
Setelah drama menangis tadi malam, mata Rianti sembab di pagi hari. Satria yang melihatnya tersenyum simpul, sambil menggoda.
"Hei sini." Rianti mendekat.
"Kenapa kamu menangis semalam? aku baru melihatnya. Memangnya aku mau pergi kemana?" Tak henti menciumi mata sembab Rianti, sambil mengusap perutnya.
"Aku sedih saja " jawab Rianti datar. tidak seperti biasanya, senyumnya hilang bak ditelan bumi.
"Kamu mau berangkat ke kantor?" tanya Rianti lagi. Dari sorot matanya dia sepertinya ingin ikut.
"Iya, kamu di rumah baik-baik."
"Kamu berangkat sendiri? emang kamu sudah baik-baik saja? semalam kamu kesakitan." sederet pertanyaan menyelimuti pagi. Rianti yang sedang mengaitkan dasi, tidak berjalan sempurna. Dia malah membelit pergelangan tangannya sendiri.
Hah
Dia pun tertawa sendiri.
"Kau sengaja mengikatkan tanganmu di leherku?"
"Hehe, maaf. Mungkin tanganku mengikuti isi pikiranku. Aku ingin ikut."
"Jangan, kamu di rumah saja. Kasihan keluargamu sedang berada disini. Masa ditinggal." Mengusap pipi lembut Rianti.
"Nanti aku ajak kamu jalan berdua." Tambahnya lagi.
"Benar ya?" Rianti semangat.
"Iya sayang, jalan berdua. Jalan kaki ya, bukan naik kendaraan." Satria bergurau. Mana mungkin dia membiarkan istri kesayangannya yang sedang hamil untuk berjalan jauh.
"Iya sayang, apapun itu." Rianti baru tersenyum lagi. Dia juga tidak tahu dengan apa yang dialaminya. Terkadang ingin berjauhan dengan Satria, melihatnya saja mual. Dan terkadang dia sangat ingin bersama satria selalu.
"Oh ya kamu belum jawab pertanyaan aku. kamu berangkat dengan siapa?"
"Marcel. sebentar lagi dia akan menjemputku atau mungkin sudah di depan." Rianti tersenyum lega, karena yang mendampingi Satria adalah orang yang tulus menyayangi nya.
Setelah penampilan rapih, mereka keluar kamar untuk sarapan, disana anggota keluarga sudah lengkap menunggu.
"nah udah dateng nih yang kita tunggu." Madih dengan lantang berucap. Suaranya menggema karena yang lain sedang sunyi. Semua mata tertuju pada arah kedatangan pasangan Satria dan Rianti.
"Selamat pagi semua." Sapa Satria dengan sopan. Rianti mengekor.
"Maaf telah membuat kalian menunggu." Rianti menambahkan.
"Ehm..ehm..ehm.." nyonya besar menggoda. melihat tanda merah di leher Rianti. Sungguh itu bukan hasil perbuatan pagi.
"Kenapa mah? tenggorokan kamu gatal? mau minum obat?" tuan besar sudah cemas.
"Tidak" matanya melirik kearah Rianti. Tuan besar mengikuti dan tersadar, lalu tersenyum olehnya. Sadar mendapat tatapan dari ayah dan ibu mertuanya, Rianti merapikan kerah baju.
Yang lain sibuk dengan sarapannya. Dan kesalahpahaman masih terus berlanjut.
..........
__ADS_1
Marcel datang dengan balutan jas yang sama dengan Satria. Rambutnya tertata dengan baik. Mereka bagai pinang di belah dua, seperti bocah kembar yang sedang ingin berangkat ke kantor.
Sebenarnya, Marcel sudah menunggu di depan selama 30 menit. Karena mengetahui keluarga besar sedang sarapan bersama, maka dia urungkan untuk menemui Satria langsung.
"Mompak sekali kalian, seperti anak kembar saja." Rianti terpukau.
"Jangan hiraukan dia. Matamu lihat saja aku jangan lihat dia." Perintah Satria, padahal Rianti sudah memakai kosa kata "kalian" yang berarti dia berbicara pada lebih dari satu orang. Tetap saja Satria tidak suka.
Bukan tidak ada alasan Satria bersikap seperti ini, karena dia sebenarnya tahu Marcel pernah menyukai Rianti bahkan mengatakan cinta.
"Yaah, tahun berapa ini? masih cemburu aja."
"Cemburu tidak mengenal tahun Marcel Aditama!" katanya penuh penekanan.
"Iya tuan mudaku, maaf." Marcel membukakan pintu mobil untuk Satria. Namun sebelum Satria masuk, Rianti mencium tangan sang suami.
Ketika mobil menandakan akan melaju, Rianti melambaikan jari yang membentuk love. Satria membalas dengan pura-pura mengantongi, tak disangka Marcel pun mengikuti gerakan Satria hingga akhirnya Satria menendang kursi kemudi.
Marcel tertawa dalam diam.
hari hariku menyenangkan lagi. bisa di samping satria sahabatku dari kecil. dan juga Rianti orang yang pernah aku cintai. tenang satria aku tidak akan merebut Rianti darimu. karena kebahagiaanmu kebahagiaanku sekarang.
Cih
Masih kesal dengan Marcel. Pagi hari wajahnya sudah tak bersahabat, pasti pekerjaan hari ini tidak berjalan dengan lancar. Marcel yang bikin pagi tidak bersahabat, dia pula yang menanggung kerepotannya.
Satria terdiam sibuk dengan ponselnya. Membuka e-mail masuk dari setiap laporan anak perusahaan. Alisnya meninggi, wajah nya sudah berubah menjadi mode pekerja keras.
"Marcel, lihat anak perusahaan manufaktur automotif ini, besar pengeluaran daripada pemasukan. Bagaimana bisa PT ini tetap berjalan."
"Yakin kinerja mereka sudah maksimal? atau sekedar bermain-main saja. Coba kau selidiki tanpa sepengetahuan mereka. Bila nanti hasil sudah di dapat, segera kau perbaiki apa yang dibutuhkan, walaupun harus mengganti struktur, gantilah dengan orang jujur dan kompeten."
"Baik."
"Aku baru sadar juga, haha 2 tahun tidak ada profit bahkan merugi. Kemana saja aku ini." Satria tertawa.
"Sebenarnya masalah ini sudah sampai ke kantor pusat, tapi maaf sat, ketika ada penyerangan mafia Niko, kita tidak bisa berbuat banyak. Kau dan tuan besar dalam masa yang sulit. Hanya ada Rion yang yang menangani seorang diri. aku sibuk dengan anak cabang di bidang properti."
Satria mengalihkan pandangannya dari ponsel. Menarik nafas dalam. dan menatap langit-langit, lalu terpejam. Hingga mobil berhenti sampai tujuan.
..........
Ruang presiden direktur.
Marcel menghampiri Satria yang sedang sibuk.
"Sat, nih jus buah dulu." Marcel menyodorkan segelas minuman.
"Taruh saja disitu, nanti aku minum." Menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.
"Oh ya, ada yang mau aku tanyain?"
"Apa?"
__ADS_1
"Aku belum pernah melihat kamu di datangin perempuan."
"Maksudnya?" Satria tidak mengerti.
"Maksudnya, kamu tuh kan tampan, harta melimpah masih muda pula. Biasanya nih ya, pelakor pada ngejar."
"Maksudnya?" masih tidak mengerti.
Sebenarnya Satria paham, maksud dari Marcel. Kenapa dia tidak pernah di datangi wanita pelakor. Tapi yang dimaksud Satria adalah apa maksudnya Marcel menanyakan hal seperti itu.
Marcel menghela nafas panjang.
"Kamu pake rahasia apa biar gak di datengin perempuan penggoda?"
"Lihat saja bagaimana pertemuanku dengan Rianti dulu. Aku bahkan menganggapnya pembawa sial."
"Haha iya ya, kejam sekali waktu itu. Bahkan aku saja ingin memukulmu."
Satria meneguk jus nya.
"Kenapa kau menanyakan hal ini?"
"Aku lelah terus di datangi wanita penggoda. Padahal aku sudah berhenti jadi playboy. Aku takut tergoda lagi. Kasihan shesil."
"Aku pernah di datangi wanita, dia mengenalku tapi aku lupa hehe, tiba-tiba aku mendapat serangan." tambahnya lagi.
"Terus kau menikmati serangannya?" jawab Satria dengan malas.
"Sedikit, tapi aku segera tersadar."
"Jawab aku dengan jujur, kau benar-benar mencintai Shesil?" Satria bertanya dengan pikiran yang Rindu dengan Rianti.
aku bahkan tidak bisa menghilangkan bayangan Rianti di benakku sedetik pun. Satria
Marcel terdiam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung