
" terus Hill , remas yang kuat " bisik Naya sambil mengarahkan tangan Hilman ke gundukan kebangaannya.
Pertahanan Naya runtuh , dengan mata terpejam jemarinya menari dikancing kemeja Hilman . satu persatu lepas , dengan satu hentakan terbukalah dada bidang pemuda yang menekan tubuhnya dari atas.
" apa boleh Nay " bisik Hilman lembut sambil mengigit kuping Naya pelan, dia tak kalah panas.
" terserah kamu Hill semua milik mu" erangnya .
Antara sadar atau tidak Naya menekan kepala Hilman turun lebih rendah mencaplok gundukan ganda yang masih tertutup rapi , batas tipis itu berlahan tersingkirkan memamerkan keindahan , Hilman berpacu dengan dirinya memberikan nuansa baru untuk Naya.
Diluar hujan lebat menemani malam panas mereka , bias rintik hujan penuh menghujani jendela sederas nafas mereka berpacu.
kain merah maron sudah terongok dibawah meja menemani berkas Hilman yang beberapa hari belakangan menumpuk.
Jalan mulus sudah terbuka lebar , tetes keringat menambah lancar jalur menuju puncak .
" terus "
******* Naya membuat gelombang serangan muncul bertubi tubi , ibarat ombak pasang yang mengetarkan pantai sofapun ikut bernyanyi riang memberi semangat pada tuannya.
Skema tak pernah direncanakan Hilman , serangan demi serangan berjalan lancar tanpa pengawalan , alampun mendukung tindakanya hingga sampai pada batas dalam satu hentakan Hilman menuntaskan permainan , Naya tak berkutik .
Menjelang dini hari game selesai di ronde terakhir , Naya sudah tidak menemani Hilman menutup permainan.
Perlahan Hilman mengendong Naya dan membaringkan diatas ranjang lalu bergegas mandi , kesadarannya mulai timbul , membayangkan apa yang baru saja dilalui .
" maaf Nay "
__ADS_1
setelah merapikan selimut istrinya yang baru saja dimiliki seutuhnya baru dia berbaring dan hanyut ke alam mimpi .
..
Kepala Kanaya berdenyut akibat mengkonsumsi Wine berlebihan , biasanya dia tak pernah lepas kontrol seperti malam itu , entah karna banga dengan keberhasilanya atau karna Hilman yang selalu membuatnya bahagia.
" aduh " Naya merasa pingangnya ngilu saat mulai bangun .
" astaga " otomatis dia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya , pikirannya melayang kembali pada saat kesadarannya masih ada , Hilman memapahnya pulang , dia mabuk lalu , tangannya perlahan menuju leher , disana sebuah liontin merah muda melingkar hadiah terindah yang dia terima langsung dari Hilman , pipinya memerah mengingat kejadian setelah itu , dia sadar karna dirinyalah yang memulai , hingga setiap sentuhan Hilman mengantarkannya terbang .
" Sudah bangun Nay "
Hilman yang sudah rapi kembali ke kamar , celemek terlihat kontras dengan kemeja biru yang melekat pas ditubuh Hilman .
" kamu mau mandi , biar kusiapin air hangat "
" ayo " tercium aroma segar bersama dengan Hilman keluar .
" aku bisa sendiri "
perlahan Naya berdiri , tubuhnya limbung beruntung Hilman berdiri disamping , dengan cekatan Hilman mengendong Naya kekamar mandi , perlahan tubuh yang dibalut seprai itu menyentuh air hangat yang bertaburan kelopak bunga , aromanya sungguh menyegarkan.
" tingalin aku sendiri "
Naya tak berani menatap mata Hilman .
" baik " mengelus pucuk kepala dengan lembut kemudian berbalik.
__ADS_1
Hampir satu jam Naya berdiam di bathtup selama itu dia merenungi dirinya , apa yang sudah terjadi serta , hatinya masih memilih Bastian tapi sekarang tubuhnya sudah dimiliki Hilman , Naya harus segera mengambil keputusan dia tak ingin terjebak dalam dilema cinta yang menghanyutkannya.
Memang sampai sekarang baik dia maupun Hilman belum mengungkapkan perasaan masing masing .
" Naya ayo keluar , ini sudah sejam " Hilman memangil lembut.
" iya sebentar " baru dia sadari jika sudah selama itu dia berendam.
" ayo makan "
Hidangan diatas meja sangat mengugah selera , bubur ayam dengan ayam suwir , dadar gulung serta orak arik sayuran cumi campur.
Naya makan dengan lahap , dia begitu menyukai bubur ayam ditambah orek cumi yang gurih
" Hill aku dirumah saja ya , masih ngantuk" sambil melirik kejam dinding sudah hampir pukul sepuluh.
" ngak pa pa , kamu istirahat aja , nanti kalo ada perlu hubungi aku "
Dia menatap Hilman yang kembali kekamar , ada kerisauan di dalam hatinya , walau Hilman baik tapi mereka tak pernah membahas tentang hubungan mereka, perlagan bulir air membasahi pipi Naya.
" Nay maaf jika aku menyakitimu , aku bukan laki laki sempurna yang bisa memberikan mu seluruh kebahagiaan , tapi yakinlah selama kamu percaya aku akan memberikan yang terbaik untukmu "
Naya langsung tersentak , barusan dia menutupi wajahnya , dia tak ingin Hilman melihat dia menangi , namun nyatanya pria itu malah berlutut disamping nya dengan sebuah kotak kuning ditangan.
" maksud mu apa Hill"
" maukah kamu menjadi istriku "
__ADS_1