Cinta Ini Telah Terbagi

Cinta Ini Telah Terbagi
pesan


__ADS_3

“ kamu ngak tanya asal ku dari mana “ Gadis menatap heran sikap Hilman yang cuek apalagi semenjak mereka bertemu Hilman membantunya tanpa curiga .


“ besok aja “ Hilman segan karna terlihat kalau Gadis sudah mengantuk , apalagi masih tersirat ketakutan diwajahnya dia juga tak ingin membebani pikitan Gladis dengan ketakutan yang tak jelas .


“ kalau aku kabur gimana “


Hilman tersenyum mendengar penuturan Gadis , dia menatap sejenak .


“ kita ditengah ladang , butuh satu jam dengan kendaraan keluar dari kampung ini , hanya seratus kepala keluarga dan hanya satu akses jalan keluar dengan begitu banyak binatang liar apalagi disekitar sini ada harimau , kalo kamu berani kabur ngak masalah “ Hilman mengangkat kedua jempol tangannya memberi semangat.


Gladis itu terdiam pasrah ketakutan mulai muncul dihatinya , dan yang pasti tak ada jalan pulang , lepas dari mulut harimau malah tertahan dikandang serigala mungkin itu yang ada dipikiran Gladis, perlahan raut wajahnya berubah .


“ jangan takut , besok kita bicara gimana cara kamu pulang ketempat asal mu ya disini aman “ ujar Hilmam lembut .


“ sekarang kamu tidur dulu dan jangan lupa disini dingin “ Hilman mengambil dua lembar selimut tebal dari lemari agar gadis tak kedinginan.

__ADS_1


“ Kamu tidur dimana “


“ dikamar sebelah , nanti kalau ada perlu pangil aja “ Hilman menarik selimut agar menyelimuti tubuh gadis , Gladis menurut karna tubuhnya sudah lelah .


Hilman masuk kekamar Zarfan yang bersebelahan dengan kamarnya setelah memastikan kalau Gadis sudah tidur.


Dia merebahkan tubuhnya yang masih kaku karna menahan tubuh Gladis yang begitu kuat memeluk tubuhnya saat berkendara tadi senyum nya muncul mungkin karna pikiran nya melayang saat punggungnya merasakan sesuatu yang lembut menempel , Gladys tak pernah menaiki motor makanya dia bersikap begitu tanpa memikirkan Hilman yang panik menahan . Sambil rebahan dia membuka smartphone nya , disana sudah banyak pesan yang masak terlebih dari papanya.


Hilman keluar menuju beranda untuk menelpon Ray.


“ dimana kamu sekarang “


“ dirumah Abah , kangen “


mencari alasan. kota mereka dan tempat rumah babe hanya berjarak dua setengah jam perjalanan ditambah Hilman ingin mengantar Gladis seandainya dia ingin pulang dan akses tercepat tentu saja bandara atau terminal antar kota yang berada di ibukota provinsi.

__ADS_1


“ titip salam sama Abah dan orang rumah dan ingat , jangan macam macam “


“ beres pa “ Hilman tersenyum mendengar ketegasan papanya seakan tahu apa yang dilakukannya .


Setelah menutup telepon dia mengabari Zarfan dan temanya kemudian lembali kekamar setelah mengintip kamar Gadis memastikan kalau dia sudah tidur .


(Gadis)


Setelah kabur dari penyergapan penculik , dia memasuki sebuah gedung perbelanjaan di sudut kota karna takut akan tertangkap lagi , untung saja orang orang tak memperhatikan kedatangannya dan langsung menuju ketengah ruangan dan bersembunyi dibalik lemari .


Gadis melihat rombongan penculik sudah berdiri dipintu masuk perpustakaan lalu dia menunduk memastikan kalau dia tak terlihat , untung saja pemuda yang berada di samping lemari berdiri mengambil benerapa buku , Gadis merangkak pelan dan masuk kekolong meja, untung saja kolong meja itu besar hinga saat pemusa itu kembali duduk Gladis bisa menahan tubuhnya yang kecil agar tak bersentuhan dengan kakinya.


Gadis mengangkat telunjuk kearah mulutnya karna pemuda itu menunduk dan melihat kekolongeja karna kakinya sudah Kram dan berharap pemuda itu mengerti maksudnya . Pelan pelan Gadis meluruskan kakinya yang sudah hilang rasa , pemuda iti memberi ruang dengan mengankangkan kakinya agar ruang dibawah meja menjadi lega .


Gadis duduk dikursi sambil menekukan kepala

__ADS_1


__ADS_2