
" Hari baik tak selalu datang tepat waktu, jadi tak perlu di permasalahkan yang penting kalian akhirnya bersatu " Dere bersenandung diiringi tepuk tangan.
" Hill aku bareng kamu ya pulang nya" Senina mendekati Hilman yang tengah bersantai diluar.
" Boleh sih tapi aku pake motor " Sambil menunjuk motor matik nya , dia ragu karna Senina belum pernah naik motor.
" Ngak masalah kok , asal ngak ngebut"
Mereka meningalkan kediaman Soraya bersama keluarga Ramish , Hilman mengendarai motornya dengan santai apalagi udara mulai dingin , jas nya sudah dipakai Senina.
" Kamu ngak mampir dulu , papa kayanya masih di ruang tamu " Ujar Senina saat mereka sampai di depan rumah.
" Ngak deh kapan kapan aja"
" Oke aku tunggu ya , kamu hati hati"
" Aku duluan "
Senina melepas kepergian Hilman sampai tak terlihat baru dia masuk ke dalam rumah.
" Sama siapa tadi " tanya mamanya.
" Diantar Hilman , barusan dia pulang"
" Kok ngak di suruh mampir "
" Kemalaman katanya "
Senina naik menuju kamarnya , sebenarnya hari ini dia pergi menemani om Rahmayadi di acara pengkaderan namun mendengar Hilman datang di pesta ulang tahun Soraya dia akhirnya menolak dan memilih pergi ke acara teman kampusnya, dia berharap bisa dekat denga Hilman entah mengapa pria itu membuatnya selalu kepikiran.
..
__ADS_1
Hilman baru saja sampai di apartemen pukul satu malam , ruangan makin terasa dingin membuat hatinya membeku.
Perkataan Bastian sore tadi sungguh memenuhi kepalanya , dia tahu jika Kanaya sedari awal memang tidak memilihnya dan dia juga tahu bagaimana pun dia berusaha dia tak kan mampu membuat Kanaya berpaling padanya.
Dia berjalan ke sudut ruangan lalu membuka sebauah lemari yang tak terlihat ,disana berjejer minuman alkohol berbagai merek, mengambil sebotol patricius , sebuah white wine dia sediakan jauh jauh hari menemani nya dikala sepi.
Dia sangat membenci perselingkuhan karna hal inilah yang membuat kekuarga nya hancur , sudah dua tahun dia berusaha melupakan kejadian itu dan selama itu pula dia mencari kesibukan agar melupakan dan menutupi semua dari siapapun ,tak ada yang mengetahui luka yang dia miliki, namun pernikahan yang tak di harapkannya berakhir lebih parah , istri yang jelas jelas didepan matanya memilih laki laki lain sebagai tambatan hati.
Kembali Hilman meringkuk di sofa sampai matahari memenuhi ruangan dua botol kosong wine tergeletak di lantai, kepalanya sakit karna mabuk semalam, jam sudah menunjukan pukul sepukuh , padahal jadwalnya cukup padat pagi ini , dengan gontai dia pergi mandi dan bergegas berangkat.
" Bos jadwal pagi kami alihkan pada nona Grace , tinggal menemui pihak Waskita sebelum makan siang " Anisa langsung menghampiri Hilman .
" Apa mereka sudah datang"
" Sudah bos , mereka baru saja menunggu di ruang meting"
" Siapkan berkasnya"
" Selamat siang tuan Hilman , maaf menganggu lesibukan anda " Pria paruh baya itu bergegas berdiri menyapa karna di peringati oleh Si wanita , terlihat dia adalah asistennya .
" Selamat siang tuan Irwan , maaf saya agak telat" Menyambit tangannya dengan sopan .
Berbeda dengan pria yang ada di sebelahnya , wajahnya langsung kaku begitu melihat siapa lawan bicara ayahnya .
" Kamu " gumamnya.
Walaupun lunak namun tetap didengar Irwan.
" Begini tuan Hilman , sebelumnya kami sudah memeriksa mega proyek anda dan kami berkeinginan untuk bekerja sama untuk kedepan , ditambah saat ini perysahaan anda membutuhkan sumber daya lebih .
" Terima kasih atas peehatian tuan Irwan atas perusahaan kami , benar saat ini kami terkendala oleh sumber daya namun , kami memiliki beberapa kriteria dan sepertinya tuan sudah mengetahuinya"
__ADS_1
Irwan tahu dan tentu kendala itulah yang menjadi permasalahan , Hilman menyaratkan jika perusahaan yang bekerja sama mempunyai dasar bisnis di Paradise Island sedangkan Waskita belum pernah memulai bisnis disini bahkan melirik pun tidak , dan itu dahulu.
" Oleh karna itu kami mengajukan permohonan yang menjadi pertimbangan tuan Hilman kedepan "
Lalu sang asisten menyodorkan proposal yang mengiurkan , tentu sebagai pengusaha hal ini sulit di tolak apalagi bisa mendatangkan keuntungan maksimal.
" Baik , permohonan tuan Irwan akan kami pertimbangkan , semoga kedepan hasilnya bisa memuaskan "
Hilman tak langsung memutuskan kesepakatan apalagi matanya melirik pria yang tempo hari membuatnya kesal , dia pasti tahu selepas ini Pihak Waskita akan berfikir dua kali jika mengetahui generasi mudanya berbuat ulah dengan orang terpenting Empiere.
" Kalau begitu kami permisi dulu , semoga kedepan kita bisa bekerja sema"
" Saya juga berharap demikian "
Hilman melepas kepergian utusan Waskita keluar ruangan dan kembali ke kantor , perutnya keroncongan karna belum sarapan , untungnya tadi dia sempat makan beberapa potong snack .
" Anisa apa menu makan siang kita "
Dia menghentikan langamkahnya didepan meja sekretaris nya yang berjilbab.
" Bos mau apa , si kantin sekarang ada semur daging dan welington"
" Pesan saja itu ".
Dia kembali ke dalam kantor , meluruskan pinggang , sampai sekarang pengaruh alkohol semalam masih terasa.
" Bos , Howart company sudah mengambil umpan , gimana apa boleh lanjut "
Sebuah pesan masuk kedalan hapenya saat dia berbaring.
" Eksekusi sekarang"
__ADS_1