
Masih di tempat yang sama dengan waktu berbeda, Rianti masih setia memandangi Satria dari balik jendela. Sudah dua hari dia bahkan tidak menyebut nama Dion dan Alana.
"Sayang, bangunlah.." air matanya jatuh kembali entah yang sudah kesekian kalinya.
"Aku mohon.."
hiks..hiks..hiks..
Rianti begitu rapuh, bahkan dia sendiri tak kenal dengan Rianti yang sekarang. Dulu dia bisa melewati saat dimana slSatria juga kritis di ruang ICU setelah perkelahian dengan Niko. Namun sekarang kondisinya begitu menyedihkan.
..........
Tim dokter datang untuk memeriksa secara berkala. Seharusnya hari ini ada tindakan operasi, namun ketika tubuhnya mengalami penolakan, dokter hanya menggelengkan kepala.
"Dokter, ada pergerakan dari pasien."
Sang dokter merasa takjub, dia lantas memeriksa secara keseluruhan.
Benar saja Satria siuman dari koma, lalu memanggil nama Rianti.
"Sus, tolong panggilkan nona muda."
"Baik, saya permisi."
Pintu terbuka Rianti langsung menyambut suster dengan berbagai pertanyaaan. suster menyuruh Rianti untuk tenang terlebih dahulu. Rianti mengatur nafas.
"Nona, tuan muda Satria sudah sadar. dan memanggil nama nona."
"Alhamdulilah" Rianti senang sekali batinnya sudah lega seperti muatan yang kehilangan beban.
Rianti masuk dengan langkah tergesa. Sesampainya di dalam, dia tersenyum merekah melihat orang yang dicintainya membuka mata dan menunggunya penuh harap.
"Sayang.. tidak usah bangun. Kamu tetap tiduran saja. Aku yang akan mendekatimu." Cegah Rianti yang melihat Satria berusaha untuk bangun.
"Mata kamu kenapa?" tanya Satria dengan nada suara hampir tak di dengar. Lemah sekali bercampur dengan gemetar. Telapak tangan yang digenggam Rianti pun dingin.
Rianti tak kuasa menjawab, jika di teruskan pasti dia akan menangis lagi. Rianti tak mau terlihat rapuh di depan Satria.
"Sini, mendekatlah. Aku ingin mencium mata sembabmu."
Rianti mendekatkan wajahnya, bergetar hatinya hingga matanya terpejam dan mengeluarkan air mata yang membasahi bibir Satria.
"Maaf." Rianti mengelap air yang mata yang jatuh itu.
"Rianti, istriku sayang.."
__ADS_1
"Iya sayang.."
"Aku sangat mencintaimu."
Rianti mencium tangan suaminya yang sedang di genggam.
"Aku juga sangat mencintaimu." Jawab Rianti lirih.
"Aku tidak bisa menjagamu lebih lama lagi. Tolong jaga anak kita dengan baik."
"Sayang.. kamu ngomong apa sih. hiks..hiks."
"Sayang hentikan tangisanmu. Aku sakit melihatnya." pinta Satria.
istighfar Rianti, kamu tidak boleh seperti ini. hayo Rianti kamu pasti kuat. batin Rianti
"Maaf sayang " Rianti menyesal
Satria terpejam lagi meringis menahan sakit yang sedang menggerogoti. Dia meraung kesakitan membuat tim dokter harus mengambil tindakan.
Rianti mundur.
Kondisi berlangsung membaik. Satria sudah menguasai tubuhnya kembali lalu dia menyuruh Rianti mendekat dan memohon agar tidak menangis. Rianti menahan sekuat tenaga.
"Aku selalu akan mendengarkan."
"Kamu menikahlah dengan Niko. Dia yang akan menjagamu dan anak kita. Aku percaya dengannya tapi tidak dengan yang lain. Aku juga tidak mau kamu sendirian menghadapi perjalanan hidup."
Bak disambar petir, Rianti tetap harus bisa menahan walaupun dadanya sudah bergemuruh.
"Bagaimana pun kamu harus ada yang melindungi."
"Kenapa harus Niko?" Lirih Rianti.
"Dia sama denganku, hanya bisa mencintai kamu seorang Rianti."
Rianti diam.
"Rianti,, " nafas Satria sudah tersengal. Dia sudah tak bisa mengontrol bicaranya. Rianti tau harus berbuat apa.
"Sayang, ikuti ucapanku. Ashadu ...
Rianti mengumandangkan dua kalimat syahadat, Satria mengikuti terbata dengan nafas yang sudah hampir ditenggorok.
Satria sudah diam tenang, Rianti menyatukan kedua tangan Satria yang sudah kaku ke atas perutnya. Ikhlas adalah salah satu cara mengurangi beban.
__ADS_1
Setelahnya, tangannya yang gemetar mengusap wajah mendiang suaminya hingga matanya tertutup sempurna dengan bibir yang tersenyum. Igin mengecup kening untuk terakhir kalinya tapi tak bisa lagi.
Rianti mundur. Pandangannya kabur melihat tak jelas tim medis yang bergegas maju untuk mengurus Satria. Dia berlari sekencangnya merubuhkan apa yang dilalui sepanjang koridor. Sampai pada tanah lapang dia berteriak kencang mengeluarkan kesedihan.
suamiku sayang, aku tidak menangis kan.
Rianti terhuyung memegangi kepala, menepuk nepuk dada yang terasa sakit. Siapa pun yang melihatnya Rianti seperti orang yang depresi berat.
Penglihatannya sudah buram dan menggelap.
..........
"Tidaaaak..." nyonya besar terbangun dari tidur.
"Kenapa mah?" tanya tuan besar.
"Mamah mimpi buruk pah. Sebentar mamah mau keluar dulu ambil minum."
"Tidak usah mah, telpon pelayan saja "
"Gak apa-apa pah. Lumayan juga buat menghilangkan ketakutan mimpi burukku itu."
"Yasudah, jangan lama-lama ya mah."
"Iya pah."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1