Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Melakukan Pemeriksaan


__ADS_3

"Aβ€”ku," belum sempat Adelia menyelesaikan ucapannya ada seorang ibu-ibu yang menyela mereka.


"Toilet bukan untuk pacaran, Mas, Mbak. Buruan keluar, saya mau pakai," tukas seorang wanita paruh baya yang berdiri di depan toilet.


"Iya, Bu. Maaf." Adi membimbing istrinya keluar dari toilet.


Wanita paruh baya tadi menatap mereka dengan pandangan sinis. "Kelihatannya saja alim tapi kok berdua-duaan di dalam toilet. Pasti melakukan yang enggak-enggak," sindirnya.


Merasa tidak terima, Adi berbalik menghadap orang tersebut. "Maaf, Bu, kami ini suami istri. Saya mengantar istri untuk mengambil urine. Istri saya ini sedang lemas dan tadi sempat pingsan, karena itu saya tadi mengecek ke dalam takut dia pingsan lagi," jelasnya.


"Oh begitu," sahut wanita tadi tanpa rasa bersalah.


"Jangan suka berprasangka buruk, Bu, kalau tidak tahu yang sebenarnya," sambung Adi yang hanya mendapat cibiran dari ibu tersebut.


"Mas, sudah. Yuk balik ke IGD lagi." Adelia mengeratkan pegangannya pada sang suami. Meminta agar tidak meladeni lagi ucapan wanita bermulut pedas itu.


Adi langsung menuruti istrinya karena takut Adelia kembali lemas jika terlalu lama berdiri. Dengan sabar dia membimbing sang belahan jiwa berjalan dengan pelan. Mengikuti irama langkah Adelia yang belum bisa melangkah dengan cepat seperti biasa.


Begitu tiba di ruangan IGD tadi, Adelia langsung duduk di atas ranjang. Titik-titik keringat kecil tampak di kening yang tidak tertutup hijab.


"Capai, Ai?"


"Enggak, cuma agak lemas, Mas." Adelia mengusap peluh di kening dengan punggung tangannya.


"Kalau gitu, Ai, berbaring saja ya." Setelah Adelia mengangguk, Adi membantu istrinya berbaring.


"Gimana hasil tesnya, Mas?" tanya Rendra yang masih berdiri di sana.


"Eh, iya sampai lupa gara-gara ada ibu-ibu rese di toilet tadi." Adi menceritakan kejadian tak mengenakan itu pada sang adik ipar.


"Sudah biasa orang seperti itu, Mas. Suka mengomentari hidup orang lain padahal belum tentu hidupnya juga benar," ujar Rendra.


"Iya, Rend. Kalau enggak karena takut Adel lemas lagi, kujabanin tadi."


"Udah enggak usah diingat, Mas," tukas Adelia. "Testpack-nya tadi mana, Mas?" tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan.


"Eh, iya. Aku taruh mana ya tadi." Adi merogoh satu per satu saku di baju dan celananya. Karena terburu-buru dia sampai lupa menaruhnya di mana. Asal memasukkan saja tadi saat mau keluar dari toilet.


"Ai, kok enggak ada sih di semua sakuku," ucap Adi dengan kening berkerut.


"Masa sih, Mas, coba dicek lagi," titah Adelia.


Adi kembali menuruti sang istri, satu per satu semua isi dalam sakunya dikeluarkan, tapi testpack itu tidak ditemukan di sana.


"Coba di tasnya Adel, Mas," saran Rendra sambil menunjuk tas selempang Adelia yang Adi bawa.


"Astaghfirullah, iya, Rend. Tadi aku taruh di sini." Adi langsung mencari ke dalam tas tersebut. "Alhamdulillah ketemu," serunya sambil menunjukkan testpack yang tadi diberikan oleh istrinya di toilet.


"Ini, Rend." Adi menyerahkan testpack pada suami Dita itu.


Rendra menerimanya. Tak lama dia tersenyum lebar setelah membaca hasilnya. "Alhamdulillah, selamat, Mas, Adel, kalian akan jadi orang tua," ungkapnya.

__ADS_1


"Serius, Rend?" tanya Adi yang mendapat anggukan dari Rendra. Dia lalu beralih menatap sang istri. "Benar, Ai, hamil?"


Adelia tersenyum manis. "InsyaAllah iya, Mas."


"Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Allah." Adi langsung melakukan sujud syukur di tempat. Usai itu, dia membersihkan tangan dan keningnya dengan tisu basah. Baru kemudian mendekati Adelia. "Terima kasih, Ai," ucapnya seraya mencium tangan calon ibu dari anaknya itu.


"Aku bawa ini ke dokter dulu. Tunggu ya, Ai. Rend, titip istriku sebentar," pamitnya.


"Selamat ya, Del. Semoga kehamilanmu kali ini lancar dan sehat sampai melahirkan nanti." Rendra memberi selamat pada sang sahabat saat mereka sedang berdua.


"Aamiin. Makasih, Ren," balas Adelia sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Tak lama Adi kembali, Rendra lalu keluar dari IGD karena hanya satu orang yang boleh menunggui pasien. Dia duduk di luar IGD bersama para pengantar lainnya. Mengeluarkan notebook dari ranselnya untuk mengerjakan desain. Dia tadi memang sengaja membawa notebook agar bisa tetap bekerja sembari menunggu Adi dan Adelia.


Setelah hasil lab keluar, dokter kembali ke ranjang Adelia.


"Malam, Pak, Bu. Alhamdulillah hasil labnya sudah keluar. Selamat atas kehamilan, Ibu," ucap sang dokter.


"Alhamdulillah, terima kasih, Dok," sahut Adelia dengan wajah berseri.


"Nanti saya buatkan pengantar untuk periksa ke dokter kandungan. Saya sarankan Ibu melakukan cek darah lengkap di lab atau rumah sakit. Terserah nanti mau di mana saja. Mengantisipasi kalau Ibu terkena anemia jadi bisa ditangani lebih dini agar tidak menganggu kehamilannya," saran dokter jaga.


"Hasil lab tadi Hb-nya 11, sedikit di bawah normal yang harusnya minimal 12. Saya akan beri vitamin untuk diminum. Nanti kalau sudah periksa ke dokter kandungan dan mendapat vitamin dari sana, yang dari sini dihentikan saja. Atau bisa dikonsultasikan dengan dokternya ya, Bu," sambung dokter tersebut.


"Gejala anemia memang sering ada pada ibu hamil, jadi Ibu tidak perlu khawatir. Dengan pemeriksaan rutin dan terdeteksi dini, InsyaAllah kehamilannya tidak akan bermasalah." Sang dokter memberi semangat pada Adelia.


"Terima kasih, Dok."


"Aku panggil Rendra ya buat temani Ai di sini," ucap Adi.


"Iya, Mas."


Usai memanggil adik iparnya, Adi mengurus administrasi sang istri. Sebenarnya Rendra menawarkan diri untuk mengurus, tapi dia menolak. Karena Rendra pasti akan membayarkan tagihan rumah sakit dengan uangnya sendiri. Seperti tadi saat membeli testpack, uang Adi dikembalikan utuh di dalam tas plastik pembungkusnya.


Sesudah proses administrasi selesai dan Adelia mendapatkan vitaminnya, mereka pulang hampir tengah malam. Dita dan Ale sudah terlelap saat mereka sampai di rumah. Mereka kemudian langsung beristirahat.


Keesokan harinya, Adelia diantar ke salah satu laboratorium yang terletak di Kotabaru oleh Adiβ€”yang hari itu izin tidak kerja untuk menemani istrinya cek darah dan periksa kandungan. Selain cek darah lengkap, Adelia juga sekalian mengecek gula darah, kolesterol, dan lainnya, mengantisipasi kalau diminta cek lagi biar tidak bolak-balik. Meski harus puasa dahulu, kondisi istri Adi itu lebih baik dari kemarin malam. Masih agak lemas tapi sudah tidak merasa pusing.


Setelah menjalani serangkaian pengambilan darah, mereka pulang ke rumah. Hasil lab nanti akan dikirim lewat surel dan pesan WhatsApp. Kemajuan teknologi membuat mereka tidak perlu datang ke lab lagi untuk mengambil hasilnya. Semua serba online dan paperless, mengurangi penggunaan kertas.


Sore harinya mereka berdua mengunjungi dokter Lita dengan membawa pengantar dari IGD dan juga hasil lab.


"Selamat, Bu, atas kehamilannya kembali. Alhamdulillah Allah memberi amanah lagi dengan cepat," ujar dokter Lita dengan senyum ramahnya usai membaca pengantar dari IGD.


"Terima kasih, Dok."


"Kita USG pakai transvaginal ya, Bu, biar lebih jelas. Apalagi Bu Adelia ada riwayat KET. Jadi, kalau ada masalah bisa cepat tertangani."


"Saya terserah saja, Dok, mana yang terbaik untuk istri dan anak saya," sahut Adi.


"Apa, Bu Adelia, tadi sudah buang air kecil sebelum masuk?" tanya dokter Lita.

__ADS_1


Adelia mengangguk. "Sudah, Dok."


"Baik, kalau begitu kita bisa langsung melakukan USG."


"Maaf, Bu Adelia, bisa dilepas dulu leging dan pakaian dalamnya," ujar perawat yang mendampingi dokter Lita.


Adelia melakukan apa yang diminta oleh perawat tersebut. Setelah itu dia duduk di kursi periksa. Kedua kakinya diangkat, menumpu pada penyangga. Sesudah memastikan posisinya pas, dokter Lita mulai memasukan tongkat USG ke dalam organ intim Adelia.


"Alhamdulillah, kondisinya bagus semua," ucap dokter Lita usai melakukan USG dan mencetak hasilnya. Dia kembali ke kursinya sambil menulis catatan di lembar pemeriksaan Adelia.


"Oya, Dok, ini hasil lab istri saya tadi pagi." Adi menyerahkan gawainya pada dokter Lita. "Kemarin dokter jaga menyarankan Adelia untuk cek darah lengkap karena Hb-nya di bawah normal."


Dokter Lita menerima gawai lalu melihat hasilnya. "Bisa minta tolong dikirim via email, Pak. Agar lebih jelas dan bisa untuk dokumentasi di sini," pintanya sambil memberi alamat surelnya.


"Baik, Dok."


Setelah memakai kembali pakaiannya, Adelia bergabung dengan suaminya dan sang dokter kandungan. "Dok, kemarin saya diberi vitamin ini dari rumah sakit." Dia mengeluarkan vitamin dari dalam tasnya.


"Oh, ini suplemen penambah zat besi. Terus dikonsumsi saja tidak apa-apa, Bu. Nanti saya tambah vitamin lainnya. Ada keluhan selain lemas, pusing, dan pingsan tidak, Bu?"


"Sejauh ini tidak ada, Dok."


"Dari hasil lab memang menunjukkan ada gejala anemia pada Bu Adelia. Namun, Ibu tidak perlu khawatir selama Ibu mau disiplin memastikan kecukupan zat besi dari makanan dan suplemen penambah darah, InsyaAllah semua akan baik-baik saja."


"Ibu juga harus melakukan cek darah rutin termasuk periksa kadar Hb-nya. Idealnya dua kali, saat pemeriksaan pertama dan saat masuk trimester ketiga. Hasil gula darah dan lainnya juga bagus. Tinggal dikontrol asupan makanan yang masuk jangan sampai terlalu banyak mengonsumsi makanan manis."


"Suplemen yang dari IGD dihabiskan saja, Bu. Nanti akan saya berikan lagi untuk penambah darah dan asam folat. Perlu saya beri obat untuk mual tidak, Bu?"


"Obat yang dulu juga masih ada, Dok. Saya rasa yang mual tidak perlu," jawab Adelia.


"Baiklah kalau begitu. Di kehamilan ini harus lebih hati-hati ya, Bu, karena pernah mengalami KET ditambah dengan gejala anemia. Kalau ada sesuatu yang lain, langsung periksa saja. Tidak harus menunggu jadwal kontrol selanjutnya," pesan dokter Lita.


"Iya, Dok."


"Bapak dan Ibu nanti bisa mencari makanan apa saja yang banyak mengandung zat besi. Karena Bu Adelia harus mengonsumsi banyak makanan dengan kandungan zat besi tinggi. Terus saya juga pesan dengan Bu Adelia, jangan pernah menyembunyikan keadaan Ibu terutama pada keluarga. Maksud saya begini, misal Ibu merasa lemas, tapi ditahan dan tidak bilang pada anggota keluarganya. Lalu ibu tiba-tiba pingsan sementara di rumah tidak ada orang, itu akan lebih berbahaya, Bu."


"Kalau merasa lemas atau pusing bilang saja. Paling tidak ada orang yang mengontrol kondisi Ibu sementara Ibu juga bisa beristirahat sampai merasa sehat kembali. Jangan memaksakan diri melakukan pekerjaan yang sekiranya berat. Sekarang, Ibu, tidak boleh egois hanya memikirkan diri sendiri. Ada calon anak ibu yang juga harus Ibu pikirkan kebutuhan dan kesehatannya," nasihat panjang dokter Lita.


"Iya, Dok. Saya memang pernah menyembunyikan keadaan saya pada suami karena tidak mau dia khawatir." Adelia membuat pengakuan.


"Saya tahu, Bu Adelia, punya niat baik. Namun, saya yakin Bapak akan merasa lebih sakit saat tahu ternyata Ibu tidak jujur."


"Iya, Dok. Saya tahu saya salah. Saya tidak akan mengulanginya lagi," janji Adelia.


Dokter Lita tersenyum lebar. "Kita ambil hikmahnya dari peristiwa kemarin ya, Bu," tuturnya bijak.


"Sekarang apa pun yang Ibu rasakan harus bilang sama Bapak atau anggota keluarga yang lain. Ini demi Ibu dan janin yang sedang tumbuh di dalam kandungan."


Adelia mengangguk. "Iya, Dok."


...---oOo---...

__ADS_1


Jogja, 210222 01.05


__ADS_2