
"Rianti, aku mau bertanya sama kamu?"
"Tanya apa sayang?"
"Apa alasan kamu menolak kerjasama dengan Manggala corp?" Rianti sudah tahu pasti Satria akan menanyakan soal ini.
"Karena perusahaan itu milik Niko. Aku tidak mau lagi berurusan dengannya."
"Apa !" Satria terkejut mendengar penuturan Rianti.
Selama ini Rianti menyelidiki tentang company profile Manggala corp dengan bantuan lexa dan Brian. Rianti mampu mengungkap siapa identitas asli pemilik perusahaan tersebut.
Awal kecurigaan membawa kenyataan, Manggala corp yang sangat bersikeras ingin menjalin kerja sama dengan Artha grup tidak dapat diterima begitu saja oleh Rianti yang mulai mencium ketidak beresan.
Rianti menjelaskan semua pada Satria tentang penyelidikan nya. Dia yang sering sibuk dengan lexa dan Brian, dia yang sering ijin keluar saat menjadi sekretaris Satria.
"Maaf ya sayang, memang rencananya aku bilang ke kamu saat sudah jelas. Bukan maksud menutupi, tapi demi kebaikan menjaga kerahasiaan tentang penyelidikannya. Sebab kita tidak tahu, mana yang kawan mana yang lawan. Walaupun sedang berada di perusahaan kita sendiri."
Mengingat Niko sangatlah licik Rianti meningkatkan kewaspadaan.
"Tidak perlu meminta maaf, kau pintar istriku."
Rianti seraya tersenyum menanggapi. Pujian dari suaminya selalu sukses membuatnya bahagia.
"Aku juga mau bilang. Kemarin, Niko sempat kabur dari tahanan."
"Apa ! terus gimana?"
"Tenang sayang, semua sudah beres. Niko sudah berhasil di tangkap."
Semudah itu kah Niko tertangkap lagi. mengingat betapa susah nya menangkap dirinya. Kemampuannya menembus keamanan hingga di temukan alat penyadap sampai masuk ke ruangan yang sangat privat. patut dicurigai bukan.
"Semudah itu kah sayang?"
Satria mulai mencerna perkataan Rianti. bagaimanapun Niko manusia licik yang pernah ditemui.
"Entahlah, tapi memang benar dia sudah mendekam lagi. Apa maksud dan rencananya, aku pun belum tahu." Satria membenamkan Rianti ke dalam dekapannya.
"Yang aku inginkan, kau selalu aman disampingku".
"Terimakasih sayang, oh ya sepertinya badanku sudah mulai bisa diajak beraktivitas. aku minta ijin, untuk bekerja lagi besok. Boleh kan?"
"kau kan sudah di pecat." Jawab Satria acuh
"Hah"
"Rianti.. sebisa mungkin kau jangan beraktifitas di luar rumah. Aku tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya. aku mohon kamu mengerti."
"Iya sayang." Perintah suami tidak boleh di bantah.
...........
Waktu terus bergulir, mereka menghabiskan waktu untuk menonton acara kesukaan Rianti. Dia lebih senang dengan acara lawakan, di banding drama. karena dia merasa hidupnya pun sudah penuh dengan drama.
Saat ini satria pun ikut menemani, ia juga menikmati apa yang dilihatnya. Ternyata seperti ini acara kesukaan istri kesayangannya.
Mereka pun tergelak bersama.
"Kamu bisa tertawa juga?" Rianti meledek.
"Jangan meledekku Rianti, kalau tidak mau kena akibatnya." Senyumnya sudah mengintimidasi.
"Ampun sayang. Hehe aku ada pantun untukmu."
__ADS_1
"Aku mau dengar."
"Bunga mawar bunga melati.
harumnya semerbak merasuk hati.
kupersembahkan padamu cinta sejati
untukmu wahai pujaan hati."
Rianti menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Malu.
Satria tidak mau kalah.
"Rianti, apa bedanya kamu sama kelinci?"
"Apa?"
"Kalo kelinci hewan, kalo kamu manusia."
krik..krik..Krik..
*A*paan sih. wkwkwk batin Rianti bingung
"I love you sayang." Satria menambahkan. lumayan membuat gombalan yang gagal menjadi sedikit serpihan haru. Begitulah jika orang yang bersifat kaku ingin menjadi pria gombal.
"Ilove you too. Suamiku."
Malam yang penuh warna, dengan banyak canda tawa lepas yang menghilangkan penat. Sejenak melupakan beban yang terasa berat di pundak. Setelah kedatangan Niko mereka hampir disibukkan dengan masalah yang dibuatnya.
Andai saja waktu bisa diulang. Rianti tidak mau pergi ke kampus pada hari itu yang menyebabkan mereka bertemu. Pikiran tentang ini sering datang dalam benaknya. Andai dan andai saja, hanya bisa berandai-andai.
"Minumlah, aku sendiri yang buat." Satria memberi segelas susu hamil untuk Rianti dengan bangga bahwa dialah yang membuatnya.
"Terimakasih Sayang, kamu juga jangan lupa minum obat, aku sudah menyiapkannya diatas nakas."
"Jangan nanti, sekarang saja. Aku mau lihat."
Semenjak hamil, Rianti sedikit berani pada Satria. bukan sekedar 'iya sayang, baiklah, ok, terimakasih' seperti biasanya yang selalu menerima apa yang dikatakan Satria. Mungkin sudah terbentuk perasaan nyaman, yang pelan membuat suatu hubungan menjadi lebih intens.
"Nih lihat" sambil mengacungkan obatnya dan segelas air putih. Meneguknya hingga air tak tersisa.
"Kau senang?" Tanya Satria memastikan yang di jawab dengan anggukan kepala.
Malam semakin larut, Satria mengusap kepala istrinya berulang hingga tertidur.
...........
Di rumah keluarga Rianti dalam waktu yang sama.
Perkumpulan keluarga terjadi di ruang tengah, menonton tv dengan acara yang saling gulir antara ibu, adik dan juga paman Rianti. Sedangkan ayah Rianti lebih memilih bersantai di depan rumah, dengan kebiasaannya setiap malam. Membaca koran usang sambil menyeruput kopi hitam.
"Yaelah mpok, ganti bentar ngapah saya mao lihat tim saya menang apa kagak."
"Bentar dulu dih sabar, greget banget lihat penjahat kagak ketangkep, lolos mulu."
Emen hanya diam sambil menikmati keripik singkong, melihat perdebatan antara ibu dan pamannya.
"Po, bilang sama abang minta beliin tv lagi." Madih sudah prustasi, malam ini adalah babak pinal tim kesayangannya.
"Lu aja sana yang bilang."
"Hih embung."
__ADS_1
"Lu aja gak mau, segala nyuruh lagi. Nih buat lu dah remotnya. Gua mau keluar dulu temenin abang lu." Ibu Rianti mengalah.
"Naah gitu dong mpoku tersayang hehehe."
Emen ikut nimbrung, memajukan duduknya lebih dekat dengan tv, dia memang sudah menunggu dari tadi momen seperti ini.
"Sini men, bagi gua keripiknya, sendirian aja lu makan!"
"Nih ambil."
Di depan rumah.
Dalam keheningan malam yang berhiaskan suara jangkrik. Ayah Rianti memulai obrolan, mengetahui istrinya datang duduk disampingnya.
"Mak, kok bapak kangen ya Ama tu bocah."
"Bocah siapa pak?"
"Rianti."
Sudah lama Rianti memang tidak berkunjung ke rumah orang tuanya. Selama ini mereka berkomunikasi hanya lewat telepon.
Ditambah lagi kabar kehamilan Rianti yang di tunggu cukup lama membuat orang tua nya semakin Rindu dengan kabar anaknya.
"Iya ya pak, kasian juga kalau Rianti kita suruh maen kesini. Gimana kalo kita yang kesana aja pak?. sekalian silaturahmi sama besan."
"Boleh juga tuh, yaudah nanti bapak ngambil cuti dulu." Persetujuan yang diiringi dengan seruputan kopi di tetes penghabisan.
"Dih si bapak, hahaha." ibu Rianti tergelak melihat wajah suaminya.
"Ngapah emang?" heran.
"Itu ampasnya pada nempel. Mau dibikinin lagi gak?" sambil merapikan gelas kotor untuk di bawa ke dapur.
"Gak usah, nanti malah begadang lagi."
"Yaudah." Ibu Rianti masuk kedalam rumah melewati ruang tengah, madih yang melihatnya membawa gelas langsung menghentikan langkahnya.
"Po, mau kopi satu ya."
"Nih, mau?" menyodorkan gelas kotor dari depan tadi.
"Ya ampun, tega bangat saya di bagi kopi tinggal gedohnya doang."
Ibu Rianti melanjutkan langkahnya lagi sambil tersenyum. Tapi, tetap saja pesanan madih dibuatkan.
"Oh iya, nanti gua sama abang lu mau main ke rumah Rianti. Lu ikut kagak? Emen juga ikut kagak?" teriak ibu Rianti dari arah dapur.
"Ikuut." Jawab serempak.
"Emen juga mau cerita ke teteh kalo emen sekarang udah kerja Mak."
"Iya men."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...