Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
The Calm Before The Storm


__ADS_3

Beberapa hari terakhir, Restu mulai mengirim pesan lagi ke nomor lama Adelia yang sampai sekarang masih dipegang Adi. Pesannya masih berupa rayuan dan juga foto serta video kebersamaan Restu dan Adelia dulu. Rupanya dia masih belum menyerah setelah pertemuan mereka tempo hari. Apalagi Restu tahu kalau dia belum menikah resmi dengan Adelia.


Adi menjadi sangat khawatir pada Adelia. Sebisa mungkin dia mencegah istrinya pergi ke luar, apalagi hanya sendiri. Dia tidak pernah mengatakan apa pun soal pesan Restu pada Adelia. Dia selalu bersikap biasa saja di depan istrinya. Tetapi, Adelia menjadi curiga karena dia memanggil teknisi untuk memasang CCTV di depan rumah, garasi dan ruang tamu mereka.


"Mas, kenapa pasang CCTV sih?" tanya Adelia saat teknisi datang Minggu pagi ini.


"Biar lebih aman,Β Ai. Rumah kita kan paling ujung.Β Ai sering di rumah sendiri. Aku kan jadi khawatir. Tingkat kriminalitas juga sedang meningkat akhir-akhir ini," jawab Adi.


"Benar cuma karena itu? Enggak karena ada hal lain?" Adelia memicingkan matanya, merasa curiga pada suaminya yang tanpa kompromi langsung memutuskan memasang CCTV di rumah.


"Iya, benar. LagianΒ Ai, sekarang ini sudah banyak rumah yang pasang CCTV demi keamanan dan ketenangan. Ini kan juga tetap bisa dipantau meski kita di luar rumah. Nanti kita bisa lihat dari ponsel. Jadi aku bisa sewaktu-waktu mengecek keadaan rumah kalau sedang kerja." Adi meyakinkan istrinya.


"Ya sudah. Apa yang menurut Mas Adi baik sajalah," ujar Adelia pasrah.


"MaafΒ Ai, kalau aku enggak bilang dulu. Jangan marah ya." Adi merangkul bahu istrinya, lalu mencium pipi Adelia.


Adelia berjingkat, terkejut dengan ciuman yang diberikan sang suami di pipinya. "Mas Adi, malu ih, ada orang juga," protesnya dengan wajah merona.


Adi meringis. "Enggak apa-apa. Mereka maklum kok. Ya kan, Pak?" Adi bertanya pada dua teknisi yang sedang memasang CCTV di ruang tamunya.


"Iya, Mas. Sudah biasa, apalagi masih pengantin baru," sahut salah satu teknisi sambil tertawa kecil.


"Aku ke dapur ya, Mas. Siapin minum buat mereka," bisik Adelia pada suaminya. Lebih baik dia kabur saja dari sana daripada merasa malu pada kedua teknisi CCTV yang ada di ruang tamu.


Adi menganggut. Dia melepas rangkulan di bahu istrinya.


"Pak, ini nanti menghadap ke pintu masuk sama pintu dari garasi bisa kan? Jadi kalau ada orang bisa kelihatan wajahnya," tanya Adi pada teknisi setelah Adelia pergi ke dapur.


"Bisa, Mas. Nanti kita atur arah kameranya kalau sudah terpasang semua."


"Yang di luar menghadap ke jalan sama ke pintu masuk rumah, biar kalau ada yang mengetuk pintu terlihat siapa orangnya. Terus yang di garasi ke arah pintu masuk garasi." Adi memberi petunjuk pada sang teknisi.


"Siap, Mas."


Setelah sekitar dua jam memasang 4 CCTV, mengatur arah kamera dan memberi tahu cara melihat, memutar ulang, menyimpan video serta melihatnya dari gawai, kedua teknisi itu undur diri. Adi membersihkan sisa-sisa kabel yang tercecer. Setelah itu dia menyapu dan mengepel ruang tamu.


Sementara itu, Adelia tetap sibuk di dapur memasak menu makan siang mereka. Sekarang dia sudah mulai lancar memasak tanpa harus melihat video atau melihat resep lagi, ya meski hanya masakan praktis seperti sup, sayur bening, sayur asam dan aneka tumisan. Untung saja suaminya tidak suka memilih-milih makanan. Apa pun yang dia masak selalu dimakan dan dihabiskan meski rasanya belum sempurna. Adi memang selalu memberinya semangat dan tak pernah mencela masakannya.


Setelah Adi menjalankan salat Zuhur, mereka berdua kemudian makan siang bersama.

__ADS_1


"Ai, sekarang kan sudah ada CCTV. Kalau ada orang yang di depan rumah pasti ketahuan siapa. Kalau ada yang pencet bel atau ketuk pintu, Ai lihat CCTV dulu sebelum bukain pintu." Adi bicara sambil menatap mata istrinya.


"Kalau Ai, enggak kenal atau sedang enggak nunggu ojol jangan dibukain pintunya. Ai, nanti hubungi aku kalau ada orang tidak dikenal di depan ya," lanjut Adi.


"Iya, Mas. Kaya anak kecil aja aku dikasih tahu kaya gitu," kata Adelia.


"Biar Ai lebih waspada lagi. Ingat Ai, kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan."


"Aku kok jadi malah takut ya, Mas." Adelia bergidik.


"Kenapa? Justru dengan adanya CCTV harusnya Ai lebih merasa aman." Adi mengerutkan keningnya.


"Dengar omongan Mas Adi malah bikin takut, padahal sebelumnya aku biasa saja di rumah sendiri dan merasa aman asal pintu depan dikunci." Adelia menjelaskan alasannya.


"Aku omong begitu biar kita lebih waspada, Ai. Maaf ya kalau malah membuat Ai takut." Adi mengelus punggung tangan istrinya yang sedang memegang sendok.


"Iya, Mas. Aku tahu. Mungkin aku saja yang jadi terlalu parno. Aku jadi takut kalau Restu sampai datang ke sini cari aku."


Adi terkesiap mendengar ucapan istrinya. Sesungguhnya dia pun takut hal itu terjadi, karena itu dia memasang CCTV agar bisa selalu tahu keadaan rumahnya. Meminta Dita untuk selalu menemani Adelia di rumah rasanya tidak mungkin. Adiknya masih mengalami mual muntah dan sangat sensitif. Untuk sekarang, dia tidak bisa mengandalkan adik kesayangannya itu.


"Ai, tenang saja. Insya Allah, dia tidak akan datang ke sini. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Ai, cukup pikirkan skripsi dan kita. Itu saja, jangan yang lain. Oke." Adi menatap mata Adelia lagi.


Adi tersenyum lebar pada istrinya. Sebagai suami, sudah selayaknya dia melindungi dan memberi keamanan pada istrinya. Biarlah Adelia tetap tenang dan dia yang akan mengatasi masalah Restu sendiri. Nanti kalau sudah selesai, dia akan menceritakan semuanya pada Adelia.


Setelah makan siang, seperti biasa mereka membereskan meja makan bersama. Kali ini Adi yang mencuci semua alat masak dan makan mereka siang ini. Adelia membantu menata peralatan yang sudah bersih.


Sesudah itu, mereka duduk bersisian di ruang tengah. Mereka kembali mempelajari cara melihat, memutar ulang, dan menyimpan video CCTV. Adelia sampai mencatat di kertas agar tidak lupa. Dia menyimpannya di bawah decoder agar tidak hilang dan mudah mencarinya.


Minggu ini kebetulan mereka hanya di rumah saja, tidak ada janji dengan WO (Wedding Organizer) maupun vendor lain untuk menyiapkan pernikahan mereka yang satu setengah bulan lagi akan digelar. Mereka menikmati waktu kebersamaan mereka berdua yang sangat terbatas karena kesibukan kerja Adi dan juga kesibukan Adelia mengerjakan skripsi yang kini sudah masuk bab akhir.


Satu jam setelah makan, mereka memutuskan untuk tidur di kamar. Well, mereka hanya tidur siang saling memeluk karena Adelia masih datang bulan. Ya, meski dengan sedikit kecupan dan sentuhan di sana sini.


Dddrrtttt ... dddrrtttt ....


Adelia membuka mata karena mendengar ada gawai yang bergetar. Dia melirik ke samping, tapi suaminya tidak ada. Dia menatap jam dinding yang menunjukkan waktu Asar. Berarti Adi sedang pergi ke masjid tanpa membangunkan dia.


Adelia masih bermalas-malasan di tempat tidur. Dia masih belum ingin bangun, tapi suara gawai yang terus menerus bergetar menganggunya. Dia bangkit lalu mencari gawai yang bergetar. Ternyata gawai lama Adi yang bergetar di atas meja kerja.


Adelia mengerutkan kening. Otaknya mulai bekerja memikirkan kemungkinan yang ada. Gawai lama Adi kan dipakai untuk nomor lamanya, mungkinkah Restu mengirim pesan lagi? Dia menggelengkan kepalanya, tidak mau membayangkan itu terjadi. Tapi, getaran gawai yang tak berhenti membuatnya ingin tahu.

__ADS_1


Adelia bangun dari duduknya. Dia kemudian duduk di kursi, depan meja kerja. Berulang kali dia mau meraih gawai dan membuka pesan, tapi dia merasa ragu. Sampai dia sekilas melihat nama Restu di pop up pesan, dia langsung meraih dan membukanya.


Adelia terkejut karena mendapati banyak pesan Restu dan juga foto dan video kebersamaan mereka dahulu. Tangannya bergetar memegang gawai suaminya. Keringat langsung keluar dari telapak tangannya, menandakan dia sedang cemas.


'Yank, lagi ngapain? Aku kangen banget sama kamu.'


'Aku tahu kamu dan suamimu baru menikah siri, jadi aku masih punya kesempatan merebutmu kembali dari pria berengsek itu.'


'Aku akan datang menjemputmu nanti.'


'Aku pastikan aku yang akan resmi menikahimu bukan dia.'


'Tunggu aku datang ya, Yank.'


'Aku tahu kamu masih mencintaiku.'


'Kamu hanya terbawa emosi saat menerima dan mau menikah siri dengan dia.'


'Aku akan menerimamu apa adanya, Yank.'


'Aku akan mengacaukan akad dan resepsi kalau kamu tetap nekat menikah dengannya.'


Adelia sudah tidak sanggup lagi membaca semua pesan dari mantan pacarnya itu. Tangannya semakin gemetar, wajahnya terlihat cemas. Dia menggigit bibir bawahnya.


"Ai, kamu kenapa?" tanya Adi yang tiba-tiba sudah ada di kamar.


Adelia sampai tidak menyadari kedatangan suaminya. Dia sangat terkejut sampai gawai yang dipegang jatuh menyentuh lantai.


...---oOo---...


Jogja, 170721 00.50


The calm before the strom : ketenangan sebelum badai


Hai semua πŸ‘‹


Tak terasa ternyata 'Cinta Halal Sang Senior' sudah sampa bab 50. Terima kasih yang sudah mengikuti dari awal sampai saat ini. Terima kasih atas semua dukungannya baik berupa rate, like, komentar, hadiah atau pun vote. Semua dukungan teman-teman sangat berarti. Hanya Allah yang akan membalas kebaikan teman-teman semua. πŸ™πŸ™πŸ™πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Jangan lupa tetap jaga kesehatan ya teman-teman πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


Salam sayang untuk para Teman Hati πŸ’


__ADS_2