau mengasuh anaknya. Padahal cantik banget anaknya, Dek."


"Meski punya alasan, tapi apa enggak kasihan sama anaknya. Mana masih bayi lagi." Dita kembali mengelus perutnya.


"Sudah, berhenti ngomongin orang lain. Yang penting kita tidak seperti itu," tukas Adi.


"Iya, Mas," sahut Dita dan Adelia bersamaan.


"Yuk, kita makan saja." Rendra menempatkan piring nasi di depan istrinya begitu pesanan mereka datang.


"Habis enggak nasinya segitu, Sayang?" tanya Rendra pada Dita sebelum dia mengambil lauk dan sayur.


"Insya Allah habis, Mas," jawab Dita yakin karena dia merasa sangat lapar.


"Oke." Rendra lalu mengambilkan lauk dan sayur untuk istrinya. Dia tidak mau Dita kepanasan lagi saat memegang sendok di atas hotplate.


"Sidangmu kapan, Rend?" tanya Adi.


"Insya Allah minggu depan. Mohon doanya, Mas," jawab Rendra.


"Pasti aku doakan. Kamu bulan depan ya, Ai?" Adi beralih pada istrinya.


"Insya Allah, Mas. Skripsiku kan memang lebih lambat dari Rendra."


...---oOo---...


Restu POV


Hari ini sidang putusan untukku. Apa pun hasilnya aku akan menerima. Yang jelas, aku tahu hukumanku tidak ringan karena jaksa menuntutku 15 tahun penjara atas kejahatan yang aku lakukan.


Aku kaget saat melihat Adelia ada di ruang sidang. Meski dia duduk berdampingan dengan suaminya dan terlihat mesra, tapi aku sudah cukup bahagia. Adelia semakin hari semakin terlihat cantik. Auranya semakin terpancar sejak memakai hijab, meski tubuh sintalnya sudah tidak terlihat lagi lekuknya karena tertutup pakaian yang longgar.


Aku duduk di kursi terdakwa setelah mendengar putusan dari Hakim Ketua. Aku bersyukur hanya mendapat hukuman 10 tahun penjara dengan dipotong masa tahanan. Hakim Ketua menawarkan apakah aku akan menerima putusan, menerima putusan dan mengajukan grasi, banding atau pikir-pikir dahulu.


Aku menghampiri pengacaraku. Aku meminta penjelasan padanya apa saja yang konsekuensinya bila aku menerima putusan, banding atau pikir-pikir dahulu. Setelah mendengar penjelasannya, akhirnya aku memutuskan untuk menerima putusan dan mengajukan grasi saja. Kalau aku mau banding atau pikir-pikir nanti aku harus mengeluarkan uang untuk membayar pengacaraku lagi. Saat ini aku benar-benar harus menghemat uang di dalam tabungan untuk putri kecilku. Aku membayar pengacara memang hanya saat mendampingiku saja dengan tarif per jam, tidak secara penuh karena setelah aku pikirkan lebih lanjut biayanya sangat besar. Lebih baik uangnya aku simpan untuk putriku nanti bersekolah.


Usai sidang, saat aku akan keluar dari ruang sidang, aku mencuri-curi kesempatan memandang wajah cantik Adelia. Mungkin ini terakhir kali aku melihatnya, aku ingin merekam wajah cantiknya di otakku. Meski dia tidak pernah mau melihat ke arahku, aku puas melihatnya terlihat bahagia. Aku keluar ruang sidang dengan wajah berseri.


Kedua orangtuaku dan putriku Adelia menemuiku saat aku di ruang tunggu sidang. Aku hanya bisa melihat putriku tanpa bisa menggendongnya karena aku di balik jeruji besi. Ibu menghadapkan stroller-nya padaku. Aku mengulurkan tangan untuk mengelus kulitnya yang halus. Aku berdoa dalam hati semoga putriku tidak malu mempunyai papa seperti aku.


Ibuku cerita kalau tadi beliau dan ayah berbicara dengan Adelia dan suaminya. Ibu memarahi aku karena aku tidak memberi tahu kalau Adelia sudah menikah dengan suaminya. Memang selama ini aku tidak pernah bilang kalau mereka sudah menikah. Aku hanya bilang akan menjadikan Adelia sebagai menantu mereka setelah aku bercerai dengan Claudia. Karena itu ibu mendukungku terus mendekati Adelia.


Ayahku merasa malu pada suami Adelia yang katanya sangat baik, sopan dan ramah. Memang aku tidak memungkiri pria itu terlihat sangat sempurna. Dari pembicaraan kami dahulu, aku bisa menarik kesimpulan kalau dia pria yang cukup tenang, dewasa dan sangat paham ilmu agama. Sangat berbeda dengan diriku ini. Sekarang, aku sudah benar-benar mengikhlaskan Adelia bersama dengan pria itu. Aku yakin dia akan bisa membahagiakan wanita yang masih sangat aku cintai itu.


Claudia? Entahlah bagaimana kabarnya, aku juga tidak tahu. Terakhir kali aku bicara dengan dia saat aku menjatuhkan talak padanya. Setelah itu dia mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Sekarang kami sudah resmi bercerai dan hak asuh Adelia jatuh padaku. Menurut kedua orang tuaku, sejak membawa Adelia ke Jogja, tidak pernah sekali pun Claudia menghubungi beliau untuk menanyakan kabar putri kami. Entah wanita seperti apa dia, yang bisa-bisanya menelantarkan dan melupakan darah dagingnya sendiri.

__ADS_1


Dalam sujudku, aku selalu berdoa semoga suatu hari nanti, aku bisa menemukan seorang wanita yang bisa merawat putriku dengan tulus dan penuh kasih sayang. Aku ingin putriku tetap bisa merasakan kasih sayang seorang ibu meski bukan dari ibu kandungnya. Aku ingin membuka lembaran baru di hidupku dan juga putriku.


...---oOo---...


Claudia POV


Aku senang sekali saat mendengar ada seseorang dari kantor di Jogja akan pindah ke sini. Aku dengar orangnya cakap dan tampan, katanya sih juga berprestasi dalam bekerja. Kesempatan bagus untukku memulai hubungan baru lagi setelah hubunganku dengan pasanganku berakhir karena dia akan menikah dengan calon istrinya.


Aku memang hanya menjalani hubungan saling memuaskan dengan pasanganku. Kami sama-sama tidak saling mencintai. Dia sendiri sudah punya calon istri yang katanya sangat dia cintai.


Bullshit dengan cinta. Kalau cinta mana mungkin dia mengkhianati calon istrinya, benar kan?


Waktu aku tanya kenapa dia tidak melakukannya dengan calon istrinya. Dia bilang kalau calon istrinya itu wanita yang baik dan polos, dia tidak mau menodai wanita itu. Dia ingin terlihat sebagai pria yang juga baik dan polos.


Terserahlah. Aku tidak peduli. Yang penting aku bisa menyalurkan hasratku tanpa harus berganti-ganti pasangan. Aku memang penganut pergaulan bebas tapi dengan pasangan tetap dan selalu menggunakan pengaman. Bagaimanapun aku tidak mau tertular penyakit kelamin yang belum ada obatnya itu.


Aku kehilangan mahkotaku saat kelas 2 SMA. Waktu itu aku merayakan ulang tahunku yang ke 17 berdua dengan pacarku. Aku yang masih polos dan baru mengenal cinta, berpacaran dengan seorang pria dewasa yang sudah bekerja. Meskipun dia hanya lulusan SMK dan langsung bekerja, setidaknya dia sudah punya penghasilan sendiri. Tidak seperti teman-teman sebayaku yang berpacaran dengan yang seumuran dan belum berpenghasilan.


Siang itu, dia menjemputku di sekolah. Dia bilang ingin memberi kejutan sebagai hadiah ulang tahunku. Kami pergi ke sebuah tempat wisata terdekat. Sebelum berangkat sekolah, aku sudah izin dengan orang tuaku akan mengerjakan tugas kelompok di rumah temanku. Jadi mereka tidak akan bertanya bila aku pulang terlambat bahkan sampai malam.


Dalam perjalanan menuju ke tempat wisata, kami sempat mampir ke sebuah toko warabala yang selalu buka 24 jam. Kami membeli minuman botol dan beberapa kudapan sebagai bekal.


Dia membuka kamar di salah satu hotel melati di sana. Waktu aku tanya kenapa harus menyewa kamar? Dia bilang, ingin memberikan hadiah spesial untukku dan tidak ingin orang tahu. Saat itu, aku merasa sangat bahagia dan tidak berpikir macam-macam.


Karena perjalanan yang lumayan agak jauh, aku tadi menahan buang air kecil. Akhirnya setelah masuk ke dalam kamar, aku langsung masuk ke toilet yang ada di dalam kamar tersebut. Setelah itu aku duduk di atas ranjang yang ada di sana, sementara pacarku duduk di kursi sambil memegang botol minum air mineral.


"Minum dulu, pasti haus kan." Dia menyerahkan botol yang sudah terbuka itu padaku.


Tanpa berpikir panjang, aku langsung meneguknya karena memang aku merasa sangat haus. Aku bahkan hampir menghabiskannya. Aku menyerahkan botol itu kembali padanya. Aku lalu menyetel televisi yang ada di sana dan duduk bersandar di headboard.


"Selamat ulang tahun, Beb," ucapnya setelah duduk di sampingku. Dia lalu menjulurkan kalung berliontin huruf C di depanku.


Aku tentu saja terkejut mendapat kalung itu, apalagi itu kalung emas yang tidak murah harganya. Kedua orang tuaku sama sekali tidak pernah merayakan ulang tahunku apalagi memberiku hadiah. Buat mereka, perayaan seperti itu tidak penting dan hanya membuang-buang uang dan waktu saja.


"Makasih, Beb," ucapku sesudah meyakinkan diriku kalau semua ini nyata, bukan hanya mimpi.


"Boleh aku pakaikan?" tanyanya.


"Cantik. Pas buatmu, Beb," ucapnya sambil tersenyum puas.


"Makasih banget, Beb. Kamu rela mengeluarkan banyak uang demi memberiku kalung ini." Aku memegang kalung yang sudah menghiasi leherku.


"Demi kamu, apa sih yang enggak, Beb." Dia tersenyum seraya mengelus pipiku.


"Kamu kan sudah 17 tahun sekarang, sudah dewasa. Berarti boleh dong aku cium kamu sebagai tanda sayang dan cintaku." Dia memandangku dengan tatapan mendamba.


Aku mengangguk dengan malu. Jujur saja, aku belum pernah berciuman dengan pacarku. Bahkan ciuman pipi pun belum pernah. Kami hanya sebatas berpegangan tangan saja selama ini. Atau aku memeluk pinggangnya saat membonceng motornya.


Dia tersenyum lalu mendekatkan dirinya. Pertama dia mencium pipi kananku lalu mencium pipi kiriku. Setelah itu dia kembali menjauhkan dirinya. Wajahku terasa panas karena rasa malu dan senang. Ya, senang. Akhirnya aku bisa melakukan seperti yang orang pacaran biasa lakukan.


Entah bagaimana, tiba-tiba kami saling mendekatkan diri dan bibir kami saling bertaut. My first kiss with my boyfriend.


Aku yang masih belum berpengalaman hanya mengikuti saja apa yang dilakukan pacarku. Lama-lama aku merasakan tubuhku memanas. Ada sesuatu yang tertahan di tubuhku dan ingin dilepaskan. Aku tidak tahu apa itu.


Antara sadar dan tidak, kami berdua sudah menanggalkan pakaian hingga kami sama-sama polos. Aku tidak tahu ada apa dengan tubuhku yang sepertinya kehilangan kendali. Aku menikmati setiap sentuhannya tanpa ingin menghentikan. Aku tahu ini salah, tapi tubuhku menginginkannya.


Aku seperti ingin dipuaskan. Ada sesuatu dalam diriku yang sangat menginginkan itu. Akhirnya kami pun melakukan hubungan terlarang itu. Mahkotaku sudah terenggut di hari ulang tahunku oleh pacar pertamaku.


Sejak itu, entah kenapa aktivitas terlarang itu menjadi candu untukku. Hampir setiap bertemu, kami melakukannya. Kami selalu mencari waktu dan kesempatan di mana saja dan kapan saja. Pernah kami melakukannya di ruang tamu rumahku saat kedua orang tuaku sedang di ruang makan. Tentu saja kami melakukannya dengan cepat dan tanpa melepas semua pakaian kami. Aku sengaja memakai rok jin pendek tanpa memakai cela na da lam saat menemui pacarku. Begitu kedua orang tuaku ke dalam, kami langsung melakukannya sambil terus menatap ke pintu masuk ruang tamu. Sungguh itu hal yang sangat memacu adrenalinku hingga kami sering melakukan di tempat yang tak pernah orang duga sama sekali. Kepuasanku bertambah dua kali lipat bila berhasil melakukannya di tempat yang tak biasa.


Karena kami melakukannya tak pernah memakai pengaman, aku akhirnya hamil. Aku takut sekali saat itu. Aku masih ingin sekolah. Kami pun memutuskan untuk melakukan aborsi. Untung saja, aku mengetahuinya masih sangat awal jadi mudah menggugurkan kehamilanku. Tetapi sesudah itu aku merasa sangat bersalah dan berdosa karena telah membunuh seorang manusia yang tidak berdosa. Sesudah itu setiap kali berhubungan, kami selalu memakai pengaman.


Setelah aku lulus SMA, hubunganku dengan pacarku putus karena aku harus kuliah di luar kota. Dia tidak mau menjalani hubungan jarak jauh. Ya, sudah, tidak masalah. Aku juga masih ingin mengejar cita-citaku dan membahagiakan kedua orang tuaku.


Selama kuliah, aku sempat dua kali berpacaran. Hubungan pacaranku sama seperti sebelumnya, kami juga sering melakukan hubungan terlarang itu. Seperti yang aku bilang tadi, aku hanya melakukannya dengan seseorang yang dekat denganku, tidak dengan sembarang orang. Dan hubunganku dengan pacarku selalu lama, setidaknya satu tahun lebih. Kalau saat tidak ada pasangan, aku memuaskan diriku dengan alat pemuas yang banyak dijual online.


Setelah tiga kali merasakan patah hati, aku memutuskan untuk tidak akan pacaran lagi. Aku lelah saat melibatkan hati, rasanya sakit setiap kali berpisah dengan pacarku. Sejak itu setiap aku dekat dengan pasanganku hanya sebatas saling membutuhkan untuk dipuaskan saja.

__ADS_1


Aku terpana saat melihat Restu untuk pertama kalinya. Memang benar wajahnya sangat tampan seperti aktor Korea Song Joongki, idolaku. Wajahnya yang imut dan polos membuatku ingin menaklukkan dia. Jangan panggil aku Claudia kalau aku tidak bisa menaklukkan Restu.


Karena kami satu divisi membuat kesempatanku untuk mendekatinya terbuka lebar. Aku selalu mengenakan baju ketat dan seksi setiap ke kantor. Tentu saja aku juga menonjolkan belahan dadaku yang pasti akan membuat siapa saja yang melihatnya ingin melihat atau menyentuh isinya.


Rupanya Restu bukan orang yang mudah untuk digoda. Tapi aku tidak pantang menyerah. Aku sering melihat dia mencuri pandang, melihat lekuk tubuhku atau belahan dadaku. Setiap aku bicara dengannya, aku selalu mendekatkan tubuhku hingga kami bisa bersentuhan. Aku sering menyentuh beberapa bagian tubuhnya, dengan sengaja menggodanya. Sampai suatu hari, usahaku membuahkan hasil. Dia menciumku saat kami hanya berdua di ruangan divisi kami.


Ciuman pertama kami menjadi awal keintiman kami. Sejak itu kami sering memacu adrenalin, awalnya hanya saling mencium dan menyentuh di kantor hingga kami sepakat untuk menyewa kamar saat jam istirahat. Aku harus sabar memang untuk mendapatkan apa yang aku inginkan dari Restu.


Aku tahu Restu sudah punya tunangan dan akan menikah setelah tunangannya lulus kuliah. Tapi karena kami tidak saling mencintai, aku enjoy saja menjalani hubungan kami. Lama-lama orang-orang kantor mencium kedekatan kami dan menganggap kami berpacaran. Tidak masalah sih, dengan seperti itu tidak ada orang kantor yang berani mendekati Restu lagi pastinya. Restu memang menjadi incaran banyak orang di kantor karena ketampanannya.


Tanpa diduga, aku hamil. Aku tidak mau lagi melakukan kesalahan yang sama dengan menggugurkan kandunganku. Aku menuntut Restu untuk bertanggungjawab dengan menikah denganku. Aku tidak ingin anakku nanti dicap anak yang lahir di luar pernikahan tanpa nama ayah di akta lahirnya.


Aku bersyukur Restu mau bertanggungjawab meski aku harus mengancamnya kalau aku akan bunuh diri. Dia akhirnya pulang ke Jogja untuk memutuskan pertunangannya dan memberi tahu keluarganya kalau akan menikah denganku. Untung saja semuanya lancar tanpa ada banyak drama, meski aku tahu keluarganya tidak suka denganku. Peduli setan dengan mereka, aku hanya ingin anakku punya status yang jelas.


Meski kami menikah dan tinggal bersama, bukan berarti kami saling cinta. Restu berulang kali mengatakan kalau dia masih mencintai mantan tunangannya, yang belakangan aku tahu bernama Adelia. Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Kami pun menjalani rumah tangga seperti suami istri pada umumnya, bedanya kami tidak saling cinta. Sering juga kami bertengkar hanya karena masalah sepele.


Walau tidak mencintaiku, tapi Restu begitu perhatian dengan kehamilanku. Dia membelikan aku susu hamil dan selalu mengantarku setiap jadwal pemeriksaan kehamilan. Dia juga selalu menuruti keinginanku bila aku sedang ingin makan sesuatu. Peran dia sebagai suami siaga patut diacungkan jempol.


Hingga satu ketika, aku melihat dia membeli banyak nomor baru. Saat aku tanya untuk apa? Restu hanya menjawab untuk menghubungi mantan tunangannya karena nomornya diblok. Rasanya seperti ada sedikit rasa nyeri di hatiku saat mendengarnya. Pertanda apa ini?


Aku coba untuk tidak menghiraukan hal itu. Karena kami sepakat tidak saling mencampuri urusan pribadi masing-masing. Sikap Restu mulai banyak berubah. Dia hanya mendatangiku saat membutuhkan tubuhku. Dia juga sering pulang ke Jogja, entah untuk urusan apa, aku tidak berani bertanya.


Sampai suatu ketika Restu kembali dari Jogja dengan membawa mobil. Dia langsung pergi ke kantor dan tidak pulang dulu ke rumah kontrakan kami. Aku merasa ada yang tidak beres. Ada apa sebenarnya?


Restu akhirnya menemuiku, dia bilang akan izin dari kantor karena harus pulang ke Jogja menjaga orang tuanya yang sedang sakit. Dia berpesan kalau harus memberinya kabar saat aku akan melahirkan. Dia juga bilang akan pulang ke kontrakan untuk mengambil beberapa baju bersih.


Aku tidak mendengar lagi kabar darinya sejak itu. Dia sama sekali tidak menghubungiku, bahkan hanya mengirim pesan pun tidak. Aku mulai curiga pasti ada sesuatu yang terjadi.


Aku mulai mendapat jawaban atas kecurigaanku saat polisi datang ke kantor mencari Restu dan bicara denganku. Polisi menerangkan kalau Restu sudah mencoba membunuh dengan menabrak orang.


Ya Tuhan, ada apa ini sebenarnya? Berilah aku kekuatan.


Badanku langsung terasa lemas saat mendengar penjelasan polisi. Rasanya aku sudah tidak sanggup untuk berdiri sampai beberapa temanku menopang tubuhku yang hampir terjatuh. Jadi, kemarin dia terburu-buru pergi karena ingin melarikan diri?


Aku terisak-isak, setelah memberi keterangan pada polisi. Aku merasa dibodohi selama ini. Apalagi setelah aku tahu kalau yang akan dia tabrak adalah suami dari mantan tunangannya.


Dadaku langsung terasa sesak dan aku tak sadarkan diri. Saat aku sadar, aku sudah berada di tempat tidur rumah sakit dan aku sendirian di ruangan ini. Aku kembali meneteskan air mata.


Ya Tuhan, apakah ini hukuman untukku atas semua salah dan dosaku?


Sejujurnya aku masih bisa menerima kalau dia masih mencintai Adelia dan ingin bercerai setelah anak ini lahir. Meskipun hatiku terasa sakit tapi aku masih bisa menahannya.


Tetapi Restu terlibat kasus percobaan pembunuhan bahkan sebagai pelakunya. Aku tidak bisa menerima hal itu. Aku tidak mau punya suami pembunuh dan punya anak dari seorang pembunuh.


Aku terus coba menghubunginya, tetapi tidak bisa. Apa dia masih melarikan diri dan belum tertangkap? Aku sudah mencoba menghubungi semua teman dekatnya, yang aku tahu dan kenal, tetapi juga tidak ada yang tahu di mana keberadaannya dan bagaimana keadaannya. Bagaimana pun dia ayah dari anakku, aku takut kalau harus melahirkan sendiri.


Restu akhirnya menghubungiku. Aku terkejut saat mendengar dia sudah ditangkap dan sekarang sedang ditahan. Aku sangat marah sekali. Aku bilang akan mengajukan gugatan cerai dan memberikan hak asuh anak kami padanya. Aku tidak mau mengasuh anak seorang pembunuh.


Saat itu juga Restu menjatuhkan talak satu lewat telepon. Aku memejamkan mataku, mencoba menerima takdir kami. Dia bilang akan meminta kedua orang tuanya untuk mengurus persalinanku dan mengasuh anak kami. Terserah lah, aku sudah tak peduli lagi apa yang mau dia lakukan.


Restu menepati ucapannya, saat mendekati hari kelahiran anak kami, kedua orang tuanya tiba di kontrakan kami. Meski hubunganku tidak begitu baik dengan mereka, aku tetap menghormati mereka sebagai orang yang lebih tua.


Ibunda Restu dengan setia menemaniku saat aku melahirkan. Beliau yang mengurus aku dan anakku sampai kami diizinkan keluar dari rumah sakit. Orang tuaku bahkan tidak menemaniku saat itu. Dalam hati, aku menyesal tidak mencoba mengambil hati kedua orang tua Restu saat kami masih menikah dulu.


Kedua orang tua Restu akhirnya kembali ke Jogja dengan membawa anakku yang dinamai Adelia Putri Prasetyo oleh Restu. Meski aku sedikit tidak terima, tapi aku hanya bisa pasrah karena aku sudah sepenuhnya menyerahkan hak asuh pada Restu dan keluarganya.


Sebelum mereka pulang, aku meminta maaf pada kedua orang tua Restu. Aku juga memberitahu kalau Restu sudah menjatuhkan talak satu. Setelah ini, aku akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Sejak itu, kami sama sekali tidak pernah berhubungan meski kami sudah bertukar nomor telepon.


Jangan ditanya apa aku tidak rindu pada anakku. Tentu saja aku rindu. Aku sudah mengandungnya selama sembilan bulan. Selama itu kami bersama, tentu saja aku merindukannya dan juga papanya. Tapi, aku tidak cukup punya nyali untuk menghubungi kedua orang Restu.


Aku pun ingin menggendongnya, menyusuinya setiap dia lapar dan menangis seperti saat baru lahir. Air susuku terus keluar meski tidak menyusui, hal itu selalu membuatku menangis, karena rindu dengan putri kecilku.


Tadi siang, ibunda Restu mengirimkan pesan kalau Restu dijatuhi hukuman 10 tahun penjara.


Ya Tuhan, bagaimana nasib anakku nanti?


Haruskah aku ke Jogja dan mengasuhnya sendiri serta membuka lembaran baru?

__ADS_1


...---oOo---...


Jogja, 040921 01.35


__ADS_2