
Hilman menenteng makanan yang dia pesan di resto depan Empiere state sesuai rekomendasi Adele ada beberapa jenis makanan , dia juga belum makan siang.
“ kemana ganteng “ Sarah bergegas berdiri kembali mengoda Hilman
tapi ditangapi datar walau Sarah sudah mengeluarkannjurus mautnya.
Hilman berdiri kokoh menatap kearah Nara yang sedang di peluk Caesar , waktu datang dia melihat pintu kantor Kanaya terbika dan tanpa pikir panjang Hilman langsung masuk dan melihat hal yang mestinya tidak dia lihat . Nay a panik karna Caesar semakin berani merangkulnya . Seketika Hilman menangkap tangan Caesar yang diserang nya tempo hari lalu memelintirnya hingga Caesar berlutut kesakitan .
"tap "
Hilman tak memberi Caesar kesempatan bernafas lalu menangkap leher dan mendorongnya ke dinding.
“ lepasin bro , gue udah selesai mainya “
Suara serak Caesar karna tengorokanya perih dicekik Hilman
namun tak diperdulikan .
“ Hilman lepaskan dia “ entah ketakutan atau bagaimana , Naya seakan dia lebih membela Caesar dari pada Hilman yang baru saja kemaren menjadi suaminya negitulah pikir Hilman .
Melihat tatapan Hilman membuat Naya bergidik ketakutan .
__ADS_1
“ ingat ini peringatan terakhir , jika lo berani macam macam lagi , gue ngak jamin akan seramah ini “ Hilman mendorong Caesar seketika dia langsung tumbang dan mengerang pilu
Caesar bergegas keluar dari ruangan Naya , Hilman duduk menenangkan pikiran , bukan cemburu saat ini yang dia rasakan lebih kepada pengkhianatan bukan karna status yang baru saja diembannya melainkan pada pengorbanan yang baru saja dia pikul akibat pernintaan Naya dan Gilbert .
“ kenapa kamu lebih marah dibanding aku “ Naya menatap aneh sikap Hilman .
“ apa kamu tak pernah belajar dari pengalaman “
“ tapi ini tak seperti yang kamu lihat “ Naya kesal karna dituduh melakukan hal yang tidak dilakukannya.
“ jadi seperti apa yang harusnya aku lihat , seperti kemaren “
“diam “ seketika Naya menampar pipi Hilman . Hilman tertawa kecil
“ aku ngak ngerti jalan pikiran kamu , kamu lebih rela tubuh mu disentuh siapapun dari pada menghargai pendapat ku , kalau begini kenapa kamu meminta orang tua mu menikahkan kita “
Naya terdiam memang benar apa yang dikatakan Hilman tapi semua tak sesederhana itu.
“ini tak seperti yang kamu pikirkan , banyak yang harus saya korbankan untuk mecapai posisi ini “ suaranya langsung berat berusaha menahan masalah yang ada dihatinya
“ termasuk merelakan tubuh mu seperti tadi “
__ADS_1
“ tidak “
“ Lalu “
“ kenapa kamj menghakimiku akan apa yang tidak kuperbuat “
“ bukti terlihat oleh mata bukan terungkap dengan mulut nona Naya , buktikan kalau apa yang kulihat salah “ ujar Hilman lembut , dia bukan pria yang berpikiran picik menuduh Naya sembarangan.
Pipi Naya memerah mata nya seakan mengandung air yang sebentar lagi turun membanjiri pipi mulus.
“ banyak proyek kami gagal , jika seperti ini perusahaan mungkin akan pailit , akan banyak karyawan diphk “
Akhinya lepas juga, air mata membanjiri pipi Naya , perasaan yang selama ini dia tahan membuncah . Hilman mendekati dan merebahkan kepala Naya di bahu nya , dia tahu saat ini Naya lebih butuh sandaran , tanpa sadar Naya menuruti perlakuan Hilman yang membuatnya nyaman .
“ kamu sabar ya , setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya , jika boleh aku bantu bisa bantu "
“ ceritalah “
Perlahan Naya mulai tenang , Hilman memberikan tisu agar dia menyeka pipinya yang basah , dengan sabar Hilman menanti tanpa bergeser , dia berharap paling tidak hubungan mereka bisa lebih baik dan Naya tak mengangap dirinya sebagai tameng saja.
“ semua ini bermula saat aku mempromosikan produk papa di outlet kami , perusahaan Howart juga merilis produk yang sama , tiba tiba banyak perusahaan membatalkan kontrak sepihak setelah ditelusuri perusahaan Howart dalang nya mereka meniru produk kami lalu menuduh kamilah tang melakukan pemalsuan , saat ini kami terancam tuduhan pemalsuan"
__ADS_1