Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Pingsan Lagi


__ADS_3

Adelia berhasil menyembunyikan keadaannya dari Adi. Dia sempat beberapa kali merasa lemas dan hampir pingsan setelah kejadian tidak sadarkan diri di acara resepsi Kaisar dan Shasha. Mbak Surti, asisten rumah tangga, yang biasa membantunya di rumah juga dia minta untuk tutup mulut.


Sampai suatu hari, Adi memergokinya pingsan lagi saat suaminya itu baru pulang usai menunaikan salat Isya di masjid. Adelia masih mengenakan mukenanya saat pingsan. Adi pikir istrinya hanya berbaring di ruang salat sembari menunggunya datang. Namun, saat Adi memanggil istrinya berulang kali, wanita yang sudah dia halalkan itu sama sekali tidak menjawab. Biasanya Adelia akan menyahut lalu bangun dan melipat mukenanya. Setelah itu pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam mereka.


Merasa ada yang tak biasa, Adi mendekati istrinya. Dia mengelus dengan lembut pipi halus Adelia, lalu mengecup keningnya. Dia terkesiap karena tubuh Adelia terasa dingin dan wajah sang istri pucat pasi. Bergegas dia melepaskan mukena Adelia, lalu membopongnya ke kamar sembari memanggil sang istri berulang kali tapi tidak mendapat respon.


Usai membaringkan Adelia di atas ranjang, pria itu mengambil gawai lalu menelepon adik semata wayangnya.


"Dek, Adel kayanya pingsan lagi. Bisa ke sini enggak sama bawa minyak angin," pinta Adi begitu sang adik mengangkat teleponnya.


"Ya, Mas. Aku segera ke situ," balas Dita.


Adi memijat tangan dan kaki istrinya yang dingin sambil menunggu adik semata wayangnya datang. Tidak mungkin dia menghubungi bunda atau mama mertuanya karena rumah mereka tidak dekat. Hanya Ditalah satu-satunya yang bisa membantunya saat ini.


Tak sampai lima menit, Dita sudah ada di kamar sang kakak. Dia segera mengoleskan minyak kayu putih di beberapa titik tubuh kakak iparnya itu.


"Mas, lebih baik Mbak Adel dibawa ke rumah sakit sekarang. Aku dengar dari Mbak Surti akhir-akhir ini kondisinya sering lemas dan hampir pingsan," ujar Dita.


"Masa sih, Dek? Kok mas enggak tahu?" Kening Adi mengerut mendengar ucapan adiknya.


"Kayanya Mbak Adel sengaja merahasiakannya dari Mas Adi," tebak Dita.


Adi menghela napas. Tak habis pikir kenapa belahan jiwanya sampai menyembunyikan hal tersebut. Memang Adelia terlihat tidak sesegar biasanya, tapi dia pikir itu karena istrinya merasa kecapaian setelah mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga. Sungguh, dia merasa gagal sebagai suami karena kurang memperhatikan kondisi istrinya.


"Aβ€”ku di mana?" lirih Adelia yang baru tersadar.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar. Ini di kamar kita, Ai." Adi duduk di samping sang istri seraya mengelus lembut kepala Adelia.


"Aku bikinkan teh panas ya." Dita beranjak dari kamar kakaknya pergi ke dapur.


Adelia mengernyit, seingatnya tadi dia sedang berdoa di ruang salat usai menjalankan salat Isya. "Kenapa aku bisa di kamar, Mas?" Adelia menatap suaminya.


"Ai, tadi pingsan di ruang salat. Terus aku bawa ke kamar," jelas Adi.


"Astaghfirullah, aku pingsan lagi," gumam Adelia.


"Kita ke rumah sakit sekarang ya," ajak Adi.


Adelia menggeleng. "Aku enggak apa-apa, Mas. Mungkin cuma kurang darah aja."


"Ai, sudah dua kali pingsan loh dalam jangka waktu yang tidak lama. Aku dengar, Ai, juga sering lemas. Nanti setelah, Ai, minum teh, kita ke rumah sakit," tegas Adi. "Aku tidak mau mendengar penolakan atau mau aku teleponkan mama?"


"Iya, Mas." Adelia memutuskan menuruti suaminya daripada harus berhadapan dengan sang mama yang akan terus memaksa ke dokter dengan 'pidato' panjangnya. Kepalanya sudah cukup pusing, kalau mendengar 'pidato' mamanya nanti pasti akan bertambah pusing.


Dita kembali masuk ke kamar sambil membawa segelas teh panas untuk Adelia. Dia meletakkannya di atas nakas agar memudahkan sang kakak memberikan teh pada istrinya.


"Mas, Mbak, aku pulang sebentar jemput Ale. Jadi ke rumah sakit kan? Biar Mas Rendra yang temani ke sana. Nanti kami tidur di sini saja," ujar Dita.


"Iya, Dek, makasih," sahut Adi.


Sepeninggal Dita, Adi dan Adelia hanya tinggal berdua. Adi dengan telaten memberikan teh hangat pada wanita yang sangat dicintainya itu.


"Mas Adi, makan dulu aja kalau jadi ke rumah sakit," ucap Adelia.


"Kita makan bersama ya."


Adelia menggeleng. "Aku masih kenyang."


"Kenyang apa, Ai? Kita sama-sama belum makan loh. Ai, makan atau nanti aku minta, Ai, diopname di rumah sakit?" Terpaksa Adi mengancam istrinya. Karena kalau tidak, Adelia pasti menolak keinginannya.


"Aku enggak mau diopname."


"Kalau gitu, Ai, harus makan, biar cuma dikit. Atau mau makan apa nanti aku buatkan."


"Yang ada saja, Mas. Tapi dikit saja ya, aku sudah agak kenyang minum teh panas."


"Aku ambilkan dulu makannya." Adi hendak beranjak, tapi ditahan istrinya.


"Kita makan di ruang makan saja, Mas," ucap Adelia.


"Ya udah. Ai, pakai hijab dulu biar enggak repot nanti kalau Rendra ke sini." Adi membuka lemari mencari hijab untuk sang istri.


"Iya, Mas. Tolong ambilkan yang instan saja, biar praktis."

__ADS_1


"Yang ini." Adi mengeluarkan hijab instan warna hitam.


"Iya, enggak apa-apa."


Usai memakai hijab, Adelia digendong suaminya ke ruang makan. Sebenarnya dia ingin berjalan saja, tapi kalau Adi sudah berkehendak, tidak bisa dilawan.


Mereka kemudian makan sepiring berdua. Adi menyuapi Adelia sambil mengobrol. Alhasil istrinya itu bisa makan sampai setengah piring hingga membuat Adi menambah lagi nasi dan lauk untuk dirinya sendiri.


Bertepatan dengan selesainya makan mereka, Dita, Rendra dan Ale datang.


"Kalian sudah makan belum?" tanya Adi.


"Sudah, Mas. Jadi ke rumah sakit? Biar mobilnya aku siapkan," jawab Rendra.


"Iya, jadi. Kuncinya di tempat biasa, Rend," ujar Adi.


"Oke, Mas." Rendra mengambil kunci mobil lalu ke garasi.


"Tinggalkan saja di situ piringnya, Mas. Nanti biar aku yang bereskan," ucap Dita.


"Makasih, Dek. Aku sama Adelia siap-siap dulu." Adi kembali membopong istrinya ke kamar. Berganti baju dan menyiapkan baju ganti kalau nanti terpaksa harus menjalani rawat inap.


Adi, Adelia dan Rendra berangkat ke rumah sakit, sementara Dita tinggal di rumah dengan Ale. Tidak mungkin dia mengajak putranya itu ke sana, kecuali memang harus melakukan pemeriksaan. Lagipula juga sudah malam, kalau tidak tidur sesuai jadwal bisa dipastikan Rendra junior itu akan rewel.


Adelia dibawa ke IGD oleh Adi. Perawat menanyakan keluhan apa saja yang dirasakan oleh Adelia lalu mencatatnya. Adelia diminta berbaring di atas ranjang IGD untuk dilakukan pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG) setelah sebelumnya diukur tensi dan diambil darahnya.


Adelia diminta melepas seluruh perhiasan dan membuka bagian atas tubuhnya. Perawat kemudian menempelkan elektroda di dada, lengan dan tungkai. Setelah itu mesin EKG dinyalakan dan akan merekam aktivitas jantung Adelia.


Usai EKG, Adelia masih terbaring di ranjang, menunggu dokter memeriksanya. Adi dengan setia menunggu di dekat sang belahan hati. Sementara Rendra menunggu di luar.


"Malam, Bu Adelia. Apa masih merasa pusing atau lemas?" tanya dokter jaga IGD dengan ramah.


"Malam, Dok. Sudah tidak terlalu," jawab Adelia.


"Saya periksa dulu ya." Dokter itu menempelkan stetoskop di dada dan perut Adelia. Kemudian mengambil senter kecil untuk memeriksa mata dan mulut istri Adi itu.


"Sudah berapa lama mulai lemas dan pingsan?" tanya sang dokter.


"Sekitar satu mingguan, Dok." Kali ini Adi yang menjawab.


Adi dan Adelia saling bertatapan, mereka tersadar akan sesuatu.


"Saya telat haid sekitar 10 hari, Dok," ucap Adelia.


Adi terkesiap mendengar ucapan istrinya. Kenapa dia sampai tidak menyadari hal itu. Dia semakin merasa gagal sebagai suami.


"Sudah coba melakukan tes kehamilan di rumah, Bu?"


Adelia menggeleng. "Belum, Dok. Soalnya saya kadang juga telat, tapi akhirnya tetap haid. Jadi saya juga belum berpikir untuk memakai testpack, Dok."


"Ibu, mau dites sekalian?" tawar sang dokter.


"Gimana, Mas?" Adelia meminta pertimbangan Adi.


"Iya, sekalian saja," sahut Adi.


"Kalau begitu saya setuju, Dok."


"Baik, kalau begitu nanti saya minta pihak lab juga memeriksa kadar hCG dalam darah sekalian."


"Apa istri saya masih harus mengambil urine sekarang, Dok?"


"Kalau ingin tes kehamilan dengan urine silakan saja. Sambil menunggu hasil lab nanti."


"Baik, Dok. Terima kasih."


"Istirahat dulu ya, Bu, sambil menunggu hasil lab. Kalau hasil EKG tadi bagus kok jantungnya. Tindakan lebih lanjut nanti setelah hasil lab keluar."


"Iya, Dok."


"Ai, kok enggak bilang kalau telat," sesal Adi setelah dokter meninggalkan mereka berdua.


"Aku pikir Mas Adi tahu."

__ADS_1


"Aku benar-benar lupa, Ai. Aku minta maaf ya karena sibuk kerja jadi tidak memperhatikan, Ai." Adi mencium tangan istrinya.


Adelia menyengguk. "Aku juga minta maaf karena tidak terbuka dengan Mas Adi."


"Aku minta tolong Rendra dulu ya buat beli testpack. Ai, tunggu sebentar," pamit Adi yang dibalas anggukan oleh sang istri.


"Rend, tolong belikan testpack yang paling bagus?" pinta Adi sambil menyerahkan uang pada adik iparnya.


"Buat apa, Mas?" tanya Rendra penasaran.


"Ternyata Adel sudah telat seminggu, Rend. Aku sudah tidak sabar melihat hasil labnya. Jadi mau tes urine sendiri saja dulu." Adi mengungkapkan alasannya.


"Oke, Mas. Aku beli pakai aplikasi ojol saja biar cepat. Kalau pakai mobil kelamaan."


"Terserah kamu mau pakai apa, Rend. Yang penting ada testpack-nya."


"Siap, Mas."


"Ya udah. Aku tunggu di dalam. Kasihan Adel sendiri."


Sepeninggal sang kakak ipar, Rendra segera memesan testpack melalui aplikasi ojek online. Tak sampai sepuluh menit pesanannya datang. Setelah menerima testpack dan membayar pada driver ojol, suami Dita itu masuk ke IGD mencari Adi.


"Ini testpack-nya. Cara pakainya begini ...." Rendra menerangkan pada Adi dan Adelia karena dia sudah berpengalaman dua kali menemani istrinya melakukan tes kehamilan dengan alat tersebut.


"Oke, makasih, Rend. Tolong jaga di sini ya, aku mau temani Adel ambil urine."


Rendra menganggut. "Iya, Mas."


"Ai, kuat jalan apa enggak? Kalau enggak kuat aku ambilkan kursi roda atau kugendong?" tanya Adi pada belahan jiwanya.


"InsyaAllah aku kuat jalan, Mas. Udah enakan kok badanku," jawab Adelia.


Adi menunggu dengan sabar di depan pintu toilet saat istrinya melakukan tes. Tak lupa meminta Adelia untuk tidak mengunci pintu. Berjaga-jaga kalau sang istri pingsan lagi, dia tidak perlu mendobrak pintu. Pria itu juga mengajak bicara terus istrinya dari luar pintu, agar yakin kalau Adelia tidak pingsan lagi.


"Sudah belum, Ai?"


"Sebentar lagi, Mas."


"Oke, Ai, kalau merasa pusing atau lemas ngomong ya."


"Iya, Mas."


"Berapa lama lagi, Ai?" tanya Adi, tapi istrinya tidak menjawab.


"Ai, kamu ga pingsan kan?" tanya Adi lagi.


"Engβ€”gak," jawab Adelia dengan suara bergetar.


"Ai, kenapa? Aku masuk ya." Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Adi membuka pintu kamar mandi dan mendapati istrinya sedang fokus melihat alat tes kehamilan.


"Hasilnya apa, Ai?"


Adelia memberikan alat tes kehamilan pada suaminya. "Aβ€”ku ...."


...---oOo---...


Jogja, 160222 23.55


Alhamdulillah bisa up lagi, di sela meneruskan KaiSha dan membantu teman menjadi editor untuk novelnya yang akan diterbitkan.


Kisah Kaisar dan Shasha di cerita ini nanti hanya sekilas saja, kalau untuk detailnya di 'Smaradhana' yang sudah diunggah di 2 platform tetangga. Satu berbayar dan satu gratis (buka kunci bisa didapat dengan misi). Aplikasinya di mana, sila cek IG dan FB saya. Saya buatkan juga tutorialnya.



Kover cerita Smaradhana


Kalau berkenan mengikuti kisah KaiSha silakan, tidak pun saya tidak memaksa.


Oh ya saya membuat kuis buat seru-seruan di IG dan FB, tapi hadiahnya hanya poin di sini sih, kalau berkenan silakan ikut. Inginnya saya kasih hadiah uang atau pulsa, tapi saya sendiri belum dapat uang dari menulis πŸ₯²πŸ₯²πŸ₯². Jadi, hanya poin yang bisa saya berikan 😌😌😌.


Oke, tetap sehat dan semangat ya semuanya.


Salam sayang untuk semua Teman Hati,

__ADS_1


Kokoro No Tomo


__ADS_2