Cinta Sejati

Cinta Sejati
Pesan misterius


__ADS_3

Kembalinya rutinitas setiap hari.


Urusan resign pekerjaan telah selesai sebelum acara resepsi, Rianti kini menjadi seorang istri yang patuh dan selalu berada disamping suaminya. Bisa di bilang sebagai ibu rumah tangga yang seutuhnya. Haha membayangkannya saja sudah membuat Rianti begidig ngeri.


Satria kini sudah mulai mengurangi aktifitas di luar rumah. Dia lebih banyak di rumah melakukan pekerjaan kantor di ruang kerjanya. Rianti lah yang setia menemani.


Setelah pengungkapan perasaan satria terhadap Rianti, setiap harinya mereka selalu bersama dengan jarak yang tak pernah jauh. Tingkat posesif Satria bahkan sudah mencapai level tinggi. Sikapnya menunjukan ia benar-benar tidak mau jauh sedikit pun.


Tapi dibalik itu semua, justru Rianti lah yang menyimpan rasa takut akan kehilangan satria nanti. Dia menutupinya.


Hari ini


Mereka memutuskan untuk keluar bersama. Menghilangkan jenuh di dalam rumah dengan melihat pemandangan alam. Udara segar sungguh sangat di perlukan untuk pasangan yang sedang kasmaran ini.


"Rianti, biar ku bantu" Satria menawarkan bantuan karena melihat istrinya yang kerepotan.


"Tidak usah sayang, sudah selesai kok" sanggah Rianti yang sebenarnya tidak mau merepotkan Satria.


"Baiklah, dasar kau keras kepala"


Rianti hanya tergelak menanggapi.


"Padahal tinggal perintah saja pelayan apa keperluan kita!" Satria masih bersikeras.

__ADS_1


"Tidak usah, aku bisa sayang"


Kemandirian dan semangat Rianti membuat Satria jatuh cinta semakin dalam. Mereka memasuki mobil dan melaju ke tempat tujuan.


"Kita kemana sayang?" tanya Rianti yang membuat Satria berfikir sejenak. Ternyata mereka pun belum tahu tujuannya.


Pak supir dengan pandangan lurus ke depan, fokus menyetir tanpa merisaukan kalimat majikannya. Seperti sok tahu mau kemana.


"Kita ke villa yang di kota xx"


"Baik tuan"


Satria memberi perintah, sekaligus menjawab pertanyaan Rianti.


Hamparan perkebunan nan hijau milik Artha grup membentang luas. Sangat memanjakan mata dengan udara yang menyejukkan, Rianti bersorak kegirangan melihat alam bebas. Memang itulah hobi nya. Satria pun turut senang.


"Kamu tau gak?"


"Tau apa?" Rianti antusias menunggu jawaban sambil tersenyum lebar.


"Kalau di suasana seperti ini, aku jadi teringat gadis lain!" paku alam seperti sedang menghujam, sakit, telinga Rianti sakit mendengarnya. Eh bukan, hati nya sakit.


"Oh, ya" malas menanggapi namun ingin terlihat tidak cemburu.

__ADS_1


"Hem, aku jadi Rindu padanya." satria terkekeh melihat bibir Rianti yang sudah manyun dan tatapan matanya yang kesal.


"Kalau rindu, temui saja dia." Rianti menawarkan. Lalu ponselnya pun mendapat notif pesan. Segera Dia melihatnya.


Satria kehilangan senyuman, setelah apa yang di lihatnya. Senjata makan tuan,


niat hati mengerjai ingin mendapat suasana yang menegangkan lalu dia sendiri yang melelehkan. Takdir berkata lain, Rianti malah mendapat pesan dari seseorang yang ingin mengajaknya bertemu.


Satria menghela nafas kasar, setelah membaca pesannya.


*K*urang ajar


Satria melempar ponselnya. Rianti segera memeluk suaminya agar emosinya mereda.


Rianti takut akan kesehatan Satria.


Sungguh Rianti bersumpah dia sama sekali tidak tahu menahu soal ini, baru pertama orang itu mengirimkan pesan padanya.


Tak lama ponsel yang sengaja di jatuhkan itu pun berdering, orang yang tak di kenal itu menelpon. Rianti enggan untuk mengangkatnya. Begitu pun dengan satria.


Akhirnya mereka memutuskan untuk mengabaikan. Lalu memasuki villa mewah hingga mereka hilang di balik pintu. Petugas keamanan Artha grup mengantongi ponsel Rianti yang teronggok di tanah.


Awal yang tidak baik

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2