
"Perkenalkan, saya Adi, suaminya Adelia." Adi mengulurkan tangannya seraya memeluk erat pinggang Adelia.
Restu menyambut uluran tangan Adi sambil tersenyum sinis. Dia lalu memandang wanita yang ada di samping Adi. Dia terkesiap melihat pujaan hatinya itu yang tampak makin cantik dengan hijab dan gamisnya. Meski tidak memperlihatkan lekuk tubuh, tapi aura cantik dan anggun terpancar dari wajah wanita yang berdiri di hadapannya itu.
"Adelia," ucapnya sambil tersenyum lebar. Dia mengulurkan tangan mengajak Adelia bersalaman. Tetapi Adelia tidak menyambut uluran tangannya. Seperti pesan suaminya, Adelia menangkupkan kedua tangan di depan dada.
Restu tertawa kecil untuk menutupi rasa kecewanya.
"Silakan duduk." Restu mempersilakan Adi dan Adelia untuk duduk. Mereka kemudian duduk saling berhadapan.
"Sandiwara yang kalian mainkan ini sama sekali tidak lucu. Tidak perlu lah membuat lelucon seperti ini." Restu memandang rendah mereka dengan senyum mengejek.
"Untuk apa kami bersandiwara? Untuk memanas-manasi Anda? Terlalu percaya diri sekali, Anda." Adi menimpali dengan tenang.
Restu tertawa. "Jangan pernah berpikir saya akan percaya dengan kebohongan kalian. Jangan mengaku jadi suami kalau baru melamar."
"Anda yakin sekali kalau saya baru melamar Adelia. Apa informan Anda belum memberi tahu kalau kami sudah menikah?" Adi menaikkan sebelah alisnya.
Restu terperanjat. "Bagaimana dia bisa tahu aku punya informan?"
"Saya yakin pasti dia juga belum tahu." Adi tersenyum. Dia puas melihat ekspresi Restu yang gugup.
"Anda jangan mengada-ada ya. Informan apa maksud Anda?" Restu berpura-pura tidak mengerti maksud Adi.
"Sudahlah kalau Anda tidak mau mengakuinya. Saya juga tidak akan memperpanjang soal ini. Kita langsung ke tujuan saja karena waktu saya tidak banyak." Adi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Tujuan saya ke sini bertemu dan bicara dengan Adelia, bukan dengan Anda yang mengaku suaminya." Restu memandang Adelia lalu beralih pada Adi.
"Urusan Adelia sekarang juga menjadi urusan saya. Jadi silakan Anda bicara." Adi memandang lekat mata Restu.
"Saya tidak punya urusan dengan Anda. Silakan tinggalkan kami berdua."
Adelia memegang erat tangan Adi. Dia tidak mau ditinggal bicara berdua saja dengan Restu.
__ADS_1
Adi menoleh pada istrinya.
"Aku di sini. Aku enggak akan ninggalin kamu." Adi lalu mengecup kening istrinya.
Restu memanas melihat pemandangan di depan matanya. "Kenapa Adelia diam saja dicium pria itu? Padahal dulu dia selalu protes kalau aku menciumnya di depan umum."
"Wow, akting kalian sangat total sekali." Dia tertawa dan bertepuk tangan untuk menutupi perasaannya.
"Percuma juga kamu berhijab kalau mau dicium sembarang pria," sindir Restu sambil memandang Adelia.
"Jaga bicara Anda dengan istri saya, ya." Adi menatap tajam Restu.
"Apa salah kalau suamiku mencium aku? Kami melakukan apa pun juga sudah halal karena kami sudah menikah." Adelia yang sudah tidak tahan akhirnya angkat bicara.
"Ck ... memangnya sudah sejauh apa hubungan kalian?" tanya Restu dengan tatapan mengejek.
"Tentu saja seperti suami istri pada umumnya. Apa perlu saya menceritakan secara detail apa yang sudah kami lakukan sebagai suami istri? Saya rasa Anda juga sudah tahu dan merasakannya dengan istri Anda kan?" jawab Adi sambil menatap mata Restu.
"Kalau memang benar kalian sudah menikah, kenapa dipercepat dari rencana awal? Apa karena Adelia sudah hamil?" terka Restu.
"Kami tidak seperti Anda yang menikah karena kehamilan pasangan Anda. Kami menikah cepat karena menikah itu perkara yang baik dan harus disegerakan. Dan, saya rasa Anda tidak berhak sepenuhnya tahu alasan kami menikah karena Anda buka siapa-siapa bagi kami." Adi menjawab dengan tenang.
"Adelia tidak salah kan kalau menyerahkan dirinya sepenuhnya pada suaminya. Perlu Anda tahu, jodoh itu bukan perkara lebih lama kenal lantas menikah dengannya. Kami memang baru mengenal tetapi Allah sudah menggariskan jodoh kami begitu cepat. Apa salah? Tidak kan?" lanjut Adi.
"Karena Anda akhirnya tahu kalau kami sudah menikah. Saya harap Anda tidak mengganggu istri saya lagi. Sudah cukup mengirim semua pesan dan foto tidak bermakna itu. Silakan Anda fokus dengan istri dan juga calon anak Anda. Sekarang, Adelia sudah hidup bahagia dengan saya." Adi mencium punggung tangan istrinya sambil memandang penuh cinta pada Adelia.
Restu menggeleng. "Tidak. Tidak mungkin secepat itu Adelia menerima dan mencintai Anda."
"Kenapa tidak mungkin?" Adi mengernyit.
"Karena dulu butuh waktu berbulan-bulan untuk mendekati dia," jawab Restu dengan gusar.
Adi tersenyum. "Saat Allah menghendaki sesuatu lalu berkata 'kun fayakun' (jadilah maka terjadilah) maka apa pun dapat terjadi. Seperti juga kedekatan dan pernikahan saya dengan Adelia. Apa Anda ingin menentang takdir Allah?"
__ADS_1
"Jangan bawa-bawa nama Allah. Jangan sok suci ya, Anda." Restu mencibir.
"Itulah bedanya suamiku sama kamu. Mas Adi selalu melibatkan Allah dalam setiap langkahnya. Dia juga benar-benar menghormati aku sebagai wanita. Tidak pernah menyentuhku sebelum kami menikah. Alhamdulillah, aku beruntung karena Allah sudah mempertemukan aku dengan Mas Adi. Dia sosok imam yang baik yang bisa membimbing aku jadi lebih baik." Adelia kembali menyahut, kali ini dia memuji suaminya.
Adi kembali mencium punggung tangan istrinya. "Terima kasih, Istriku."
"Cukup. Hentikan kemesraan kalian di depanku. Semua itu tidak akan mempan." Restu masih bersikeras dengan pemikirannya.
"Kalau Anda masih tidak percaya silakan tanya pada Pak Lukman. Papa yang menjabat tangan saya saat menikahkan kami. Atau silakan tanya pada Pak RT atau Pak RW yang diundang sebagai saksi," terang Adi.
"Sebenarnya hak Anda untuk percaya atau tidak dengan pernikahan kami. Saya hanya minta, tolong jauhi istri saya. Saya akan bertindak tegas kalau Anda sampai berani mengusik istri saya lagi. Saya kira pembicaraan kita cukup sampai di sini. Kami masih ada acara yang lain." Adi mengajak Adelia untuk pergi.
"Tunggu," seru Restu saat Adi dan Adelia bangkit dari duduknya.
"Adelia, jadi aku sudah tidak punya harapan lagi?" tanya Restu dengan wajah sendu.
"Apa perlu aku jawab? Aku mencintai Mas Adi. Aku juga bahagia hidup dengan suamiku." Adelia tersenyum manis pada suaminya yang menoleh padanya.
"Tolong terima ini sebagai permintaan maafku yang tulus karena dulu pernah mengkhianati kamu. Aku sungguh menyesal sekarang. Sampai saat ini aku masih mencintai kamu, Adelia." Restu menyerahkan buket mawar putih yang tadi pagi dia beli khusus untuk wanita yang selalu dia cintai itu.
"Berikan saja itu pada istrimu. Dia lebih berhak menerimanya. Aku sudah memaafkan semua perbuatanmu dulu. Mari kita melangkah dengan jalan masing-masing tidak perlu mengusik satu sama lain. Kita memang tidak ditakdirkan bersama, jadi jangan coba melawan takdir." Adelia tidak mau menerima buket mawar putih itu.
"Aku akan bercerai dengan istriku setelah anak kami lahir. Kami menikah karena keadaan yang memaksa. Kami tidak saling mencintai. Kami hanya saling membutuhkan untuk saling memuaskan," jujur Restu berusaha membuat Adelia simpati kepadanya.
"Astaghfirullah. Aku turut prihatin. Aku kasihan dengan anak kalian nanti yang pasti akan merasa tidak diinginkan kehadirannya. Meski begitu, dengan tulus aku mendoakan kebaikan untuk kalian bertiga," ucap Adelia.
"Kita pulang yuk, Mas. Papa dan mama pasti sudah menunggu kita," ajak Adelia pada suaminya.
Adi menganggukkan kepala. "Kami pulang dulu. Ingat kata-kata saya tadi. Saya tidak main-main. Assalamu'alaikum."
Adi dan Adelia meninggalkan Restu yang masih terpaku di tempatnya berdiri sambil memegang buket bunga mawar putih.
"Ini hanya mimpi kan," desisnya.
__ADS_1
...---oOo---...
Jogja, 210621 00.40