
Rianti terbangun dari tidur, membuka mata malas, mengingat hari ini kegiatan rutinitas pekerjaan menanti, apalagi dia orang baru di perusahaan tersebut harus mencerminkan kedisiplinan yang tinggi dan etos kerja yang baik.
Rasa berat menghentikan langkah untuk bangun dari kemalasan, tangan dan kaki Satria berada di atas Rianti menindih, di geser pelan namun mengusik. Yang punya tangan terbangun juga.
"Kamu mau kemana?" tanya Satria dengan suara berat.
"Aku mau mandi sayang" Satria menuruti kemauan Rianti, dan menyingkirkan kaki tangannya.
"Ayo kita mandi" ajak satria sumringah dengan senyum simpul penuh makna.
Pasti sudah menjadi panjang cerita pagi ini, karena satria bersikap tidak sewajarnya. Rianti menuruti, dia berjalan terkulai lemas, seluruh badannya sakit.
Permainan satria begitu memburu.
Satria menggendong Rianti di tengah perjalanan, menaruhnya di bathtub yang sudah di isi air dengan aromaterapi. kali ini yang menyiapkan adalah Satria.
"Terimakasih sayang" di balas senyuman dan menyeburkan diri ke dalam air bersama dengan Rianti.
eh tunggu, jangan bilang...
"Sayang kamu mau ngapain?"
"Aku akan membantu membersihkan dirimu"
senyum licik tercipta. drama pagi apa lagi ini.
Dan diwaktu yang bersamaan, sekretaris Rion menunggu di ruang kerja. menyiapkan semua berkas pekerjaan dan jadwal tuan mudanya hari ini. sepertinya hari ini sekretaris Rion dibuat sibuk.
Dengan ditemani secangkir kopi buatan sendiri, sekretaris Rion mengamati laptop. Kerutan dahi tercipta diiringi garis bibir bermakna.
Menengok jam tangan melihat waktu sudah melewati jadwal paginya. Gelengan Kepala membuatnya sadar akan sesuatu.
*M*embayangkannya saja saja sudah membuatku merinding
sekretaris Rion membatin sambil mengusap tengkuk lehernya. Mengingat hari ini adalah rapat dengan anak perusahaan Artha grup.
Sekretaris Rion memundurkan jadwal dan mengatur ulang. sudah terbiasa dengan sifat Satria yang terkadang seenaknya. bahkan sulit di tebak apa maunya. tapi hari ini
dia yakin pasti mood sang tuan mudanya baik dan agenda hari ini berjalan lancar.
kenapa aku jadi gugup begini ya
Seperti ada rasa tidak sabar, penasaran bahkan takut. Akan apa jadinya nanti.
lebih baik aku menunggu depan kamar
Sekretaris Rion tiba di depan kamar, selang beberapa detik, pintu terbuka, munculah
dua insan manusia yang sedang berbahagia.
"Selamat pagi tuan muda"
"Pagi Rion"
Satria bersiul dengan nada. menggandeng tangan Rianti yang raut muka nya terlihat lelah. Menuruni anak tangga, diikuti sekretaris Rion.
"Pah, lihat anak kita"
"Sepertinya hari ini dia senang sekali" tuan besar terkesima.
"Iya mamah juga baru lihat senyum bahagia Satria. Mamah senang sekali melihatnya
ini pemandangan langka"
__ADS_1
"Selamat pagi mah, pah"
Satria menyapa, dan untuk pertama kalinya.
"Pagi sayang"
"Pagi juga jagoan papah" tuan besar menggoda manja seperti anak kecil.
Satria anak yang di impikan lama oleh pasangan pemilik Artha grup, bahkan dia lahir dengan bantuan program bayi tabung.
Wajar saja jika sangat diperlakukan bak pangeran di negeri dongeng. Karena hal ini juga dia tumbuh dengan sifat manja dan sedikit pemarah.
Kebutuhannya selalu terpenuhi bahkan lebih dari rata rata, kemauannya selalu dituruti sekalipun itu tidak memungkinkan. yang penting anak senang. Walau harus mengorbankan perasaan orang lain.
"Senang sekali kamu hari ini satria, ada apa nih Rianti?"
*T*anyakan saja sama anakmu ini mah
"Lihat wajah lelah istriku ini, sebentar lagi mamah sama papah akan menimang cucu dariku"
"Apaaaa" tuan besar dan nyonya besar kompak. makanan yang hampir tersuap, menggantung.
Bukan kata "apa" lantaran senang, tapi sebaliknya. Mereka mempertanyakan selama ini ternyata anaknya tidak berhubungan dan menahan diri. Pantas saja Rianti belum kunjung hamil.
*A*ku ingin melakban mulut satria, sumpah
rasanya aku malu sekali dan ingin tenggelam ke dasar comberan saja.
Mata tertuju pada Rianti, meminta penjelasan lebih.
"Hehe,, ehmm selamat makan" mengunyah makanan yang tiba tiba terasa hambar. Rianti tersipu. Tapi satria sangat menikmati kepanikan istrinya.
"Sayang" menyodorkan garpu berisi sandwich, Rianti tahu maksudnya, dan memakan suapan tersebut. Pikirannya berkeliaran mengingat kejadian semalam, adegan sebelum penyerangan.
"Terimakasih sayang"
...........
Hari ini panas, panas segalanya. AC nya sungguh sangat tidak berfungsi. Otakku tidak bisa berfikir dengan jernih.
Rianti menggerutu, berulang kali membolak balikan dokumen yang baru saja di serahkan sekretaris nya. Padahal hari ini dia ada rapat penting.
Fikirannya tidak fokus.
"Maaf Bu Rianti, sudah waktunya kita berangkat menghadiri rapat dengan induk perusahaan xxx"
"Oh,, " melirik jam
"Baiklah, aku siap-siap dulu
kita tidak pakai supir ya"
"Iya Bu"
Dii depan lobi.
"Saya ambil mobil dulu ya Bu"
"Tidak usah Rena, kita naik mobil saya aja"
Sekretaris Rena pucat pasi.
*B*agaimana ini, nanti aku bisa kena masalah. aku pikir aku yang suruh nyetir.
__ADS_1
"Bu, kantor sudah memberi fasilitas untuk ibu. jika tidak digunakan nanti saya takut masalah untuk kedepannya"
"Kamu tidak usah khawatir, ayo cepat nanti kita terlambat."
"Iya Bu"
Mobil mewah pemberian Satria keluar memasuki hiruk pikuk jalan, Rena menatap nanar jendela. Gemetar karena bos nya yang menyetir. Walaupun sebenarnya ini kemauan Rianti. Sungguh sangat tidak berguna sekali sebagai sekretaris, begitu Rena merutuki dirinya.
Kebiasaan mandiri Rianti memang kerap membuat para pelayan dan pekerja bercemas hati. bagaimana tidak harusnya mereka melayani malah sebaliknya.
*B*aik hati sekali nona Rianti, aku saja sampai kagum sama dia.
"Rena, pria yang aku ceritakan tempo hari apa masih suka ke kantor kita?"
"Tidak Bu, saya sudah memastikannya"
"Terimakasih"
Tempat tujuan sampai, tidak membutuhkan waktu lama karena jarak tempat tujuan cukup dekat.
"Ren, kamu duluan ya. saya ke toilet sebentar
sekalian kamu prepare materi untuk rapat nanti"
"Baik Bu"
Rianti menguncir tinggi rambutnya untuk menampilkan wajah fresh. malang,
tanda merah itu jelas terlihat.
*Y*a ampun aku sampai lupa, hampir saja.
Rambutnya tergerai kembali
Rianti segera memasuki ruang rapat, beruntunglah baru ada Rena dan peserta rapat lainnya.
"Rena, gimana? sudah siap?"
"Iya Bu, ini sudah saya buka file yang akan di bahas nanti, sudah saya periksa dengan benar dan teliti"
"Semoga lancar jaya"
"Iya Bu"
Selamat siang, sekretaris Rion muncul dan menyapa hormat. di ikuti kemunculan Satria di belakangnya.
"Siang pak" sahut Rena dan yang lain.
Rianti tidak bisa menjawab bagai sedang tercekik. menelan air liur saja begitu sulit.
Pelipisnya berkeringat padahal ruangan sudah dingin sekali.
Satria duduk di kursi utama, menatap lekat objek di depannya.
Bu mulai presentasinya, bisik Rena kepada Rianti.
*R*asanya aku ingin mengecil seperti debu dan terbang terbawa angin. setidaknya membuatku keluar dari sini. apa aku pura pura pingsan aja ya.
"Nona Rianti silahkan tunjukan hasil kinerja kalian" Satria sungguh sangat menikmati kepanikan Rianti.
bersambung....
Netizen: Thor waktu mereka makan pagi sekretaris Rion kemana?
__ADS_1
Author: ada di dapur, duduk di samping kulkas, sama dia juga kaya tuan dan nyonya besar berasa ngontrak