Cinta Sejati

Cinta Sejati
DUA


__ADS_3

 


Seberapa banyak seseorang harus kehilangan? Jamie Walsh bertanya tanya.


Banyak.


Sudah banyak yang hilang sebelum ini. Orangtuanya. kakaknya. Dan sekarang, kekuatan Magick-nya.


Ia merasa kebas. Mati perlahan mulai didalam.Kelabu, sinarnya hilang. Dunianya. Hilang.


Jamie bersandar pada lampu jalanan rusak untuk mengambil nafas. Angin dingin merasuki tulang, menembus T-shirt tipis bertuliskan Texually Active. Perjalanan menuju toko makanan belum pernah melelahkan begini. Ia menurunkan kantong plastik belanjaanya, lalu menggosokkan tangan ke sisi celana jeans-nya yang pudar. Beban berat terasa di kaki nya. Tak ada seorang pun untuknya bersandar. Tak ada yang membantu. Ia sendirian.


Perutnya bergejolak. Sendirian memang baik. Ia bisa melewati semua keganjilan ini sendirian. Ia tidak butuh siapa-siapa.


Aroma yang sangat dikenalnya, menggoda indra penciumannya. Kesegaran air danau dan kehangatan rempah-rempah yang sensual. Musuhnya. Damian.


Adrenalin memompa energi ke tubuh lelahnya. Pandangan Jamie berkelana ke sekitarnya. Tapi hanya para wisatawan yang tampak berlalu-lalang dia jalan pada siang yang cerah dan terik ini. karena khawatir akan dikenali, ia memutuskan untuk pulang.


Bagian luar rumah bergaya French Quarter dengan dinding kehijauan milik kakaknya di dekat Jackson Square tidak terlalu mencolok. Jamie membuka pagar, masuk ke rumah dan mengehembuskan nafas lega. Ia menghempaskan barang belanjaannya ke atas meja kerja besi, lalu duduk di kursi.


Dinding Berumur ribuan tahun mengelilinginya, paparan benteng batu bata yang aman. Kecil kemungkinannya seseorang bisa menembus tempat berlindung nya, kecuali mungkin Damian. Udara dingin menjalari tulang belakangannya. Draicon memang kejam. Apa yang akan dilakukan Damian bila ia menemukan ku? Apakah ia akan menghukum ku? Pikir Jamie.


Kau memang berusaha membunuhnya.


Apa yang diinginkan pria itu?


Seketika jawaban muncul dalam benaknya. Bercinta. Semuanya kembali ke percintaan dan perkawinan.


Gairah menerjang menetang rasa takutnya saat ia memikirkan Damian, tubuh pria itu besar dan berotot. Setelah merenggut kesuciannya, sekarang ia menginginkan Jamie sebagai pasangannya. Ia akan terus memburu Jamie dan tidak akan berhenti sampai berhasil mendapatkannya, membawanya ke tempat tidurnya, menindihkan tubuhnya yang keras dan berat pada Jamie, menyentakkan pinggulnya di pangkalan pahanya dan menegaskan haknya sekali lagi dengan cara barbar.


Ruang di pangkalan pahanya terasa lembap, basah dan siap.


Akal sehatnya mengesampingkan nafsu dan ia memusatkan perhatiannya untuk mempertahankan diri.


Saat ini, bagaikan benteng dengan pertahanan lemah, ia rentan terhadap serangan Damian. Pria itu, yang menginginkan tubuhnya, akan mematahkan semangatnya, dan setelah menjadi pasangannya, ia akan menyeret Jamie kembali ke dalam kawanan serigalanya yang berbahaya dan kejam. Jamie tidak punya senjata apa pun kecuali kecerdikannya. Itu hanya pedang plastik bila dibandingkan dengan besi tajam mematikan pasukan penyerang.


Setelah bersusah payah menaiki tangga, lalu meletakkan barang belanjaan, ia menghampiri meja usang yang penuh kabel, peranti lunak, komponen-komponen, dan telepon genggam. Jamie mengambil laptop barunya dan sebuah Aircard, kemudian memasukkannya ke dalam tas ransel. Ia berjalan menuju Toko Voodoo Petite Maison. Di sana ada Mama Renee yang mengetahui rahasia dunia lain milik para makhluk magis sejenis Draicon, seperti yang diketahui Mark.


Bel kecil dari kuningan berdenting di atas pintu saat Jamie melewatinya. Altar yang ditujukan bagi Marie Laveau ada di sisi nya. Lilin-lilin tetap dinyalakan untuk menghormati pendeta Voodoo yang sudah lama meninggal itu. Jamie melangkah ke bagian belakang toko, lalu mengetuk pintu yang tertutup itu.


Mama Renee membukanya." Chere!" serunya seraya melingkarkan lengannya pada tubuh Jamie. Ia pun membalas pelukannya.


"Aku membawakan hadiah untukmu. aku membelikan papan serkuit PC nirkabel dan mendaftarkanmu ke dalam layanan seluler ku agar kau bisa mengirimkan e-mail untuk cucu perempuanmu. Sudah saatnya kau bergabung dengan cara era informasi. Kau tertinggal dua dekade."


Gurauan lama itu mengundang senyuman, n


bahkan saat Renee bergidik ngeri melihat laptop dan papan serkuit tipis yang disodorkan Jamie. Renee meletakkan keduanya dengan sangat hati-hati seolah menghadapi seekor laba-laba, lalu mengajak Jamie ke dapur tempat ia menjamunya dengan teh herbal buatan sendiri. Seekor kucing hitam besar mengitari kakinya. Sambil membelai buntalan bulu halus itu, Jamie tersenyum melihat Archimedes mendengkur.


"Ia terlihat sehat dan gemuk sekarang," ia mengamati, terdengar sedikit sedih karena teringat saat ia dan Mark menemukannya, hanya tulang berbalut kulit, tinggal di beranda rumah yang rusak akibat Badai Katrina.


Pandangan wanita itu menajam. " Kau dan kakakmu bekerja keras menyelamatkan binatang yang terbunag dan mencarikan rumah yang layak. Jika bukan karena kalian, mereka pasti sudah mati. Kakakmu pria mengagumkan, penuh kasih dan berhati baik, sama sepertimu. Dunia merasa kehilangan saat ia meninggal."


Putusasa dan kesepian menderanya. Mark menyelamatkannya dari masa kecil yang kejam. Hanya Mark yang ia punya. Dan kau membunuhnya, Damian. Kau membunuh kakakku.


Gumpalan emosi mengganjal tenggorokannya. Hatinya sendiri tidaklah baik, malah hitam pekat. Wanita macam apa yang berusaha membunuh kekasihnya sendiri?


Renee mengamati wajahnya. " Sesuatu telah terjadi.Aku melihat kegelapan dikedua matamu. Tapi masih terlihat setitik terang disana, sedang berjuang membebaskan diri."


Dengan tercekat Jamie menjelaskan semuanya. Ia menggenggam tangan Renee. " Apakah kau memiliki sesuatu, ramuan, gris-gris, yang dapat mematahkan mantra pengikat Daiman?"


Dengan lembut Renee membalik telapak tangan Jamie dan mengamatinya. Dahinya berkerut saat pandangan matanya melebar, lalu menggeleng.


"Sayang, tidak ada magick yang bisa menetralkannya. Kau membutuhkan sumbernya. Magick-nya lebih kuat daripada kekuatanku.

__ADS_1


" Aku harus mendapatkan Magick-ku kembali. Harus,"


Ia tidak bermaksud terdengar histeris. Jamie mengambil mangkuk retak berisi gula. Ia menuangkan beberapa sendok teh gula ke dalam cangkir dan meminumnya.


Jamie, sudah berapa kali kuperingatkan agar kau menjauhi Magick? Itu berbahaya, dan tidak sesuka untukmu, Chere. Lihat apa yang telah dilakukan Magick hitam padamu."


" Tapi itu satu-satunya Magick yang ku punya. Dan sekarang, Magick itu telah lenyap." " Aki merasa sangat... tersesat dan kesepian. Seolah aku sedang berusaha mencari jati diriku sendiri, meskipun aku membenci caraku mendapatkannya. Setiap kali aku merasa bersalah, aku menggunakan kekuatanku dan mengingatkan diriku akan keuntungan yang kudapatkan. Aku tidak harus bergantung pada orang lain karena aku memiliki Magick,"


Kesedihan meresap ke dalam dirinya. " Sekarang aku tidak bisa mengenal diriku sendiri. Aku hanya ingin menemukan jalanku lagi. Aku tidak cocok hidup bersama siapa pun."


"Dan para Morph membuatmu merasa sebagai bagian dari mereka, apakah itu yang kau inginkan?"


" Jamie bergidik, mengingat busuknya kejahatan yang merasuki jiwanya. "Aku sadar mereka telah memanfaatkanku dan aku benci perbuatan mereka. Tetapi, Kekuatannya, oh Renee, kau tidak bisa membayangkannya! Untuk pertama kalinya, aku merasa normal. Bahkan, jika balas dendam dan kejahatan merupakan satu-satunya jalan. Dan sekarang aku merasa kehilangan arah lagi."


Wanita itu mendesah."Balas dendam hanya membawa kegelapan. Mengapa kau ingin membalas dendam pada Damian? Mengapa kau berusaha membunuhnya?"


Jamie mengigit bibirnya. Mama Renee satu-satunya wanita yang ia percayai. Mungkin ini saatnya ia mempercayakan rahasianya pada seseorang.


"Aku ingin kau bersumpah demi hidupmu kau tidak akan mengulang perkataanku. Tak seorang pun boleh tahu."


Wanita tua itu tampak terkejut, tetapi ia mengangguk.


"Aku melihatnya membunuh kakakku."


Kedua mata Renee memancarkan keterkejutannnya.


"Tidak, sayang, menurut koran-koran para perampoklah yang menyerang Mark. Polisi berhasil mengidentifikasinya karena...."


"Mereka menemukan dompetnya yang berisi tanda pengenal didalamnya. T-tubuhnya... terbakar hingga menjadi abu." Jamie menarik nafas dalam. "Enam bulan lalu, aku menunggu Mark disebuah baru diBourbon, saat itu aku bertemu Damian. Dia begitu...menawan. Ketertarikan di antara kami terasa ganjil. Dia memberitahukan dia seorang Draicon, manusia serigala, lalu Mark datang datang. Dia marah saat melihat Damian. Bisa kusinpulkan mereka tidak menyukai satu sama lain. Mark menyuruhku pulang, tetapi Damian menyelipkan secarik kertas berisikan nomor kamarnya kedalam tasku."


Senyum masama menghiasi bibir Renee. "Biar kutebak. Kau masih muda, terpesona, dan kau mendatanginya.


Jamie mengangguk. Rona kemerahan menjalani wajahnya, mengingat saat pertamanya, rasa malunya dan desakan sensualitas pria itu. Tubuhnya yang kuat menekannya. Reaksi liar yang tak terbendung.... tubuh telanjang mereka saling bersentuhan. Perasaan ganjil yang mengatakan itu lebih dari sekedar bercinta.


Draicon adalah manusia serigala yang jahat dan Mark berniat membuat Damian membayar perbuatannya."


Ia belum pernah melihat kakaknya semarah itu. Untuk pertama kalinya, Mark begitu memedulikannya. Tetapi Daiman dengan kejam membunuhnya.


" Darimana Mark tahu tentang Draicon?" Renee bertanya.


Jamie mengedikkan bahunya, menatap rak berisi tumbuh-tumbuhan herbal berjajar disepanjang dinding. "Mark mengetahui rahasia dunia Magick.


Dia satu-satunya keluargaku dan aku mempercayainya.


"Malam itu, Mark membutuhkan pertolongan untuk mengeluarkan anjing liar dari bangunan yang baru dibelinya. Ia mengatakan akan menemuiku disana. Ia memintaku mengenakan baju baru yang sudah disemprotkan ramuan kimia untuk menyembunyikan bau tubuhku sehingga Damian tidak bisa menemukan ku. Aku berada didalam gedung mencari anjing itu saat mendengar suara motor di gang. Aku mengintip keluar dan melihat.... melihat... Mark. Ia berhadapan dengan Damian dan lima pengendara lainnya, semuanya bertubuh tinggi dan mengenakan jaket kulit....."


Emosi mncekat tenggorokannya."Aku mendengar suara Damian berkata , " Itu dia, Mark Walsh. Bunuh dia," P-para Pengendara itu membuka baju mereka dan berubah menjadi serigala. Aku melihat Damian berubah menjadi serigala besar dan.... Mark menjerit.....Damian, dia... dia..." Jamie memejamkan matanya, mengingat geraman para serigala bertubuh kekar itu, juga jeritan mengerikan kakaknya sebelum meninggal.


" Aku pingsan.Setelah tersadar, aku pergi ke gang itu. Yang ada hanyalah abu." Jamie menghela nafas. "Aku melaporkan hilangnya Mark dan polisi mengatakan seorang saksi melihat Mark dibunuh para perampok. Kemudian aku lari, karena aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."


"Oh, Jamie," ujar wanita itu lembut. Dia merentangkan kedua tangan ya, mengundang Jamie untuk mendekat.


Oh, betapa ia menginginkannya! Jamie ingin membiarkan wanita tua itu memberinya kenyamanan yang ia butuhkan sejak Mark meninggalkan. Namun Jamie tidak berani melepaskan tameng baja yang ia ciptakan untuk melindunginya dari dunia yang kejam ini.


Ia menggelengkan kepalanya. "Kemudian aku sembunyi dihotel. Aku takut pulang ke rumah karena tidak ingin Damian menemukan ku. Beberapa hari kemudian aku bertemu temanya, Nicolas, yang seharusnya sampai Damian datang. Aku mengatakan pada Nicolas bahwa aku akan pergi dengannya bila dia mau mengajarkanku Magick."


Senyuman suram menggantikan kesedihannya."Ya, dia mengajari ku. Dan aku menggunakannya untuk mencari kaum Morph, mengambil Magick mereka dan berusaha membunuh Damian. Mereka menggunakan darahku untuk membuat ramuan mematikan dan aku menularinya lewat ciuman."


Kepedihan mewarnai ekspresi Rene. " Kau telah mengalami kehilangan yang mengerikan. Tapi mengapa Damian memerintahkan untuk membunuh kakakmu? Mungkin kau tidak mengetahui cerita lengkapnya."


Jamie berdiri. " Ia mungkin Sadar Mark akan menghajar Damian karena berani merayuku. Aku melihat kakaku sendiri dikoyak hingga hancur. Draicon memang pembunuh yang tak kenal ampun."


Jeritan Mark masih mengema dalam benaknya. Teriakan kesakitan dan suara koyakan....

__ADS_1


Perlahan Renee meraih telapak tanganya. "Jamie, kau mengalami kehidupan yang keras pada usia begitu muda. Kau istimewa dan unik, tetapi kau menderita karenannya. Sudah saatnya kau melepaskannya. Pahamilah, tak semua orang adalah musuhmu. Terkadang orang yang menurutmu tak bisa dipercaya adalah orang yang seharusnya kau percayai. Merekalah keluargamu yang sesungguhnya."


Ketika tubuhnya merosot dikursi, Jamie merasakan bekas luka lama dibagian bawah punggungnya. Seolah. ia mendengarkan cibiran sepupunya, merasakan nyeri terbakar pada dagingnya....


Rasa malu menyala dalam dirinya. Sanak saudara dinilai terlalu tinggi. "kau sudah kuanggap keluarga dibandingkan siapapun."Satu-satunya yang kumiliki.


"Jadi, apakah kau tidak punya sesuatu, apapun itu, yang bisa mengembalikan sedikit kekuatan Magick-ku?"


"Tidak ada."Tatapan Renee yang gelap memancarkan kebijaksaan. "Apa yang mengikatmu merupakan Magick kuno Draicon. Jika Damian melakukannya, pasti demi melindungi mu.."


"Aku membutuhkan mantra Draicob kuno untuk menghapusnya. Buku Magick."


Renee tampak resah."Buku seperti itu seharusnya dibiarkan dan jangan diusik karena terlalu berbahaya, bahkan ditangan penyihir bijak dan mahir."


Jamie bukan penyihir yang bijak ataupun mahir.


Hanya putus asa.


"Berjanjilah padaku bila kau menemukannya, kau akan mengembalikan buku itu pada kaum Daricon,"pinta Renee."Kau sudah menjadi korban kekuatan mengerikan. Buku itu bisa menghancurkanmu selamanya."


"Aku bukanlah korban, melainkan pihak yang terlibat atas keinginanku sendiri."


Wanita itu menyentuh pergelangan tangannya dengan lembut. " Kau seorang korban, sayang. Para Morph mengetahui betapa rentan dirimu. Tak peduli bagaimana kau mempertahankan pendapatmu, merekalah yang memanfaatkan kelemahanku."


Jamie menegang."Aku tidak lemah. " Tidak pernah. Terima kasih, Mama Renee, tapi aku bisa mengurus hidupku sendiri."


Ekspresi terselubung hinggap di wajah wanita itu."Jamie, ingatlah. Bahkan kebaikan bisa datang dari kegelapan. Pemimpin Draicon mencarimu dan kaumnya membutuhkan kekuatanmu yang menyembuhkan."


Perkataannya tidak masuk akal. Jamie tidak menyembuhkan, tetapi menghancurkan. Tak ada lagi yang masuk akal.


Wanita tua itu menyunggikan senyum sedih."Dan tidak semua Draicon jahat."


Dada Jamie sesak emosi ketika berjalan bersama Mama Renee menuju bagian depan utama toko. Bel kecil dari kuningan itu berbunyi riuh dibelakangnya, mengiringi kepergiannya.


Tanpa tujuan ia melangkah menuju area yang dikhususkan bagi perjalanan kaki. Ini hanya hari biasa lainnya di Quarrter...


Jamie melangkah mundur, jantungnya berdenyut dua kali lebih cepat saat melihat sosok yang bergegas menghampirinya. Bukan Damian, Bukan wajah tirus bagai pahatan yang sangat dikenalnya itu, melainkan sosok lain, dengan wajah kejam, berambut gimbal, dan mata hitam tak berperasaan.


Morph itu berjalan perlahan. Dengan tubuhnya yang bungkuk serta wajah pucat penuh kerutan, ia terlihat seperti mayat hidup. Tidak adakah orang yang memperhatikannya? Lari, bodoh!


Jamie mengerjap. Bukan Morph yang dilihatnya, melainkan pria patuh baya yang mengenakan celana pendek Khaki, perut sedikit membuncit ditutupi kemeja bercorak bunga-bunga.


Aku kehilangan akal sehat ku.


Ia menarik nafas panjang, memaksakan diri untuk tenang. Tidak ada kaum Morph berkeliaran dijalan itu. Yang ada hanya sekelompok orang yang keluar mencari kesenangan. Dan serigala kesepian Bernama..... Damian.


Jamie membeku ketakutan.


Angin mengibarkan rambut gelapnya yang pendek. Wajah tampan dan elegan membuat Damian tampak mencolok ditengah keramaian, bagaikan mobil Sports mewah diantara sedan biasa. Ia berjalan santai menghampiri Jamie, tubuhnya yang berotot bergerak seperti mesin yang terawat. Pria itu tak menghiraukan keramaian di sekelilingnya, para seniman, semuanya.


Semua kecuali wanita itu. Mata hijaunya terpaku pada wanita itu bagaikan sinar laser. Jantung Jamie berdebar kencang.


Instingnya menyuruhnya lari. Jamie berbalik, menerobos kerumunan orang. Cepat, lebih cepat, berpacu dibawah balkon-balkon Apartemen Fontalba. Tiba-tiba ia merasakan desahan nafas pria itu di kulit nya, seperti belaian hangat udara.


Sebuah tangan mencengkram lengan atasnya, memaksanya berhenti. Jamie menelan ludah, kepanikan menjalari nadiinya, dada kokoh Damian menekannya saat pria itu menariknya keluar dari keramaian, menuju bangunan batu bata. Damian mendorongnya ke pintu yang reyot. Intensitas terpancar dari tatapannya.


"Jamie, ah, Akhirnya aku menemukan mu,"ujar Damian lembut, namanya meluncur dari bibirnya dengan logat yang lembut.


"Lepaskan aku, Draicon. Lepaskan aku, sekarang juga."


Jamie berjuang melepaskan diri dari cengkraman Damian yang sekuat baja. Isak histeris keluar dari tenggorokannya. Damian akan menghukum Jamie karena telah berusaha membunuhnya. Damian mendesak tubuhnya ke pintu, kedua kaki pria itu menahannya. Jamie terjebak.


Saat ia membuka mulutnya untuk berteriak meminta tolong. Damian menariknya ke tubuhnya yang keras.

__ADS_1


Bibir Damian mendarat dibir Jamie, menghentikan jeritannya dengan ciuman.


__ADS_2