
Awalnya aku mangsanya, tetapi sekarang aku pemangsanya, Pikir Damian Marcel sambil berburu menyusuri New Orleans, mencari wanita yang pernah mencoba membunuhnya. Wanita yang menjadi pasangan takdirnya, satu satunya yang bisa memberikannya keturunan.Jamie Walsh.*Daicara* \-nya.
Kesegaran air sungai menusuk indra penciumaannya.Ia menghela napas dalam mereguk keharuman Mississippi. Indra Draicon Damian merasakan air yang mengalir, lalu menyesapnya lembut dan perlahan.Akhirnya, ia kembali kerumah.
Kegembiraan dan duka mendalam muncul bersamaan di dalam dirinya. Bukan. Tempat ini bukan lagi rumahnya. Ini hanya makam sialan yang menyedot tubuhnya ke dalam tanah, membuatnya ingin berteriak sembari mencoba memanjat keluar.
Damian mencoba berkonsentrasi pada kekuatan fisiknya, membuka diri terhadap apa pun, meredam insting untuk mengubah wujudnya menjadi serigala, sisinya yang dominan. New Orleans memang terkenal dengan dunia supernatural, namun bila ada serigala berkeliaran ditengah keramaian French Quarter, segelintir turis pasti ketakutan. Ia tersenyum lebar.
Tiba\-tiba keharuman lain yang lebih kuat merasuki indra penciumannya. Aroma *honeysuckle* dan kehangatan wanita. Lubang hidungnya mengembang, mencoba menangkap aroma yang menyeruak. Jemarinya terangkat, menelusuri udara seolah sedang membelai kulit halus seorang wanita.
"Jamie", gimana Damian." Jamie, *chere*. Kau boleh kabur, tapi tak bisa bersembunyi. Aku pasti menemukanmu."
Ia menyimpan dalam bahasa Prancis saat aroma wanita itu tiba\-tiba memudar. Di suatu tempat, dia dalam gang\-gang sempit, toko\-toko warna\-warni dan bangunan kokoh kelab\-kelab malam, wanita itu bersembunyi dari Damian.
Sambil memasukan tangan kekantong celana, Damian mengabaikan oboraln para turis yang sedang memotret. Di seberang Jackson Square, tepatnya dibawah pohon rindang, tampak seorang pelukis berbadan kurus mencampurkan warna pada kanvasnya. Ia menyandarkan bobot tubuhnya pada sisi terendah kursi lipatnya. Di kursi taman, pria berkemeja putih dan berbalut celana pendek *Khaki* memudar memainkan lagu sendu dengan sebuah Banjo, diiringi pemain Saksofon. Irama musik itu seolah mencerminkan suasana hati terdalam Damian.
New Orleans masih berjuang memulihkan diri setelah dilanda Badai Katrina. Sebaliknya, daerah Quarter malah merangkak maju, mengalirkan musik, kedalam kota, termasuk *magick* yang diwarisan dalam darah dan tulangnya. ini *magick* baik, *magick* para Draicon.
Bukan *magick* hitam. *Magick\-nya* para Morph.
Damian menyirangai. Para Morph awalnya juga Draicon, tetapi mereka menjadi jahat karena membunuh kerabatnya. Sebagai Morph mereka bisa berubah wujud menjadi binatang apapun. Mereka membunuh dengan kejam, sekaligus menyerap energi dari rasa takut korbannya. Wanita yang dicintai Damian telah bergabung dengan para Morph demi mendapatkan *magick*, namun Damian mencabut kekuatan Jamie dengan memantrainya. Saat bertemu diNew Mexico, ia membiarkan wanita itu melarikan diri karena ia sadar Jamie butuh waktu untuk sendiri, lagi pula Damian bisa dengan mudah melacaknya. Seminggu yang lalu, bahaya kecil muncul setelah Damian membunuh Kane, pemimpin kaum Morph. Saat itu kesedihan mendalam mewarnai suara Jamie.
"Aku akan mematahkan mantramu, Damian. Kau tidak akan bisa memilikiku," Sumpahnya.
Damian merasakan kehampaan dan penyesalan menusuk dadanya, bahkan saat ia diresahkan oleh hasratnya untuk wanita itu. Jamie mungil itu memiliki wajah berbentuk hati seperti peri, kulit jernih yang lembut, serta mata besar keabu\-abuan yang Ekspresif.
Saat menyentuh bibir Damian, bibir wanita itu terasa lembut, hangat dan lentur.
Embusan lembut udara dingin menerpa Damian. Pandangan matanya menjelajah kerumunan orang dengan tajam seraya menyusuri trotoar. Sinar matahari menyengat leher para turis hingga kemerahan, memantul dari lempeng kuningan di permukaan Saksofon yang memudar. Saat melewati Si pelukis, ia menatap Damian dengan muram. Saat mendengarkannya berbicara, Damian menghentikan langkahnya.
"Pernahkah kau mendengarkan lolongan Serigala?"
Damian terperanjat, lalu membalikan badan. Ia mengamati sentuhan warna abu-abu pada pelipis pria itu, juga pakaina lusuh yang nyaris compang camping, dengan bercak cipratan cat abu-abu dan hitam. Pipinya cekung, sementara hidungnya yang kurus dan lancip tampak pucat dan lesu dibawah terik sinar matahari. Pasti pria ini bukan seniman sukses, pikir Damian, karena dia terlihat sekurus hantu.
"Serigala, Tuan?" tanya Damian.
Pria itu menoleh. Kacamata hitam besarnya menyembunyikan matanya." Tidak akan pernah dirawa-rawa, lihatlah. Menarik, tidak?"
Manusia Serigala tidak akan tidur dirawa-rawa, saudaraku. Damian langsung waspada saat melihat lukisan Serigala yang melolong pada bulan purnama didekat kabin kayu. Ingatan masa lampau berkelebat dalam benaknya. Ia mengamati wajah tirus pelukis itu, tapi tidak bisa mengenali nya. Sesaat ia sempat berharap. Mungkinkah pria ini mantan anggota kawanan serigala lamaku? Apakah ada yang tersisa dari mereka?
"Sayang sekali, pekerja keras tidak pernah tertidur. Tolong lihatlah gambarku,"pinta pelukis itu.
__ADS_1
Harapannya sirna. Semua kawananya sudah lama meninggal. Damian tidak boleh membiarkan diri berkabung dalam kenangan masa lalu. Kalau tidak ia akan kehilangan konsentrasinya. Sekarang Jamie-lah prioritas utamanya. Pelukis itu pasti mendengarkan dialek Damian dan mulai beramah tamah demi menjual lukisan nya. Tak satu pun Draicon dalam kawananya yang rela mengemis. Pelukis ini hanya salah satu dari banyak seniman kelaparan yang menjajankan dagangannya.
Bau familiar yang menghaantuinya tiba-tiba menarik perhatian Damian. Baunya begitu segar, seperti yang masih diingatnya berasal dari masa kecilnya.
" aku pasti memiliki imajinasi yang hebat,"gumam Damian. "Permisi,"
Sepintas ia mengamati sekelilingnya. Pandangannya terarah pada pria tua keriput yang sedang mengangkat ember merah besar dan menaruhnya dimeja kayu kecil. Sesaat Damian merasa kegelapan melintas dalam iris mata berair penjual itu. tapi kemudian lenyap.
" Udang laut," teriak penjual itu." Udang laut segar."
Karena tertarik dengan jualannya, Damian pun menghampiri.
Udang laut keabu-abuan menggeliat di dalam ember, capitnya meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Mulut Damian mulai meneteskan air liur. Kenangan mulai me!banjirinya; kenangan menjelajahi sungai kecil jernih, menangkap krustasea sebagai kudapan siang yang lezat. Periutnya tiba-tiba kerongcongan. Ia butuh energi dari makanan mentah. Setelah mengumpulkan uang dari dompetnya, ia mengulurkan uang itu pada sipenjual yang sedang memasukan udang laut itu ke kantong pelastik.
" Makanan segar memang yang paling lezat," saran penjual itu. "Semua kelezatannya ada didalam cangkangnya."
Damian mengangguk." Aku tahu."
Sambil mengapit kantong belanjaannya, ia menaiki tangga menuju Moon Walk, bentangan jalan batu yang mengelilingi Mississipi. Damian mengamati perahu tongkang perlahan menepi ke hulu sembari bersandar pada sebatang pohon yang tumbuh di petak jalan. Karena tidak melihat seorang pun disekitarnya, ia pun memberanikan diri membuka kantong itu, dan melahap sejumlah udang laut satu persatu, kemudian berhenti pada udang laut terakhir.Ukuranya sedikit lebih besar, udang itu tidak bergerak-gerak ataupun melawan, hanya terdiam. Mungkin yang ini tidak segar.
Damian mengangkat udang itu ke mulutnya namun segera membatalkan niatnya ketika melihat udang itu membuka mulut dan berucap," Draicon," desisnya.
Dengan waspada, ia menjatuhkan udang itu. Morph. Sebelum terjatuh ke jalan bebatuan, udang itu berubah wujud , dan menggandakan diri. Tangan Daiman terkepal saat menunggu dan memperhatikan wujud apa yang di pakainya.
Limpahan udang laut tumpah ruah dijalan. Beberapa bahkan melarikan diri. Secepat kliatan Damian menyambar udang-udang tersebut dan membunuh mereka. Sial, mana induknya?
Damian mengayunkan tangan. Belati pun muncul di telapak tangannya. Makhluk itu menyerang, mengeluarkan desiran amarah, lalu me nyambar dada Damian dengan pisaunya. Damian terhuyung menghindar dan segera berbalik. Ia memperhitungkan langkahnya dan bertumpu pada kaki sembari memperkirakan kekuatan lawannya. Gesit, tapi Damian lebih cepat dan waspada.
Kemudian Morph itu menyeringai, memperlihatkan rentetan gigi kekuningan yang menjijikkan. " Terlambat, Draicon. Draicara-mu sekarat. Mantramu gagal."
Ia terperanjat, lalu mundur selangkah. Morph itu memanfaatkan kesempatan untuk memukulnya. Damian berhasil memulihkan diri saat lawannya mulai berubah wujud. Cakar muncul dari jemarinya dan taring menggantikan gigi kekuningan itu. Akibat pertarungan mereka. kecepatan makhluk itu dalam berubah pun melambat.
Tidak secepat itu. Dalam wujud binatang lain, Morph itu akan semakin sulit dibunuh.
Damian menerjang, menghantam lawannya hingga roboh. Ia menjatuhkan belatinya sewaktu melompat dan menindih makhluk itu. Ia membenturkan tangan si Morph ke jalan, hingga belati lawannya ikut terlepas.
Mereka lebih mudah diserang dalam wujud manusia. Damian menekan keras ruas ketiga tulang belakang leher Morph itu, memberikan tekanan yang cukup untuk menimbulkan sakit luar biasa. Rasa sakit akan menyerah energi mereka yang berharga dan mencegah mereka berubah wujud.
"Katakan padaku, pengecut. Mengapa mantraku tidak bekerja?"
Morph itu memekik tapi tidak mengatakan apa-apa.
Damian menambah tekanannya. Makhluk itu mengerang. Hentikan, hentikan," Pintanya. Air liur menetes dari sudut bibirnya. Damian tersenyum muram.
" Katakan."
" Mantramu hanya memperlambat magick hitam nya, bukan menghentikannya. Darahnya.... mengental." Morph itu menggeliat, berusaha melepaskan diri.
Sambil menggeram, Damian menekan makhluk itu semakin keras, lalu menghujamkan ibu jarinya lebih dalam. Rintihan terdengar dari lawannya. "Baiklah, tolong, hentikan, berhenti menyakitimu," pintanya.
__ADS_1
"magick hitam dalam dirinya, mengubahnya.....menjadi batu. Batu hidup, hidup tapi mati."
Damian terkejut, cengkeramannya mengendur. Morph itu berusaha melarikan diri dari cengkeraman mematikan Damian. Tetapi pria itu malah meraih lengan si Morph, lalu melintirnya ke belakang.
"Detailnya. Sekarang! Atau akan kupatahkan semua tulang dalam tubuhnmu dan aku akan berharap aku akan menyantapmu,"ancam Damian.
Morph itu menghela nafas berat. " Mantra porfiri...
jarang digunakan. Kita t-tidak bisa menyerap energi korban. Dengan magick hitam, semakin banyak magick yang digunakan, semakin cepat mantra itu bekerja. Dalam beberapa minggu, di-dia akan berubah menjadi batu. Mati tapi hi-dup- brengsek, itu sakit!"
Pikiran D amin berpacu." kau bisa batalkanmua," ujarnya, memelintir makhluk itu lebih keras.
"ti-tidak, " Morph itu meraung. "Tidak bisa....tidak ada mantra penawaran. Hanya Buku magick kuno."
Tiba-tiba ia bangkit, melepaskan korban dan meraih belatinya. Waktunya ini semua, putusnya.
Morph itu memulihkan diri dan berjalan terhuyung. Sambil menghardik, makhluk itu berdiri, raut wajahnya penuh kebencian. Tak ada belas kasihan. Damian memutar-mutar belati, lalu melemparnya. Tepat mengenai sasaran, langsung menembus jantungnya.
Darah menyembur, Damian bergeming, hanya mengamati Morph itu roboh. Sambil meringis ia mengelindingkan tubuh itu ke sungai Mississipi, memperhatikannya berubah menjadi abu sebelum meluncur ke air.
Damian menarik nafas dalam, menahan sakit akibat luka yang dideritanya. Untungnya, kekuatannya cukup besar dan perlahan luka itu pun mengatur. Ia mengatakan tangan, dalam sekejap mengganti kemeja Versace, celana sutra dan sepatu kulitnya yang rusak dengan celana jeans pudar, T-shirt hitam, dan sepatu bot biker lusuh. Gaya busana kebanyakan penduduk New Orleans.
Morph itu mengatakan yang sebenarnya. Perut Damian terasa mual. Ia pernah mendengar kisah kuno tentang mantra Porfiri. Awalnya, korban akan merasa lemah. Mereka akan memakan apa pun demi mendapatkan energi, terutama gula. Makanan itu akan mereka cerma dengan cepat karena butuh makanan manis, sedangkan darah mereka....
Darah mereka mulai mengental, kulit mereka keabuan, organ dalam mereka perlahan berubah menjadi granit. Itu kematian yang menyakitkan.
" Kasihan," ujarnya pelan.
Damian berlari kembali ke tempat ia membeli udang laut itu, mencari penjualnya. Tetapi pria itu sudah menghilang. Kemarahan melandanya. Ia telah diperdaya. Penjual itu pasti seorang Morph.
Jamie.... sekarat. Sedangkan para Morph bebas berkeliaran ditengah kota? Apa yang terjadi?
Apakah mereka ada dimana-mana, menyamar sebagai manusia? Ini berita buruk. Bahkan indra Draicon-nya yang kuat tidak bisa merasakan kehadiran mereka dalam wujud manusia.
Ia mendongak, menghirup udara, berusaha melacak bau penjual itu, namun aroma menggoda malah tercium olehnya, terbawa Angin, Honeysuckle dan kehangatan wanita. Jamie.
Instingnya berpacu cepat. Ia harus menemukan wanita itu. Dalam beberapa minggu Jamie akan mati. Tidak, lebih buruk. Ia akan membatu, itu kutukan seumur hidup.
Ia membalikkan badan, mengisi paru-parunya dengan udara. Sekarang baunya lebih kuat, disana, asalanya dari selatan? Ia melewati sekelompok wisatawan yang sedang menikmati aluanan musik pemain banjo.
Buku Magick yang sudah lama hilang itu punya penawarannya. Naskah berusia sepuluh ribu tahun itu berisi Magick hitam maupun putih, sekaligus menyimpan rahasia kuno. Ayah Damian menyembunyikan buku itu dari para Morph. Setiap tujuh puluh tahun sekali, satu mantra harus digunakan untuk menjaga Magick-nya tetap bekerja.
Jika Damian tidak berhasil menemukan buku itu dalam tiga minggu, mantaranya akan musnah selamanya.
Jika ia tidak segera menemukannya, Jamie akan mengalami kematian mengerikan.
Aku berjanji akan menyelamatkanmu, Daicara-Ku tercinta, bahkan sampai nafas terakhirku.
Dengan indra penciuman serigalanya yang tetap waspada, ia mengikuti aroma Jamie.
__ADS_1