
Notif pesan berbunyi, Niko membukanya antusias.
"Nona Rianti pergi setelah bos Niko pergi."
Cuplikan pesan singkat yang di terima dari mata-matanya, Niko menatap lekat benda pipih itu namun pikirannya mendalami sebuah benang kusut dan mencoba untuk mengurai.
sekarang Satria membuat Rianti di sampingnya lagi. sangat pintar
Sebuah notif pesan lagi muncul, tapi bukan dari orang sama. Sedikit menarik perhatian karena sang pengirim adalah Rianti.
"Kak, kamu terikat janji denganku. Sebagai pria sejati kamu pasti akan menepatinya. Cobalah untuk menerima keadaan karena aku sudah mau menjawab pertanyaanmu dan kamu juga sudah mendengar jawabannya."
Niko tersenyum membaca isi pesan dari Rianti. Jika dilihat dari ekspresi wajah Niko, dia sedikit melunak atas penerimaan pesan yang di sampaikan Rianti. Sebuah pesan yang merupakan sebuah janji Niko kemarin.
tidak, tidak semudah ini aku menyerah. aku akan pura-pura menepati janji dan melancarkan rencana selanjutnya.
"Iya bawel, gua tepatin. Jangan komplain masalah bahasa. Ini cuma berupa tulisan dan tidak ada di rumah utama." Balas Niko.
Balasan tersebut hanya di baca oleh Rianti tanpa membalas lagi.
"Kekanakan sekali dia haha, pantas saja masih jomblo dan tidak ada yang mau dengannya." Hardik Satria sambil memegangi ponsel Rianti. Rianti hanya tersenyum menanggapi sambil tangannya tak henti menari di atas papan ketik laptop milik Satria.
"Kamu balas apa sayang?" Rianti menanyakan karena ia melihat ponselnya masih asyik saja di pegang.
"Aku tidak membalasnya. Biarkan saja"
Rianti hanya manggut-manggut.
"Ini kan ponselmu dan dia mengira ini juga kamu. Terus kamu berharap aku memberi balasan biar kalian bisa saling berkomunikasi dengan baik?" Satria sudah mencari gara-gara.
"Aku hanya bertanya sayang, soalnya ponsel aku dari tadi belum kamu lepas. Oh iya ini udah selesai laporan yang kamu minta " Rianti menyudahi pekerjaannya untuk pengalihan lalu berdiri menghampiri Satria.
"Nih ambil" satria menyodorkan ponsel milik Rianti dengan cemberut yang di buat-buat.
"Terimakasih sayang" Rianti juga memasang wajah yang amat senang.
"Kamu mau ngapain? mau telpon siapa?" tanya Satria.
"Mau telpon cowok tampan." Rianti membalas Satria. Benar saja wajah memerah sudah terukir jelas pada wajah suaminya.
"Sayang wajah kamu memerah aku bukan mau telpon kamu tahu" sambung Rianti lagi dengan mode serius.
__ADS_1
"Aku sedang tidak kege'eran Rianti." Satria sudah marah beneran yang tadinya hanya berpura-pura.
"Rianti, beraninya kamu menelpon. Aku pastikan ponselmu akan hancur." Tambahnya lagi berapi-api Karena melihat Rianti masih saja akan meneruskan aktifitasnya.
Bruughh...
Satria mendorong Rianti hingga terjerembab ke sofa. Tangannya merebut ponsel milik istrinya itu lalu mengudara. Rianti meringis sebentar menahan beban satria yang saat ini sedang diatasnya.
"Berani sekali sekarang kau ya, baru beberapa kali aku baik padamu sudah tak tahu diri." Satria terus saja mengoceh dan panggilan di ponsel Rianti terangkat.
"Hallo nona, maaf untuk saat ini tuan muda Dion sedang tertidur. Tadi sempat rewel karena baru pertama pakai sufor. Ada yang bisa saya bantu nona?"
"Hallo nona.."
Suara pelayan dari seberang sana masih belum mendapat jawaban. Rianti tak kuasa menahan tawa melihat ekspresi Satria. Ponsel lalu di matikan tanpa jawaban.
"Maaf tuan, menyingkirlah aku sulit untuk bernafas." Ucap Rianti pelan.
Satria bangkit lalu menyerahkan ponsel kepada Rianti dan merapikan diri. Begitupun dengan Rianti ia juga merapikan diri atas berantakannya penampilan mereka.
Rianti masih senyum-senyum sendiri sambil menggelengkan kepala mengingat kejadian tadi. Dia segera mengamankan ponselnya yang sudah membuat kekacauan.
"Ya aku sudah tahu, semalam kan.." Rianti refleks membekap mulut suaminya yang jika di biarkan terus mengoceh akan apa jadinya yang di ucapkan.
Satria berhasil membuka bekapannya dan berusaha untuk melanjutkan kalimat.
"Semalam kan aku sudah cek.." kembali lagi di tutup oleh Rianti dengan frustasi. Hingga ketukan pintu dari seorang staff terus berbunyi. dilema...
membuka pintu dan bilang saat ini sedang tidak bisa di ganggu pasti akan membuat Satria terus mengoceh bahkan akan menaikan level suaranya. Karena Rianti tahu aksi suaminya ini hanya untuk membalasnya.
Abaikan dulu saja lah.
"Sayang, kamu kalau bicara disini jangan terlalu bebas. Aku takut wibawa kamu hilang di depan para karyawan."
"Hahahaha" tawanya menggema "kamu takut aku kehilangan wibawa? aku tidak sebodoh itu istriku sayang karena bukan itu alasan sesungguhnya kamu menutup mulutku. Pasti kamu tak kuasa mendengar perkataan ku kan?"
Rianti terdiam wajahnya sudah merona menahan malu.
"Sini, mendekatlah. Tidak usah takut begitu padaku." Sekarang Satria yang senyum-senyum sendiri.
idih orang, siapa yang lagi takut aku tuh lagi nahan malu.
__ADS_1
..........
Willy datang ke ruangan Niko dan membawa kabar.
"Bos, besok ada persemian perpustakaan milik Artha grup. Infonya tuan Satria dan nona Rianti juga akan datang. Namun pengamanannya sangat ketat bahkan yang tidak memiliki undangan dilarang masuk. Undangannya juga terbatas hal ini dikarenakan demi alasan keamanan. Tapi setelah itu perpustakaannya di buka untuk umum dan bebas."
"Baguus.."
"Tapi bos, saya sangat sulit untuk mendapat undangannya. menerobos keamanan juga tidak memungkinkan." Tambah Willy.
"Itu urusanku. Aku sudah memiliki rencana. terimakasih infonya Wil."
hah bos ngucapin terimakasih? ga salah denger nih.
"Kenapa bengong Wil, lupa pintu keluar ada dimana?"
"Eh iya bos maaf."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
jangan lupa, like, vote, dan komennya ya
__ADS_1