
Rianti menyerang Niko dari belakang, berharap Niko melepaskan Dion dan ia bisa meraihnya. tapi perhitungan Rianti salah, malah ia tersungkur dan jadi bahan tertawaan oleh Niko, Dion pun ikut ikutan terhibur dengan tawa polosnya.
"wkwkwkwk.. hai ponakan lihatlah mamah mu lucu sekali bukan?"
Niko mencium dion dengan gemas, Rianti terhenyak begitu juga dengan Niko. ia sadar gerakannya barusan bukan bagian dari dramanya. tubuh nya reflek menangkap sinyal bagian secuil hati dari sisi yang baik.
Dion mengusel wajahnya di pelukan Niko seperti respon yang baik. Rianti sedikit lega, ada rasa belah kasih juga ternyata pada diri Niko. mana mungkin ia akan menyakiti seorang bayi.
Rianti bangun dari posisinya,
"kalau kamu masih mau bermain dengannya, aku titip jagain baik baik."
"percaya diri sekali. nih" Niko memindahkan kembali Dion pada pelukan Rianti. dalam lubuk hatinya ia takut menyakiti Dion jika harus berlama dengannya.
Rianti berlalu membawa Dion dengan tergesa, ia ingin segera memasuki kamar dan mengunci pintu. sungguh kejadian yang sangat menjengkelkan.
setibanya di kamar Dion malah menangis kencang.
"sayang,, anak mamah yang pintar. tuh ada cicak di dinding " tangannya menunjuk ke atas.
"cup..cup .cup.." Rianti bingung, disusui tidak mau, buang air juga tidak, suhunya juga normal.
"hei nak, sayang.. kamu kenapa sayang."
Dion terus menatap ke arah pintu. mungkinkah ia ingin keluar kamar. ketika Rianti membuka handle pintu tangisnya perlahan memudar.
"hilih, Dion undul pengennya main di luar ya."
Dion terdiam dan langsung antusias ingin bermain lagi di luar. Niko menyeringai pandangan nya tak lepas dari Rianti dan Dion. Rianti yang melihatnya begidik ngeri.
ah Dion segala pengen main di luar kamar. padahal mamahnya ngeri banget liat tampang om nya alias uwa nya . hahaha uwa? nde kayanya lebih bagus.
"hai adik ipar dan ponakan. segitu rindunya sama Niko sampai tidak betah di dalam kamar dan keluar lagi berharap bisa bermain bersama."
"percaya diri sekali. bukannya kakak ipar ya yang segitu nya mengganggu kami. sampai bolos kerja segala."
"oh ya, tau darimana lu kalau gua bolos kerja? stalking?"
"coba kalau di rumah ini bahasanya di ganti. yang lebih baku dikit." protes Rianti
"baiklah, bagaimanakah kisanak mengetahui kakanda tidak masuk bekerja? apakah kisanak terus mencari tahu informasi tentang kakanda?"
astaga,, geli banget dengernya. Rianti
"bocah kecil juga tahu kalau pergi kerja jam 7 jam 9 udah balik itu tandanya kaga bener pergi."
"masa sih? coba kita tanyakan pada Dion. hei brother yang dikatakan mamah kamu emang bener?"
__ADS_1
Dion melongo.. 5 detik kemudian memainkan air liurnya. seolah sedang menjawab pertanyaan Niko.
"hahahaha, Rianti lihatlah."
Rianti tidak menggubris, mengelap wajah Dion lalu ia melangkah menjauhi Niko yang semakin menggila.
sementara itu di waktu yang bersamaan.
satria amat sangat marah melihat situasi di rumah utama. matanya memerah, ia tidak rela sedikitpun Dion dan Rianti berbagi waktu main selain dirinya. benda di ruang kerjanya sudah luluh lantah.
"Marcel, aku mau pulang. kau urus semua pekerjaan."
"tapi sat, kan kita ada agenda rapat penting."
"penting?" alisnya meninggi
"ya,, ga penting penting banget sih hehe. kamu kenapa sih?"
satria mendengus kesal, menarik nafas dalam lalu mengeluarkan secara perlahan agar emosi nya stabil.
"tolong ke ruangan presdir. bersihkan semua kekacauan." Marcel menelpon pekerja di bagian kebersihan.
"ada apa? apa perlu aku urus?" tanya Marcel yang mulai khawatir
"tidak"
"kau kesal karena ini? eh tunggu, kok niko.. hei gimana ceritanya sih ini?" Marcel kaget bukan kepalang.
"Niko itu ternyata anak pertama dari orang tua ku yang hilang sejak masih di kandungan"
"jadi dia..."
"iya sudah tidak usah diteruskan."
"trus kalian tinggal bersama?"
"hemm"
"gila, ini bener bener ga waras. kenapa kalian ga keluar saja dari rumah?"
"tanpa harus di ajari, aku sudah memakai cara itu sebelumnya. tapi Niko lebih licik."
"sungguh situasi yang sulit." Marcel berjalan kesana kemari seperti setrikaan. otaknya sedang mencari cara bagaimana bisa melawan Niko dalam selimut. separuh otaknya lagi di pakai untuk memikirkan ketidak percayaan bahwa Niko adalah kakak dari satria.
"sat, kamu ingat gak si waktu kita membicarakannya di belakang. waktu kita menumpahkan kekesalan dan selalu mengumpat dengan namanya?"
"kenapa memangnya?"
__ADS_1
"kita sempat bergurau, orang tuanya tidak bisa mengajarkan anak dengan benar. dan ternyata.. hehe aku harus meminta maaf pada nyonya dan tuan besar."
"kau juga tidak minta maaf padaku?"
"memang kenapa?"
"kau juga bilang waktu itu jika saudaranya Niko juga tidak bisa kasih pelajaran yang baik."
"iya kah?" Marcel mengingat ingat seperti nya dia tidak bicara seperti itu.
"sudahlah Marcel, kau tak akan ingat. lebih baik kau pergunakan pikiranmu untuk membantuku."
"itu sudah pasti "
"jadi kau ada ide apa?"
"sini aku bisikin"
satria tersenyum samar ide dari Marcel terdengar lumayan bagus.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.bersambung
jika kalian dihadapkan antara kesempatan dan kejujuran. kalian akan pilih mana?
__ADS_1
jangan lupa bahagia!