Cinta Sejati

Cinta Sejati
Di culik (katanya)


__ADS_3

Tibalah di tempat tujuan.


Sesampainya disana, Rianti tidak menemukan aroma pekerjaan yang menjadi tujuan utama. dugaan dia telah di jebak semakin kuat. Rianti hanya pasrah, memang Niko belum sepenuhnya sadar sebagai Niko yang dahulu.


Bukan soal siapa yang baik atau perubahan menjadi lebih baik. yang namanya bohong walaupun bukan demi kejahatan masih masuk dalam kategori tidak baik. apa salahnya bilang 'sayang, kita bulan madu yuk' atau 'mantan adik ipar, kita honeymoon yuk', tentu Rianti tidak akan menolak karena dia pun memiliki pemikiran.


Rianti masih sibuk dengan perang batin. dia merasa tergelitik telah masuk dalam jebakan Niko. otaknya terus mencari celah bagaimana dirinya akan menghadapi drama yang akan dimainkan suaminya.


"Kak, sebenarnya aku baru pertama kali kesini. jadi bisakah kakak saja yang menunjukan arah padaku. maaf, tiba-tiba aku kehilangan insting sebagai sekretaris. hehe"


"Tidak apa-apa sayang, memang Abang yang akan menuntunmu disini." tersenyum simpul.


"Ya sudah kalau begitu, aku mau masuk ke kamar kita dulu. mau ganti pakaian dan bersiap untuk meninjau." pancing Rianti.


"Mari Abang antar, kamu kan tidak tahu daerah sini. jadi Abang Niko yang harus menuntunmu selalu."


"Iya kak." iya in aja udah.


Mereka beranjak menuju tempat dimana mereka akan tinggal. Rianti mengedarkan pandangan, suasana lingkungan sekitar bukanlah tempat stay pada umumnya. tempat yang jauh dari keramaian kota.


Disekelilingnya terdapat peternakan dan juga kebun anggur, hamparan lapangan luas dikelilingi perbukitan. sepi, hanya ada satu rumah yang mereka tempati.

__ADS_1


Rianti berfikir Niko sedang menculiknya.


Angin yang berhembus lumayan kencang, melambaikan rambut Rianti yang sedang memperhatikan sekitar. tapi angin tersebut tidak mampu menerbangkan kebingungan Rianti.


"Kak, sebenarnya dimana kita?" menyerah, akhirnya dia menanyakan secara to the point.


"Kita ke dalam rumah dulu sayang, ganti pakaian lalu Abang akan menjelaskan kenapa kita ada disini." Niko menc*um pipi Rianti yang sedang memperhatikan lingkungan sekitar. Rianti terperangah memegang pipinya kemudian.


Masih memegangi pipinya, Rianti berjalan mengikuti Niko, apa daya di tempat asing dan jauh di pelosok membuat Rianti tidak bisa berkutik dan hanya bergantung pada Niko. benar-benar lelaki satu ini, membuatnya jauh dari siapapun dan hanya tinggal mereka berdua.


Tidak ada pelayan, tidak ada Willy maupun Rion. mereka benar-benar sedang berdua.


Rumah yang terbilang tidak terlalu besar, desain interiornya klasik dipenuhi benda tua. televisi pun tidak ada disana. hanya dominan tempat rak penyimpanan minuman memabukkan.


"Sana ganti baju dulu sayang, kamarnya yang ini. atau mau Abang yang gantikan bajunya?" tersenyum nakal.


"kakak duluan saja, aku masih mau lihat rumah ini dulu." Rianti menghampiri perapian, pandangannya menyapu seluruh ruangan.


"Abang maunya berdua sama kamu, nolak suami itu dosa hukumnya." Niko memakai rukun pernikahan lagi.


katanya tidak mau memanfaatkan kenikmatan karena aku belum cinta padanya, tapi aku harus selalu melihatnya tidak memakai sehelai benang pun dan dia juga sering men*iumku tiba-tiba sama saja bohong. mending sekalian terjun langsung. eh

__ADS_1


Rianti berhenti dengan pikirannya yang menggelikan. lalu memasuki kamar berdua dengan Niko untuk berganti pakaian. ada yang beda kali ini, sekarang bahkan Niko ingin di gantikan bajunya oleh Rianti.


"Kak"


"Hemm"


"Hentikan dulu aktifitasnya aku jadi tidak bisa memakaikan bajumu."


"Bisa sayang, kamu harus bisa. semangat ya." Niko terus menyusuri pipi Rianti lalu turun ke leher dan pundak. meninggalkan banyak jejak merah disana.


.


.


.


.


.


.bersambung...

__ADS_1


__ADS_2