Cinta Sejati

Cinta Sejati
Beberapa tahun kemudian


__ADS_3

Waktu terus berganti, cerita kelam sudah berubah menjadi cerita manis yang tak di lupakan. Selepas liburan ke negara xxx pengenalan Niko yang diterima keluarga besar dirayakan dengan penuh suka cita.


Tidak ada lagi teror, tidak ada lagi ancaman. Karena penjahat yang telah menyerang keluarga Artha grup, ternyata anggota keluarga nya sendiri.


Dia sudah berubah, menjadi manusia yang tidak ingin menyesal lebih dalam nantinya. Cukuplah dahulu ia menjadi orang yang telah menghilangkan nyawa.


Dion tumbuh bersama Niko yang usianya sudah menginjak tujuh tahun. Dion tumbuh menjadi anak yang pintar, pemberani dan selalu jujur bahkan dia memiliki sifat rendah hati.


Berbeda sekali dengan Satria pada jaman dahulu, Dion lebih mirip dengan sifat Rianti walaupun wajah nya sangat mirip dengan Satria, bak pinang di belah dua.


Niko bahagia bisa dekat dengan Dion, pilihannya yang sedikit aneh itu kini sudah terbiasa di mata orang. Bukannya mencari wanita untuk pendamping hidupnya, dia lebih memilih untuk tumbuh bersama anak kecil.


Mungkinkah ini bentuk penyesalan karena dia pernah menghilangkan calon anak pertama Satria dan Rianti?


"Om, pulang jam berapa nanti?" tanya Dion.


"Jam lima, tunggu om ya." Sahut Niko.


"Ok om."


"Om pamit dulu"


"Hati-hati. assalamualaikum" Dion meraih tangan Niko.


"Wa'alaikum salam"


Mereka seperti sahabat yang kemanapun selalu bersama, mereka tak pernah bertengkar layaknya Niko dan Satria. Chemistry mereka begitu kuat saling memahami satu sama lain.


Setelah berpamitan Dion bergegas menemui Satria.


"Papah.. bolehkah Dion masuk?"


"Masuk sayang"


Pintu terbuka, nampak Satria sedang menatap laptop di ruang kerja.


"Ada apa nak?"

__ADS_1


"Cuma mau temenin papah ajah. Oh iya ada yang bisa Dion bantu?"


"Tidak ada, ini papah juga sudah selesai. kamu mau main sama papah?"


"Aku cuma mau jagain papah." Dion nyengir menunjukan barisan gigi yang rapih dan terawat.


"Haha, memang kenapa papah di jagain? sini nak papah ingin memangku kamu. Kangen sekali dengan anak papah yang ternyata sudah besar dan tampan ini." Satria terus memeluk putranya itu.


"Aku juga kangen papah, mamah sama Alana. hehe.. papah kita lucu satu rumah tapi kangen-kangenan bukannya ketemu setiap hari?"


Alana adalah adik perempuan Dion, gurauan Satria berlibur di negara xxx ingin membuat adik menjadi kenyataan. Rianti melahirkan lagi anak perempuan hasil buah cinta mereka.


"Hahaha,, iya ya.. kamu sibuk main sama om Niko sih."


"Uhukk.uhuk.."


Dion mengambilkan air untuk Satria


"Minum dulu pah, biar enakan."


Dion mengelus punggung ayahnya seraya berkata "cepat sembuh ya pah" disertai senyumnya yang lebar membuat mata Satria berkaca-kaca.


"Iya sayang, do'akan selalu papah ya."


aku sangat beruntung memiliki putra sebaik Dion.


"Papaah..." Alana masuk dan berhambur memeluk Satria. Wajahnya menunjukan kekecewaan mulutnya terus mencebik dan memukuli ayahnya.


"Ada apa ini cantiknya papah?"


"De, sini yuk sama kakak gendongnya." Dion menawarkan diri karena kasihan melihat papahnya terus dipukuli. Ia tahu betul bagaimana kondisi ayahnya mengingat ia sudah bisa memahami situasi.


"Gak mau!"


Alana berbeda dengan Dion, entah faktor dia masih kecil atau memang watak aslinya, semakin kesini terlihat jelas sifat Satria yang dituruni kepadanya. Walaupun wajahnya sangat mirip Rianti.


Dion dan Alana seperti fotokopi Satria dan Rianti namun bertukar sifat.

__ADS_1


"Alanaa.." panggil Rianti.


"Hei rupanya disini kamu." Rianti cepat mengambil Alana dari dekapan satria.


"Sayang,, denger mamah ya. kamu tidak boleh seperti itu."


"Kenapa Alana?" tanya satria


"Memaksa ingin bermain dengan opahnya, padahal opahnya sedang sakit." jawab Rianti.


"Dion, kamu ada disini juga sayang.. kamu sudah makan nak? ayo kita makan siang bersama yuk." ajak Rianti.


"Ayo sayang kamu seharusnya jangan mengurusi pekerjaaan lagi. itu sudah tugasku." Rianti merapikan meja kerja satria. sambil menggendong Alana dia juga memapah satria untuk bangun dari duduknya.


"Awwh.." pekik Satria.


"Dion bisa bantu mamah gendong Alana sebentar. Alana sama kakak ya.."


Alana menurut, jika Rianti yang sudah bicara Alana akan diam patuh.


"iya mah, ayo de.."


"Sayang kamu mau di gendong? atau mau duduk di kursi roda?" tanya Rianti pada suaminya.


"Tidak usah, kamu bantu aku berjalan saja. aku tidak Sudi memakai kursi itu." sanggah satria yang sangat membenci kursi roda, karena hanya melihatnya saja Satria merasa sudah tak berdaya di hadapan anak-anaknya.


Rianti yang sedang memapah satria, diikuti Dion yang sedang menggendong Alana. Dari kejauhan nyonya besar meneteskan air mata melihat Rianti begitu tegar dengan bantuan semangat Dion.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2