
Setelah dari tempat resepsi, mereka akhirnya pergi ke bioskop yang berada di Jalan Solo untuk menonton film. Sepertinya semesta mendukung mereka, masih ada dua kursi kosong di barisan paling belakang saat memesan tiket tadi, spot terbaik untuk menonton film. Padahal kalau hari akhir pekan biasanya bioskop akan penuh, apalagi hari Minggu seperti sekarang.
Mereka berdua menonton film dengan serius. Sesekali saja mengobrol saling menawarkan popcorn ukuran large yang tadi mereka beli. Begitu film selesai, mereka keluar dari teater dengan wajah ceria dan puas.
"Mas Kai, aku ke toilet dahulu ya." Shasha menunjuk ke arah toilet wanita.
"Aku juga mau ke toilet. Nanti kita ketemu di sini lagi ya." Kaisar lalu masuk ke toilet pria setelah Shasha menuju toilet wanita.
Kaisar menunggu Shasha di tempat tadi mereka berpisah. Dia memaklumi kalau Shasha lama keluar dari toilet, karena wanita biasanya lama di dalam toilet. Apalagi di toilet pasti antri setelah satu film selesai diputar.
"Maaf lama, Mas. Antri banyak tadi di toilet," kata Shasha setelah berdiri di depan Kaisar.
"Iya, enggak apa-apa. Ya udah yuk, kita mau ke mana lagi?" Kaisar dan Shasha beranjak dari tempat mereka berdiri.
"Memangnya mau ke mana? Ini sudah mau Asar." Shasha melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
"Kenapa? Apa Tante Dewi sudah meminta kita pulang?" Kaisar menoleh pada Shasha.
"Enggak. Mama mana pernah menanyakan pulang jam berapa kalau masih terang begini. Kalau sudah Magrib pasti enggak berhenti tanya kapan pulang? Lagi di mana? Ngapain?" cerita Shasha sambil tertawa kecil.
"Wajarlah Tante Dewi khawatir, kamu kan perempuan. Aku saja sering khawatir sama Tirta. Apalagi dia di sana kos sendiri. Saudara ada sih, tapi jauh rumahnya." Kaisar mendesah mengingat adiknya yang hidup sendiri di Magelang.
"Apa memang setiap saudara laki-laki entah itu adik atau kakak selalu protektif ya sama kakak atau adik perempuannya?" tanya Shasha.
"Kenapa memangnya? Apa Rendra juga protektif sama kamu?" Kaisar mengernyit.
Shasha menyengguk. "Iya. Apalagi sejak papa meninggal, dia jadi satu-satunya laki-laki di keluarga. Dia memikul tanggung jawab besar menjaga mama, aku, juga Nisa. Ditambah sekarang dia sudah punya istri dan sebentar lagi akan punya anak, semakin banyak tanggung jawabnya. Dia bahkan melepas beasiswanya ke Jepang demi tetap bisa menjaga kami."
"Serius? Dia lepas begitu saja beasiswanya?"
"Iya. Katanya dia mau cari beasiswa S-2 di sini saja. Dia beralasan masih belum bisa melepas kafenya dipegang penuh sama orang lain. Padahal aku yakin, dia pasti tidak mau meninggalkan kami, terutama mama. Terus, setiap dia tahu aku atau Nisa akrab sama laki-laki, pasti dia akan langsung menginterogasi kami. Sudah kaya almarhum papa dahulu." Shasha tersenyum simpul.
"Itu tandanya dia benar-benar menyayangi dan menjaga kalian dengan sepenuh hati. Dan membuktikan kalau dia pria yang bertanggung jawab. Oh ya, kita jadi ke mana ini?" tanya Kaisar setelah mereka berada di tempat parkir motor.
"I have no idea." Shasha mengangkat kedua bahunya.
"Mau ke mal?" tawar Kaisar sambil menyerahkan helm pada Shasha
"Ke mal pakai high heels? No. That's a bad idea." Shasha menggelengkan kepala tak setuju.
"Nanti aku belikan sepatu atau sandal flat biar nyaman," ujar Kaisar.
"Enggak usah, Mas. Sandal dan sepatuku sudah banyak. Aku pakai ini saja, tapi please jangan ke mal," pinta Shasha.
"Bagaimana kalau menikmati sore di Malioboro? Kita duduk-duduk saja di sana sambil melihat kendaraan dan orang yang lalu lalang. Sudah lama juga aku tidak bersantai di sana," usul Kaisar.
"Ya udah ke Malioboro saja. Tapi pulang sebelum Magrib ya, Mas."
"Siap. Mau Asar di Syuhada atau di masjid DPRD Malioboro?"
"Di Malioboro sekalian saja."
"Oke." Kaisar melajukan motornya ke luar dari tempat parkir menuju ke Malioboro.
Mereka tiba di Malioboro saat azan Asar berkumandang. Setelah memarkirkan motor, mereka menuju ke masjid yang berada di kompleks DPRD. Mereka salat Asar berjemaah dengan yang lainnya. Sesudah itu mereka mencari tempat duduk yang ada di area pejalan kaki.
"Sha, mau dengarkan lagu enggak?" Kaisar mengeluarkan earphone dari dalam sakunya setelah mereka terdiam selama beberapa waktu karena terlalu asyik menikmati suasana sore Malioboro.
"Mas Kai, bawa earphone dari tadi?" tanya Shasha penasaran.
"Udah kebiasaan bawa ke mana-mana," jawab Kaisar sambil meringis. Dia menyerahkan satu sisi earphone pada Shasha, yang satu lagi dia pasang di telinga kanannya. Shasha lalu memasang earphone di telinga kirinya.
"Lagu lama enggak apa-apa ya?" tanya Kaisar sambil memilih lagu dari daftar putarnya.
"Aku sih yang penting enak didengar, Mas. Mau lagu lama atau baru asal enak di telingaku, ayo aja."
...Aku ingin menjadi, mimpi indah dalam tidurmu...
...Aku ingin menjadi sesuatu, yang mungkin bisa kau rindu...
...Karena langkah merapuh tanpa dirimu...
...Oh, karena hati t'lah letih...
...Aku ingin menjadi sesuatu, yang s'lalu bisa kau sentuh...
...Aku ingin kau tahu, bahwa ku selalu memujamu...
...Tanpamu, sepinya waktu merantai hati...
...Oh, bayangmu seakan-akan...
...Kau seperti nyanyian dalam hatiku, yang memanggil rinduku padamu, oh...
...Seperti udara yang kuhela, kau selalu ada...
.........
...(Dealova - Once)...
Mereka saling menoleh dan tersenyum saat mendengarkan lagu yang sedang mereka dengarkan berdua. Secara tidak langsung Kaisar mengungkapkan isi hatinya.
"Suka lagunya, Sha?" Kaisar memandang Shasha agar tahu reaksinya.
Shasha mengangguk sambil tersenyum.
...Tiba-tiba cinta datang kepadaku...
...Saat kumulai mencari cinta...
...Tiba-tiba cinta datang kepadaku...
...Kuharap dia rasakan yang sama...
__ADS_1
...Ada sesuatu saat kumelihat dia...
...Ada getaran membuatku rindu...
...Senang hatiku saat kudengar suaranya...
...Ingin selalu ada di dekatnya...
.........
...(Tiba-tiba Cinta Datang - Maudy Ayunda)...
"Lagu cinta semua ini. Mas Kai, lagi jatuh cinta ya?" Shasha menoleh pada Kaisar yang ternyata sedang menatapnya.
"Ya, mungkin bisa dibilang begitu," sahut Kaisar sambil tersenyum manis.
"Harusnya dengar lagu ini sama yang Mas Kai cinta, bukan sama aku," kata Shasha.
Kaisar tertawa. "Memangnya kamu tahu siapa yang aku cintai, Sha?"
Shasha menggeleng. "Mas Kai, kan tidak pernah cerita sama aku."
"Apa kamu mau aku cerita?"
"Itu sih terserah, Mas Kai. Mau cerita ya silakan, enggak juga enggak apa-apa." Shasha kembali melihat suasana sekitar.
"Aku baru dua kali merasakan cinta. Yang pertama, aku pastikan sudah terkubur. Yang kedua, aku sedang berusaha mendapatkannya," cerita Kaisar.
"Tirta pernah cerita kalau Mas Kai suka sama adik teman SMA-nya. Dan katanya mau menunggu sampai dia lulus kuliah. Apa itu Dita, Mas?"
"Iya. Tapi aku sudah mengubur perasaanku setelah aku tahu dia menikah. Sampai aku ketemu kamu, dan diam-diam perasaan itu kembali hadir di hatiku." Kaisar menatap Shasha dengan intens.
Mata Shasha membola mendengar pernyataan Kaisar. "Mmm--maksud Mas Kai apa?"
"Orang yang aku cintai itu kamu, Sha. Makanya aku mendengarkan lagu-lagu itu sama kamu." Kaisar meraih tangan Shasha. "Aku serius dengan perasaanku, Sha."
Shasha terdiam, terpaku mendengar pernyataan cinta dari Kaisar. Sungguh dia pun bahagia karena ternyata mereka punya perasaan yang sama, tapi dia tidak bisa melangkah maju tanpa meminta restu dahulu dari sang mama.
"Dengarkan lagu ini, Sha," kata Kaisar sebelum memutar lagu lagi.
...Menantimu hingga saat...
...Cintaku temukan dirimu...
...Usai sudah sampai di sini...
...Berdiri melabuhkan asmara...
...Menikah denganku...
...Menempatkan cinta...
...Melintasi perjalanan usia...
...Menetapkan jiwa...
...Bertahtakan kesetiaan cinta...
...Selamanya...
.........
...(Menikahimu - Kahitna)...
"Aku bukan pria romantis, Sha. Aku ya begini adanya. Pria yang tidak pernah bisa menjanjikan setiap saat selalu ada karena sebagai abdi negara aku harus selalu siap kalau ada panggilan tugas negara."
"Menjadi istriku juga tidak mudah, Sha. Harus siap aku tinggal setiap saat. Entah ditinggal tugas atau meninggal saat bertugas. Aku yakin kamu juga tahu hal itu. Aku serius sama kamu, tapi aku juga tidak akan memaksakan kehendakku, Sha."
"Tolong pikirkan baik-baik apa yang aku katakan tadi. Beri aku jawaban saat kamu sudah siap lahir batin. Aku akan menunggu sampai saat itu tiba," kata Kaisar seraya tersenyum manis.
"Ini lagu terakhirku buat kamu, Sha." Kaisar kembali memutar lagu pilihannya.
...Dengarkanlah wanita pujaanku...
...Malam ini akan kusampaikan...
...Hasrat suci kepadamu dewiku...
...Dengarkanlah kesungguhan ini...
...Aku ingin, mempersuntingmu...
...Tuk yang pertama dan terakhir...
...Jangan kau tolak dan buatku hancur...
...Ku tak akan mengulang tuk meminta...
...Satu keyakinan hatiku ini...
...Akulah yang terbaik untukmu...
.........
...(Janji Suci - Yovie & Nuno)...
Shasha tertawa kecil saat mendengarkan lagu terakhir. "Ini ceritanya aku enggak boleh nolak, Mas."
Kaisar mengedikkan bahu sambil tersenyum. "Kalau ditolak ya sudah, say goodbye."
"Gitu ya, enggak bisa terus berteman?" Shasha mengerutkan kening.
"Bisa sih, tapi ya mungkin tidak bisa seperti semula. Kalau terus dekat nanti takut enggak bisa move on," seloroh Kaisar.
__ADS_1
Shasha tertawa. "Masa pak polisi ganteng gini enggak banyak yang naksir. Tinggal tunjuk saja kan bisa langsung dapat pacar."
"Bisa saja kamu, Sha. Aku dari dahulu enggak ingin punya pacar, inginnya langsung istri. Jadi enggak bisa asal tunjuk, harus dari hati." Kaisar meletakkan tangan Shasha yang dia pegang ke dada kirinya. "Kamu bisa rasakan kan detak jantungku."
Shasha menyengguk. Dia lalu menarik tangannya karena merasa tidak nyaman. Rasanya belum pantas dia menyentuh bagian tubuh Kaisar apalagi dadanya.
"Apa aku boleh tahu kedekatanmu sama seniormu?" tanya Kaisar kemudian.
"Mas Juna maksudnya?" tanya Shasha memastikan.
Kaisar menganggut.
"Kedekatan kami ya sebagai teman akrab. Aku sudah menganggap dia sebagai kakak karena aku tidak punya kakak. Dia sering membantu dan memperhatikan aku dahulu saat di kampus," terang Shasha.
"Apa kamu nyaman sama dia?" Kaisar memandang Shasha dengan tatapan menyelidik.
"Kalau enggak nyaman, enggak mungkin kami berteman akrab. Aku sudah terlalu nyaman dengan hubungan kami as brother and sister," jawab Shasha.
"Not more than that?"
Shasha menggeleng.
"Alhamdulillah." Kaisar menghela napas lega.
"Kenapa, Mas?" Shasha mengernyit.
"Sainganku berkurang satu," jawab Kaisar.
"Kaya lomba aja Mas pakai saingan."
"Memang lomba kan. Lomba memenangkan hatimu eaaaa," kata Kaisar sambil terkekeh.
Shasha tertawa. "Aku kok geli ya dengar Mas Kai menggombal gitu."
"Enggak pantas kan. Soalnya aku memang tidak suka menggombal, Sha."
Shasha mencibir. "Tadi barusan itu apa?"
"Cuma sama kamu, Sha. Enggak pernah sama yang lain." Kaisar membentuk huruf V dengan tangan kanannya.
"Sama Dita juga tidak pernah?"
"Mana pernah. Dita itu super cueknya. Ngomong cuma sekedarnya saja kalau ketemu."
"Iya--iya, aku percaya," kata Shasha dengan senyum puas karena berhasil menggoda Kaisar.
"Eh, sudah jam 05.00 sore, Sha. Sudah waktunya Cinderella pulang ke rumah." Kaisar menyimpan kembali earphone ke sakunya.
"Eh iya, enggak terasa." Shasha mengecek jam di pergelangan tangannya.
"Yuk, pulang." Kaisar mengulurkan tangan kanannya yang disambut oleh Shasha. Mereka kemudian bergenggaman tangan.
"Mas Kai," panggil Shasha saat mereka berjalan menuju ke tempat parkir motor.
"Ya, Sha."
"Kalau Mas Kai memang serius sama aku, Mas ngomong sama mama dan Rendra. Aku tidak bisa menjawab tanpa mendapat restu dari mereka," kata Shasha.
"Rendra pernah bilang kalau dia tidak akan setuju aku punya pacar. Kalau mama lebih moderat daripada Rendra."
"Aku kan tadi sudah bilang kalau aku tidak cari pacar, tapi cari istri. Buat apa pacaran kalau memang sudah cocok lahir batin, hanya buang-buang waktu dan menambah dosa saja," kata Kaisar.
"Iya, kita sama, Mas. Aku sendiri sebenarnya tidak pernah berniat nikah di bawah usia 30 tahun. Aku ingin mengejar karir dan membahagiakan mama. Namun terkadang kenyataan tak sejalan dengan keinginan. Kontrakku tidak boleh menikah selesai bulan ini. Mama berulang kali bilang, ingin aku menikah agar beliau lebih tenang." Shasha menghela napas panjang.
"Mungkin Tante Dewi tidak ingin kamu jadi bahan gunjingan orang, Sha. Rendra sebentar lagi punya anak, sementara kamu, kakaknya belum punya pasangan. Tante Dewi enggak ingin kamu dianggap enggak laku."
"Emangnya barang dagangan kok enggak laku. Aku sebenarnya enggak pernah peduli omongan orang, Mas. Mungkin mama kasihan melihat aku jadi bahan gunjingan orang. Atau mungkin mama juga ingin meringankan beban Rendra."
"Yang jelas Tante Dewi ingin melihat anak-anaknya bahagia, Sha."
"Iya, Mas."
Kaisar melepas genggaman tangannya karena mereka sudah di dekat motornya yang terparkir. Dia menyerahkan helm pada Shasha sebelum dia memakai helmnya sendiri dan naik ke atas motor.
"Assalamualaikum, Tante. Maaf baru mengantar Shasha pulang. Tadi saya mengajak Shasha jalan-jalan dahulu biar pikiran kami lebih fresh," kata Kaisar pada Ibu Dewi saat mengantar Shasha pulang.
"Wa'alaikumussalam, tidak apa-apa, Mas Kai. Shasha juga sudah lama tidak pergi keluar. Terima kasih ya sudah mengantarkan putri tante dengan selamat," ujar Ibu Dewi, yang saat Kaisar dan Shasha tiba, sedang merawat tanamannya di teras dan halaman.
"Iya, sama-sama, Tante."
"Mas Kai, sekalian makan malam di sini ya. Tante tadi masak banyak, sayang kalau sisa," kata Ibu Dewi.
"Wah malah jadi merepotkan, Tante. Mungkin lain kali saja," tolak Kaisar.
"Tante tidak menerima penolakan. Tante marah ini kalau Mas Kai tidak mau," ancam Ibu Dewi.
"Daripada saya tidak boleh ke sini lagi, saya terima tawaran Tante makan malam," kata Kaisar.
"Nah gitu. Kalau mau membersihkan diri dulu, di dalam ya Mas."
"Aduh jadi makin merepotkan, Tante."
"Tidak ada yang direpotkan. Rend, ini Mas Kai diantar ke kamar tamu biar istirahat sebentar dan membersihkan diri," titah Ibu Dewi pada Rendra yang sedang di ruang tengah menonton TV dengan Dita.
"Yuk, Mas Kai." Rendra yang mendapat titah dari sang mama langsung beranjak menghampiri Kaisar dan mengantarnya ke kamar tamu.
...---oOo---...
Jogja, 110921 01.15
Semoga part Kaisar dan Shasha bisa memuaskan ya ✌️✌️✌️
Jumat pagi kemarin saya mendapat suntik vaksin Sinovac yang pertama. Alhamdulillah, tidak ada efek seperti pusing, demam dll, hanya merasa mengantuk dan tangan kiri bekas suntikan terasa pegal. Ada yang sudah vaksin juga?
__ADS_1