
Belum sampai satu pekan Rianti sudah memutuskan untuk kembali ke rumah utama. alasannya adalah Niko, ya memang dia yang membuat Rianti tidak nyaman untuk sekedar menginap di rumah orang tua.
Kata-kata yang terlontar dengan begitu gampangnya saat dirinya bertengkar di malam itu dengan Niko, seperti cerita hidup yang memang tidak disadari oleh dirinya sendiri.
Kenyataan pahit yang tidak akan bisa lari dari belenggu Niko, bahkan hanya sekedar melepas penat dan Rindu, semua itu tidak lepas dari pengawasannya. Kebebasan Rianti sudah menguap jauh saat pertama kali Rianti masuk dalam keluarga ini.
Rianti membereskan semua perlengkapan yang dia bawa.
"Kak, bangun." Menepuk kaki Niko yang sedang menindih sebagian kaki Alana. Sedikit digeser oleh Rianti yang tidak tega melihatnya.
Niko menggeliat, matanya sudah mulai terbuka. Setelah itu Rianti pun membangunkan pasukan kecil.
"Ada apa sayang?" suara parau Niko keluar. "Anak kita ngompol?"
"Kamu kayanya yang ngompol." Asal menjawab membuat Niko langsung terduduk memeriksa kasur.
"Stop, jangan protes. Langsung mandi sana kak." Rianti menghentikan Niko saat dia baru membuka mulut untuk sekedar ngomel karena tidak mendapati kasur yang basah. Hari ini Rianti mengumpulkan tenaga untuk tidak mau kalah dengan ocehan Niko.
"Nih handuknya. Aku sudah siapkan air hangat. Habis itu pakai baju Koko ini sama kain sarungnya juga."
Seperti terhipnotis, Niko yang belum kumpul nyawanya langsung pergi menurut tanpa sepatah kata pun. Namun mulutnya masih menguap pertanda kantuk belum pergi sempurna.
Rianti cekikikan.
Sekarang tinggal bagaimana ibu muda seperti Rianti membereskan anak-anaknya di saat menjelang pagi seperti ini. Sepertinya Dion lebih baik persiapannya di banding Niko. Anak manis itu sudah rapi menunaikan kewajibannya.
"Mah"
"Iya sayang, ada apa?"
__ADS_1
"Papah om lucu ya."
"Lucu darimana nya sayang?" Rianti mengedikkan bahu.
"Coba lihat foto ini, Dion tidak sengaja ambil gambar foto ini ketika papah om sedang tertidur pulas."
Rianti melihatnya, wajah Niko dengan muka bantal begitu jelas tertangkap kamera.
"Kamu kok bisa pakai ponsel mamah buat foto papah om?"
"Iya, Dion semalam terbangun dan memiliki ide ini. Mah, foto ini bisa mamah jadikan senjata untuk melemahkan papah om."
"Kenapa Dion berbicara seperti itu?"
"Dion tidak sengaja mendengar pertengkaran mamah sama papah om." Wajah anak itu menunduk. "Jangan benci papah om ya mah, menurut Dion itu karena papah om sayang sama mamah. Hanya saja caranya salah."
Rianti terdiam.
"Terimakasih ya sayang, ide Dion memang sangat membantu."
"Mah, Dion sudah bersikap tidak sopan ya?"
"Jangan dilakukan pada orang lain. Kalau pada papah om mamah malah berterimakasih."
Mereka berdua tertawa bersama sampai membangunkan Alana.
"Hemm mamah.." Alana merengek.
"Iya, sini bangun nak."
__ADS_1
"Mamah, kaki Alana banyak semut ya." maksudnya adalah kesemutan. Kaki yang sempat tertindih oleh Niko.
Rianti mengusap dengan lembut, lalu digerakkan dengan perlahan. Begitu terus berulang kali, sampai kakinya sudah bisa merasakan.
Niko sudah kembali dengan keadaan yang sudah lebih fresh. Outfit yang di persiapkan Rianti sudah dikenakannya dengan tidak pada tempatnya.
Rianti dan pasukan kecil heran dan tersenyum tipis.
.........
"Ri, kita mau kemana?"
"Pulang ke rumah kak, menginapnya sudah selesai."
"Tapi kan belum seminggu?"
"Tidak apa-apa. aku sudah melepas rindunya dengan bapak dan juga emak. Kakak ikut pulang bersamaku, jangan keterusan menginap disini."
"Lu mau cepat urusin pernikahan kita ya."
"Iya"
Niko terbelalak, ketika Rianti pasrah dengan jawaban iya dan selalu menurut, Niko merasa ada sesuatu yang berbeda.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...