Cinta Sejati

Cinta Sejati
Pagi itu


__ADS_3

Di dalam kamar


"Sayang, aku boleh minta tolong."


"Boleh, kamu mau apa sayang?."


"Aku mau tidur bareng sama anak-anak kita."


"Oh, ya sudah aku panggil mereka dulu. Kamu tunggu disini. Jangan sesekali ke kamar mandi sendirian."


"Iya istriku yang bawel."


Kabar ini sontak saja membuat Dion dan Alana gembira. Pasalnya, mereka belum pernah satu kasur bersama Satria dan Rianti.


Kali ini, Dion yang berhambur memeluk Satria dengan erat. Dia yang selalu mengalah di setiap waktu akhirnya bisa merasakan hangatnya pelukan sang ayah.


"Putra papah sudah besar juga ternyata." Satria mengecup kening Dion.


"Iya pah, kan aku selalu makan dengan benar setiap hari."


"Emang makan ada yang salah?"


"Kata om Niko ada."


"Makan apa nak?"


"Makan hati."


ya salam


"Kamu tau maksudnya apa nak?"


"Sebenarnya gak tahu si pah. Karena aku gak tahu aku berfikir makanku setiap hari benar karena para koki di rumah ini menyiapkan makanan untuk kita sudah sesuai gizi yang seimbang."


"Anak papah memang pintar."


"Hehehe.."


"Dion mau apa dari papah?"


selagi aku masih bisa memberikannya

__ADS_1


"Dion mau papah bercerita. Dion ingin sekali mendengar papah berdongeng sebelum aku tidur." Pinta Dion, ternyata dia sudah memliki permintaan yang sudah tersusun.


"Baiklah, kamu mau papah dongeng apa nih?"


"Terserah papah, asal papah yang bercerita."


"Kalau gitu papah akan bercerita kisah nyata, bagaimana proses terjadinya kamu nak."


Hah


Rianti yang tadinya sudah mengantuk sambil memeluk Alana yang tertidur, kini segar kembali.


"Ehmm, kalimatmu perlu di ganti sayang."


"Dion maksud papah mungkin proses bertemunya papah dan mamah dulu hingga sekarang ini. Iya kan sayang?"


"Tidak, bukan begitu. papah akan menceritakan proses terjadinya kamu dari segi biologis sistem reproduksi."


"Sayang, hentikan."


Dion tertawa kecil di tengah perdebatan Satria dan Rianti. Sungguh moment seperti ini merupakan kebahagiaan yang tak dapat disandingkan dengan apapun. Dan kelak kebahagiaan ini akan dirindukan nantinya.


Pada akhirnya Satria menceritakan cintanya yang begitu besar pada sosok wanita yang telah melahirkan Dion dan Alana. Dion yang mendengarkan terlihat bangga, dan Rianti yang mendengarkan tersipu malu dan juga sangat bahagia.


..........


Waktu menunjukan pukul 05:00 dini hari, Rianti terbangun dari tidur dan melaksanakan kewajiban bersama Dion. Ketika dia membangunkan Satria, suaminya itu hanya menyaut dengan kata "Hem" sambil matanya terus terpejam.


Pikir Rianti, nanti saja dibangunkan kembali setelah dia selesai subuh.


Melihat raut wajah Satria yang tenang dan nyenyak, Rianti tak tega membangunkannya kembali. Tetapi mengingat tempo hari Satria selalu berpesan agar membangunkannya setiap pagi, Rianti tak mau mengingkarinya.


"Sayang. . bangun sudah pagi." Mengecup kening suaminya sambil membelai pipi. Kali ini tidak ada sautan lagi.


"Sayang.."


panggilan kedua yang lebih berintonasi dari panggilan lembut sebelumnya.


Satria masih tetap terpejam.


Nafas Rianti sudah memburu karena detakan jantungnya yang sudah tak beraturan. Dion panik melihat kejadian di depan mata. Lalu putranya itu menenangkan sang ibu.

__ADS_1


"Mah, tenang Mah. Dion yang akan membangunkan papah."


"Pah, ini dion. Bangun pah sudah hampir pagi." Tangan kecilnya terus mengusap lengan Satria.


Pada panggilan ke tiga Satria pun terbangun, ia membuka mata dan memandang anak serta istrinya yang sedang cemas.


"Hem, kalian kenapa? jam berapa ini? aku telat ya? apa masih ada waktu?


alhamdulilah kamu bangun juga sayang. sebegitu takutkah diriku jika setiap pagi kamu tidak membuka mata. Batin Rianti


"Sayang tenang, masih ada waktu. Ayo aku bantu kamu."


Hilang sudah kekhawatiran Rianti dan Dion, kini mereka melihat Satria beraktivitas seperti biasanya bagai embun yang menyejukkan hati. Sedangkan Alana masih teronggok pulas di atas kasur.


Pada gerakan terakhir, Satria melemah seperti hendak tertidur kembali. Matanya kembali terpejam walaupun dengan posisi yang tidak semestinya. Kali ini Rianti terkulai lemas dan nafasnya tercekat.


Embun yang menyejukkan seketika berubah menjadi uap panas yang menyesakan dada.


Kode darurat telah di aktifkan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2