Cinta Ini Telah Terbagi

Cinta Ini Telah Terbagi
menjadi pria terbaik


__ADS_3

" terus Hill , remas yang kuat " bisik Naya sambil mengarahkan tangan Hilman ke gundukan kebangaannya.


Pertahanan Naya runtuh , dengan mata terpejam jemarinya menari dikancing kemeja Hilman . satu persatu lepas , dengan satu hentakan terbukalah dada bidang pemuda yang menekan tubuhnya dari atas.


" apa boleh Nay " bisik Hilman lembut sambil mengigit kuping Naya pelan, dia tak kalah panas.


" terserah kamu Hill semua milik mu" erangnya .


Antara sadar atau tidak Naya menekan kepala Hilman turun lebih rendah mencaplok gundukan ganda yang masih tertutup rapi , batas tipis itu berlahan tersingkirkan memamerkan keindahan , Hilman berpacu dengan dirinya memberikan nuansa baru untuk Naya.


Diluar hujan lebat menemani malam panas mereka , bias rintik hujan penuh menghujani jendela sederas nafas mereka berpacu.


kain merah maron sudah terongok dibawah meja menemani berkas Hilman yang beberapa hari belakangan menumpuk.


Jalan mulus sudah terbuka lebar , tetes keringat menambah lancar jalur menuju puncak .


" terus "


******* Naya membuat gelombang serangan muncul bertubi tubi , ibarat ombak pasang yang mengetarkan pantai sofapun ikut bernyanyi riang memberi semangat pada tuannya.


Skema tak pernah direncanakan Hilman , serangan demi serangan berjalan lancar tanpa pengawalan , alampun mendukung tindakanya hingga sampai pada batas dalam satu hentakan Hilman menuntaskan permainan , Naya tak berkutik .


Menjelang dini hari game selesai di ronde terakhir , Naya sudah tidak menemani Hilman menutup permainan.


Perlahan Hilman mengendong Naya dan membaringkan diatas ranjang lalu bergegas mandi , kesadarannya mulai timbul , membayangkan apa yang baru saja dilalui .


" maaf Nay "

__ADS_1


setelah merapikan selimut istrinya yang baru saja dimiliki seutuhnya baru dia berbaring dan hanyut ke alam mimpi .


..


Kepala Kanaya berdenyut akibat mengkonsumsi Wine berlebihan , biasanya dia tak pernah lepas kontrol seperti malam itu , entah karna banga dengan keberhasilanya atau karna Hilman yang selalu membuatnya bahagia.


" aduh " Naya merasa pingangnya ngilu saat mulai bangun .


" astaga " otomatis dia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya , pikirannya melayang kembali pada saat kesadarannya masih ada , Hilman memapahnya pulang , dia mabuk lalu , tangannya perlahan menuju leher , disana sebuah liontin merah muda melingkar hadiah terindah yang dia terima langsung dari Hilman , pipinya memerah mengingat kejadian setelah itu , dia sadar karna dirinyalah yang memulai , hingga setiap sentuhan Hilman mengantarkannya terbang .


" Sudah bangun Nay "


Hilman yang sudah rapi kembali ke kamar , celemek terlihat kontras dengan kemeja biru yang melekat pas ditubuh Hilman .


" kamu mau mandi , biar kusiapin air hangat "


" ayo " tercium aroma segar bersama dengan Hilman keluar .


" aku bisa sendiri "


perlahan Naya berdiri , tubuhnya limbung beruntung Hilman berdiri disamping , dengan cekatan Hilman mengendong Naya kekamar mandi , perlahan tubuh yang dibalut seprai itu menyentuh air hangat yang bertaburan kelopak bunga , aromanya sungguh menyegarkan.


" tingalin aku sendiri "


Naya tak berani menatap mata Hilman .


" baik " mengelus pucuk kepala dengan lembut kemudian berbalik.

__ADS_1


Hampir satu jam Naya berdiam di bathtup selama itu dia merenungi dirinya , apa yang sudah terjadi serta , hatinya masih memilih Bastian tapi sekarang tubuhnya sudah dimiliki Hilman , Naya harus segera mengambil keputusan dia tak ingin terjebak dalam dilema cinta yang menghanyutkannya.


Memang sampai sekarang baik dia maupun Hilman belum mengungkapkan perasaan masing masing .


" Naya ayo keluar , ini sudah sejam " Hilman memangil lembut.


" iya sebentar " baru dia sadari jika sudah selama itu dia berendam.


" ayo makan "


Hidangan diatas meja sangat mengugah selera , bubur ayam dengan ayam suwir , dadar gulung serta orak arik sayuran cumi campur.


Naya makan dengan lahap , dia begitu menyukai bubur ayam ditambah orek cumi yang gurih


" Hill aku dirumah saja ya , masih ngantuk" sambil melirik kejam dinding sudah hampir pukul sepuluh.


" ngak pa pa , kamu istirahat aja , nanti kalo ada perlu hubungi aku "


Dia menatap Hilman yang kembali kekamar , ada kerisauan di dalam hatinya , walau Hilman baik tapi mereka tak pernah membahas tentang hubungan mereka, perlagan bulir air membasahi pipi Naya.


" Nay maaf jika aku menyakitimu , aku bukan laki laki sempurna yang bisa memberikan mu seluruh kebahagiaan , tapi yakinlah selama kamu percaya aku akan memberikan yang terbaik untukmu "


Naya langsung tersentak , barusan dia menutupi wajahnya , dia tak ingin Hilman melihat dia menangi , namun nyatanya pria itu malah berlutut disamping nya dengan sebuah kotak kuning ditangan.


" maksud mu apa Hill"


" maukah kamu menjadi istriku "

__ADS_1


__ADS_2