
Bakda Magrib, Kaisar makan malam dengan keluarga Ibu Dewi. Begitu selesai makan, Kaisar segera pamit pulang karena mendapat telepon dari kantor. Ada rapat mendadak karena situasi mendesak dari kasus yang dia tangani. Mau tidak mau dia harus pergi meski merasa tidak enak hati sebab langsung pulang usai makan tanpa sempat berbasa-basi dahulu. Ibu Dewi pun memaklumi situasi Kaisar.
Sesudah menjalankan salat Isya, keluarga Ibu Dewi berkumpul di ruang tengah. Satu hal yang menjadi kebiasaan bila mereka tidak ada acara atau tidak mengerjakan tugas kuliah.
"Tadi pergi ke mana saja, Sha?" Ibu Dewi memulai pembicaraan.
"Resepsi, nonton terus ke Malioboro, Ma," jawab Shasha dengan santai.
"Ih Kak Shasha, pergi nonton enggak bilang-bilang. Sengaja ya mau berduaan sama Mas Kai," protes Nisa dengan bibir mengerucut.
"Aku mana tahu mau diajak nonton, Nis. Aku tahunya juga cuma diajak ke resepsi temannya saja. Nonton dan ke Malioboro itu di luar rencana," terang Shasha.
"Pokoknya aku kesel sama Kak Shasha dan Mas Kai," omel Nisa.
Shasha tertawa melihat polah adik bungsunya yang selalu saja protes kalau tidak diajak melakukan sesuatu yang dia suka.
"Apa kalian pacaran, Sha?" tanya Ibu Dewi kemudian.
Shasha terkesiap mendengar pertanyaan sang mama. Dia tidak menduga mamanya bertanya langsung tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Enggak, Ma. Kami memang dekat, tapi tidak pacaran," jawab Shasha sambil memainkan ujung bantal sofa di pangkuannya.
"Kalau memang kalian saling cinta, minta Mas Kai dan keluarganya ke sini untuk melamarmu," tutur Ibu Dewi.
"Kami belum sejauh itu, Ma. Memang Mas Kai tadi bilang kalau suka sama aku, tapi dia juga minta aku berpikir dahulu dan mempertimbangkan semuanya. Aku tahu menjadi istri polisi itu tidak mudah." Shasha mendesah.
"Iya, memang tidak semudah menjadi istri warga biasa. Apa kamu siap meninggalkan pekerjaan dan mengikuti suami ke mana pun dia ditugaskan?" Ibu Dewi memandang putri sulungnya.
"Entahlah, Ma. Aku belum memikirkan soal itu" Shasha mengangkat bahunya.
"Pikirkan semuanya dengan matang, Sha. Bicarakan semuanya dari awal sebelum kalian melangkah lebih jauh. Lebih baik sakit sebelum memulai daripada sakit saat di tengah perjalanan," nasihat Ibu Dewi.
"Mama lihat karirnya Kaisar bagus, pastinya dia akan sering pindah tugas ke berbagai tempat. Bisa masih di sekitar Jogja bisa juga di luar Pulau Jawa, kita tidak pernah tahu."
"Iya, Ma. Nanti kalau Mas Kai sedang luang waktunya, kami akan bicara," kata Shasha.
"Dahulu sebelum Rendra dan Dita menikah, mereka membicarakan keinginan masing-masing. Meski pada akhirnya ada yang berubah seiring waktu berjalan. Kalau ada kesepakatan di awal, kalian akan lebih mudah menjalaninya. Saran mama, kalian berdua, terutama kamu Sha, minta petunjuk dengan salat Istikharah."
"Iya, Ma."
"Apa kamu tadi sudah menjawab pernyataan cinta Kaisar?" tanya Ibu Dewi.
"Belum, Ma. Aku tidak mungkin menerima tanpa minta restu dulu dari mama dan juga persetujuan Rendra."
"Bagus kalau begitu. Yakinkan hati sebelum kamu memutuskan menerima Kaisar. Pikirkan pahitnya dahulu, apa kamu akan mampu menjalani semuanya." Ibu Dewi kembali memberikan nasihat.
Shasha mengangguk. "Iya, Ma."
"Kak Shasha, seperti yang aku bilang kemarin. Aku tidak setuju kalau Kak Shasha pacaran. Kalau memang nanti Kakak memutuskan menerima Mas Kai, minta dia segera melamar. Aku tidak akan meminta kalian nikah siri dahulu karena aku percaya Kakak bisa menjaga diri sampai saat akad nikah." Rendra akhirnya mengeluarkan suara.
"Kakak dan Mas Kai sama-sama tidak mau pacaran, Ren," sahut Shasha.
"Bagus kalau begitu. Berarti kita tinggal menunggu keputusan Kak Shasha saja," kata Rendra.
"Tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan, Sha. Mama yakin Kaisar juga pasti sabar menunggu."
"Mas Kai juga bilang akan menunggu sampai aku bisa memberi jawaban, Ma."
"Kalau begitu manfaatkan waktumu dengan baik untuk memikirkan dan meminta petunjuk pada Allah," nasihat Ibu Dewi.
"Iya, Ma. Aku juga tidak mau gegabah mengambil keputusan hanya karena emosi sesaat. Bagaimanapun, ini menyangkut masa depanku kelak."
Ibu Dewi tersenyum. "Mama percaya kamu akan mengambil keputusan yang terbaik. Mama selalu mendoakan kebaikan untuk semua anak-anak mama."
"Terima kasih, Ma." Shasha mencium pipi sang mama lalu memeluknya erat.
...---oOo---...
Tidak terasa sudah enam bulan pernikahan Adi dan Adelia berjalan. Namun, Adelia masih belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Dia pasti merasa sedih dan kecewa saat datang bulan tiba. Adi lah yang selalu dengan setia berusaha menghibur dan menenangkan istrinya. Seperti mengalihkan pembicaraan saat Adelia mulai terlihat sedih.
"Ai, apa sudah memutuskan mau kuliah lagi, mau kerja atau di rumah menunggu suamimu ini pulang kerja?" tanya Adi sesudah mereka sarapan bersama.
"Kalau aku ingin di rumah dulu gimana, Mas? Aku ingin benar-benar menikmati peran sebagai istri dan juga mengurus rumah tangga," jawab Adelia.
"Aku malah senang kalau Ai ingin di rumah. Aku tidak khawatir Ai pulang telat dari kerja atau kuliah." Adi tersenyum pada istrinya.
"Mas Adi tidak suka ya aku kerja atau kuliah?"
Adi menggeleng. "Bukan begitu. Aku mendukung apa pun keinginan Ai selama memang itu baik. Ai mau kuliah atau kerja pasti aku dukung. Aku malah takut Ai merasa bosan di rumah."
"Insya Allah tidak akan bosan, Mas. Aku kan bisa lebih intens lagi belajar masak. Pekerjaan berat kaya mengepel dan menyeterika sudah ada mengerjakan. Jadi aku bisa mencoba-coba resep baru." Adelia meyakinkan suaminya.
__ADS_1
"Aku enggak maksa dan minta Ai buat di rumah, ya."
"Iya, Mas. Nanti aku bilang mama sama papa kalau aku ingin jadi ibu rumah tangga untuk sementara ini. Siapa tahu nanti aku bisa segera hamil kalau tidak banyak pikiran dan pekerjaan."
"Aamiin. Aku minta jangan terlalu dipikirkan soal hamil dan anak, Ai. Kalau sudah waktunya, pasti kita akan dikasih."
"Iya, Mas. Tapi kan aku juga ingin hamil dan punya anak. Aku ingin jadi wanita seutuhnya. Apa aku ikut Dek Dita saja ya kalau dia kontrol? Aku minta vitamin gitu buat program hamil sama dokternya."
Adi mengernyit. "Memangnya kapan Dita mau kontrol?"
"Nanti sore, Mas. Soalnya pagi ini, Dek Dita ada kuliah. Aku boleh ikut ya, Mas?" pinta Adelia dengan tatapan memohon.
"Jam berapa kontrolnya?"
"Kalau enggak salah jam 04.00 sore. Nanti aku tanyakan lagi sama Dek Dita."
Adi mengangguk. "Nanti kabari aku jam pastinya. Semoga aku bisa ikut."
"Iya, Mas. Pasti aku kabari."
"Kalau begitu nanti sore enggak usah masak kalau mau pergi, Ai. Kita makan di luar saja," kata Adi.
Adelia menganggut. "Iya, Mas. Nanti sekalian belanja ya, kebetulan beberapa bahan juga habis."
"Oke. Dicek dan didaftar sekalian apa saja yang habis, Ai."
"Siap, Bos."
...---oOo---...
"Bagaimana Bu Dita, Pak Rendra, apa sudah diputuskan kapan operasi caesar-nya?" tanya dokter Lita setelah melakukan USG.
"Saya inginnya 27 Desember biar sama kaya ayahnya, Dok," jawab Dita. "Tapi, apa saya memang tidak bisa melahirkan normal, Dok?"
"Maaf Bu, kalau normal terlalu berisiko. Ini besok operasinya juga membuka operasi yang kemarin. Semoga saja tidak ada sesuatu yang mendesak hingga operasinya harus dimajukan," terang dokter Lita. "Kita sama-sama berdoa ya, semuanya sehat dan lancar."
"Aamiin."
"Mulai minggu depan kontrol seminggu sekali ya, karena sudah mendekati waktu melahirkan dan kehamilannya termasuk berisiko. Bu Dita juga mau ujian akhir semester kan, dijaga ya Bu jangan sampai stres," pesan dokter Lita.
"Iya, Dok."
"Tetap dijaga pola makan ya, Bu. Sejauh ini sudah bagus, berat dedek bayinya terkontrol. Vitamin jangan lupa diminum. Ini hasil USG-nya." Dokter Lita menyerahkan resep dan foto USG pada Dita.
"Terima kasih, Dok."
"Dok, apa kami masih boleh berhubungan?" tanya Rendra yang membuat Dita tersipu malu.
Dokter Lita tersenyum. "Selama Bu Dita masih merasa nyaman dan tidak ada keluhan, silakan saja. Jangan lupa dikomunikasikan posisi yang nyaman untuk Ibu. Kalau Bu Dita merasa tidak nyaman, jangan sungkan bicara dengan Pak Rendra. Sebagai suami, Pak Rendra juga tidak boleh egois, kalau berlebihan takutnya nanti berdampak pada kehamilan dan dedek bayinya."
"Baik, Dok." Rendra tersenyum lebar sambil menggenggam erat tangan istrinya.
"Ada pertanyaan lagi?"
"Tidak, Dok. Oh ya, ini nanti kakak saya dan istrinya akan menemui Dokter Lita. Mereka ingin konsultasi masalah kehamilan karena sudah enam bulan menikah, tapi kakak ipar saya belum hamil," kata Dita.
"Baik, Bu. Insya Allah akan saya bantu."
"Kalau begitu kami pamit dulu, Dok."
"Silakan, jangan lupa minggu depan kontrol ya."
"Iya, Dok. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Setelah Rendra dan Dita keluar, tak lama kemudian Adi dan Adelia masuk ke ruangan dokter Lita. Setelah saling menyapa dan berkenalan, dokter Lita mulai memberi pertanyaan pada Adelia.
"Apa siklus haidnya teratur Bu?"
"Iya, Dok."
"Sakit tidak saat haid?"
Adelia menggeleng. "Sakit perut yang masih wajar, Dok."
"Ada keputihan?"
"Tidak, Dok."
"Kita lihat rahimnya dengan USG ya, Bu. Semoga tidak ada kista atau miom."
__ADS_1
Adelia lalu berbaring di atas ranjang periksa. Perawat memberikan gel di atas perut Adelia yang terbuka. Kemudian dokter Lita mulai menggerakkan transducer di atas perut Adelia.
"Bagus kok rahimnya, tidak ada kista atau pun. Mungkin memang belum waktunya saja, Bu," kata dokter Lita setelah melakukan USG.
"Sebenarnya di bawah satu tahun itu masih wajar kalau belum hamil. Biasanya kami akan menyarankan program hamil dengan pemeriksaan yang lebih lengkap bila sudah satu tahun pernikahan. Jadi sekarang, saya berikan folavit dan juga vitamin E untuk Bu Adelia."
"Kalau untuk saya, Dok," kata Adi.
"Bisa dengan asam folat, vitamin E dan zinc, Pak. Diusahakan jangan terlalu capai. Tidak merokok."
"Saya tidak merokok, Dok," sela Adi.
"Wah bagus itu, Pak. Jadi untuk sementara ini konsumsi vitamin tadi ya, Pak, Bu. Dijaga juga makanannya yang bergizi. Lebih baik masak sendiri agar lebih sehat. Semoga bisa disegerakan hamil. Bila sudah satu tahun ternyata belum juga hamil, akan saya rekomendasikan pada dokter yang biasa menangani kasus infertilitas," kata dokter Lita
"Baik, Dok. Apa nanti kalau program hamil saya dan istri sama-sama diperiksa?" tanya Adi.
"Tentu saja, Pak. Kita kan tidak tahu masalahnya ada pada Bapak atau Ibu. Jadi harus adil memeriksa keduanya," kata dokter Lita seraya mengulas senyum di bibirnya.
"Apa ada lagi yang ditanyakan?"
"Untuk intensitas berhubungan bagaimana, Dok?" tanya Adi lagi.
"Sebaiknya dijeda 3 hari sekali. Berhubungan terutama saat masa subur. Sudah tahu kan perhitungan masa suburnya?"
"Sudah, Dok," jawab Adelia.
"Saat berhubungan, Ibu juga bisa mengganjal pinggul dengan bantal agar melancarkan sper ma masuk ke rahim hingga bisa meningkatkan peluang pembuahan. Bapak dan Ibu juga diusahakan berolahraga yang teratur, tidak perlu yang berat. Bisa dengan joging atau jalan pagi setelah Subuh," saran dokter Lita.
"Baik, Dok. Terima kasih."
"Ini foto USG dan resep untuk vitaminnya. Kalau habis, bisa beli lagi di apotek tidak harus ke sini. Namun, kalau Ibu dan Bapak mau berkonsultasi silakan, saya akan berusaha membantu." Dokter Lita menyerahkan foto USG dan resep pada Adelia dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
"Terima kasih, Dok."
Adi dan Adelia keluar dari ruangan praktik dokter Lita. Rendra dan Dita sudah menunggu mereka di luar. Setelah mengambil vitamin yang diresepkan dan membayar, mereka keluar dari RSKIA tersebut.
Mereka pergi ke supermarket karena Adelia ingin berbelanja beberapa kebutuhan pokoknya dan Adi. Sementara itu Dita menunggu sambil duduk dan menyemil snack bar untuk mengganjal perutnya yang mulai merasakan lapar. Sedangkan Rendra belanja buah-buahan dan snack bar untuk istrinya. Dia berusaha memberikan makanan yang sehat untuk istri dan calon anak mereka.
Sesudah berbelanja, mereka pergi ke masjid untuk menjalankan salat Magrib. Kemudian mereka pergi ke warung makan yang terkenal karena menawarkan beraneka macam sambal.
"Aku mau telur dadar gobal gabul, sambal mangga muda, tempe bakar, sama pecel. Terus minumnya jeruk nipis panas," kata Dita setelah melihat daftar menunya.
"Enggak pakai buah, Sayang?" tanya Rendra.
"Buah campur saja, Mas." Dita menyerahkan buku menu pada suaminya. "Aku minta 2 ya sambalnya."
"No. Satu saja. Itu telurnya sudah pedas, Sayang." Rendra tidak mau mengabulkan keinginan istrinya.
Meski cemberut tapi Dita tidak melayangkan protes. Karena percuma saja dia protes, ada dua orang pria yang sama-sama protektif akan menentangnya. Dan bisa dipastikan dia tidak akan bisa berkutik bila mereka sudah satu suara.
"Mas Adi dan Adelia mau pesan apa?" tanya Rendra setelah dia menulis apa yang akan dia pesan.
"Aku pesan ayam kampung goreng yang dada, sambalnya terasi segar, minumnya es lemon tea," kata Adelia.
"Kalau aku, Nila bakar, sambal bawang, sama teh manis panas." Adi menyerahkan menu pada Rendra.
"Tidak mau pakai sayur apa buah?" tawar Rendra.
"Tadi Dita sudah pesan kan, bareng saja, Rend," sahut Adi.
"Ih, Mas Adi pesan sendiri deh, aku lapar banget ini," protes Dita tak terima.
"Sayang, yakin bisa menghabiskan semuanya sendiri?" tanya Rendra pada istrinya.
Dita menganggut. "Yakin lah. Kan aku makan untuk berdua tidak sendiri."
"Aku pesankan ca kangkung ya, Mas," kata Rendra.
"Gimana, Ai?" Adi menoleh pada istrinya.
"Iya, enggak apa-apa, Mas."
"Nasinya empat ya," kata Rendra.
"Iya, Rend. Nanti kan bisa minta tambah kalau kurang. Masih gratis kan kalau tambah nasi."
"Iya, Mas. Aku ke kasir dulu," kata Rendra.
"Pakai ini saja, Rend." Adi menyerahkan satu lembar uang berwarna merah pada Rendra.
"Tidak usah, Mas. Aku baru dapat rezeki hari ini," tolak Rendra sambil tersenyum. Dia kemudian beranjak ke meja kasir untuk membayar pesanan mereka.
__ADS_1
...---oOo---...
Jogja, 130921 00.10