
"Dih, cepetan gak pake lama!" ibu Rianti setengah berteriak, menenteng perlengkapan yang harus di bawa.
"Iya po, sabar ngapah" madih yang sibuk memilih baju untuk di kenakan.
"Kira kira mana yang cocok ya, biar gak malu maluin kan kita mao kondangan di orang kaya. ah ini kali yang rada semenggahan." mengenakan kemeja bunga bunga.
"Lagian ngapain si ya tuh bocah segala pake hajatan lagi, nikah udah lama ge
manaan jauh bangat beda negara, naek kapal terbang. Mabok ora ya gua inih" Madih berceloteh di depan bayangannya.
Satu per satu muatan mulai di masukan ke mobil untuk menuju bandara. dibantu pelayan dan tim keamanan Artha grup.
Semua sudah siap, kakak beserta adik Rianti juga sudah rapi, begitu juga dengan ayah Rianti. Menyadari ada yang lama. Ayah Rianti menghampiri Madih.
"Bujug dah, lama bener lu dih
gua tinggal nih ya"
"Iya inih bang baru selesai, ayo dah kita jalan
hehe"
..........
Di dalam pesawat, keluarga Rianti d layani kepala pelayan Artha grup, untuk pertama kalinya menaiki pesawat hingga terjadi peristiwa yang menggelitik perut.
Segelintir do'a terucap di bibir ibu Rianti. Memohon keselamatan serta rasa syukur, karena putrinya mendapat cinta dari keluarga pasangannya.
Alangkah beruntungnya Rianti.
Semua kekhawatiran telah sirna, apakah ada cinta di dalam pernikahan putrinya. Semua terjawab sudah, pada hari ini.
Ayah Rianti sedari tadi hanya memejamkan mata. Bukan tidur melainkan menahan pusing. Memang sejak tadi malam mengalami masuk angin. terlihat dari tanda merah bekas kerokan yang mengukir di leher.
"Pak sini saya pijitin kepalanya" ibu Rianti menawarkan diri.
__ADS_1
"Gak usah, minyak angin aja sini"
Dioles minyak aromaterapi berbentuk roll on
maju mundur melintasi pelipis. dan mengundang perhatian Madih.
"Hahahaha, lah orang tibang naek kapal terbang ge mabok makanya bang jangan suka usil sama saya."
"Berisik lu dih, pala gua makin puyeng"
"Udah lu jangan gangguin Abang lu"
"Iya po, saya diem dah"
hehehehe
..........
Di tempat berbeda dan waktu yang bersamaan, Rianti menjalani serangkaian perawatan tubuh yang merupakan bagian dari acara. Tubuh polos nya begitu indah, untung saja dia berendam di dalam bathtub, tidak. Bukan bathtub karena ini ukuran nya besar seperti kolam.
Hanya terlihat bahunya yang Polos, tenggelam di air yang penuh bunga dan aroma terapi. Di pijat, dan di bantu membersihkan oleh pelayan wanita.
Hentakan langkah kaki membangunkan khayalannya. ternyata itu adalah nenek.
Dan di balik pintu, sepasang mata tajam memperhatikan.
"Hei, sayang ngapain kamu ngintip istrimu sendiri" nyonya besar menegur Satria yang menatap lekat ke arah istrinya.
"Emang gak boleh mah" melirik sebentar lalu kembali pada pandangan pertama.
"Boleh sayang buat kamu apa si yang gak" meledek putranya yang diam tak bergeming.
"Oh ya mamah mau menyambut keluarga Rianti dulu ya, always have fun sayang lakukan yang bikin kamu bahagia" menepuk punggung satria.
"Thanks mah" Satria menjawab tanpa mengalihkan pandangan. Satria berlalu seiring dengan Rianti melangkah keluar.
__ADS_1
Flashback
"Nona muda, keluarga nona sudah tiba disini"
A**pa ! mereka disini, ya ampun aku senang sekali**.
Pertemuan kembali dua keluarga yang terikat pernikahan. Keluarga Artha grup menyambut keluarga sederhana Rianti dengan suka cita, dan penuh kehangatan.
Tidak ada perbedaan sosial diantara mereka.
Walaupun sekarang tempatnya berada di kediaman orang tua tuan besar, yang notabene nya adalah keluarga elit.
Rianti setengah berlari melewati lorong yang luas, nafasnya tersengal.
*K*enapa luas sekali rumah ini, bahkan ini harusnya bukan disebut rumah tapi kerajaan.
"Sayang sini" nyonya besar bersuara.
Rianti tersenyum dan menghampiri. ia memeluk ibunya menyapa paman, kakak beserta adiknya. Dahinya mengkerut, seperti ada kejanggalan.
"Mak, bapak kemana? gak ikut?"
"Bapak tidur, tadi kepalanya pusing"
"Oh, mungkin mabok perjalanan atau lagi masuk angin" sanggah Rianti melihat-lihat suasana sekitar.
"Iya sayang, bapak tadi langsung istirahat
kasian kecapean." sambar tuan besar yang memang sedari tadi menyambut keluarga Rianti.
Mereka berbincang bersama, ada nenek juga disana. Karena keluarga Rianti kurang mahir berbahasa Inggris, nenek pun lebih banyak diam dan hanya sekedar menyapa. Tetapi nenek tersenyum dan tertawa bersama larut dalam kehangatan kedua keluarga tersebut.
Rianti lupa kalau dia sedang Rindu dengan Satria.
bersambung....
__ADS_1
Dibalik layar
satria menyambut mertuanya sebelum Rianti datang.