
"Lho, Mas Adi kok sudah di sini?" Rendra kaget saat mengeluarkan motor sport-nya dari garasi karena Adi dan Adelia sudah ada di depan garasinya.
"Nunggu kalian kelamaan soalnya." Adi beralasan. Dia sudah duduk manis di atas motor matic-nya dengan Adelia.
"Ckck .... Enggak sabaran banget sih, Mas." Dita berdecak sambil melirik kakaknya. "Waktu buka juga masih lama, Mas."
"Kan mengantisipasi kalau macet, Dek." Adi meringis pada adik semata wayangnya itu.
"Alasan," cibir Dita. "Bilang aja mau segera dipeluk Mbak Adel dari belakang." Dita meledek Adi seraya menjulurkan lidah.
"Sayang," tegur Rendra sambil menggelengkan kepala, mencegah istrinya kembali menggoda Adi.
Adi terkekeh melihat adiknya yang langsung diam begitu dipanggil Rendra.
"Ini kunci dan STNK-nya, Mas." Rendra menyerahkannya pada Adi. Mereka saling bertukar kunci motor dan surat kendaraan.
Adi menghampiri motor sport Rendra.
"Bisa kan naiknya, Ai?" tanya Adi pada istrinya.
Adelia mengangguk. "Insya Allah bisa, Mas."
Sore ini Adelia memakai celana jin dengan atasan abaya yang panjangnya selutut agar memudahkannya untuk naik ke atas motor. Tadi Adi mengizinkan dia memakai celana jin tetapi harus memakai baju yang panjang.
Setelah Adi siap di atas motor, Adelia memegang bahu suaminya. Dia menginjak footstep belakang lalu naik ke atas motor. Kemudian dia mencari posisi duduk yang nyaman. Baru kali ini dia membonceng motor sport jadi perlu menyesuaikan diri.
Sementara itu, seperti biasa Rendra memakaikan istrinya helm. Setelah itu mereka berdua naik ke atas motor matic. Tanpa disuruh, Dita langsung melingkarkan tangan di pinggang suaminya.
"Kita mau pergi ke mana, Mas?" tanya Dita sambil menempelkan dagu di bahu Rendra.
"Aku juga belum tahu, Sayang. Aku tanya Mas Adi dulu," jawab Rendra sambil mengelus tangan Dita di pinggangnya.
"Kita mau jalan ke mana, Mas?" tanya Rendra setelah melihat Adelia sudah naik ke atas motor.
"Enaknya ke mana, Rend? Aku kan enggak pernah ngabuburit." Adi malah balik bertanya.
"Ke mana, Del?" tanya Rendra pada Adelia.
Adelia mengangkat bahunya. Tidak mungkin dia menyebutkan tempat yang dulu sering dia datangi dengan Restu. Dia ingin membuat kenangan baru dengan suaminya dan mengubur dalam-dalam kenangannya dengan mantan tunangannya itu.
"Sayang, punya usul enggak?" tanya Rendra pada istrinya.
"Mas, tanya sama orang yang salah. Mana pernah aku ngabuburit. Aku tahunya cuma Malioboro sama Alkid (Alun-alun Kidul/Selatan) saja," jawab Dita.
"Mau ke Malioboro atau Masjid Gede Kauman, Mas?" tanya Rendra akhirnya.
"Kalau di Malioboro kita hanya nongkrong saja, Mas. Kalau di Masjid Gede Kauman bisa sambil dengarkan pengajian. Nanti untuk bukanya kita bisa beli dulu di Kampung Ramadan Kauman. Ada yang jual makanan khas Ramadan di sana," terang Rendra.
"Atau mau ke Lembah UGM? Kita bisa salat di Masjid Kampus nanti." Rendra kembali menawarkan alternatif lainnya.
"Ai, maunya ke mana?" tanya Adi pada istrinya.
"Aku ikut Mas Adi saja," jawab Adelia yang sama sekali tak terpikir mau ke mana.
"Kalau begitu ke Masjid Gede Kauman saja. Sudah lama banget aku enggak ke sana. Ai, mau kan?" tanya Adi lagi.
"Tapi aku masih belum bersih, Mas. Apa enggak apa-apa?"
"Enggak masalah. Ai, nanti duduk di serambi saja, kan luas banget di sana. Lagian sudah mau selesai kan haidnya?"
"Iya, Mas," sahut Adelia malu-malu.
"Kita ke Masjid Gede Kauman, Rend. Tapi ke Kampung Ramadannya dulu ya," kata Adi.
__ADS_1
"Oke, Mas."
"Kalian duluan aja jalannya, aku ikuti dari belakang," titah Adi.
"Siap, Mas." Rendra mengacungkan jempolnya.
"Sayang, sudah berdoa?" tanya Rendra pada istrinya.
"Belum, Mas," jawab Dita.
"Kalau begitu, kita berdoa dulu. Setelah itu kita berangkat." Mereka kemudian berdoa bersama.
Rendra melajukan motor terlebih dahulu, disusul kemudian oleh Adi.
"Ai, tuh lihat pegangan kaya Dita. Dekat, nempel ke badan Rendra itu. Pasti Ai lebih nyaman boncengnya," ujar Adi.
"Aku malu, Mas. Enggak biasa kaya gitu." Adelia mengungkapkan alasannya.
"Mulai sekarang dibiasakan ya, Ai. Aku ini suamimu loh, bukan orang lain. Halal buat kita saling menyentuh," kata Adi.
"Iya, Mas." Perlahan-lahan Adelia melingkarkan tangan di pinggang suaminya. Dia lalu mendekatkan tubuhnya pada Adi. Membuat tubuh mereka saling menempel.
"Pantas Rendra suka naik motor ini. Ternyata begini rasanya memboncengkan wanita di belakang." Adi tersenyum sendiri dengan pemikirannya.
"Nah, gitu, Ai." Adi semakin melebarkan senyumnya.
Sementara itu di depan Rendra dan Dita terus saja bicara selama perjalanan.
"Mas, memang pernah ya ke kampung ramadan ini?" tanya Dita penasaran.
"Pernah dulu diajak mama. Aku kan sering diajak mama ke mana-mana berdua. Katanya lebih tenang kalau pergi sama aku," jawab Rendra.
"Sekarang jadi enggak pernah diajak lagi ya sejak kita menikah?" Dita merasa tak enak hati.
"Siapa bilang? Aku juga masih sering kan anterin mama, meski tidak sesering dulu. Jangan merasa bersalah, Sayang." Rendra memegang tangan Dita yang melingkar di pinggang dengan tangan kirinya.
"Kalau Sayang bisa bawa motor atau mobil sendiri pasti mama juga akan ngajak kamu. Mau ya belajar pakai motor sama mobil?"
Dita menggelengkan kepala. "Belum berani, Mas. Masih belum butuh juga. Mungkin nanti kalau kita sudah punya anak biar bisa antar jemput ke sekolah."
"Justru belajarnya dari sekarang, Sayang. Nanti aku belikan motor matic kaya gini apa mobil kalau kamu mau belajar."
"Enggak ah. Jangan memaksa, Mas. Aku enggak mau. Dulu Mas Adi juga pernah nawarin kaya gitu tapi aku enggak mau. Kalau Mas merasa repot harus antar jemput aku, biar aku naik ojol aja," sewot Dita. Dia langsung menarik tangannya dari pinggang Rendra.
Rendra menghela napas panjang. "Duh, salah omong aku." Dia menghentikan motor lalu turun.
Dita terkesiap karena tiba-tiba motor berhenti dan suaminya turun dari motor. "Apa Mas Rendra marah karena omonganku tadi?"
"Kenapa berhenti, Rend? Motornya bermasalah?" tanya Adi yang terlihat cemas dan ikut berhenti di belakang mereka.
Rendra menggeleng. "Motornya aman, Mas. Istriku yang enggak aman. Mas, duluan aja nanti aku susul."
"Oke." Adi mengacungkan jempol.
"Dek, jangan ambekan napa sih?" tegur Adi pada adiknya sebelum melajukan motor kembali.
"Kenapa sih Mas mesti berhenti?" tanya Dita yang masih saja sewot.
"Sayang, jangan marah. Rugi kan puasanya kalau enggak dapat pahala karena marah." Rendra mengelus pipi istrinya yang masih duduk di atas motor.
"Aku minta maaf kalau omonganku tadi menyinggung perasaan, Sayang. Aku enggak maksa, aku hanya menyarankan. Kalau Sayang enggak mau juga enggak apa-apa. Aku sama sekali enggak pernah merasa repot, keberatan atau terpaksa mengantar dan menjemput Sayang ke mana saja. Jangan omong kaya gitu lagi, aku enggak suka." Rendra menangkup wajah istrinya agar mereka saling bertatapan.
"Jangan salah paham sama omonganku tadi, ya. Sekali lagi aku minta maaf. Mau kan memaafkan suamimu?" Rendra tersenyum lebar.
__ADS_1
Dita mengangguk. "Iya, Mas. Aku juga minta maaf. Enggak tahu kenapa aku jadi sensitif kaya gini."
"Iya, kita saling memaafkan. Tersenyum dong sekarang. Sudah enggak ambek lagi kan?"
Dita menggeleng seraya menyunggingkan senyum manis pada suaminya.
"Thank you, My love. I love you." Rendra mengecup kening Dita sekilas lalu memeluknya.
"Mas, lepas. Ini di tempat umum." Dita memberontak dari pelukan pria yang selalu bersikap romantis itu.
Rendra tertawa kecil. Dia lalu mengurai pelukannya. "Kita jalan lagi ya sekarang."
Dita mengangguk. "Iya, Mas."
Rendra kembali naik ke atas motor. Dia melajukan lagi kendaraan menyusul Adi yang menunggu mereka di depan.
"Rendra sama Dita kenapa, Mas?" tanya Adelia saat mereka menunggu Rendra dan Dita bicara.
"Biasa, Dita kan ambekan orangnya. Paling salah paham sedikit. Sebentar lagi pasti juga sudah baikan lagi," jawab Adi.
"Memang sering ya, Mas?" Adelia mengernyit karena penasaran.
"Dibilang sering banget ya enggak. Lumayan lah. Aku sih maklum karena Dita juga masih muda banget, ego dan emosinya masih tinggi. Untungnya Rendra bisa bersikap dewasa, tidak ikut emosi kalau Dita mulai ambek." Adi menghela napasnya.
"Tapi sejak menikah sama Rendra, adikku itu bisa lebih dewasa. Meski kalau sama bunda tetap manjanya minta ampun. Kalau sama aku, sekarang dia lebih suka meledek enggak semanja dulu. Mungkin enggak enak juga sama Rendra dan Ai." Adi tersenyum pada Adelia.
"Iya, Mas. Aku juga maklum kok. Menikah di usia muda pasti bukan hal yang mudah. Mereka juga tidak pernah merencanakannya kan. Semuanya mengalir begitu saja. Pasti akan beda kalau memang sudah punya niat menikah muda, secara mental pasti lebih siap." Adelia menimpali suaminya.
"Kalau Ai sudah siap kan menikah muda?"
"Insya Allah sudah siap, Mas. Memang dari dulu aku ingin menikah muda. Kalau punya anak masih muda kan nanti aku belum terlalu tua meski anak sudah gede." Adelia tersenyum pada suaminya.
"Berarti sudah siap memproduksi anak, nih?" goda Adi.
"Apaan sih, Mas." Adelia memukul pelan lengan Adi.
"Berarti setelah haid itu masa subur kan, Ai. Mudah-mudahan langsung jadi ya nanti kita produksinya."
"Aamiin. Insya Allah, Mas."
"Kan, aku jadi enggak sabar buat memproduksi anak. Kapan sih Ai selesainya?"
"Semoga besok atau lusa, Mas," ucap Adelia malu-malu.
"Nanti ya pulangnya beli baju buat Ai untuk malam pertama kita?"
"Ish, buat apa, Mas."
"Biar terasa spesial. Jadi aku tahu saat masuk kamar kalau Ai sudah siap. Mau, ya?"
"Terserah, Mas Adi saja. Yang penting Mas Adi bahagia."
"Sip. Terima kasih, Ai." Adi mencium tangan tangan istrinya yang tadi melingkar di pinggangnya.
"Ayo, Mas. Jalan lagi." Rendra tiba-tiba sudah berhenti di samping mereka.
"Sudah aman, Rend?" tanya Adi memastikan.
"Alhamdulillah aman, Mas," jawab Rendra sambil tersenyum.
"Sip. Kamu yang di depan."
Rendra mulai melajukan lagi motornya diikuti Adi. Mereka langsung menuju ke Kampung Ramadan Kauman.
__ADS_1
...---oOo---...
Jogja, 290621 11.30