
“ apa pak Gamawan marah aku ngak datang kamaren “ ternyata dibenak Naya masih memendam rasa penasaran .
“ ngak ngak masalah kok “
“ Beneran " binggung .
“ iya beneran “ sambil sarapan jari dan mata nya sibuk dengan gawai , terlihat agak kesal tatapan mata Naya melihat Hilman tapi ditahanya , semenjak bangun dia sudah berbicara sendiri didepan cermin untuk menahan emosi dam membicarakan kesalah pahaman kemaren , Naya merasa Hilman masih mempermasalahkan nya melanggar janji.
“ kamu ngak mau mbahas sesuatu sama aku “
“ Soal apa , proyek besok siang diumumin “ tetap tak melihat kearah Naya.
“ Bukan soal kemaren “
“ mmm kan udah clear semalam “ sejenak menghentikan makan .
“ terus kenapa sikap kamu kaya gini , kalo masih kesal bilang , aku juga ngak mau kesalahpahaman ini berlanjut “ Agak tegas nada bicara Naya membuat Hilman memberhentikan suapanya .
“ oke , aku akan dengar alasan kamu “ Hilman meletakan sendok dan gawainya lalu menatap mata Naya membuat Naya membuang wajah .
“ aku lagi sibuk , ada proyek yang mendesak makanya “
“ Dimana “
__ADS_1
“ Dikantor” Naya singkat.
“ sudah jelas kan , aku kan ngak bahas hal lain lagi “ Tapi mata Hilman tetap menatap Wajah Naya.
“ tapi “
“ aku lekantor kamu dan kamu ngak ada “ Hilman mulai serius tapi intonasinya tetap lembut .
“ iya ada keperluan mendadak “
“ Lebih penting yang mana “
“ Ya proyek kulah “
“ sudah jelas kan , kamu lebih mentingin proyek kamu dari pada aku , terus butuh alasan apalagi kita membahas masalah ini , kamu punya prioritas akupun juga punya” ujar Hilman lembut.
Hilman diam menatap Naya , dia berusaha beradu pandang agar Nay bisa melihat keseriusan dimatanya .
“ sama seperti yang kamu bilang proyek ini penting bagi ku dan aku ngak ingin kosentrasiku buyar jika harus mentingin hal lain , lagian semalam juga sudah kamu jawab apa ada yang salah “
“ ya paling engak kan kamu bisa kordinasi sama aku “
“ kamu kan juga bisa nanya apapun toh aku ngak kemana mana ningalin kamu “
__ADS_1
“ jadi kamu nyalahin aku “ Naya terpancing .
“ nyalahin gimana tadi kan kamu sendiri yang nanya , bagian mana aku nyalahin kamu “ Hilman tetap tenang .
“ tadi kamu bilang ningalin , kamu nyindir aku ngak nepatin janji “
“ Nay sebenarnya masalah apa yang harus kita bahas , aku tahu kamu sibuk jadi aku ngak mau membebani kamu jadi aku harap disaat aku sibuk kamu juga bisakan ngertiin aku “ Hilman tak ingin terjebak berputar pada masalah yang sama .
“ Ya aku ngerti terus kenapa kamu bahas aku ningalin kami kalo ngak suka bilang aja “
“ oke maaf kalo kamu tersingung , sekarang aku tanya kamu lemana kemaren “
Sebenarnya lidah Hilman sudah kelu untuk mengatakan kebenaran tapi pikiranya masih menolak berharap Naya bisa jujur .
Naya terdiam , bingung menjawab pertanyaan Hilman jika dijawab soal proyek Hilman tentu kembali diam , dia sebenarnya curiga Hilman tahu dia kemana.
“ kamu tahu aku kemana “ dengan ragu Naya berusaha mengikis keraguannya .
“ Tahu”
“ terus kamu ngak nanya “
“ untuk apa , kalo kamu mgak mau bilang , ngak mungkin juga kan aku paksa “ Hilman masih seperti semula , emosinya tenang tak terlihat sedikitpun marah atau cemburu.
__ADS_1
“ Nay jika kamu ngak mau membahasnya , aku ngak ingin bertanya lebih jauh , kamu punya prioritas begitupun aku jadi seberapapun banyak kita berdebat ujungnya ngak akan ketemu “ suara Hilman melunak , bukan karna mengalah tetapi lebih mengotrol emosi dia tahu Nay cukup teperamental da tak mau disalahkan .
“ ya sudah lah , aku juga ngak mau bahas lebih lanjut “