
Pesta telah dimulai.
Ruangan bar yang disulap menjadi base camp rahasia dengan nuansa hitam, akan menjadi tempat Niko dan para anak buah setia menghabiskan malam untuk berpesta.
Niko duduk di kursi kebesaran bak raja yang sedang duduk gagah di singgasana. Aura nya bahagia. Tidak ada kemarahan yang terpancar dari Niko seperti sebelumnya. bisa jadi pemandangan seperti ini kali pertama terlihat oleh para anak buah Niko.
Minuman memabukkan sudah bertengger, di bawa para gadis cantik tadi yang menjajakan keindahan paras dan tubuh. Semua orang saling bersulang dengan penuh kemenangan.
"Terimakasih untuk kalian yang sudah setia dan bekerja keras. Gua akan kasih bonus yang setimpal dengan keringat yang keluar."
"Hidup bos Niko!" serentak
di lanjut dengan bersamaan bunyi dentingan gelas yang beradu.
Willy mendampingi Niko, dia membawa nampan yang berisi minuman lalu menuangkan ke dalam gelas.
"Silahkan bos." Willy menawarkan.
"Lu aja, gua lagi gak pengen minum." Niko menjawab santai sambil tidak berhenti tersenyum melihat foto Rianti yang menjadi wallpaper ponselnya.
..........
Di tempat berbeda, dalam waktu yang sama.
Setelah acara menonton tv bersama keluarga besar dengan ditemani camilan telah usai, Rianti Dion dan Alana memasuki kamar karena kantuk melanda.
Dion terlelap, namun Alana masih dalam gendongan sang ibu. seperti biasa, sebelum tidur Alana selalu banyak drama.
Dan pada akhirnya pun terlelap.
Drtt...drt..
Ponsel Rianti bergetar, Niko menelponnya.
"Iya kak ada apa?"
"Cuma mau nanya, pasukan kecil udah tidur?"
"Udah."
"Yaudah gua kesitu."
"Jangan, mending kakak jangan kesini dulu. kalau mau nginep besok saja."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Udah malem."
Rianti memutuskan sepihak. Kalau saja bukan sedang telponan, Rianti sudah menjabarkan alasan kenapa Niko tidak boleh kesini.
^^^"Kak, jangan kesini. Aku takut bapak marah dengan kondisimu."^^^
"Yaudah gua kesitu sekarang."
^^^"Kak !"^^^
Pesan sudah berakhir tanpa jawaban. Rianti tak habis pikir dengan Niko yang sangat keras kepala. Padahal ini demi kebaikannya juga.
Menunggu cemas kedatangan Niko membuat Rianti hilang kantuknya. Berfikir keras bagaimana menghadapi dengan kemungkinan buruk yang terjadi.
Suara deru mesin sudah terdengar.
Rianti dengan sigap membukakan pintu, namun di cegah oleh sang ayah yang sedang menunggu juga di ruang tamu.
"Biar bapak yang buka pintunya."
haduh gimana ini
Pintu sudah terbuka menyambut, Niko berdiri dengan heran. Calon mertuanya seperti sedang memperhatikan dan mencoba menggali info buruk tentangnya.
"Gak pak, saya habis main sama teman."
"Oh, yaudah masuk."
Lulus sudah Niko malam ini, keputusannya untuk tidak minum membuahkan hasil. Kamar pasukan kecil menjadi tujuan utama untuk disambangi.
"Ri, gua mau liat anak kita dulu. Boleh kan?"
"Gak boleh kak."
"Yaudah, gua mau liat keponakan dulu."
"Ya silahkan."
Niko memasuki kamar dengan Rianti yang menunggu di luar. Saat Niko Baru saja sampai di dalam, terdengar rengekan Alana yang sedang mengigau memanggil ayahnya.
"Papah" diselingi tangis dengan mata masih terpejam. Dion terbangun karena suara tangisan Alana.
__ADS_1
Niko segera memeluknya, mengaliri kasih sayang yang sedang dibutuhkan. Alana berpegang erat dan semakin kuat. Semakin kuatnya alasan untuk Niko dan Rianti untuk bersatu.
"Papah, tidur sama kami ya?" pinta Dion. "mamah kemana pah?"
"Mamah ada diluar sayang. Maaf ya gara-gara papah kalian jadi pada bangun tidurnya."
"Papah tidur disini ya." pinta dion lagi, melihat Alana masih dalam pelukan Niko.
Rianti dan ayahnya menyaksikan permintaan Dion pada Niko. namun keadaan tidak memungkinkan untuk bisa melakukannya. Agar situasi menjadi kondusif, Rianti pun memutuskan untuk tidur di ruang tamu.
"Neng tidur sama emak di kamar. Biar bapak yang disini."
"Neng disini aja. Takutnya anak-anak butuh sesuatu. Atau tiba-tiba kak Niko merasa kerepotan nanti."
"Ya sudah."
Sebelum mengambil posisi untuk tidur, Rianti masuk ke kamar untuk memastikan kondisi.
"Kak, kamu tidur disini saja gak apa-apa. aku di ruang tamu. nanti kalau butuh sesuatu bilang aku aja."
"Iya"
Posisi Niko yang masih dipegang erat oleh Alana, membuatnya tidak bisa bergerak untuk sekedar melepas Jas dan menarik selimut. Rianti paham, dia pun mengerjakan apa yang dibutuhkan.
"Selamat tidur ya sayang." Rianti mengusap lembut kepala Dion, begitu pun dengan Alana.
"Ri"
"Apa?"
"Sekali lagi"
apanya yang sekali lagi.
"Sekali lagi bilang selamat tidurnya, ke papah Niko belum." Ujar Niko menggoda. Rianti yang mendengar itu langsung mematikan lampu kamar dan menutup pintu.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa bahagia.