
“ kamu sabar ya , apapun masalah lo , kami selalu ada kok buat lo “ memberi semangat.
Hilman , Akira dan Zack teman sejak Smp , sebenarnya dulu Akira menyukai Hilman namun tak berbalas karna bagi Hilman persahabatan lebih baik daripada sebuah hubungan .
“ Gimana alatnya “
tanya Akira .
Rendi dan Zack datang
Mereka berdua mengangkat jempol .
“ eh guys , gue balik dulu ya ntar kalo anak anak datang titip salam aja “
“ mu kemana lu kacamata” Tanya Zack .
“ disuruh nyokap pulang “ Naura bergegas turun kelantai bawah karna mobil jemputanya sudah datang.
..
Hilman memilah beberapa buku di perpustakaan kota , kemaren buk Santi memberikan tugas membuat makalah demi menutupi kekurangan nilai . Bagi Hilman lebih baik disuruh lari mengelilingi kampus tiga kali putaran dari pada meringkas .
Beberapa orang berseragam hitam dengan kacamata hitam memasuki pustaka dan memutari seperti mencari sesuatu atau seseorang , para pengunjung panik tapi tak seorangpun berani komplain termasuk pengelola pustaka , Hilman tak begitu mengacuhkan karna tak terlalu mengangunya , beberapa tumpukan buku berjejer dihadapannya lebih menakutkan jika dibandingkan suasana disini.
“ kosong cari area lain “
__ADS_1
“ tadi jelas gue ngeliat dia masuk kedalam “ sangah salah satu dari mereka .
“ kalo gitu lo stand by disini “
Terlihat yang membentak tadi keluar bergegas , diikuti oleh yang lain , sedangkan yang menjawab tadi kembali mengitari seluruh ruangan karna masih penasaran.
Hilman merasa ada yang bergerak dibawah kolong mejanya , pelan pelan dia menunduk .
“ Sssttt” sebuah jari mungil menutup bibir yang kemerahan seperti memberi kode supaya tidak memberi tahu .
Hilman kembali keposisi semula , tak lama , orang tadi berputar dibelakang Hilman dan berhenti , dia menarik hodie Hilman .
“ ada masalah bos “ ujarnya ,dia langsung berdiri sambil membuka Earphone yang masih terpasang , matanya jelas memperlihatkan kekesalan menatap preman yang berdiri dibelakangnya karna sedari tadi pria itu menatapnya terus.
“ maaf salah orang “
“ Makasih ya “ suara dari gadis imut yang baru keluar dari kolong meja Hilman . Untung saja mejanya memiliki sekat tinggi jadi tak begitu terlihat dari sisi depan , dia keluar setelah menerima kode dari Hilman.
“ kabur “
Dia mengangukan kepala , Hilman terpana dengan senyuman gadis yang ada didepanya , bila ditafsir umurnya mungkin seusia adiknya Zarfan.
“ kriiukkk”
terdengar suara yang mengoda mata seketika gadis itu bersemu merah .
__ADS_1
Hilman tersenyum lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan beberapa snack dan minuman ringan , gadis itu malu malu memakan nya dengan lahap sambil melirik kekiri dan ke kanan.
" makasih "
“ mau diantar pulang atau pulang sendiri “ Mata Hilman tak lepas dari gerak gerik gadis itu membuatnya sungkan menghabiskan makanan yang ada ditangannya.
“ gue ngak berasal dari kota ini “
Hilman terdiam , menerka nerka apa yang sebenarnya terjadi.
“ Terus sekarang gimana “
“ ikut kakak boleh “
“ Ngak bisa , kekantor polisi aja gimana “
“ Jangan kak “ karna tergesa dia langsung keselek , Hilman memyodorkan minuman langsung ditengak sampai habis .
“ ikut kakak aja ya , please “ gadis itu menatap denga mata sayu penuh pengharapan . Hilman mengaruk kepalanya memikirkan solusi , ngak mungkin baginya membawa pulang apalagi beberapa waktu belakangan dia malas menginjakan kakinya dirumah , ditempat tinggal sekarang juga ngak mungkin , karna dia numpang sementara diteman papanya.
“ ok , tapi tempat kakak seadanya “
Hilman terfikir kalu ada ada tante Dinda , mereka memiliki anak perempuan , pasti ngak masalah .
Hilman melihat kiri kanan memastikan suasana aman , gadis tadi sekarang mengunakan hodie milik Hilman tadi sekaligus mengunakan masker agar tak di curigai preman tadi .
__ADS_1
Merasa aman Hilman bergegas mengeluarkan motornya diparkiran dan menuju tempat tujuan.