
" Hill aku kerumah papa" sebuah pesan masuk saat Hilman baru sampai di kantor , kebetulan tadi Jordi menelpon selepas Hilman keluar gerbang tol , langit sudah gelap terlihat gerimis sudah turun membasahi bumi , menuju akhir tahun menandakan musim hujan akan datang , melewati basemant Hilman langsung kelantai sepuluh , disana Jordi , Glen , Roby dan Zola sudah stand by bermain kartu lewat hape , ruangan sudah berserakan karna sampah cemilan.
" kacau ini" sambil memijit kepala.
" tenang bos kecil nanti kita beresin" sela Zola .
" ada masalah apa " sambil menaikan kaki keatas meja lalu mengambil satubpak besar kacang goreng berlogo burung.
" grup blood diamond kabarnya menyusup ke paradise island , tadi bos besar bilang tingkatkan keamanan , Glen sudah melacak member mereka ada lima yang sudah diketahui , tapi mereka masih di afrika" jelas Jordi.
" apa ada tim red hook dikirim kesini"
" saat ini belum , tim Leaf sudah menerima konfirmasi "
( tim yang menjaga keluarga Gamawan , enam orang berada disisi Abymana)
" kami perketat pancarian kemungkinan karna kasus skull army"
" kenapa apa mereka memiliki hubungan " Hilman merasa aneh ..
" Pamela simpanan Chiko pemimpin Blood , tapi bukan itu masalah pentingnya , Pamela menyembunyikan kekayaan Chiko , jadi dia ingn mengambilnya kembali , Pamela berkoar jika harta iti ditinggal di Paradise city" jelas Glen sambil membuka laptopnya.
" kamu tahu barang apaan "
__ADS_1
" sampai sekarang masih rancu "
Hilman pulang dengan hati gusar , setahunya Pamela dan Skull army sudah dikirim ke Metro city
" astaga " sambil menepuk kepalanya , saat ini Kanaya berada di kediaman Gilbert dan tentunya Kanaya butuh ketenangan , Hilman menimbang untuk menyusul atau tidak , dia masih belum memahami karakter Kanaya . perlahan range rover abu abu metalik memasuki garasi , mul mambukakan pintu , wajahnya masih sekaku dahulu walau sudah bisa senyum saat menyapa Hilman .
" selamat malam pa , ma " sapa Hilman ketika melintasi ruang tengah , kedua mertuanya itu sedang menyaksikan acara di televisi .
" ok nak Hilman , Nayanya dikamar apa perlu mama panggilkan "
" ngak usah ma , biar saya sendiri keatas "
Saat sampai di pintu kamar Naya terdengar percakapan yang cukup jelas , Kanaya terdengar tertawa riang Hilman tak mau menganggu kesibukan Naya perlahan dia berjalan kesofa lalu menyibukan diri dengam Hapenya.
" iya iya , nanti kalo kamu pulang aku traktir "
" setuju mau yang mana sambil menunjuk beberpa model tas "
" yang ujung " tunjuk Naya gembira
" ini oke , besok aku aku berangkat , jangan lupa sayang kamu jemput aku dibandara "
" pasti "
__ADS_1
Kanaya berjalan keluar kamar , sanyumnya masih mengembang sambil bernyanyi kecil tiba tiba wajahnya tegang ketika melihat seseorang sedang terbaring di sofa , perlahan mendekat dia ingin mengetahui siapa yang sedang terlelap .
" Hilman , kenapa dia tidur disini " dahinya mengerut diliriknya hape Hilman di atas meja sudah jam satu malam berarti sudah lebih tiga jam Naya bertelpon ria.
" Hil bangun" pelan menguncang tubuh Hilman .
Sebenarnya dia masih belum mau bertemu dengan Hilman , hatinya masih ragu menetapkan pilihan .
Jika boleh jujur , belum ada perasaan cinta dari Naya terhadap Hilman , selama ini dia begitu nyaman di samping laki laki itu namun hatinya masih menolak , ketika berbicara dengan Bastian sifat aslinya keluar bahkan manjanya , tentu Bastian cinta pertama Naya.
" Hil bangun , kenapa kamu tidur disini "
" eh , aku ketiduran , jam berapa sekarang " melirik jam tangannya sebuah brietling hadiah Kanaya saat dia wisuda dulu .
" kok kamu nyusul kesini "
" emangnya kamu ngak mau ketemu sama aku " Naya terdiam mendengar jawaban Hilman , jarang Hilman menanyakan langsung seperti itu.
" bukan , tapi kan sudah malam "
" tadi aku sampe jam sepuluh , ngak enak sama papa dan mama kamu pulang sendirian"
Kanaya makin galau , jelas dia ingin menjauhi Hilman sementara waktu .
__ADS_1