
"Kamu tunggu saja hukumanmu, Sekar," ucap Kaisar sebelum meninggalkan ruang interogasi. Lebih baik dia pergi daripada terus merasa kesal dan emosinya terpancing. Meski tidak di ruangan yang sama, tapi Kaisar tetap memantau proses interogasi dari balik kaca.
Sekar Ayu terus saja berbelit-belit menjawab pertanyaan petugas. Sangat susah membuatnya mengaku kalau dia berniat membunuh Adelia. Wanita itu cukup pintar memutar dan memilih kata yang diucapkan.
Kaisar mendesah panjang. Kalau saja Adelia sudah mau memberi keterangan pasti pekerjaannya akan lebih mudah. Namun, dia sadar kalau tidak bisa memaksa istri Adi itu untuk bicara. Kejadian penusukan tersebut pasti berefek pada kondisi mental sang ibu hamil.
Gawai Kaisar bergetar sekali, tanda ada pesan yang masuk.
'Mas, aku nanti mau jenguk Adelia. Bisa ketemu sebentar tidak? Kami bertiga kangen.'
Kaisar tersenyum membaca pesan dari Shasha. Dia segera menelepon istrinya itu.
"Jam berapa mau jenguk Adelia?" tanyanya begitu sang istri menjawab panggilannya.
"Habis Magrib, Mas. Bareng sama Mama, Rendra, Dita, Ale, Nisa. Mas Kai, bisa kan ke sana?"
"InsyaAllah akan aku usahakan. Nanti kabari aja kalau sudah berangkat."
"Iya, Mas."
"Gimana? Mereka enggak rewel 'kan? Enggak minta yang aneh-aneh?"
"Alhamdulillah, enggak. Cuma kangen aja mau dielus papanya."
"Iya, nanti kita ketemu. Maaf ya, aku belum bisa pulang."
"Iya, kami ngerti kok. Mas, mau dibawain baju ganti? Sekalian baju yang kotor nanti dibawa biar aku cuci."
"Iya, bawain aja."
"Ya udah, Mas. Aku mau nyiapin baju ganti dulu buat Mas Kai."
"Oke. Hati-hati dan jaga diri ya selama aku enggak ada. Miss you so much."
"Siap. We miss you too, Papa."
Kaisar kembali bersemangat setelah menelepon istrinya. Ternyata menikah senikmat itu. Mendengar suara istri saja bisa membangkitkan semangat. Apalagi kalau mereka bertemu, pasti semangatnya akan bertambah berlipat-lipat untuk menuntaskan kasus ini. Kaisar menyimpan gawainya lalu kembali fokus memantau interogasi Sekar Ayu.
Sekitar pukul 04.00 sore, Kaisar datang ke rumah sakit dengan dua anggotanya. Rencananya mereka akan meminta keterangan dari Adi dan juga Adelia.
"Semoga cepat sehat dan pulih ya, Del." Doa tulus Kaisar pada Adelia saat melihat kondisi calon ibu itu.
"Aamiin. Makasih doanya, Mas Kai. Maaf ya Mas, aku masih belum siap memberi keterangan. Mungkin satu atau dua hari lagi. Biar aku siapkan mentalku dulu," ucap Adelia.
"Iya, enggak apa-apa. Senyamannya kamu saja. Jangan dipaksakan," balas Kaisar. "Ngomong-ngomong, aku boleh pinjam Adi, 'kan?"
Adelia tersenyum. "Boleh, tapi jangan lupa dikembalikan ya, Mas," selorohnya.
__ADS_1
"Siap. Aku rugi kalau enggak dikembalikan. Soalnya dia makannya banyak," canda Kaisar, membuat semua orang yang mendengar tersenyum atau tertawa kecil.
Kaisar, Adi dan dua polisi tadi keluar dari ruangan itu. Mereka mencari tempat yang lebih nyaman dan bebas untuk bicara. Akhirnya mereka pergi ke coffee shop yang ada di rumah sakit tersebut.
"Aku tadi sudah interogasi Sekar, tapi dia jawabnya berbelit-belit, Di." Kaisar membuka pembicaraan setelah mereka duduk dan memesan beberapa menu.
"Tapi tetap bisa menjerat dia kan?" Adi menatap sahabatnya.
"Bisa, cuma mungkin hukumannya tidak maksimal. Dia tidak mau ngaku kalau punya niat membunuh Adel. Sekar juga tidak menjabarkan apa yang dia bicarakan sama istrimu."
Adi menghela napas panjang usai mendengar perkataan sang perwira polisi. "Jadi, saksi kunci di Adel ya."
Kaisar menganggut. "Iya, Di. Ternyata cinta memang benar-benar bisa membuat orang buta dan enggak bisa berpikir logis. Masa Sekar bilang cuma dia yang pantas jadi istrimu. Sinting itu orang."
"Serius dia bilang begitu?" tanya Adi tidak percaya.
"Buat apa aku bohong, Di."
"Ga waras emang Sekar. Untung saja dulu lamaranku ditolak. Seram juga kalau punya istri kaya dia." Adi bergidik. "Eh, tapi dia enggak kena penyakit kelainan jiwa yang bisa membebaskan dia dari hukuman kan?"
Kaisar menggeleng. "Dia masih waras, Di. Sekar melakukan penusukan dengan sadar. Dan selama ini tidak ada indikasi dia gila. Gilanya dia ya gila karena cinta bukan gila yang tidak waras dan hilang akal. Seorang psikopat saja tetap dihukum kalau berbuat kejahatan. Kamu jangan khawatir."
"Alhamdulillah kalau begitu. Aku takut dia nanti pura-pura gila."
"Tenang saja. Sekar sangat waras, hanya cintanya sama kamu itu buta. Nyatanya dia bisa berkelit, memainkan kata selama interogasi. Kalau orang gila tidak akan seperti itu," terang Kaisar.
Kaisar tersenyum simpul. Dia lalu memerintahkan anggotanya agar mulai meminta keterangan Adi sebagai saksi yang pertama kali menemukan istrinya bersimbah darah. Suami Adelia itu dengan lancar menjawab semua pertanyaan dari penyidik. Meski tidak tahu bagaimana peristiwa itu terjadi, tapi dia yang mendengar dari istrinya kalau Sekarlah pelaku penusukannya.
Tepat menjelang azan Magrib, proses penyidikan itu selesai. Kedua anggota Kaisar pamit untuk kembali ke kantor sedangkan perwira polisi itu tetap berada di rumah sakit. Dia lalu pergi ke masjid dengan Adi untuk menjalankan salat Magrib.
Dua hari kemudian, kondisi Adelia sudah lebih baik dan dokter mengizinkan dia pulang. Tentu saja calon ibu itu merasa bahagia bisa pulang ke rumah. Semewah apa pun kondisi kamar di rumah sakit, tetaplah lebih nyaman di rumah walau lebih sederhana.
Begitu tiba di rumah, Adelia merasa lebih tenang. Dia bilang pada suaminya kalau dirinya siap untuk memberikan keterangan. Namun, ibu hamil itu meminta penyidik datang ke rumah karena dia mau dalam suasana yang nyaman. Kebetulan semua keluarga juga sedang berkumpul jadi dia merasa aman dan terlindungi.
Adi langsung menelepon Kaisar memberitahukan soal itu. Sang perwira kemudian mengajak dua penyidik polwan yang akan meminta keterangan Adelia. Bagaimanapun kenyamanan sang istri sahabat tetap jadi prioritas utamanya.
Sekitar 30 menit kemudian, Kaisar datang dengan anggotanya. Setelah berbasa-basi sebentar, kedua polwan meminta keterangan pada Adelia yang ditemani Adi. Bumil itu meminta agar penyidik jangan menyebutkan nama Sekar di depannya karena merasa tidak nyaman mendengar namanya. Selama proses tersebut, dia terus menggenggam tangan sang suami.
"Apa Bu Adelia ingat apa yang diucapkan tersangka sebelum dan saat kejadian penusukan?" tanya polwan yang bernama Nita.
Adelia menoleh pada suaminya dan mempererat genggaman tangannya. Adi tersenyum lalu mengangguk. "Pelan-pelan saja, Ai."
"Saya tidak ingat persis kata-katanya," ucap Adelia dengan terbata-bata.
"Tidak apa-apa, seingatnya Ibu saja."
Adelia menyengguk. "Intinya dia bilang saya tidak pantas jadi istri dan ibu dari anak-anaknya Mas Adi." Dia berhenti sejenak, menghela napas panjang. "Katanya cuma dia yang pantas."
__ADS_1
Adi mengelus tangan istrinya yang digenggam. "Itu tidak benar, Ai. Cuma Ai, yang pantas jadi istri dan yang melahirkan anak-anakku."
Adelia tersenyum. "Iya, Mas."
"Maaf, Pak, Bu, bisa kita lanjutkan?" sela sang polwan.
"Silakan dilanjutkan," sahut Adelia sembari tersipu malu.
"Apa ada kata-kata ancaman yang tersangka katakan?"
Adelia menganggut lalu kembali mempererat genggamannya pada sang suami. Tangannya juga jadi berkeringat.
"Tenang, Ai. Rileks. Mau istirahat atau minum dulu?" Adi menenangkan istrinya.
Adelia menggeleng. Dia menarik napas panjang lalu mengembuskan pelan agar perasaannya lebih tenang. Setelah itu, mulai bicara lagi.
"Katanya dia harus melenyapkan saya dan anak yang ada di kandungan ini." Satu tangan Adelia mengelus perutnya. "Kami harus mati agar Mas Adi jadi miliknya."
"Astaghfirullah," ucap semua yang mendengar ucapan Adelia.
Rahang Adi mengeras. Satu tangan yang tidak menggenggam istrinya mengepal. Wajahnya juga memerah. "Berani sekali dia bicara seperti itu," ucap Adi dengan napas memburu.
"Istighfar, Mas." Ibu Hasna mengingatkan putra sulungnya.
"Astaghfirullah." Adi mengucap istighfar berkali-kali.
Sesudah Adi kembali tenang, penyidik melanjutkan pertanyaannya. Karena Adelia adalah saksi kunci, dia harus menjawab banyak pertanyaan hingga mereka harus berhenti beberapa kali agar ibu hamil itu tidak merasa kecapain dan tertekan.
Proses meminta keterangan itu berlangsung sampai pukul 09.00 malam karena memang banyak istirahatnya. Termasuk jeda salat dan makan. Kedua polwan pamit pulang sedangkan Kaisar akan pulang ke rumah Ibu Dewi sebab istrinya sementara ini tinggal di sana. Akhirnya dia bisa tidur di rumah walau cuma sehari setelah beberapa hari tidur di kantor.
Adelia langsung beristirahat. Hari ini fisik dan mentalnya pasti merasa sangat lelah. Namun, dia sudah lega karena tidak ada beban lagi. Kini dirinya harus fokus pada pemulihan dan kehamilan, serta mempersiapkan mental untuk menghadapi persidangan nanti.
"Ai, mau dipijit kakinya atau apa yang pegal?" tanya Adi setelah istrinya berbaring.
"Enggak usah, Mas. Peluk aku aja. Aku mau tidur," jawab Adelia.
"Oke, Umi." Adi merebahkan diri di samping sang istri. Dia lalu berbaring miring dan memeluk Adelia.
"Aku bangga sama Ai hari ini karena sudah berani memberi keterangan. Tidak perlu diambil pusing semua omongan wanita gila itu. Percayalah wanita yang aku cintai cuma, Ai. Wanita yang akan jadi umi buat anak-anakku cuma, Ai. Wanita yang sangat pantas mendampingi juga cuma, Ai. Tidak ada wanita lain."
"Iya, Mas," sahut Adelia dengan mata terpejam. Raganya sudah amat lelah jadi dia hanya ingin tidur.
...---oOo---...
Jogja, 270322 23.55
Beberapa hari terakhir ini ada peristiwa yang sangat tidak menyenangkan terjadi. Karena itu saya ingin berpesan pada teman-teman untuk selalu jujur dan menghargai keluarga. Bagaimanapun keluarga adalah segalanya. Jangan sampai melakukan kebohongan fatal yang akhirnya berdampak pada keutuhan keluarga. Sebab sekali orang berbohong pasti dia akan menutupinya dengan kebohongan yang lainnya. Dan sekali ketahuan berbohong, hilang sudah kepercayaan orang pada kita.
__ADS_1
Jangan lupa tetap jaga kesehatan.